Kamis, 28 Maret 2019

#SerialTaqarrubIlallah03

Oleh : Laila Thamrin

Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah


Para sahabat dan salafus saleh merupakan generasi terbaik yang memberikan teladan terbaik pula. Sosok mereka tak hanya sekokoh karang memegang yang wajib dan menjauhi yang haram. Namun juga, selalu berhias dengan amalan nafilah.

Amalan nafilah atau sunnah, bagi para Sahabat dan salafus salih, bukanlah sebagai amalan kelas dua yang tak menggiurkan. Tapi sebaliknya, setiap ada kesempatan, mereka senantiasa melakukan yang sunnah untuk menambah pundi pahalanya. Bahkan terlihat seolah yang sunnah pun seperti sebuah kewajiban. Saking bersemangatnya mereka melaksanakannya.

Kita pun patut bercermin pada kebiasaan baik mereka ini. Karena Rasulullah Saw juga telah memberikan suri teladan yang terbaik bagi kita, umatnya. Beliau selalu memotivasi kaum muslimin agar terus melaksanakan kebaikan.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, "Hendaknya kalian melaksanakan qiyamul lail (salat tahajjud), sebab sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menjadi penebus untuk berbagai keburukan, melarang dari dosa, mengusir/menjauhkan penyakit dari jasad, dan di dalam malam itu ada saat-saat yang di dalamnya doa diijabah." (HR. Ath-Thabarani, at-Tirmidzi, Ahmad, dll)

Salat tahajjud merupakan momen yang paling tepat bagi semua mukmin untuk bersujud dan mengadukan apapun kepada-Nya, diluar salat wajib tentunya. Terlebih para pengemban dakwah yang menginginkan segera tegaknya syari'at Allah Swt di bumi ini. Dengan sistem Khilafahnya. Dengan seluruh peraturan hidupnya yang berpijak pada Alquran dan as-Sunnah. Minta lah kepada Allah saat tahajjud, agar semua bisa terwujud.

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Saya tidak menemukan dari ibadah sesuatu yang lebih kuat daripada salat di tengah malam." Ditanyakan kepadanya, "Mengapa orang yang melakukan salat tahajjud termasuk manusia yang paling bagus wajahnya?"  Beliau menjawab, "Sebab mereka berkhalwat dengan ar-Rahman (Zat Yang Maha Pengasih), maka Dia memakaikan pakaian dari cahanya-Nya kepada mereka."

Banyak lagi amalan sunnah lainnya. Seperti salat dhuha, salat tarawih, salat witir, salat istikharah, dan lainnya. Juga memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, puasa sunnah, dan sederet kebaikan lainnya. Apabila kita rajin mengamalkannya, maka akan merapatkan jarak kita dengan  Al Khalik. Dan apapun doa kita, niscaya Allah akan senang mengijabahnya.

Tengoklah kisah kemenangan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel. Dia perintahkan pasukannya untuk berpuasa di hari Senin, 19 Jumadil Ula tahun 757 H. Sebagai upaya bertaqarrub kepada Allah, sekaligus penyucian jiwa-jiwa para ksatria ini agar siap berperang. Setelah berbuka dan melaksanakan salat berjama'ah, Sulthan pun berkhutbah di depan pasukannya untuk memompa semangat mereka. Hingga keesokan harinya, pasukan ini pun meringsek memasuki Konstantinopel melalui gunung, membawa kapal-kapal mereka mendaki. Sampai pertolongan Allah pun menghampiri mereka. Dan kemenangan tersemat manis di dada pasukan al-Fatih.

Kisah fenomenal ini menjadi bukti kepada kita, betapa amalan nafilah, yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan oleh pasukan Sulthan Muhammad al-Fatih telah menghantarkan kemenangan besar bagi umat Islam.

Karenanya, mulai sekarang berapa pun usia menjelang, kita upayakan untuk terus meningkatkan amalan nafilah ini.  Supaya semakin rapat dengan-Nya. Dan terus berdoa agar pertolongan Allah untuk tegaknya syariat Islam ini disegerakan oleh-Nya.
Aamiin.

Handil Bakti, 08032019


#OPEy2019
#Part7
#Day4
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5

Rabu, 13 Maret 2019

#SerialTaqarrubIlallah02

Indahnya Membaca Alquran
Oleh : Laila Thamrin


Rasulullah Saw bersabda :
"Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatu pun dari Alquran adalah seperti rumah yang roboh." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, ath-Thabarani, al-Hakim, al-Baihaqi)

Pernah melihat orang yang limbung karena banyak masalah? Atau justru pernah anda merasakan sendiri begitu banyaknya masalah mengepung? Lalu, jika anda baca Alquran perlahan-lahan, bagaimana rasanya?

Saya pernah merasakan itu. Begitu banyaknya ujian yang seolah menghimpit hidup ini. Namun ketika saya mengakrabkan diri dengan membaca Alquran, seolah semua ujian itu ringan dipikul. Dan jalan keluar pun berdatangan.  Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw, bahwa Alquran seperti nyawa dalam sebuah rumah, jika tak ada sentuhan Alquran akan robohlah rumah itu.

Alquran merupakan kalamullah. Berisi tentang petunjuk hidup manusia selama di dunia. Merupakan satu-satunya kitab di dunia yang jika dibaca oleh manusia akan mendatangkan pahala bagi pembacanya, juga yang mendengarkannya. Bahkan pahala yang di dapat dinilai huruf demi huruf, meski si pembacanya terbata-bata.
"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah (Alquran) maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf, dan MIIM satu huruf." (HR. Tirmidzi)

Rugi sekali jika telah mengaku Muslim, namun jarang menyentuh Alquran. Karena membaca Alquran mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi." (QS. Fathir [35] : 29)

Rasulullah Saw sering memilih pemimpin suatu delegasi untuk urusan negara dari banyaknya hafalan mereka. Yang paling banyak hafalannya, atau yang paling bagus bacaannya, itulah yang terpilih.

Dalam hadits Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah Saw mengutus delegasi berjumlah beberapa orang, lalu beliau meminta mereka membaca Alquran. Beliau meminta tiap orang untuk membaca Alquran, yakni yang dia hafal. Beliau datang kepada salah seorang laki-laki dari mereka yang paling muda usianya. Beliau bersabda, "Apa yang engkau hafal, ya Fulan?" Dia menjawab, "Aku hafal ini dan ini dan surat al-Baqarah." Rasulullah saw pun bersabda, "Apakah engkau hafal surat al-Baqarah?" Dia menjawab,"Benar." Rasulullah saw bersabda,"Berangkatlah, dan engkau menjadi pemimpin (amir) mereka." (HR. Ibnu Hibban)

Begitu istimewa orang yang membaca Alquran dan mampu menghafalnya. Orang yang membaca Alquran hendaknya dalam keadaan khusyu', tadabbur dan tunduk. Disunnahkan hingga menangis dan berusaha menangis. Disunnahkan juga membacanya seperti Rasulullah Saw, yaitu dengan tartil, tidak lambat dan tidak cepat. Beliau membaca dengan jeda di tiap ayat.

Jadikanlah Alquran teman terbaik kita. Di kala suka maupun duka. Bacalah di setiap kesempatan yang kita punya. Resapi isinya. Dijalankan semua perintah yang ada di dalamnya. Jauhi larangan Allah yang termaktub di sana. Karena Rasulullah Saw bersabda, "Bacalah Alquran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada orang yang membacanya." (HR. Muslim)

Wallahua'lam bish shawwab.[]

Handil Bakti, 13032019

#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5

Rabu, 06 Maret 2019

#SerialTaqarrubIlallah01

Oleh : Laila Thamrin

Ihsanu al-'Amal

Allah Swt berfirman :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al Mulk[67] : 2)

Ihsanu al-'Amal bermakna amal yang baik. Menurut para imam salaf rahimahullah, supaya amal itu menjadi baik maka harus terkandung dua hal di dalamnya. Pertama, ikhlas semata-semata melakukannya karena Allah. Kedua, sesuai dengan syara'.

Sebagaimana ucapan seorang tokoh terkemuka di masa tabi'it tabi'in, Fudhail bin 'Iyadh tentang surah al-Mulk ayat 2 tersebut. Dia berkata, "Yakni yang paling ikhlas dan yang paling benar." Lalu dikatakan, "Wahai Abu 'Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling benar?" Dia berkata, "Sesungguhnya amal perbuatan itu jika tepat tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima. Sebaliknya, jika ikhlas tapi tidak benar, juga tidak diterima. Amal tidak diterima sampai merupakan amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas adalah amal dilakukan karena Allah. Dan benar adalah berada di atas as-sunnah."

Begitu gamblang apa yang diterangkan oleh Fudhail bin 'Iyadh tentang amal yang baik ini. Maka, perlu kiranya kita menengok kembali ke belakang, sudahkah amal kita memenuhi dua kriteria ini? Dan yakinkah kita bahwa amal kita akan terima Allah Swt?

Terkadang kita lupa untuk meniatkan amal kita hanya karena Allah. Tapi inginnya terlihat baik di mata manusia. Nastaghfirullah!
Apalagi jika ternyata yang kita lakukan tak ada syari'atnya dalam Islam. Bagaimana amal kita bisa diterima oleh-Nya?

Contoh nih, seseorang yang suka berderma ke anak yatim, juga kaum gelandangan dan orang-orang miskin lainnya. Niatnya sedekah sih, tapi setelahnya tebar berita ke medsos. Akhirnya pujian pun mengalir padanya. Nah, yang begini hati-hati ya amalnya tertolak. Karena niatnya tak ikhlas, meski caranya sesuai syariat Islam.

Atau berderma secara ikhlas karena Allah, tak menyebarkan beritanya kemanapun. Namun harta yang disumbangkan dari hasil keringat yang tak halal, semisal korupsi, berjudi, jualan narkoba, atau hasil kecurangan dalam berdagang. Maka yang demikian pun bisa tertolak amalnya.

Al-Hasan bin ar-Rabi' mengatakan tentang jihadnya al-Imam al-Jalil Abdullah bin al-Mubarak : Seorang penunggang kuda keluar dari barisan pasukan kaum Muslim seraya mengenakan penutup wajah lalu membunuh tentara Persia yang membunuh kaum Muslim, maka kaum Muslim pun bertakbir untuknya. Lalu dia masuk ke tengah kerumunan orang dan tidak ada seorang pun yang mengetahui dia. Aku ikuti dia sampai aku memintanya karena Allah agar dia mengangkat penutup wajahnya maka aku pun mengenalnya, lalu aku katakan, "Engkau sembunyikan diri dengan kemenangan besar yang Allah Swt mudahkan melalui kedua tanganmu?" Maka dia berkata,"Apa yang aku lakukan untuk Dia (Allah Swt) maka tidak tersembunyi bagi-Nya."

Begitulah gambaran amal seseorang yang ikhlas karena Allah Swt dan sesuai dengan syara'. Amal seperti inilah yang akan diterima oleh Allah. Tak peduli apakah manusia lainnya melihat atau tidak apa kebaikan yang dia lakukan, yang penting Allah tahu dan ridha' atasnya, itu cukup baginya.

Karenanya, bagi setiap Muslim harus terus memupuk sifat seperti ini sebagai upaya taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Yang beramal kebaikan sesuai hukum syara' dan melakukannya ikhlas karena Allah semata. Dan inilah sebaik-baik amal yang akan mendatangkan pahala.

Batola, 06032019

#OPEy2019
#Part7
#Day3
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5

#SerialTaqarrubIlallah

Oleh : Laila Thamrin

Disarikan dari Kitab "Taqarrub Ilallah" karya Fauziy Sinuqruth.
InsyaAllah enam hari ke depan akan kita ulas bagian-bagian dari buku ini.

========================

Mukaddimah

Allah Swt berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati." (QS. al-Ahqaf[46] : 13)

Istiqomah. Satu kata yang singkat, namun dalam maknanya. Secara umum istiqomah bermakna konsisten menjalankan kebaikan dan teguh dalam pendirian menjalankan apa yang diridhoi oleh Allah Swt.

Bagi seorang mukmin, menjaga keistiqomahan merupakan perjuangan. Apalagi di tengah terpaan pemikiran Barat yang kian menderas. Umat Islam diserang dari berbagai sisi. Dilabeling dengan berbagai cap menyudutkan, semisal teroris, fundamentalis, radikalis, ekstrimis, dan sebagainya. Lalu menegatifkan ungkapan-ungkapan yang berasal dari Islam sehingga terkesan sederhana atau bahkan buruk, padahal memiliki makna yang berseberangan dengan yang mereka gaungkan, seperti jihad, poligami, kafir, dsb. Sungguh, dalam kondisi seperti ini seorang mukmin wajib untuk tetap istiqomah dengan Dienullah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Ahqaf ayat 13 tersebut di atas.

Dan agar keteguhan kita berpegang pada tali agama Allah tetap kokoh, maka sangat penting kita untuk menguatkan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) kita. Dan tentu saja Islam sebagai landasan pijakannya. Agar tetap terjaga kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) di dalam diri kita sebagai seorang mukmin.

Karenanya, bertaqarrub ilallah merupakan salah satu upaya agar kekuatan Syakhsiyah Islamiyah kita tetap terjaga. Memperbaiki niat, membaca Alquran, memperbanyak amalan nafilah, mengelokkan akhlak, memperbanyak doa, dzikir dan istighfar, dan perkara-perkara lainnya. Maka jika kita telah dekat kepada Allah Swt, apapun yang kita minta selama tak menyalahi syariat-Nya, maka Allah akan mudah mengabulkannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil." (HR. Bukhari).

Maka, apa lagi yang menghalangi kita untuk bersegera merapat kepada-Nya? Padahal fajar kemenangan semakin mendekat ke hadapan kita. Agar doa kita segera diijabah oleh-Nya. Dan kejayaan peradaban Islam segera kembali berada di genggaman umat Islam.
Allahu Akbar!

Batola, 05032019

#OPEy2019
#Part7
#Day2
#MenyalaBersamaRevowriter
#Gemesda
#Revowriter5

Selasa, 22 Januari 2019

Hidayah telah Bertandang

"Dunia ini hanya sementara..."
Kutipan indah ini disampaikan Raffi Ahmad saat pengajian perdana di rumahnya. Siapa yang tak kenal Raffi Ahmad? Seantero Indonesia Raya ini pasti kenal, karena dia seorang publik figur. Dunia entertainment menjadi kesehariannya. Yang lekat dengan kehidupan glamour.

Saat dia mengadakan kajian di rumahnya, tentu semua sahabat hijrahnya menyambut dengan suka cita. Dia ceritakan jikalau selama ini apa yang dia inginkan mudah sekali tercapai. Namun, hatinya terasa hampa. Dan Ustadz Abu Fida yang hadir saat itu mengatakan, bahwasanya itu tanda jika hidayah Allah sudah masuk. Ya, hidayah telah bertandang kepada Raffi. Tabarakallah !

Hidayah memang rahasia Allah. Hanya DIA yang berhak memilih siapa yang layak mendapatkannya. Tapi manusia, dengan akal pikiran yang telah dianugrahkan Allah kepadanya, sejatinya mampu menjemput hidayah itu segera.

Allah telah berikan banyak tanda-tanda di dunia ini yang mampu menghantarkan manusia pada petunjuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya :

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."

"Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di Bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa."

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,"

"mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan."
(TQS. Yunus : 5-8 )

Kita doakan bagi saudara, sahabat dan semua kenalan kita yang telah meniti jalan hijrah, semoga istiqomah. Begitupun dengan Raffi Ahmad dan keluarga.

Kita pun senantiasa berdoa, agar Allah tetapkan kita juga dalam jalan-Nya. Serta memperbanyak amal yang mendatangkan pahala. Karena sebaik-baik tempat kembali hanyalah Kampung Akhirat. Dan sebaik-baik bekal hanyalah amal shalih. Sedangkan dunia hanyalah sementara saja.

"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (TQS. Al-An'am : 32)

@Laila Thamrin
(22012019)

#OPEy2019
#Day2
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5

Luruhnya Hati Sang Pembunuh Singa Allah

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."  (TQS. Al-Baqarah: 218)

Saat kita napak tilas perjalanan hidup Baginda Rasulullah Saw, tak pelak pasti akan kita temui awal hijrah beliau. Pun peperangan demi peperangan yang dilalui Beliau bersama para sahabatnya tercinta.

Adalah perang Badar, perang pertama yang terjadi setelah Negara Islam tegak di Madinah. Dengan kekuatan 300 pasukan kaum muslimin, Allah menangkan di atas 1000 pasukan kafir Quraisy. Tabarakallahu 'alaikum.

Dikabarkan bahwasanya dalam perang Badar telah terbunuh sekitar 70 orang Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan kaum muslimin.  Diantara yang terbunuh itu terdapat salah seorang pembesar Quraisy bernama 'Utbah. Juga adiknya Syaibah. Dan anaknya, Al-Walid bin 'Utbah.

Tiga lelaki  sedarah ini adalah ayah, paman dan saudara dari Hindun binti 'Utbah, seorang perempuan Quraisy, istri Abu Sufyan bin Harb, salah seorang tokoh pemuka Quraisy yang sangat membenci Islam yang dibawa Rasulullah Saw. Bahkan dia menjadi bagian tentara kaum musyrik Quraisy di perang Badar.

Kemarahan Hindun semakin memuncak. Darahnya mendidih saat mendapatkan kabar duka ini. Apalagi ternyata, anaknya pun telah menjadi korban dalam perang Badar tersebut. Menurut informasi yang diperolehnya, pembunuh orang-orang terkasihnya adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Saw. Maka dia pun bertekad untuk membalas kematian keluarganya dengan menjadikan Hamzah, Sang Singa Allah, sebagai salah satu target yang harus dibunuhnya pula. Selain Rasulullah Saw tentunya.  Dan sebagian kaum kafir Quraisy pun memiliki pemikiran serupa dengan Hindun.

Tepat setahun sejak perang Badar, orang-orang musyrik Makkah telah menyiapkan pasukannya untuk memerangi kaum muslimin. Dendam kesumat yang terpatri di hati mereka membuat semangat mereka bergelora. Sebanyak 3000 pasukan Quraisy telah disiapkan. Dan dalam pasukan ini terselip seorang budak milik Jabir bin Muth'im yang bernama Wahsyi. Seorang budak dari Habasyah yang diberikan tugas khusus oleh Hindun. Tidak lain tugasnya membunuh Hamzah, Sang Singa Allah. Wahsyi memiliki keahlian yang luar biasa dalam melempar tombak. Dengan iming-iming kebebasannya dan juga perhiasan emas berlian, Wahsyi menyanggupi tugas khusus ini.

Genderang perang Uhud pun telah ditabuh. Kaum muslimin merangsek pertahanan pasukan Quraisy dengan semangat jihadnya. Hamzah bin Abdul Muthallib terlihat menerobos pasukan Quraisy. Satu demi satu lawan dilumatnya. Pedangnya mengayun ke kiri dan kanan tak kenal ampun. Pasukan Quraisy pun terlihat kocar-kacir.

Namun, tanpa disadari oleh Hamzah, sepasang mata terus mengamati gerak-geriknya. Mencari celah peluang untuk melontarkan tombaknya. Dia berlindung di sela-sela pepohonan dan bebatuan. Dan disaat yang dianggapnya tepat, Wahsyi segera melemparkan tombaknya ke arah Hamzah. Seketika tombak itu menembus perut Hamzah. Hingga kematian pun menjemputnya. Singa Allah syahid di perang Uhud, diujung tombak Wahsyi.

Kabar kematian Hamzah bin Abdul Muthallib segera sampai ke telinga Hindun dan pasukan Quraisy. Bergegas Hindun dan perempuan-perempuan Quraisy lainnya mendatangi tubuh Hamzah. Mereka lalu merusak jenazah Hamzah dengan keji. Kepuasan nampak jelas dari wajah-wajah mereka. Terlebih, setelah perang Uhud dimenangkan oleh pasukan Quraisy. Sorak sorai kemenangam mereka semakin lantang.

Waktu terus berputar. Kaum muslimin terus mendapatkan kemenangan demi kemenangan atas izin Allah. Hingga tiba saatnya Rasulullah Saw dan para sahabat menaklukkan Makkah. Peristiwa Fathu Makkah menjadi kilasan sejarah Islam yang istimewa. Tak ada senjata. Tak ada pertumpahan darah. Saat itu Rasulullah Saw berkata kepada penduduk Makkah, "Siapa saja yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat."

Dan Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia. Hindun binti 'Utbah yang telah 20 tahun memusuhi Rasulullah Saw dan kaum muslimin, hari itu menyatakan ke-Islamannya tanpa paksaan dari siapa pun. Benarlah bahwasanya hati manusia berada diantara jari-jari Allah.

Saat Hindun berkata pada suaminya untuk menjadi pengikut Muhammad Saw, suaminya sedikit ragu. Tapi Hindun meyakinkannya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan salat, berdiri, ruku', dan sujud."

'Aisyah ra menuturkan, "Hindun datang kepada Nabi Saw seraya berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah membinasakannya, daripada golonganmu. Tetapi hari ini, tidak ada golongan di dunia yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu." Rasulullah Saw pun membalas, "Begitu juga aku. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya." (HR. Muslim no 8 dan 1714)

Dan suaminya pun saat itu melakukan hal serupa dengannya. Siapa yang menyangka Hindun dan suaminya akan menerima Islam tanpa perlawanan? Dan kita dapati Rasulullah Saw menerima keislaman mereka dengan ikhlas. Padahal keduanya begitu keras permusuhannya pada Islam. Bahkan kekejaman Hindun pada paman beliau, Hamzah, sungguh diluar kewajaran. Namun, tak ada yang menghalangi mereka untuk menerima cahaya Islam menerangi qalbunya.

Hindun binti 'Utbah berubah menjadi seorang perempuan muslimah yang salihah. Luruh sudah keangkuhan dan kejahiliyahannya. Dia tampil menjadi sosok muslimah yang sangat istimewa karena kecerdasannya. Allah telah menerangi hatinya dengan cahaya Islam. Memupus semua kedengkian yang sebelumnya melekat dalam dirinya. Dan dia berubah menjadi pembela Islam yang militan. Sekaligus menjadi seorang ahli ibadah dan memegang kuat janji setianya pada Rasulullah Saw.

Hijrahnya seorang Hindun patut kita teladani. Hijrah yang totalitas hanya menuju Islam Kaffah. Melepaskan seluruh kejahiliyahan yang sebelumnya telah memenuhi ruang hidupnya. Merobohkan semua berhala-berhala yang menjadi penghalangnya. Meninggalkan semua kekufuran yang awalnya menjadi denyut nadinya. Dan beralihlah hidup dan matinya hanya untuk Islam semata.


الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (TQS. At-Taubah : 20)


@Laila Thamrin
(20012019)

*Inspirasi dari buku "35 Sirah Shahabiyah" karya Muhammad Al-Mishri.


#Revowriter
#NgajiLiterasi
#Gemesda
#Hijrah

Dimana Al Junnah?

Heboh lagi perkara prostitusi online. Karena yang terjaring publik figur. Dan bayarannya fantastis. Bikin "takjub" sekaligus miris. Murah sekali harga sebuah kehormatan perempuan. Padahal, jika perempuan mempersembahkan dirinya hanya untuk suami halalnya, surga menantinya. Tak ada artinya harta dunia.

Tapi mengapa banyak yang menggadaikan  akhiratnya untuk kesenangan dunia yang hanya sekejap ini? Zina dilakoni, demi fulus semata. Akankah surga bisa dibeli dengan uang? Dunia sudah terbalik....😪

Makin gemes saat mendengar ada yang mendukung aksi jual kehormatan ini. Katanya, itu mengikuti hukum permintaan dan penawaran. Dan harga 80 juta merupakan penawaran yang di atas rata-rata. Kudu belajar banyak dari pelakunya supaya bisa memiliki harga tawar yang tinggi.
Aneh ... kehormatan perempuan jadi barang dagangan. Serendah itukah nilai sebuah kehormatan perempuan? Nastaghfirullah...😓

Fyiuh...tambah puyeng saya. Maksiat kok makin hari, makin banyak peminatnya. Banyak suporternya. Hati-hati loh, yang dukung kemaksiatan ntar kecipratan dosanya. Mau?? Saya sih 'emoh.'

Dunia sudah semakin lapuk. Umat terus terseret dalam arus Kapitalisme-Liberalisme. Semua bebas. Ukuran kebahagiaan hanyalah materi semata. Jika ada uang, kebahagiaan seolah segera datang. Tapi, benarkah ketentraman jiwa akan didapatkan para pemuja materi? Apakah kebahagiannya mampu bertahan lama? Ah, rasanya tidak...😒

Andai saja Islam menjadi pijakan dalam berpikir dan berbuat, tentu takkan terjadi hal serupa ini. Karena dalam Islam, kemuliaan perempuan sungguh terjaga. Jika dia belum baligh, maka perempuan ada di bawah perlindungan ayahnya atau saudara laki-lakinya. begitupun saat dia sudah baligh tapi belum menikah.

Namun, apabila dia sudah menikah, maka suaminya adalah qowwam sekaligus pelindungnya yang utama. Dan yang paling berperan besar dalam melindungi rakyatnya, termasuk perempuan, tentu saja negara. Karena negaralah perisai (Al Junnah) terbesar melindungi aqidah dan akhlak masyarakatnya.

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Masih ingat kan kita dengan riwayat seorang perempuan yang diganggu oleh pemuda kafir Romawi di masa kekuasaan Khalifah Mu'tasim Billah. Perempuan itu berteriak lantang,"Wahai Mu'tasim, dimanakah engkau?"
Sejurus kemudian Sang Khalifah telah menurunkan pasukannya yang mengular demi mendengar teriakan si perempuan tersebut. Yang luar biasanya, kepala pasukan ada di Amuriyah (Turki), tempat  perempuan itu diganggu. Sementara ekornya ada di Baghdad, tempat Khalifah berada. Dan pasukan Islam mampu mengobrak-abrik tentara Romawi dan mengalahkannya.  MasyaAllah...begitu besar penjagaan negara atas seorang perempuan. Ini baru seorang saja. Bagaimana jika banyak yang mengadu? Tentu akan jauh lebih dahsyat lagi pembelaan Khalifah atasnya.

Bagaimana dengan sekarang? Berapa banyak  perempuan muslimah terzalimi? Teraniaya? Tergadai kehormatannya?
Siapa yang membela mereka? Siapa yang melindunginya? 😭😭

Dimana Al Junnah kita?

Kini, saatnya kita mengembalikan kesadaran umat. Agar mereka kembali pada aturan Islam. Yang mampu memposisikan perempuan pada kedudukannya yang mulia. Sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sebagai pendidik generasi yang taat pada Dien-nya. Sebagai pencetak pemuda-pemuda Islam yang mampu menaklukkan dunia dan menegakkan kembali peradaban Islam yang mulia. Yang menegakkan al Junnah (Perisai) bagi umat. Hingga keberkahan turun dari langit dan memancar dari perut bumi.


Allah Swt berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'rāf : 96)

@LailaThamrin

#Revowriter
#Gemesda