Selasa, 22 Mei 2018

Fun, Food, Fashion Berbahaya. Bagaimana Bisa??

Oleh : Laila Thamrin

(Praktisi Pendidikan ; Revowriter Kalsel)

Barat memang tak pernah membiarkan hegemoninya mengendur pada umat Islam. Dengan berbagai cara upayanya terus dideraskan. Semua lini kehidupan dan strata usia manusia kan dicecarnya.

Fun, food, fashion (3F), yang mungkin terkesan sangat biasa dalam kehidupan. Tapi justru disinilah mereka melakukan penyusupan. Tiga hal yang sangat dekat dengan semua usia.

Fun, kesenangan. Siapa yang tak suka nonton film? Dari film bergenre balita hingga manula terhidang dimana-mana. Dari bioskop canggih berbayar hingga hanya sekedar gadget di genggaman siap memberikan sajian indah film-film menghanyutkan. Hingga melenakan umat dari kenyataan. Berharap hidupnya pun bak cerita indah dari film kesukaan.

Tak hanya film, tapi kegiatan lainnya yang menyenangkan. Seperti olahraga, musik, travelling, hobbi apapun. Yang dikemas dengan apik dan memukau bisa menjauhkan dari persoalan hidup yang rumit. Hingga persoalan umat yang urgen pun terlewatkan. Baik yang di depan mata, apatah lagi yang di negeri seberang.

Food, makanan . Siapa yang tak hobi makan? Eits, makan sekarang bukan sekedar kebutuhan asasi. Tapi sudah diframing untuk jadi suatu “hobi” bergengsi. Keluar masuk rumah makan, resto, cafe telah menjadi bagian gaya hidup masyarakat. Tak peduli harganya, yang penting kerennya. Apalagi jika brandnya dari negara yang super power. Bisa jadi akan lupa dengan halal dan thoyyibnya. Akhirnya bertubi-tubi masuk ke dalam rongga mulut. Kenyang sih, tapi bagaimana dengan berkahnya jika tak jelas status halalnya?

Fashion, gaya berpakaian. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Berbagai tren berbusana dirancang oleh para desainer. Begitu pun gaya rambut, aksesoris hingga riasan di wajah. Alhasil, perempuan cantik itu ukurannya adalah kulit putih, tinggi semampai, mata indah dan bulu mata lentik, bibir sensual, alis tebal dan melengkung, rambut panjang dan lurus, dan seabrek cap lainnya. Berbondong-bondonglah kaum hawa mengikuti tren ini. Tak terasa tubuh perempuan dieksploitasi demi uang. Akhirnya, mereka abai dengan aurat yang semestinya ditutupi. Tebar sana sini. Padahal aaurat hanya boleh terlihat oleh mahromnya. Bukan untuk dinikmati semua orang.

Industri yang berhubungan dengan fun, food danfashion ini pun tak kalah gencar. Merekalah yang mensuasanakan agar pasar dipenuhi dengan produk-produknya. Dan rakyat dipaksa memilih barang jualan di etalase mereka. Para pelaku industri ini selalu berorientasi keuntungan. Apalagi pijakannya adalah kapitalis materialistik. Tentu setiap yang mereka produksi demi menghasilkan kapital yang banyak. Mereka tak berpikir tentang efek yang ditimbulkan akibat produk yang mereka lepas di pasar. Bagi mereka, selama masih ada yang membeli dan mencari berarti produk mereka harus terus diproduksi. Halal haram bukan urusannya. Itu urusan konsumen dengan Tuhannya.

Sekulerisme telah mencabik-cabik hidup kaum muslimin. Meski sebuah negeri mayoritas penduduknya muslim, namun mereka hidup dalam gaya hidup sekuler. Karenanya, agama disisihkan pada ruang sempit dan berbatas. Digunakan saat tertentu saja. Itupun kadang diupayakan seringan-ringannya. Materi telah mendominasi kehidupan rakyat. Hingga bahagia itu adakah ketika materi yang diperoleh meluber. Bukan lagi bahagia itu karena ketaatan pada syariatNya.

Kebebasan individu menjadi motor penggerak kehidupan zaman now. Tak ada yang boleh mengaturnya. Mereka bebas untuk berbuat, bebas berpendapat, bebas memiliki sesuatu bahkan bebas untuk menentukan aqidahnya. Maka wajarlah kita kan dapati seorang yang ngomong suka-suka. Berbuat tanpa dipikir. Memiliki sesuatu tanpa melihat hak orang lain. Bahkan bebas semaunya untuk berpindah-pindah keyakinan. Dan bisa jadi ada pula yang menjadi tak bertuhan, atheis. Beginikah yang disebut hidup dengan peradaban yang mulia? Tentu saja keliru.

Peradaban yang mulia akan lahir dari ideologi yang sahih. Tak lain dan tak bukan Islam lah ideologi itu. Memang umat Islam saat ini banyak, namun tercerai-berai bak buih di lautan. Hingga peradaban yang mestinya bisa terbangun menjadi seperti angan-angan yang membubung tinggi ke langit.

Jika  ingin peradaban Islam  menancap kuat dan muncul ke permukaan, maka kaum muslimin harus membuang Sekulerisme jauh-jauh. Mengokohkan kembali syariat Islam agar mengakar kuat. Menjadikan Islam nafasnya, jiwanya dan darahnya. Hingga tak ada satu perilakupun yang terlepas dari ikatan syariatNya.

Sulit? Tentu saja. Karena hidup kita sekarang berada dalam cengkraman Kapitalisme. Namun, kesulitan itu akan sirna jika kita berusaha. Sekaligus meminta pertolongan kepada Allah, Dzat yang Maha Mengabulkan Doa. Lihatlah bagaimana perjuangan Rasulullah Saw pertama kali mendakwahkan Islam. Seorang diri. Semakin lama, semakin banyak yang mengikuti. Makin banyak yang berIslam, makin kuat penentangan dari orang-orang Quraisy. Tapi makin terlihat berkilaunya ajaran Islam. Dan makin terlihat kekokohan aqidah kaum muslimin.

Apa pendorong mereka hingga tetap taat meski dihujat, dicaci-maki, dimusuhi, dipisahkan dari anak dan istri, bahkan disiksa hingga mati? Keimanan. Ya itu jawabannya. Iman yang kokoh terpatri dalam hati membuat visi hidup seorang muslim berdimensi akhirat. Indahnya kehidupan kampung akhirat lebih dirindukannya dari keindahan hidup sesaat di dunia.

Seperti kesabaran dan ketabahan Sumayyah binti Khabath ra, isteri Yasir. Generasi pertama yang memeluk Islam. Ketika siksaan ditimpakan orang kafir Quraisy kepadanya, juga kepada ‘Ammar anaknya dan Yasir suaminya, Rasulullah Saw bersabda, “Berbahagialah, wahai keluarga ‘Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuk surga.” Ucapan Rasulullah bak hembusan angin surga yang menyejukkan pedihnya siksaan para kafir Quraisy. Hingga satu persatu keluarga ini dijemput ajalnya. Dan Sumayyah menjadi syahidah pertama dalam Islam ketika ujung tombak Abu Jahal menembus qubul (kemaluannya). Kesabaran dan kekokohan aqidahnya berbuah surga.

Tengok juga bagaimana perkasanya pasukan perang Rasulullah Saw. Saat perang Badar, hanya 300 orang tentara kaum muslimin. Namun dengan kekuatan ruhiyah yang mantap, doa pun dipanjatkan. Maka atas ijin Allah, mereka mampu memenangkan pertempuran melawan pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Jumlah yang tak sebanding, tapi Allah berpihak pada kaum Muslimin.

Begitupun kekuatan ruhiyah pasukan Sultan Muhammad Al Fatih yang mampu menyebrangkan kapal-kapal pasukannya melewati gunung. Diluar nalar manusia. Tapi berkat dorongan iman dan pertolongan Allah, semua bisa berubah. Kemenangan bisa diraih. Dan Islam pun bisa mengalahkan kekuasaan Byzantium.

Semua pengorbanan, kesabaran dan ketabahan para sahabat dan kaum muslimin tersebut karena kekuatan ruhiyah yang mereka miliki. Serta usaha sungguh-sungguh yang mereka lakukan. Dan Allah pun mengulurkan pertolonganNya, hingga kemenangan demi kemenangan berhasil diraih oleh kaum muslimin. Kehidupan jahiliyah pun berubah menjadi kehidupan Islam yang memuliakan manusia. Serta muncul menjadi peradaban dunia.

Karenanya, hidup dalam cengkraman Kapitalisme ini bisa kita ubah dengan  kehidupan Islam. Asalkan umat Islam mau bersatu padu. Berusaha mendakwahkan semua ajaran Islam. Menyuarakan kewajiban adanya Khilafah dimuka bumi ini, sebagai bagian dari ajaran Islam ini. Serta mengupayakan tegaknya Islam dalam naungan Khilafah. Agar penerapan Islam bisa sempurna. Dan kehidupan kaum muslimin pun hanya menuju pada satu visi dan misi, yaitu Ridho Allah Swt. Sehingga dimensi akhirat selalu menyertai dalam setiap amal di dunia ini.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur : 55)

Wallahu’alam bish showwab.

=======================================================

Dimuat pada Senin, 21 Mei 2018 di https://muslimahtimes.com/fun-food-fashion-berbahaya-bagaimana-bisa/

Minggu, 20 Mei 2018

Buka Mata Buka Hati #03

MENGEJAR AMALAN TERBAIK
Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan)

Menapaki hari ke-4 Ramadan, apa kabar Mak? Gimana puasanya nih, lancar jaya? Alhamdulillah jika demikian. Yang sedang sakit pun semoga tetap sabar dan bersyukur ya Mak. Karena dengan diberi sakit, kita dapat kesempatan untuk bersabar. Dan bersyukur pula, karena diberi sakit pas bulan Ramadan, jadi kesabaran dan keridhaan atas penyakit itu mendapatkan pahala yang berlipat-lipat. Benar gak Mak?

Ngomong-ngomong tentang puasa nih Mak, mau mengingatkan saja, terutama buat diriku sendiri sih, supaya benar-benar meluruskan niat puasanya. Kudu diniatkan semata-mata karena Allah. Bukan karena yang lain ya Mak. Misalnya supaya lebih sehat, lebih fresh, lebih langsing, lebih alim, atau lebih cantik. #eh 😄

Kalo telanjur ada terbersit seperti itu, perbaiki Mak...istighfar banyak-banyak. Luruskan ya Mak. Karena niat ini penting banget loh dalam beramal.

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa ini adalah ibadah yang istimewa. Kenapa? Karena puasa seorang hamba itu untuk Allah, dan Allah langsung yang memberikan ganjarannya.

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : Allah Azza wa Jalla berfirman : “ Setiap amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk –Ku, Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika kalian sedang berpuasa janganlah berkata kotor atau menghardik. Apabila seseorang mengumpat atau memusuhinya, katakan : “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada minyak wangi, bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, ketika berbuka puasa ia bergembira dan ketika bertemu Rabbnya ia gembira dengan pahala puasanya. ( HR. Bukhari Muslim )

Kalo niatnya sudah lurus, Alhamdulillah ya Mak. Cuma, ada satu lagi ni Mak yang perlu diperhatikan baik-baik. Yaitu cara pelaksanaannya harus benar, sesuai tuntunan syariat. Artinya puasa gak sekedar menahan lapar dan dahaga semata, tapi sholatnya masih bolong. Atau masih 'open cup' alias buka aurat. Masih sering  emosian. Masih suka ngobrol ngalor-ngidul dan akhirnya ngomongin temannya. Atau puasanya baru berbuka pas azan isya datang. Atau sahurnya ba'da subuh.  Ada gak ya yang kaya beginian?

Jika masih ada, mesti ditinggalin ya, Mak. Agar pahala puasa kita tak berkurang. Jadi tetap sempurna. Agar amal kita tak sia-sia. Niat sudah lurus, Lillah, tapi caranya ada yang tak benar atau tak sempurna tentu takkan membuat amalan kita diterima Allah.

Begitu pun sebaliknya, caranya sudah oke, tapi niatnya karena materi atau kesenangan semata, ya takkan diterima juga amalan kita. Rugi dong ya,  puasa sudah kepayahan dari terbit fajar hingga terbenam matahari, ternyata ditolak Allah. Na'udzubillahi min dzalik.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda.
“Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa ” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim)

Tersebab Lillahi Ta'ala dan sesuai perintah Allah dan tuntunan Rasulullah Saw maka amal puasa pasti akan diterima Allah. Sebagai amalan yang terbaik. Dan bagi yang melaksanakannya akan dimasukkan Allah Swt kelak ke surga melalui pintu Ar Rayyan. Pintu khusus bagi orang-orang yang melaksanakan puasa.

Rasulullah Saw bersabda :
“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selamat menunaikan ibadah puasa ya Mak!
20 Mei 2018 M / 4 Ramadan 1439 H

#RamadanBersamaRevowriter
#SerbaSerbiRamadan
#RamadanBawaPerubahan
#RamadanDiHati
#RamadanBulanPerjuangan

Kamis, 17 Mei 2018

Buka Mata Buka Hati #02

MENYIAPKAN ANAK MENYAMBUT RAMADHAN
By : Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan)

Alhamdulillah Ramadhan telah tiba. Namun sudah siapkah anak-anak kita beribadah bersama di bulan yang mulia ini?

Tiap keluarga pasti punya cara yang berbeda dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Apalagi jika keluarga ini sudah punya anak-anak yang siap diajak beribadah bersama. Dari anak usia dini hingga pra-baligh perlu tips dan trik jitu untuk mengajak mereka menikmati hari-hari bahagia menjalani bulan suci Ramadhan. Terutama belajar berpuasa dan menjalankan sunnah-sunnah lainnya di bulan ini.

Nah, ini ada beberapa tips untuk para Ayah dan Bunda supaya bisa menyiapkan ananda berpuasa :

1. Berikan pemahaman Aqidah.

Jelaskan pada anak tentang kewajiban puasa. Bahwa Allah Swt sebagai Al Khalik kita memerintahkan berbagai macam kewajiban, termasuk puasa. Di dalam Alquran  Allah berfirman :

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah : 183)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, dibukakan pintu-pintu Surga, ditutup pintu-pintu Neraka. Didalam bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia rugi.” (HR. Nasai, Lafadz Hammad bin Zaid)

Sampaikan pula kepada anak bahwa perintah Allah ini wajib dikerjakan. Dan Allah akan memberikan ganjaran pahala bagi yang mengerjakannya. Selain itu Allah telah menyiapkan satu pintu khusus di surga bagi orang-orang yang melaksanakan puasa.

Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah Saw bersabda :
“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Memberikan gambaran keistimewaan Ramadhan dan motivasi meraih pahala

Sering-seringlah disoundkan pada anak tentang keistimewaan bulan Ramadhan. Seperti pahala yang berlimpah ketika melakukan kebaikan. Jadi motivasi anak supaya rajin berbuat baik. Membantu orangtua membereskan rumah, menyapu, menjaga adik. Senang bersedekah, berbagi kue-kue dengan teman, berbagi takjil bersama ayah bunda. Atau sekedar senyum manis selalu pada semua orang. Semua kan diganjar pahala berlimpah.

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman : “ Setiap amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk –Ku, Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika kalian sedang berpuasa janganlah berkata kotor atau menghardik. Apabila seseorang mengumpat atau memusuhinya, katakan : “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada minyak wangi, bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, ketika berbuka puasa ia bergembira dan ketika bertemu Rabbnya ia gembira dengan pahala puasanya. ( HR. Bukhari Muslim )

Apalagi kalau rajin mengaji, menghafal Alquran, dan rajin berdoa, tentu pahala pun kian deras membanjiri. Eh iya, sholat wajibnya juga gak boleh bolong-bolong lagi. Tambahan lagi kalau mampu berlatih sholat tarawih.  Allah pasti akan menambahkan terus pahala buat anak-anak sholih ini.

Rasulullah Saw bersabda :
“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi” (HR. Tirmidzi)

3. Menceritakan kisah-kisah sahabat sebagai teladan dan penyemangat

Ceritakanlah pada anak bagaimana semangat para sahabat Rasulullah Saw dulu ketika menyambut Ramadhan. Bahkan ketika perintah berjihad pun datang di bulan Ramadhan mereka tak pernah menghentikan puasanya. Padahal mereka berjihad perginya sebagian besar hanya berjalan kaki.

Meskipun ada pasukan yang menaiki kuda dan unta, tapi tetap pasukan yang berjalan kaki jauh lebih banyak. Yang dilewati pun jalannya tak mulus. Padang pasir yang gersang dan tandus, panas, kering. Kadang harus menaiki gunung-gunung batu. Namun mereka tak mengeluh meski sedang puasa.

4. Ceritakan juga tentang nikmatnya berbuka puasa

Ini nih bagian yang paling urgen juga. Karena kenikmatan berbuka hanya dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa. Sedangkan bagi yang tak puasa tentu kenikmatan ini tak bisa dirasakannya.

Jadi bagi siapa yang berpuasa sehari penuh, nikmatnya sungguh luar biasa. Tak hanya nikmatnya bisa makan dan minum lagi. Tapi nikmat sesungguhnya adalah bahagia karena mampu sehari itu melatih kesabaran dan melawan hawa nafsu. Hingga terbayanglah dipelupuk mata "keranjang pahala" mulai terisi penuh.

Dalam hadis qudsi Allah Swt berfirman yang artinya :
“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaq ‘alaihi)

5. Motivasi untuk ikut kegiatan Ramadhan di sekolah

Buat anak-anak yang sudah sekolah, biasanya ada program sekolah selama Ramadhan. Nah, ini kesempatan besar orangtua menjadi motivator. Agar anak-anak bersemangat hadir dan ikut dalam kegiatan itu. Misalnya pesantren Ramadhan di sekolah.

Biasanya kegiatannya pasti seputar kajian sirah Rasulullah Saw, sirah sahabat, belajar mengaji Alquran dan menghafalkannya, bahkan sampai ada program i'tikaf bersama. Maka jika anak-anak mengikutinya dengan baik, pasti pahala didapatkan dengan mudah. InsyaAllah, jika motivasi ini diberikan anak-anak akan bersemangat untuk hadir.

6. Berikan reward/hadiah

Nah, ini yang biasanya paling ditunggu anak-anak. Karena anak-anak paling senang jika mendapatkan hadiah, tentu tak salah dalam mengajari mereka taat syariat hadiah kita berikan. Mengajarkan mereka puasa pun tak mengapa diiming-imingi hadiah. Semisal : boneka beruang, mobil-mobilan, buku bacaan, tas baru, jilbab baru, atau apapun sesuai kesepakatan dan sesuai kantong ortunya. Hehe.....

Ada juga yang rewardnya berupa uang. Satu hari puasa, nilainya 2000 rupiah misalnya. Hehe...ini puasa bayaran ya. Tapi sah-sah saja kalau mau reward seperti ini. Asalkan kuat bayar rewardnya ya bunda...😊

Pemberian reward hanya sebagai motivasi awal, agar mereka bersemangat untuk menjalankan puasa. Seiring bertambahnya usia, anak-anak harus dipastikan telah memahami kewajiban puasa itu. Dan reward utamanya hanya dari Allah Swt semata. Sehingga ke depannya mereka berpuasa bukan karena hadiah-hadiah lagi. Tapi memang menyadari bahwa itu sebuah kewajiban yang harus dijalankan. Jika tidak, maka dosa pun kan didapatkan.

Semoga tips di atas bisa membantu mengajak anak-anak berpuasa bersama. Sukses ya Ayah Bunda. Besok kita sudah memulai puasa kita.

Mohon maaf jika ada salah-salah kata dari saya. Semoga puasa kita diterima Allah. Dan Ramadhan tahun ini mendapatkan keberkahan dariNya. Aamiin.

Banjarmasin, 17 Mei 2018 / 1 Ramadhan 1439 H

#InspirasiRamadhan
#RamadhanBawaPerubahan
#RamadhanBersamaRevowriter

Senin, 07 Mei 2018

Buka Mata, Buka Hati #01

OPTIMIS
By Laila Thamrin  
(Praktisi Pendidikan - Revowriter)

Kian hari kehidupan terasa semakin rumit. BBM naik secara periodik, tanpa permisi sebelumnya. Listrik dan air bila telat bayar bakalan didenda. Semua barang kena pajak. Pendidikan berkualitas mahal. Kesehatan apalagi, tak ada uang tak bisa berobat. Sedangkan pendapatan tak pernah mencukupi semua kebutuhan. Akhirnya, rentenir berdasi dibalik Bank dan jasa pembiayaan laku keras. Karena dianggap mampu menyelesaikan masalah sesaat. Padahal dampak berkepanjangan semakin menjerat.

Seluruh lini kehidupan rasanya tak ada yang luput dari serangan. Sistem sosial di masyarakat juga amburadul. Muda-mudi tak kenal batas pergaulan. Akibatnya kehamilan tak diinginkan terjadi. Aborsi pun jadi pilihan. Mautpun siap mencengkram.

Belum lagi kasus penganiayaan di sana-sini. Ayah cekik anaknya. Murid aniaya gurunya. Isteri di-dor suaminya. Mengerikan. Tak ada lagi harganya nyawa manusia. Seolah perseteruan hidup mengharuskan saling sikut dan tusuk agar menang. Persis seperti masyarakat jahiliyah sebelum Islam datang. Padahal di zaman now pelakunya muslim. Namun sayang, hukum Islam diletakkan dipojok ruangan, hanya sebagai pajangan.

Korupsi merajalela. Narkoba kian menggila. Sumber daya alam di gunung, di perut bumi bahkan di lautan terus diobral kepada asing dan aseng. Ketika kemiskinan mulai melanda,  berharap kekayaan dari racun kalajengking sedangkan gunung emas diserahkan pada asing.

Belum lagi pengangguran kian hari kian membukit. Namun tak ada solusi yang ditawarkan penguasa. Yang disodorkan justru keleluasan TKA menyerbu negeri ini. Dari level buruh sampai dosen. Tak hanya lapangan kerja yang dikuasainya, tapi juga pemikiran dan gaya hidup mereka kan disebarkannya. Bukankah ini bahaya besar yang sengaja diundang?

Negeri ini telah diserang. Ya, serangan neoimperialisme dan neoliberalisme oleh Barat. Neoimperialisme (penjajahan gaya baru) tak memerlukan senjata fisik, tapi cukup dengan menguasai pemikiran penguasa sebuah negeri. Maka negeri itu kan berjalan sesuai arahan penjajahnya. Persis seperti sapi yang dicocok hidungnya. Ngikut terus apa yang diinginkan tuannya.

Setali tiga uang dengan neoliberalisme. Yang menghendaki supaya peran negara terpinggirkan dalam pengaturan ekonominya. Alhasil, korporat pun merajalela menguasai hajat hidup masyarakat. Privatisasi sektor publik, pencabutan subsidi komoditas strategis dan penghilangan hak-hak istimewa BUMN pun terjadi. Jadi tak heran harga BBM, pupuk, dan gas menjadi mahal karena tak disubsidi.

Kebutuhan pokok rakyat pun kian meroket. Solusi yang ditawarkan pun bikin kelucuan tingkat tinggi. Cabe mahal, ayo tanam sendiri. Daging sapi mahal, substitusi ke keong sawah. Ikan kalengan ada cacingnya, malah dibilang bahwa cacing juga sumber protein. Wah, ini sudah seperti Negeri Ketoprak Humor kaya serial televisi.

Terlalu banyak kerumitan ini. Apa yang harus kita lakukan? Cukupkah hanya berdiam diri dan berharap perubahan segera terjad? Ataukah ada jalan lain yang bisa kita tempuh?

Seorang Muslim selama masih berpegang teguh pada Din-Nya,  pasti punya solusi terhadap persoalan yang menimpanya. Karena setiap kesulitan hidup adalah ujian dari Allah SWT kepada hambaNya. Maka haruslah ada upaya untuk menyelesaikannya. Dan upaya itu haruslah komprehensif, agar semua persoalan itu tuntas terselesaikan. Bukan penyelesaian sesaat yang menimbulkan masalah baru lagi.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al Baqarah : 214)

"....Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar Ra'du : 11)

Tuntunan ini yang mendorong muslim untuk selalu sabar menghadapi ujian. Dan optimis pada perubahan hidupnya. Perubahan pada keadaan yang lebih baik dari yang ada saat ini.

Optimis harus dipupuk pada setiap diri. Terlebih lagi para pengemban dakwah. Bagaimana agar dakwah Islam ditengah masyarakat tetap bisa dilaksanakan dalam kondisi apapun. Senang maupun susah. Dipermudah penguasa ataupun dipersekusi. Diberi karpet merah ataukah didzolimi. Tetap optimis dalam berdakwah.

Optimis bahwa  semua ajaran Islam akan sampai dan diterima umat. Termasuk menyampaikan kepada umat bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Wajib dilaksanakan untuk menyelesaikan persoalan umat yang bejibun. Khilafah yang akan mengurai semua keruwetan masalah hidup umat sekarang ini.

Optimis pula kita karena Khilafah adalah janji Allah Swt. Tak ada yang sempurna memberikan janji dan menepatinya kecuali Allah Rabbul Izzati. Maka, mengapa kita harus sangsi bahwa Khilafah kan memberikan penyelesaian?

Teruslah berjuang untuk menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Setiap kesulitan yang dihadapi kan diberikan Allah dua jalan kemudahan untuk melaluinya. Sebagaimana Allah berfirman :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al Insyiroh : 5-6)

Imam ar Razi menukil sebuah hadits Qudsi, sebagaimana dituturkan oleh Ibn Abbas ra.
bahwa  Rasul Saw pernah bersabda, "Allah Swt telah berfirman, "Aku telah menciptakan satu kesulitan diantara dua kemudahan. Karena itu tidak akan pernah satu kesulitan bisa mengalahkan dua kemudahan."

Indah bukan? Allah telah menjanjikan lebih dari yang kita harapkan. Jadi, optimislah ! Bahwa Islam akan menang. Islam kan kembali berjaya. Dan syariat Islam yang paripurna segera terwujud dalam naungan Khilafah Rasyidah ala Minhajjin Nubuwwah.

Ahad,  06052018

#KhilafahAjaranIslam
#HTILayakMenang
#HTIdiHati

Kamis, 03 Mei 2018

BAHAGIA MENJADI IBU


Menjadi orangtua itu bukan kebetulan. Tapi sebuah pilihan yang dimulai dari proses memilih pendamping hidup. Hingga ketika sebuah pernikahan telah melahirkan anak-anak yang lucu dan menggemaskan, maka wajiblah menjadi orangtua yang amanah.

Ya, kadang kita menjadi orangtua merasa "kebetulan". Karena telah menikah dan dikarunia anak. Maka predikat orangtua pun melekat. Mau tak mau harus "bersedia" (bila tak ingin dikatakan "terpaksa") mengasuh anak.

Padahal mengasuh tak sekedar memberi makan dan minum agar anak bertumbuh besar. Tapi, mengasuh itu memastikan bahwa anak kita terjaga jiwa dan raganya, juga aqidahnya.

Jadi tugas seorang Ibu lah mengasuh sekaligus mendidik mereka agar tertancap aqidah, adab dan akhlak Islami.

Susah? Iya, pasti. Tapi gak nyusahin ko.  Justru ini kesempatan Ibu untuk rajin cari ilmu. Ilmu agama dan juga ilmu mendidik anak. Biar Ibu pintar, anak juga pintar. Sekaligus Ibu bisa menjaring pahala...☺

Memberikan konsep diri positif adalah awal yang harus dilakukan orangtua. Misal nih, memanggil dengan sebutan _"Abdullah yang shalih", "anak ummi yang cerdas", "Fatimah hafizah",_ dan serupa itu lah. Jangan lupa beri reward pada anak jika mereka bersikap baik. Khususnya yang berusia 0-6 tahun. Agar mereka senang, dan tertanam dalam dirinya sikap percaya diri, tidak mudah menyerah, suka tantangan dan juga senang diberi amanah.

Usia lebih dari 6 tahun juga masih oke dikasih reward. Tapi bisa jadi rewardnya disepakati bersama antara anak dan orangtua. Misal, kalo ananda bisa merapikan tempat tidur tiap hari sepakat dikasih buku bacaan yang mereka suka. Biasanya cespleng nih yang begini. Hee...😁

Reward tak harus materi loh. Pelukan, ciuman dan pujian pada anak bisa jadi reward. Bisa juga anak digendong, atau dibantu merapikan mainannya, dsb.  Sepele ya sepertinya. Tapi bagi anak ini sudah luar biasa. Mereka butuh dihargai. Dan penghargaan utama adalah dari orangtuanya.

“Bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping beliau ada Aqro’ bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro’: Sesungguhnya aku punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi” (HR Bukhari)

Tapi kadang ibu nih suka gak sabaran kalo sudah berhadapan dengan anak. Apalagi kalo ananda merengek, gak mau diatur, gak mendengarkan apa yang disampaikan ibu, de el el deh. Nah, padahal ,  justru sabar adalah kuncinya.

Ya, emosi memang sering membuncah pada ibu ketika anak merengek. Apalagi para ibu kadang juga didera rasa capek. Tiba-tiba anak meminta sesuatu. Maka saat itu banyakin istighfar aja deh Bu. Dan bawa menenangkan diri dulu deh. Menepi ke pojokan. Atau basuh dengan sejuknya air wudhu. Jika ibu sudah  tenang, baru deh diselesaikan masalah ananda tadi.

Sabar bukan berarti membiarkan apapun terjadi seperti air mengalir. Bukan begitu. Tapi sabar bermakna melaksanakan sesuatu sesuai syariatNya. Kemudian jalani prosesnya. Dan tunggulah hasilnya. Maka kelak kita kan memetiknya.

So, ibu tetap harus mengupayakan berkomunikasi dengan baik pada ananda. Sesuaikan dengan level usianya. Pilih bahasa yang paling mudah dicerna mereka. Nah, ini tentu perlu ilmu juga ya, Bu. Hehe...jadi memang jadi ibu nih luar biasa. Harus belajar terus tiap hari, tiap waktu dan setiap ada kesempatan. 😊

Keteladanan orangtua juga utama. Terutama dari ibunya yang senantiasa ada bersama ananda. Keteladanan dalam kebaikan. Makanya, ibu haruslah berusaha shalih sebelum menuntut anaknya shalih. Jangan pernah nyuruh gadis kecilnya pakai hijab kalo ibu masih mengurai rambutnya ketika keluar rumah. Pake dicat warna-warni lagi rambutnya. Kira-kira anak mau melaksanakan yang mana? Yakin deh..pasti ikut gaya ibunya ! 😰

Anak yang punya konsep diri positif akan mudah diarahkan. Jika usia mereka sudah mendekati baligh atau bahkan sudah baligh, maka optimalkan proses berpikirnya. Ajak mereka untuk mengerti tentang konsep penciptaan manusia dan keberadaan mereka di dunia. Agar kelak mereka akan mampu menentukan jalan hidupnya yang benar sesuai syariat Islam.

Lagi-lagi ini menuntut ibu harus belajar terus sepanjang waktu. Dari mulai belajar mendidik anak sejak bayi, batita, balita, pra baligh, remaja. Bahkan sampai anak dewasa. Maka pahala untuk ibu pun mengalir deras dari sini.

Gimana Bu, mau kan terus belajar? So, gak ada ruginya jadi seorang ibu. Semua yang dilakukan ibu selama ikhlas karena Allah, dan benar sesuai syariat, maka pintu surga siap terbuka dari segala arahnya.

Ternyata bahagia ya
menjadi Ibu  😍

Banjarmasin, 03 Mei 2018
Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan Usia Dini dan Ketua Komunitas Ibu Cerdas Banua)

Senin, 23 April 2018

HUJAN BATU BERTUBI-TUBI

Hujan batu di negeri sendiri lebih disuka dibanding hujan emas di negeri orang.

Hujan batu menggambarkan ujian begitu berat. Tapi jika di negeri sendiri tentu lebih disuka karena banyak saudara dan handai tolan yang menemani dan menguatkan.

Sementara, biar pun hujan emas yang berarti kelimpahan rezeki yang banyak, tapi jauh dari saudara dan keluarga justru menjadi terasa sulit. Karena rindu itu berat. Meski dijejali dengan materi yang berlipat-lipat. Pasti takkan kuat. Suatu hari tetap berharap balik ke kampung halaman.

Namun, jika ujian berat itu diciptakan sendiri, apakah layak dikatakan sebagai ujian? Dijualnya sumber daya alam yang melimpah kepada orang asing. Sampai gunung dan pulaunya pun diserahkan. Sedangkan rakyat sendiri hidup melarat. Bukankah ini kesengsaraan yang diciptakan sendiri?

Mempersilakan tamu datang dan masuk ke dalam rumah kita, tentu adab yang baik bagi seorang Muslim. Namun jika tamu yang datang tujuannya menjarah isi rumah kita, bahkan hampir menguasai seluruh rumah, layakkah kita bukakan pintu?

Karena masyarakat Indonesia terkenal terbuka, ramah tamah, suka menolong dan pemaaf. Harus relakah kita jika lahan garapan kita dalam bekerja tiba-tiba direbut paksa oleh orang-orang asing yang berdalih mencari kerja pula? Bahkan gaji mereka melampau gaji para pekerja asli anak negeri. Tentu kecemburuan kan menyelimuti.

Rasanya hujan batu di negeri sendiri datang bertubi-tubi. Tak kenal waktu lagi. Pagi, siang, malam. Akankah kita tetap bahagia di negeri sendiri? Tentu saja tidak!

Semua karena diterapkannya sistem Kapitalis Sekuler yang menihilkan peran Pencipta serta mengagungkan kebebasan pada manusia. Hingga kerusakan umat manusia pun begitu terasa. Tak ada lagi rasa tenang dan tentram bagi jiwa pribadi mau pun keluarga. Yang ada hanyalah kebahagiaan semu sesaat dipayungi demokrasi.

Penderitaan yang bertubi-tubi ini harus dihentikan.  Agar kita tak mewariskan kemiskinan dan kenestapaan berketerusan. Harus ada perubahan sistem kehidupan. Yang menjadikan Allah SWT satu-satunya pegangan. Dan Rasulullah Saw sebagai suri teladan sejati.

Tentu harapannya, kita dan generasi sesudah kita menjadi generasi terbaik. Khoiru Ummah. Yang akan mengembalikan kejayaan Islam seperti dimasa Rasulullah Saw dan Khulafaur Rasyidin. Dan menjadikan peradaban Islam tegak kembali. Serta menjadi penjaga Islam yang lurus.

Hingga hujan emas dinegeri sendiri lebih disukai daripada hujan batu yang bertubi-tubi.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرٰىٓ ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنٰهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al A'raf : 96)

Laila Thamrin
23042018

#GerakanFBUntukDakwah
#DakwahTakMeluluCeramah
#StatusmuPahalamu
#Revowriter

ANTARA KARTINI, FEMINISME DAN UMMU SULAIM

Di Indonesia, tanggal 21 April  biasanya diperingati sebagai Hari Kartini. Jargon emansipasi perempuan pun digaungkan bersamaan datangnya peringatan ini.
Benarkah emansipasi  mampu mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan?

Banyaknya kaum perempuan yang sudah bertebaran di ruang publik ternyata tak menjamin hak perempuan terpenuhi. Bahkan posisi perempuan yang saat ini menempati legislatif, yudikatif dan eksekutif pun tak memberikan perubahan yang berarti. Terbukti kekerasan terhadap perempuan makin marak terjadi. Sebagaimana catatan Komnas Perempuan bahwa pada tahun 2017 setidaknya 173  perempuan meninggal akibat kekerasan seksual dan pembunuhan yang dilakukan oleh laki-laki, baik sebagai pacar, suami, paman atau ayah sendiri (bbc.com).

Ini artinya, ide kesetaraan gender itu absurd. Tak mungkin diwujudkan. Karena jika terwujud, justru kerusakan tatanan kehidupan semakin parah. Lihat saja negara-negara Skandinavia. Bagaimana kesetaraan gender telah menambah deretan masalah baru. Mereka kehilangan sosok ibu yang menjadi pencetak generasi, sekaligus pengayom dan pendidiknya. Bangunan rumah tangga menjadi goyah karena suami dan isteri sama-sama beraktifitas di ruang publik. Perceraian jadi pilihan. Sementara pernikahan tak lagi sakral bagi mereka. Alhasil, angka kelahiran menukik tajam. Lost generation pun menanti. Ditambah berbagai kekerasan terhadap anak dan perempuan, serta kriminalitas anak. Tatanan masyarakat seperti inikah yang dikehendaki?

Padahal Rasulullah Saw bersabda, "Nikahilah perempuan yang pecinta dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu dihadapan  umat-umat terdahulu." (HR. Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Hibban, dan Hakim dari jalan Ma'qil bin Yasar)

Tapi kenapa Kartini selalu dikaitkan dengan perjuangan kesetaraan gender ini? Padahal jelas di dalam suratnya  tertanggal 4 Oktober 1902 yang ditujukan kepada Prof Anton dan isterinya berbunyi, "Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami ingin anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar kaum wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."

Ternyata Kartini menginginkan agar kaum perempuan di zamannya bisa terdidik. Bahkan pendidikan yang mampu membuat kaum perempuan cakap dalam melaksanakan kewajibannya sebagai ibu dan pendidik generasi. Dan ini selaras dengan pemahaman Islam yang dianutnya. Bukan tuntutan kesetaraan gender seperti yang diusung kaum feminis.

Ide emansipasi atau feminisme yang digaungkan oleh Barat ini lahir dari liberalisme sekuler. Yang mengerdilkan peran Tuhan. Dan mengagungkan akal manusia. Well, jadilah masalah yang menimpa perempuan menurut mereka harus diselesaikan oleh perempuan, dari perempuan dan untuk perempuan. Dan ide ini digulirkan menembus sekat-sekat negara. Terus bergulir menerobos waktu, sejak terjadinya Revolusi Industri di abad 19 hingga kini di abad 21.

Tentu saja, ide feminisme ini tak layak dijadikan pegangan umat Islam. Ide ini menginginkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Yang akhirnya menggerus peran ibu, merusak generasi, bahkan menciutkan jumlah populasi muslim. Dan akibat terhebatnya yaitu musnahnya generasi muslim.

Karenanya, edukasi kepada muslimah sangat diperlukan. Agar muslimah memahami betapa pentingnya peran mereka dalam masyarakat. Betapa mulianya mereka dalam keagungan syariatNya. Islam mengajarkan bahwa perempuan diciptakan untuk menjadi partnernya laki-laki.
Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya kaum wanita adalah saudara kandung dengan kaum laki-laki." (HR. Abu Dawud dan an Nasa'i)

Perempuan bukanlah objek yang posisinya dimarginalkan. Tapi justru perannya tak bisa disepelekan. Dia setara dengan laki-laki sebagai manusia yang memiliki akal, kebutuhan naluri dan kebutuhan jasmani. Namun disisi lain, hak dan kewajibannya berbeda dengan laki-laki. Dan tanpa perempuan tak mungkin ada generasi baru terlahir. Di tangan perempuanlah lahir sosok-sosok hebat yang diukir sejarah.

Siapa yang tak kenal Anas bin Malik ra, satu dari tujuh Sahabat Rasul yang meriwayatkan hadits terbanyak. Ternyata dia terlahir dari seorang ibu yang cerdas, penyabar dan pemberani, dialah Ummu Sulaim. Dia memiliki julukan Rumaisha'. Dialah seorang penghuni surga yang dikabarkan langsung oleh Rasulullah Saw. Dari jalan Jabir ra, Rasulullah Saw bersabda, "Ketika aku masuk Jannah, tiba-tiba aku melihat di sana ada  Rumaisha' isteri Abu Thalhah." (HR. Al Bukhari).

Dialah wanita yang sangat mencintai Rasulullah Saw. Pernah ketika Rasulullah Saw berkunjung ke rumahnya dan kemudian tertidur di sana, keringat yang membasahi tikar sebagai alas tidur beliau Saw diperas oleh Ummu Sulaim. Kemudian ditampungnya di dalam botol, dan dicampurkannya dengan wewangian miliknya. Melihat ulahnya, Rasulullah Saw pun bertanya, "Apa yang sedang engkau lakukan?" Ummu Sulaim lantas menjawab, "Aku sedang mengambil berkah dari tubuhmu."  MasyaAllah...

Ummu Sulaim juga seorang wanita pemberani. Di saat perang Hunain, dia ikut berperang dan membawa sebilah pisau ditangannya. Ketika Rasulullah Saw menanyakan perihal pisaunya, dia pun menjawab, "Wahai Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekatiku."  Subhanallah...

Sampai-sampai, kecintaannya pada Rasulullah Saw ditunjukkan dengan memberikan buah hatinya kepada Rasulullah Saw. Sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik ra dalam satu riwayat ; Ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, aku baru berumur delapan tahun. Waktu itu ibu menuntunku menghadap Rasulullah Saw, seraya berkata, "Wahai Rasulullah, tak tersisa seorang Anshor pun kecuali datang kepadamu membawa hadiah istimewa. Namun aku tak mampu memberimu hadiah kecuali puteraku ini, maka ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja engkau inginkan." (Dikutip dari buku "Ibunda Para Ulama" karya Sufyan bin Fuad Baswedan, 2012)

Ummu Sulaim wafat di masa Khalifah Utsman bin Affan ra. Dia meriwayatkan empat belas hadits Rasulullah Saw. Dan ternyata kecerdasan, kesabaran dan keberanian Ummu Sulaim diwarisi oleh anaknya, Anas bin Malik ra.

Ini hanya satu dari sekian banyak sosok perempuan muslimah lainnya. Mereka mengenal syariat Islam, kemudian mengamalkannya. Menjalankan perannya sebagai isteri dan ibu tanpa keluhan dan penolakan. Bahkan kisah hidupnya layak diteladani. Mereka megabdikan hidupnya untuk Islam. Serta melahirkan generasi penerus yang membangun peradaban Islam dan kejayaannya.

Barangkali, seandainya Kartini sempurna memahami dan mengkaji Alquran dia pun kan tampil menjadi sosok pembela Islam. Dan akan menerapkan Islam. Buktinya, meski dia belum sempurna mengkaji Alquran dia telah menuliskannya dalam suratnya tertanggal 21 Juli 1902 yang ditujukan pada Ny. Van Kol, "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai"

Dan suratnya yang ditujukan kepada Ny. Abendanon tertanggal 12 Oktober 1902, semakin memperkuatnya. Kartini menulis, "Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan selain Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah."

Wallahu'alam bish shawwab

Laila Thamrin
Banjarmasin, 23042018

#kartinitanpakonde
#shahabiyahinspirasiku
#milad6revowriter
#gerakanmedsosuntukdakwah


*Tulisan ini telah dimuat di

https://muslimahtimes.com/antara-kartini-feminisme-dan-ummu-sulaim/