Rabu, 08 Juni 2016



Kokohkan Langkah, Menggapai Cita Bersama


Suasana pagi yang sedikit berawan dan butiran gerimis tipis membasahi sebagian kota Banjarbaru tak mengurangi langkah kami untuk berangkat menuju Hotel Rodhita, tempat dimana anak sulung kami tercinta, Nur Adzkia Kamilah, hari ini mengikuti Wisuda. Ya, hari ini Sabtu, 4 Juni 2016 adalah hari kelulusan Adzkia, panggilan sayang kami, setelah tiga tahun menjalani sekolah di SMP Islam Terpadu Insantama Banjarbaru.

Ada rasa senang yang menggebu-gebu, rasa gembira yang membuncah, meskipun ada rasa gelisah dan sedih yang terselip didalamnya. Hal itu tersirat pada wajah-wajah para siswa, khususnya kelas 6 dan 9 Sekolah Islam Terpadu Insantama ini. Pun juga pada para orang tua yang diundang untuk hadir, meskipun berdandan rapi dan semburat bahagia muncul pada wajahnya, tetapi tetap ada  rasa sedih dan haru yang tersimpan rapi didalamnya.

Itu juga yang muncul pada kami. Sejak pertama duduk dan mendengarkan prosesi awal pembukaan acara, rasa gundah tiba-tiba menyeruak dalam dada. Kata demi kata yang diuangkapkan para guru dan orang tua yang mewakili berbicara didepan podium membuat semakin membuat mata ini tak tahan menampung panasnya air mata yang berdesakan ingin keluar. Hingga penampilan siswa-siswi kelas 5 dan 8 yang begitu menyentuh hati, tak kuasa lagi membendung tetesan air mata ini hingga pecah menjadi sebuah tangisan yang mengalirkan air mata dengan derasnya. Hingga tissu pun tak henti harus ditarik terus dari tempatnya.

Ya...diawali dari sebuah cerita salah satu episode kehidupan Rasulullah SAW ketika mendakwahkan Islam di Mekkah dan Madinah. Dimana salah satu sahabat Beliau, Khalid Bin Walid yang terkenal dengan julukan "Panglima Perang Yang Tak Pernah Kalah", dulunya adalah seorang kafir yang sangat memusuhi Rasul SAW dan pengikut beliau. Dan yang paling fenomenal saat itu adalah kejadian saat Perang Uhud. Kaum Muslimin harus berhadapan dengan pasukan kafir Quraish yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid.

Perang ini terjadi di bukit Uhud, dimana dibukit ini kaum muslimin menempatkan pasukan panahnya diatas bukit. Strategi yang sangat bagus kala itu, karena dari atas bukit bisa melihat musuh dengan lebih jelas.  Pertempuran antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraish pun terjadi. Dan dimenangkan oleh kaum muslimin. Kaum kafir pimpinan Khalid Bin Walid mundur ke belakang. Kaum Muslimin bertakbir atas kemenangan ini. Pasukan panah yang ada diatas bukit pun terperangah melihat harta bawaan kaum kafir yang ditinggalkannya begitu banyak. Harta rampasan perang (ghanimah) yang "menyilaukan mata" sebagian besar pasukan perang dari kaum muslimin. Mereka pun beramai-ramai menuruni bukit Uhud menyerbu harta tersebut. Mereka tak perduli terhadap seruan Rasulullah SAW untuk tetap ada ditempatnya masing-masing sebelum diperintahkan berpindah. Inilah awal petaka itu.....

Khalid bin Walid, sebagai pimpinan pasukan musuh yang awalnya kalah tiba-tiba melihat kejadian ini. Dia segera memerintahkan pasukan berkudanya untuk menaiki Bukit Uhud yang ditinggalkan pasukan panah kaum Muslimin dari arah belakang. Hingga mereka mengepung bukit itu. Padahal Rasulullah SAW masih ada dibukit itu, dengan ditemani hanya beberapa orang sahabat saja. Sungguh.....inilah yang membuat tetesan air mataku tak terbendung lagi...membayangkan Manusia yang paling Mulia, Rasulullah Muhammad SAW terkepung musuh dan nyawanya diujung tanduk....hingga beberapa gigi depan beliau rontok karena terkena pukulan orang-orang kafir yang beringas dan sangat bernafsu untuk membunuh Beliau. Tak rela rasanya mendengar cerita ini...dimana Beliau mendapatkan kesakitan yang luar biasa untuk mempertahankan Islam hingga bisa kita kenal dan menjadi hidup kita saat ini.

Air mata ini semakin deras mengalir ketika anak-anak di SIT Insantama ini memvisualisasikannya dengan apik dalam drama singkat ini, namun sarat akan makna.
Begitu besar pengorbanan para sahabat yang melindungi Beliau dipersembunyiannya di Bukit Uhud itu. Ada yang penggal tangannya. Ada yang mendapatkan puluhan luka karena sabetan pedang dan tusukan tombak. Ada yang putus telinganya. Subhanallah....tapi itu menjadi ringan dirasakan oleh para sahabat ketika mendapati Rasulullah SAW masih hidup, meskipun Beliau pun terluka.

Satu pelajaran yang didapatkan dari peristiwa Perang Uhud ini adalah pentingnya ta'at pada pemimpin. Ta'at pada aturan dan perintah dari seorang pemimpin menjadi sangat penting. Karena dari keta'atan ini akan membawa pada tujuan yang ingin dicapai.

Anak-anak di SIT Insantama ini telah mengingatkan semua orang tua yang hadir dan juga semua siswa untuk menjadi seorang hamba yang selalu ta'at pada Khaliknya. Seorang Muslim hanya wajib ta'at pada perintah Allah SWT maupun larangan-Nya.

Masya Allah....sebagai orangtua, kami merasakan bahagia luar biasa, melihat perkembangan anak-anak kami selama bersekolah disini. Ini bukan promosi, tapi kami sekedar menceritakan bagaimana kami merasakan ada hal yang berbeda disekolah ini yang kami dapatkan. Anak kami menjadi individu yang lebih ta'at kepada Allah SWT. Dia sudah terbiasa memakai jilbab(jubah) dan khimar(kerudung) jika keluar rumah. Tentu ini bukan karena takut dengan guru dan orangtuanya, tetapi lebih karena dia faham bahwa itu diperintahkan oleh Allah SWT sesuai dengan firmanNya dalam QS. Al Ahzab : 59 dan QS. An Nur : 31. Tak hanya itu, mereka pun diajarkan bagaimana pergaulan yang benar antara laki-laki dan perempuan didalam Islam, yang intinya "No Pacaran". Dan banyak hal lainnya lagi.

Kebahagian ini tak terkirakan. Keharuan kembali muncul diacara puncak Wisuda ini, ketika satu persatu siswa-siswi kelas 6 dan 9 dipanggil dengan didampingi kedua orangtuanya untuk diberikan kenang-kenangan dari sekolah.
Dan derai tangis anak-anak, para guru dan para orangtua pun semakin bertambah deras ketika sesi terakhir berjalan. Salam-salaman, ucapan ma'af dan terimakasih, peluk cium dan foto bersama sungguh semakin menyempurnakan pertemuan ini. Sungguh berkesan. Wisuda...adalah perpisahan yang rasanya semakin mebuat anak-anak tak ingin berpisah dengan para guru dan teman-temannya. Serasa waktu inginnya tak berputar. Agar terus mereka puas bersama dan tak ada kesedihan yang dirasa. Yang ingin dirasa hanyalah kesenangan dan kegembiraan.

Namun, hidup memang terus melangkah ke depan. Semua rintangan harus dilalui. Semua ujian dan cobaan harus dijalani. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tetapi perpisahan ini hanya sementara, karena kita berharap kan bertemu kembali suatu saat nanti, bahkan hingga ke SurgaNya.

Maka, tak salah sekolah ini megambil tema "Kokohkan Langkah, Menggapai Cita Bersama".  Langkah yang tepat adalah langkah yang sesuai dengan perintah dan larangan  Allah SWT, untuk menggapai cita bersama yaitu menuju pada keridhoanNya.

Selamat buat ananda kami Nur Adzkia Kamilah, semoga sukses terus menyertaimu bersama doa Ummi dan Abi tercinta. Semoga semua cita-citamu mendapatkan ridho dari Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin

Nahnu uhibbuki Adzkia.

Banjarbaru, Sabtu 4 Juni 2016
Wisuda III SIT Insantama
Hotel Rodhita

By : Laila Qadarsih

Senin, 22 Februari 2016

Tim Work Hebat


Cuaca yang akhir-akhir ni kurang bersahabat membuat pertahanan tubuh juga tak mampu bertahan. Kadang panas yang begitu menyengat, tiba-tiba berubah dengan cepat dengan datangnya awan cumulus yang bergumpal-gumpal dan membawa hujan deras. Tiap hari saya nih punya jadwal ngantar dan jemput anak-anak sekolah. Yaah..inilah bagian yang cukup menyenangkan menjadi seorang ibu...hee...."My Trip My Adventure"...meskipun trip nya cuma sekolahan dan rumah...

Nah, ternyata hari itu...saya ga kuat lagi nahan virus nih. Dan jadilah saya sakit, flu menyerang. Setelah sebelumnya Kaka Hanif dan De Naura yang kena duluan, tp mereka sudah berangsur sembuh. Jadi pas pulang jemput anak-anak sekolah, badan saya ga enak banget. Bersin-bersin, hidung mampet, kepala berat, badan rasa sakit semua. Qadarullah...

Walhasil, tempat tidur jadi pilihan yang paling pas deh buat saya. Sambil olesin Vicks dan Minyak kayu putih ke leher, istirahat sebentar dan berdoa semoga Allah segera pulihkan lagi tenaganya.
Eeh..ga lama ternyata de Naura datang kekamar, bawakan segelas besar air teh hangat. Wow..kejutan nih. De Naura bilang, "Mi, ini teh hangatnya buat Ummi. Kan Ummi lagi sakit, jadi Naura bikinin ini buat Ummi supaya Ummi badannya enak." Masyaallah...senang sekali saya dapat suguhan teh hangat dari Naura.
Naura ini sekarang sudah 7 tahun usianya, kelas 1 SD. Alhamdulillah....

Kadang anak-anak kita melakukan hal yang tak disangka-sangka lo bunda....yang bikin air mata kita netes ga terasa. Kaya yang dilakukan Naura itu contohnya. Saya ucapin terimakasih sambil ciumin dia. Nauranya senang dan sumringah sekali...karena merasa dia telah membantu Ummi nya. Kelihatannya kecil ya, tapi efeknya luar biasa. Naura jadi ga minta dibantu untuk ngerjain yang lain-lain hari itu, karena dia tahu Ummi nya lagi sakit dan dia merasa mampu melayani Ummi nya. Saya apresiasi buanget deh....

Kalo Ka Hanif lain lagi. Pas malam beranjak datang, dan kebetulan Abu Hanif hari itu pulang kerja agak malam, sementara saya ga nyaman banget untuk bangun dan masak, saya panggil ka Hanif. Kita diskusi nih...buat menu makan malam itu. Karena Ka Hanif sekarang sudah berusia 10 tahun dan kelas 5 SD, jadinya enak diajak diskusi. Kita diskusi bagaimana caranya supaya makan malam bisa terpenuhi. Dan akhirnya kita sepakati, karena Ka Hanif belum bisa masak dia bertugas beli nasi goreng diujung jalan dekat rumah. Hehehe....praktis dan solutif.
Dan Ka Hanif langsung setuju karena dia suka naik sepeda kemana-mana dan paling suka makan nasi goreng. Klop deh. Tapi sebelum beli nasi goreng, saya minta tolong ka Hanif untuk beli gula dulu ke warung seberang rumah, pas kebetulan gula kita habis. :)
Beres beli gula, berangkatlah si ka Hanif dengan semangat. Wuss....cepet banget!

Sekitar 15 menit....sudah datang lagi dengan nasi goreng ditangan. Hehe. De Naura langsung menyerbu. Ambil piring dan sendok. Trus duduk didepan tempat tidur Ummi, dan makan dengan lahap, setelah sebelumnya berdoa dulu. Subhanallah....luar biasa mereka. Saya bangga dengan mereka.
Hari itu kami bertiga yang tertinggal dirumah, karena si sulung ka Adzkia sekolahnya di Pondok, dan Abi belum datang kerja, kami bisa jadi "Tim Work Hebat". Hehe....
Hebat menurut saya...karena pas saya sakit dan ga bisa memenuhi kebutuhan mereka, Hanif dan Naura bisa bekerja sama membantu Ummi nya.
Rasanya ada perasaan haru biru dalam dada, ada perasaan bersalah juga karena kadang bisa jengkel dengan tingkah polah mereka sehari-hari. Besar ternyata perhatian mereka pada Ummi nya. Walau kadang kita tak melihat secara langsung.

Benar memang yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk selalu berakhlak yang baik kepada keluarga. Kepada anak-anak kita terutama. Anak adalah amanah yang paling berharga. Mendidik mereka dengan cinta dan kasih sayang sungguh terasa tenang dan menentramkan. Anak-anak kita adalah penyejuk mata kita, qurrota a'yun. Mendidik mereka dengan baik akan menghantarkan kita ke surgaNya.
Rasulullah SAW bersabda : "Man Laa yarham laa yurham" . Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi (HR. Bukhari)

Catatan manis di hari Kamis, 18 Peb 2016

By : Laila Qadarsih

Senin, 08 Februari 2016

Welcome Back Diriku !

Alhamdulillah....setelah "vacum" sekian lama, akhirnya jari jemari ini mulai rindu tuk kembali aktif.
Saya memang bukan penulis ulung, tapi selalu pengeeeen sekali piawai dalam menulis. Cuma...ya itulah, berkejaran dengan berbagai macam kewajiban hingga blog ini jadi terabaikan. Hehe....
Padahal mestinya keinginan harus dibarengi dengan latihan ya....
"Bisa karena biasa" , begitu kira-kira harusnya...hee....

Dan berkat seorang teman yg mengundang saya untuk gabung di komunitas ibu-ibu yang produktif dengan berbagai prestasi sesuai passion nya, semangat saya untuk menulis kembali muncul. Semoga saya bisa kembali rajin menuangkan "isi kepala" saya ke blog tersayang ini.

Welcome Back diriku ! Hehe....:)

Minggu, 12 Desember 2010

Melatih Kemandirian Anak


A.   Definisi Mandiri
Dalam masyarakat biasanya mandiri diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memenuhi keperluannya sendiri, baik pada anak maupun orang dewasa. Misalnya : mampu mandi sendiri, mampu makan sendiri, mampu memakai pakaiannya sendiri, dan sebagainya.
Sedangkan dalam kacamata Islam, seseorang dikategorikan mandiri apabila orang tersebut mampu memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan fisik (hajatul udhowiyah) maupun kebutuhan nalurinya (gharaiz), yang dilakukannya sendiri sesuai dengan aturan Islam dan tanpa banyak tergantung dengan orang lain. Misalnya : mampu makan sendiri dan memilih makanan yang halalan thoyyiban, mampu memakai pakaian sendiri dan menutup auratnya dengan benar, mampu mengendalikan amarahnya ketika muncul atau menyalurkannya dengan benar, dan sebagainya.
Mungkin kita bisa memperhatikan, sejauh ini anak-anak kita kira-kira sudahkah mengarah pada kemandirian? Dan apakah Islam sudah menjadi ukuran dalam kemandirian mereka?

B.   Beberapa hal yang menyebabkan anak tidak mandiri
 1.    Adanya kekhawatiran yang berlebihan dari orang tua terhadap anaknya.
Misalnya : ortu suka melarang anaknya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bias dikerjakan anak meskipun belum sempurna. Seperti anak tidak boleh makan sendiri karena khawatir tumpah dan berhamburan, anak tidak boleh mandi sendiri karena khawatir masuk angin, menghambur-hamburkan sabun dan air,  atau anak tidak boleh turun naik tangga (kalo rumahnya bertingkat) karena khawatir terpeleset dan jatuh. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
2.    Orang tua yang sering membatasi dan melarang anaknya berbuat sesuatu secara berlebihan.  Biasanya dengan ungkapan : “jangan ….”, atau “tidak boleh…..”. Misalnya : “Nanda jangan  naik turun tangga.” 
3.    Kasih sayang orang tua yang terlalu berlebihan.
Semua orang tua pasti sayang pada buah hatinya. Namun ungkapan kasih sayang yang berlebihan kadang membuat anak menjadi sangat manja dan tidak mandiri. Bentuk ungkapan kasih sayang itu biasanya dalam bentuk pemenuhan semua keinginan anaknya, tanpa melihat lagi apakah memang diperlukan atau tidak untuk anak.

C.    Cara-cara melatih anak agar bisa mandiri
Agar anak-anak kita bisa menjadi mandiri ada beberapa cara untuk melatihnya, diantaranya :
1.    Memberikan pemahaman sesuai dengan tingkat perkembangan (kemampuan) akalnya.
Tahap perkembangan akal :
a.    0 – 2 th :
v  Memberikan informasi dan fakta sebanyak2nya, dan sering di ulang2
v  Pemberian kata-kata yang positif, mis : “Subhanallah, anak ummi cantik sekali sesudah mandi hari ini.” 
v  Pengucapan kata-kata oleh ortu dengan lafadz yang jelas dan benar, mis : Susu, bukan tutu.
b.    2 – 5 th :
v  Melatih proses berpikir dgn memberikan pertanyaan2 yg  menggugah pemikirannya, spt : mengapa air hujan turun dari langit?
v  Memberikan permainan2 yang merangsang akalnya untuk berpikir, spt : menyusun balok2, puzzle, dll.
v  Melatih disiplin sikapnya, sperti buang sampah pada tempatnya, mengajak sholat, dll.
c.    5 – 6 th :
v  Membiasakan suasana berpikir pada anak dalam setiap kesempatan (dgn selalu menanyakan alasan2 dia mengerjakan sesuatu, mis : mengapa tidak mau mandi? mengapa suka memukul? Dsb)
v  Memberikan informasi-informasi ttg aqidah, syariat dan akhlak.
v  Membiasakan anak suka menghafal do’a2 harian, hadits, ayat-ayat al qur’an.
v  Membiasakan mengucapkan kalimat2 thoyyibah dan makna2nya
v  Membiasakan melakukan kewajiban secara teratur, seperti sholat, puasa, amar ma’ruf nahyi munkar,  berbuat baik pada ibu-bapak dan saudara, dll
v  Membiasakan berakhlak yang baik, sperti tidak berdusta, tidak sombong, rajin, dsb
d.    6 – 7 th :
v  Anak sudah dibiasakan disiplin waktu untuk melaksanakn beban-beban hukum syara, seperti sholat pada waktunya, puasa sehari penuh, mengatur waktu2 utk bermain dan belajar, dll.
v  Sudah biasa dengan hafalan do’a, hadits, ayat-ayat Al Qur’an, bacaan sholat, dll.
v  Sudah dibiasakan dengan aturan2 dan dijelaskan tujuan membuat aturan tersebut, serta konsekuensi jika anak melanggarnya, mis : jika tidak sholat zuhur terlebih dahulu maka anak tidak boleh makan siang, jika hafalannya belum  lancar tidak akan diajak kerumah nenek, dll.
v  Sudah menumbuhkan rasa takut karena Allah, bukan karena ortu atau guru, mis : jika tidak sholat maka Allah tidak suka pada kita, kalo Allah sudah tak suka bisa jadi kita tak dimasukkanNya ke dalam surga.
v  Mulai belajar menulis, membaca dan berhitung.
e.     7 – Baligh :
v  Sudah terbiasa untuk selalu berpikir ketika mengerjakan sesuatu, mis : ketika makan selalu memilih yg halal dan thoyyib.
v  Sudah terbiasa mengerjakan kewajiban individu seperti wudhu dan sholat, puasa, berbuat baik pada ortu, guru, saudara dan orang2 yg lebih tua, menutup aurat dgn benar,dsb.
v  Sudah terbiasa berakhlak yg baik dan senantiasa memperhatikan adab2 yg baik, spt suka menolong saudara, suka bersedekah, selalu jujur, bias mengendalikan amarah, dsb.

2.    Berbuatlah secara bijaksana.
Maksudnya, janganlah kita memaksa anak untuk mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu, kecuali hal itu berbahaya atau tidak sesuai dengan syari’at. Mengajarkan apa pun kepada anak mesti kita perhatikan kondisi mereka. Jika mereka dalam keadaan senang (enjoy) biasanya semua pengajaran kita mudah diserap oleh anak.

3.    Memberikan kasih sayang secara wajar, tidak berlebihan ataupun kurang.
Kasih sayang wujudnya tidak semata-mata dengan hadiah atau materi. Perlakuan yang baik dan perhatian yang penuh terhadap anak sebenarnya adalah wujud dari kasih sayang. Namun jika ortu ingin menunjukkannya dengan bentuk materi berupa hadiah atau yang lainnya itupun sah-sah saja. Asalkan tidak menjadi kebiasaan sehingga yang terbentuk dalam pikiran anak bahwa orang tua sayang jika semua keinginannya dipenuhi, sehingga muncullah sosok anak yang manja, malas dan egois. Memberi pujian, kata-kata positif atau ciuman pada anak sebagai wujud kasih sayang sepertinya lebih bermakna pada anak daripada sekedar materi yang berlebihan. Namun miskin kasih sayang justru akan membuat anak merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, sehingga bias jadi membuat anak menjadi bandel, jahat dan sifat-sifat buruk lainnya.

4.    Memberikan pendidikan secara tegas kepada anak.
Konsisten terhadap apa yang sudah diajarkan kepada anak. Tentunya pengajaran yang dimaksud adalah yang sesuai dengan syari’at Islam. Dan kerjasama antara ayah dan ibu sangat diperlukan. Misal : anak diajarkan untuk tidur terpisah pada usia 7 atau 8 tahun. Diawal pengajaran bisa jadi anak akan menangis ketika tidur sendiri. Tapi orang tua tetap memberikan pengertian dan penjelasan mengapa tidurnya harus terpisah dg ortu, serta memberikan rasa aman pada anak, bukan dengan mengalah dan membiarkan anak kembali tidur bersama ortunya. Ketegasan sikap ortu ini akan memunculkan keberanian dan kemandiriannya untuk bisa tidur sendirian.

D.   Kesimpulan
Kemandirian anak bisa dibangun sejak usia dini dengan arahan dan bimbingan orang tua. Orang tua perlu memberikan contoh yang baik pada anak. Orang tua juga harus memberikan kesempatan pada anak untuk mempraktekkan kemandirian tersebut ketika anak berupaya memenuhi kebutuhan2nya. Dan jangan lupa berikan reward (penghargaan) pada anak ketika ia telah mampu melaksanakannya, sehingga muncul rasa percaya dirinya.

Wallahu’alam bish showwab.

Rabu, 13 Oktober 2010

Kesabaran....

Sebulan terakhir ini hari-hariku terasa padat dan lumayan berat.....Sesudah Idul Fitri yang menyejukkan dan menentram hati, beberapa ujian sedih menghampiri. Anak bungsuku sakit, tapi Alhamdulillah sudah diberikan kembali kesehatannya, hingga ia ceria lagi. Kemudian berlanjut dengan persoalan pendidikan anak pertama dan keduaku....dan Alhamdulillah Allah juga telah memberikan jalan keluarnya sekarang. Ternyata Allah memang tak pernah ingkar dengan janjiNya..."Inna ma'al usri yusro..."  Setiap langkah kita adalah pilihan dan setiap pilihan pasti ada ujian. Karena Allah sangat sayang dengan hambaNya, hingga Dia mengujinya untuk menaikkan derajatnya. Semoga hari-hari ke depan Kami sekeluarga bisa lebih sabar dan tawakkal menghadapi semua ujian dariNya. Amin.

Kamis, 09 September 2010

Lilin Terakhir

Siapa yang tak kenal "Trainning Motivasi"? .... Wow..tentu kayanya hampir semua orang sekarang kenal trainning motivasi...minimal pernah dengarkan? Dan tentu saja para trainnernya juga sudah banyak yang terkenal di Indonesia. Sebut saja Pak Mario Teguh, Pak Reynald Kasali, Pak Andree Wongso,  de el el..

Alhamdulillah, aku pun pernah ikut trainning ini, walaupun masih skala kecil (jadi 'gak gagap pas orang-orang lagi ngomongin trainning motivasi ini...hehe...)  Pas awal Ramadhan tadi, aku berkesempatan ikut trainning ini bareng para ustadzah-ustadzah muda di kotaku yang indah ini...ehm.

Sang Trainner mengawali acara dengan menampilkan sebuah visualisasi 4 buah lilin yang menyala dalam sebuah ruangan. Masing-masing lilin punya nama, ada lilin damai, lilin iman, lilin cinta dan lilin harapan.  Namun ternyata satu persatu lilin ini mati, mulai dari lilin damai, diikuti lilin iman, kemudian lilin cinta. Tinggal satu lilin yang menerangi ruangan itu, yaitu lilin harapan.

Sahabat....barangkali visualisasi di atas sudah ada yang pernah melihatnya atau bahkan sering melihatnya. Tapi bagiku yang baru pertama kali melihatnya, sungguh sangat berkesan. Entahlah dengan orang lain.......

Memang, dalam hidup kita sekarang ini banyak cobaan yang terus mendera. Kemiskinan, kebodohan, kedzoliman,.....semuanya silih berganti menghampiri kita. Damai, Iman dan Cinta memang seperti sirna dari diri manusia-manusia sekarang. 
Lilin harapan pun hampir saja padam. Untung saja dalam visualisasi itu seorang gadis cilik masuk ke dalam ruangan itu kemudian ia mengambil lilin harapan dan menyalakan kembali 3 lilin yang lain, lilin damai, lilin iman dan lilin cinta.

Sahabat....andai lilin harapan itu pun mati, tentu gelap dunia ini. Manusia tak punya cahaya dalam kehidupannya. Tentu sangat menyedihkan dan tersiksa bukan..?
Maka bersyukurlah kepada Allah SWT karena kita hidup ini adalah "harapan". Harapan untuk terus bisa menguatkan iman, menyemai damai dan cinta dalam hidup ini.  Hingga harapan yang terus dipupuk akan menghantarkan kita pada cita-cita yang kita impikan. Bahkan sampai pada cita-cita tertinggi kita...meraih Ridho Allah SWT dan menggapai surga-Nya. 
Sahabat....jangan padamkan harapan dalam diri kita. Ingatlah, masih banyak saudara-saudara kita seaqidah yang memerlukan kita. Lihatlah saudara kita di Irak, Palestina, Kashmir, Pakistan, Tajikistan, Eropa, Aceh, Papua, dan belahan bumi yang lainnya. Mereka masih punya satu lilin harapan kepada kita.Mereka menantikan uluran tangan kita untuk menyalakan lilin damai, iman dan cinta pada mereka. Lilin harapan mereka tak boleh padam sebelum kita berkumpul bersama mereka dalam satu naungan "Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah".

Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.  (by. Laila Qadarsih)

Minggu, 05 September 2010

MARAH!!!!

"Kaum Muslimin harus marah!! Harus Marah!!!
Ya...itu kata yang paling tepat yang harus diucapkan untuk mengungkapkan reaksi kaum muslimin terhadap rencana sinting Pendeta Terry Jones, pemimpin Gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida, AS. Bagaimana tidak ? Pendeta itu telah menyerukan kepada seluruh gereja dunia dan warga Amerika untuk terlibat memperingati Tragedi 11 September 2001 dengan menjadikannya sebagai Hari Membakar Al Qur'an Internasional.  Dia menyatakan bahwa Islam dan Al Qur'an adalah sumber segala bencana dan sumber tindakan-tindakan terorisme yang mengancam peradaban Barat. Bahkan dikabarkan dia sudah membuat video untuk dijadikan guide pembakaran Al Qur'an itu. (www.eramuslim.com). Sungguh keterlaluan....!

Sikap Islamophobi ini memang sengaja terus digaungkan oleh Barat kepada dunia. Kasus ini memang bukan yang pertama terjadi. Masih segar barangkali dalam benak kita bagaimana pelecehan Islam dengan gambar kartun Nabi SAW di Denmark, pelarangan jilbab dan burka serta pembakaran mesjid di Eropa, juga perusakan mesjid di California. Dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya yang terjadi....tak terhitung seringnya Islam dan umat Islam di lecehkan dan direndahkan oleh kaum kafir. Allah SWT berfirman : "Mereka (kaum kafir) tidak pernah berhenti (menimbulkan) kemudaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi." (QS. Ali Imran [3] : 118)

Jadi, layak sekali kaum muslimin kali ini harus bereaksi keras. Harus marah, semarah-marahnya!!! Agar kaum kafir tahu bahwa Islam dan umatnya tak mudah diremehkan! Tak mudah dilecehkan! Tak mudah direndahkan! Agar mereka tahu bahwa Islam adalah agama yang diridhai Allah SWT.
Allah SWT berfirman : "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'matKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al Maaidah[5] : 3)

(by.Laila Qadarsih)