Tanggal 22 Oktober 2018 jadi penanda. Bukan sekedar peringatan Hari Santri yang dilekatkan padanya. Tapi semangat bela Islam seluruh muslim yang tetiba berkobar. Menyala seolah tak terbendung.
Pasalnya, ada yang berani membakar bendera hitam bertuliskan tauhidullah. Maka umat Islam pun bereaksi. Mereka tak sudi bendera Rasulullah Saw diperlakukan seperti ini. Ribuan muslim kemudian ramai menunjukkan pembelaannya pada bendera Nabi.
Kaum muslim sudah kadung memahami bahwa bendera hitam bertuliskan lafaz "Laa ilaha ilallah, Muhammad Rasulullah" adalah bendera Nabi. Bukan milik organisasi manapun di dunia ini.
Sabda Nabi Saw :
"Panjinya Rasulullah (Rayyah) berwarna hitam dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah." (HR. Ath Thabrani)
Kalimat tauhid inilah yang mempersaudarakan umat Islam. Yang menautkan hati seorang muslim dengan muslim lainnya, meski terhalang samudra dan berbeda benua. Bahkan tak pernah bertemu muka. Tapi memiliki rasa yang sama. Dan kalimat tauhid pula yang akan menyelamatkan akhir hidup kita hingga layak ke surga-Nya.
Dulu, para sahabat Rasul pun begitu bangga membopong bendera ini. Mengibarkannya ke seluruh pelosok bumi. Mempertahankannya meski nyawa bayarannya. Hingga hidup menjadi lebih mulia. Dan Allah ridha atasnya.
Hari ini, umat pun semakin mengerti bahwa bendera tauhid layak menjadi identitas diri seorang muslim sejati. Karena akan dirasakan indahnya hidup dalam balutan Islam. Dan dalam dekapan kemuliaan Islam yang hakiki.
Laila Thamrin
23102018
#BelaKalimatTauhid
#BelaBenderaTauhid
#GerakanMedsosUntukDakwah
#Gemesda
#Revowriter
Rabu, 24 Oktober 2018
Sabtu, 20 Oktober 2018
Gerakan Medsos Untuk Dakwah
Dulu, kita hanya kenal pena dan kertas untuk menulis. Kian hari teknologi kian canggih.
Kini hanya dengan jari, tulisan mampu terlukis. Apa yang kita tulis pun bisa dibaca ratusan bahkan ribuan orang. Ya...media sosial telah mampu menerbangkan coretan jemari kita ke sudut-sudut yang tak terjangkau oleh selembar kertas.
Namun, sayangnya tak semua tulisan yang bertebaran di sosmed bisa diambil. Perlu hati-hati ketika menelan berita. Apalagi menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Yuk jadikan sosmed sarana dakwah. Karena dakwah tak melulu ceramah. Menulis pun bisa menjadi silah sampainya hidayah. Dengan satu catatan, tulisan No Hoax, No Nyinyir, No Bully. Tapi jadikan tulisan kita Santun, Cerdas dan Elegan. Hukum syara jadi pegangan. Kalimat Allah dan Rasul-Nya jadi junjungan.
Mudah kan? Let's kita gaungkan #gerakanmedsosuntukdakwah bersama kami #revowriter sejati. 😊
Thank's a lot atas pencerahannya ya cikgu Kholda Najiyah. 😘😘
Laila Thamrin
Kini hanya dengan jari, tulisan mampu terlukis. Apa yang kita tulis pun bisa dibaca ratusan bahkan ribuan orang. Ya...media sosial telah mampu menerbangkan coretan jemari kita ke sudut-sudut yang tak terjangkau oleh selembar kertas.
Namun, sayangnya tak semua tulisan yang bertebaran di sosmed bisa diambil. Perlu hati-hati ketika menelan berita. Apalagi menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Yuk jadikan sosmed sarana dakwah. Karena dakwah tak melulu ceramah. Menulis pun bisa menjadi silah sampainya hidayah. Dengan satu catatan, tulisan No Hoax, No Nyinyir, No Bully. Tapi jadikan tulisan kita Santun, Cerdas dan Elegan. Hukum syara jadi pegangan. Kalimat Allah dan Rasul-Nya jadi junjungan.
Mudah kan? Let's kita gaungkan #gerakanmedsosuntukdakwah bersama kami #revowriter sejati. 😊
Thank's a lot atas pencerahannya ya cikgu Kholda Najiyah. 😘😘
Laila Thamrin
Minggu, 23 September 2018
Buka Mata Buka Hati #15
Lautan Kasih Sayang
Teriknya sinar sang surya seakan menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuhku. Dahaga menyerbuku. Bukannya tak ada air ataukah tak sempat minum barang seteguk. Tapi ketaatan pada Rabbul Izzati yang menuntunku untuk tak makan dan minum hari itu.
Tepat 10 Muharram 1440 H, hari Asyura yang disunnahkan puasa bagi muslim. Dan aku pun berusaha tegar menjalaninya. Begitu pula si bungsuku. Meski terlihat kusut mukanya kala kujemput sekolah. Trus mengadu, "Ummi, teman-teman banyak yang gak puasa. Naura haus, Mi."
"Yang sabar ya, Nak. Hari ini puasa sunnah. Yang mengerjakannya dapat pahala sunnah. Yang hari ini tak puasa terlihat enak. Tapi mereka tak dapat pahala sunnah, meski mereka tak berdosa. Naura mau gak dapat kenikmatannya nanti di surga? Teman-teman yang gak puasa belum tentu dapat loh di surga,"kujelaskan demi menenangkannya.
"Mau dong, Mi." Riang dia menjawabku. Meski suaranya sedikit lemes.
Kami pun meluncur pulang.
Saat di rumah segera Naura melepas baju dan berendam di baskom besar. Biar adem katanya. Ya, cuaca hari itu memang sangat menggigit panasnya. Sudah dinyalakan kipas angin saja, panasnya masih membara. Subhanallah.
Setengah jam berendam bikin adem. Seger. Lalu segera Naura pakai baju. Bedak. Wangi deh. Trus tetiba bilang, "Mi, hari ini Ummi belum ada cium Naura," sambil rebahan di sampingku.
"Oh iya ya...Ummi lupa." Segera kupeluk dan kuciumi dia dengan sepenuh cinta.
"Suka gak diciumi Ummi, Nak."
"Ho-oh." Angguknya cepat sambil tersenyum, menampakkan sederet giginya meski ada jendelanya, alias ompong.
Ya, bungsuku sudah usia 9 tahun. Tapi suka sekali dicium. Apalagi kalau selesai mandi, pasti minta dicium Ummi.
*****
Kadang kita lupa memberikan sekedar ciuman pada anak-anak kita yang mulai besar, bahkan beranjak remaja. Terlebih pada anak lelaki. Padahal, bagi seorang anak, ciuman ayah dan ibunya ternyata menunjukkan bahwa kedua orangtuanya masih peduli padanya. Masih sayang dan cinta.
Anak keduaku yang laki-laki juga begitu. Dia semringah sekali jika kulayangkan ciuman ke pipinya. Padahal dia sudah SMP kelas delapan loh.
Begitupun sulungku. Gadis manis yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua belas. Jika kucium pipi kanannya, pasti pipi kirinya disodorkan juga. Bahkan minta dipeluk. Begitulah anak-anakku.
Menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences, pelukan dan ciuman pada anak ternyata dapat menambah jumlah produksi hormon oksitosin dan endorfin yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak-anak.(muslimah.me)
Situs www.beranihijrah.org melansir, bahwa seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City (AS), Edward R.Christopherson.Ph.D, menyatakan jika pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya. Bahkan hal ini bisa memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.
Hmm, ternyata mencium anak banyak manfaatnya. Utamanya mendapatkan pahala. Sekaligus menghidupkan kasih sayang dan cinta antara anak dan orangtua. Bahkan Rasulullah Saw, sang teladan kita, juga telah mengajarkan hal serupa. Jauh sebelum orang-orang masa kini memahaminya.
“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)
Abu Hurairah ra berkata, "Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ternyata, curahan kasih sayang kepada anak-anak kita nampak terasa bagi mereka kala menciuminya. Dan mereka merasakan kebahagiaan yang tak terperi saat ciuman kita mendarat di pipi atau keningnya.
Lautan kasih sayang sungguh tak bertepi.
Dalam, hingga sampai ke hati.
Menciumi anak hanyalah seteguk kasih dan cinta.
Dari sepasang orantua yang mulia.
Hanya berharap rahmat dari Illahi Rabbi
Maka, sudahkah anda mencium anak-anak hari ini? 😄
Laila Thamrin
21092018
#BermainKata009
#NgajiLiterasi
#Revowriter
Teriknya sinar sang surya seakan menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuhku. Dahaga menyerbuku. Bukannya tak ada air ataukah tak sempat minum barang seteguk. Tapi ketaatan pada Rabbul Izzati yang menuntunku untuk tak makan dan minum hari itu.
Tepat 10 Muharram 1440 H, hari Asyura yang disunnahkan puasa bagi muslim. Dan aku pun berusaha tegar menjalaninya. Begitu pula si bungsuku. Meski terlihat kusut mukanya kala kujemput sekolah. Trus mengadu, "Ummi, teman-teman banyak yang gak puasa. Naura haus, Mi."
"Yang sabar ya, Nak. Hari ini puasa sunnah. Yang mengerjakannya dapat pahala sunnah. Yang hari ini tak puasa terlihat enak. Tapi mereka tak dapat pahala sunnah, meski mereka tak berdosa. Naura mau gak dapat kenikmatannya nanti di surga? Teman-teman yang gak puasa belum tentu dapat loh di surga,"kujelaskan demi menenangkannya.
"Mau dong, Mi." Riang dia menjawabku. Meski suaranya sedikit lemes.
Kami pun meluncur pulang.
Saat di rumah segera Naura melepas baju dan berendam di baskom besar. Biar adem katanya. Ya, cuaca hari itu memang sangat menggigit panasnya. Sudah dinyalakan kipas angin saja, panasnya masih membara. Subhanallah.
Setengah jam berendam bikin adem. Seger. Lalu segera Naura pakai baju. Bedak. Wangi deh. Trus tetiba bilang, "Mi, hari ini Ummi belum ada cium Naura," sambil rebahan di sampingku.
"Oh iya ya...Ummi lupa." Segera kupeluk dan kuciumi dia dengan sepenuh cinta.
"Suka gak diciumi Ummi, Nak."
"Ho-oh." Angguknya cepat sambil tersenyum, menampakkan sederet giginya meski ada jendelanya, alias ompong.
Ya, bungsuku sudah usia 9 tahun. Tapi suka sekali dicium. Apalagi kalau selesai mandi, pasti minta dicium Ummi.
*****
Kadang kita lupa memberikan sekedar ciuman pada anak-anak kita yang mulai besar, bahkan beranjak remaja. Terlebih pada anak lelaki. Padahal, bagi seorang anak, ciuman ayah dan ibunya ternyata menunjukkan bahwa kedua orangtuanya masih peduli padanya. Masih sayang dan cinta.
Anak keduaku yang laki-laki juga begitu. Dia semringah sekali jika kulayangkan ciuman ke pipinya. Padahal dia sudah SMP kelas delapan loh.
Begitupun sulungku. Gadis manis yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua belas. Jika kucium pipi kanannya, pasti pipi kirinya disodorkan juga. Bahkan minta dipeluk. Begitulah anak-anakku.
Menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences, pelukan dan ciuman pada anak ternyata dapat menambah jumlah produksi hormon oksitosin dan endorfin yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak-anak.(muslimah.me)
Situs www.beranihijrah.org melansir, bahwa seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City (AS), Edward R.Christopherson.Ph.D, menyatakan jika pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya. Bahkan hal ini bisa memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.
Hmm, ternyata mencium anak banyak manfaatnya. Utamanya mendapatkan pahala. Sekaligus menghidupkan kasih sayang dan cinta antara anak dan orangtua. Bahkan Rasulullah Saw, sang teladan kita, juga telah mengajarkan hal serupa. Jauh sebelum orang-orang masa kini memahaminya.
“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)
Abu Hurairah ra berkata, "Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ternyata, curahan kasih sayang kepada anak-anak kita nampak terasa bagi mereka kala menciuminya. Dan mereka merasakan kebahagiaan yang tak terperi saat ciuman kita mendarat di pipi atau keningnya.
Lautan kasih sayang sungguh tak bertepi.
Dalam, hingga sampai ke hati.
Menciumi anak hanyalah seteguk kasih dan cinta.
Dari sepasang orantua yang mulia.
Hanya berharap rahmat dari Illahi Rabbi
Maka, sudahkah anda mencium anak-anak hari ini? 😄
Laila Thamrin
21092018
#BermainKata009
#NgajiLiterasi
#Revowriter
Jumat, 07 September 2018
Buka Mata Buka Hati #14
Sensasi Jumat Berkah
Alhamdulillah, kembali dipertemukan Allah dengan hari Jumat. Setiap bertemu Jumat, rasanya hati ini berbeda. Saya merasa selalu senang di hari Jumat. Bukan karena pulang kerja lebih cepat loh ya...hehe. Tapi sensasi berkah di hari Jumat selalu melekat.
Salamah dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Hari terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Sebab pada hari itu Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam as. Dia memasukkan Adam ke surga, pada hari itu ia diturunkan ke bumi dan pada hari itu terjadi kiamat serta pada hari itu terdapat satu masa dimana tidak seorangpun berdo’a kecuali Dia akan mengabulkan do’a itu.” (HR.Muslim)
Jumat itu hari istimewa. Salat yang hanya diwajibkan bagi laki-laki muslim adalah salat Jumat. Memotong kuku dan menggunting rambut di hari Jumat dapat pahala sunnah. Setiap doa yang dilangitkan di hari Jumat niscaya akan dikabulkan Allah. Keberkahan dan keagungan hari Jumat sungguh membuatnya seperti hari Raya umat Islam.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” (HR. Muslim)
Tersebab Jumat yang penuh berkah ini banyak muslim yang memanfaatkan Jumat untuk bersedekah. Seperti hari ini, pagi-pagi saat saya berangkat ke tempat mengajar, saya sudah semringah melihat ada yang buka warung sedekah. Ada juga yang warungnya hanya bermodalkan sebuah meja di pinggir jalan dan bertajuk "makanan gratis." Uwow...masyaAllah.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tentang keutamaan hari Jum’at, “Bahwasanya sedekah di hari Jum’at dibandingkan semua hari dalam sepekan seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan selainnya.”
Iri rasanya melihat mereka yang ringan hati dan tangannya untuk berbagi. Meniatkan hati juga untuk bisa selalu berbagi, meski dompet tak selalu penuh berisi.
Tak salah memang untuk selalu bersedekah. Baik dalam keadaan sempit, terlebih lagi jika saat lapang. Karena sejatinya harta untuk disedekahkan tak berkurang.
Rasulullah Saw bersabda :
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)
Bahkan Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi yang bersedekah. Menggiurkan! Rugikan kalau kita tak bersedekah?
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Rasulullah Saw pun telah menguatkan dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. Tirmidzi)
Hmmm....tunggu apa lagi. Jadikan sedekah bagian hidup kita. Bila tak mampu banyak, tak apa sedikit. Bila tak bisa dengan uang, dengan apapun boleh kok bersedekah, asalkan barang yang halal. Makanan, pakaian, buah-buahan. Bahkan sebutir kurma saja bisa jadi sedekah.
Tak hanya barang, berbuat baik pun bisa bernilai sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan bisa jadi sedekah. Bahkan hanya seulas senyuman pada orang lain sudah menjadi sedekah pula. MasyaAllah, begitu indah bukan?
Rasulullah Saw bersabda :
“Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.”(Muttafaqun 'alaih)
“Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu merupakan sedekah bagimu.”(HR.Bukhari)
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”(HR.at Tirmizi)
Salam Jumat Berkah...😊🙏
Laila Thamrin
07092018
#inspirasihariini
#jumatberkah
#gerakandakwahuntukmedsos
#dakwahtakmeluluceramah
#revowriter
Alhamdulillah, kembali dipertemukan Allah dengan hari Jumat. Setiap bertemu Jumat, rasanya hati ini berbeda. Saya merasa selalu senang di hari Jumat. Bukan karena pulang kerja lebih cepat loh ya...hehe. Tapi sensasi berkah di hari Jumat selalu melekat.
Salamah dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Hari terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Sebab pada hari itu Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam as. Dia memasukkan Adam ke surga, pada hari itu ia diturunkan ke bumi dan pada hari itu terjadi kiamat serta pada hari itu terdapat satu masa dimana tidak seorangpun berdo’a kecuali Dia akan mengabulkan do’a itu.” (HR.Muslim)
Jumat itu hari istimewa. Salat yang hanya diwajibkan bagi laki-laki muslim adalah salat Jumat. Memotong kuku dan menggunting rambut di hari Jumat dapat pahala sunnah. Setiap doa yang dilangitkan di hari Jumat niscaya akan dikabulkan Allah. Keberkahan dan keagungan hari Jumat sungguh membuatnya seperti hari Raya umat Islam.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” (HR. Muslim)
Tersebab Jumat yang penuh berkah ini banyak muslim yang memanfaatkan Jumat untuk bersedekah. Seperti hari ini, pagi-pagi saat saya berangkat ke tempat mengajar, saya sudah semringah melihat ada yang buka warung sedekah. Ada juga yang warungnya hanya bermodalkan sebuah meja di pinggir jalan dan bertajuk "makanan gratis." Uwow...masyaAllah.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tentang keutamaan hari Jum’at, “Bahwasanya sedekah di hari Jum’at dibandingkan semua hari dalam sepekan seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan selainnya.”
Iri rasanya melihat mereka yang ringan hati dan tangannya untuk berbagi. Meniatkan hati juga untuk bisa selalu berbagi, meski dompet tak selalu penuh berisi.
Tak salah memang untuk selalu bersedekah. Baik dalam keadaan sempit, terlebih lagi jika saat lapang. Karena sejatinya harta untuk disedekahkan tak berkurang.
Rasulullah Saw bersabda :
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)
Bahkan Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi yang bersedekah. Menggiurkan! Rugikan kalau kita tak bersedekah?
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Rasulullah Saw pun telah menguatkan dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. Tirmidzi)
Hmmm....tunggu apa lagi. Jadikan sedekah bagian hidup kita. Bila tak mampu banyak, tak apa sedikit. Bila tak bisa dengan uang, dengan apapun boleh kok bersedekah, asalkan barang yang halal. Makanan, pakaian, buah-buahan. Bahkan sebutir kurma saja bisa jadi sedekah.
Tak hanya barang, berbuat baik pun bisa bernilai sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan bisa jadi sedekah. Bahkan hanya seulas senyuman pada orang lain sudah menjadi sedekah pula. MasyaAllah, begitu indah bukan?
Rasulullah Saw bersabda :
“Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.”(Muttafaqun 'alaih)
“Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu merupakan sedekah bagimu.”(HR.Bukhari)
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”(HR.at Tirmizi)
Salam Jumat Berkah...😊🙏
Laila Thamrin
07092018
#inspirasihariini
#jumatberkah
#gerakandakwahuntukmedsos
#dakwahtakmeluluceramah
#revowriter
Jumat, 24 Agustus 2018
Buka Mata Buka Hati #13
Warisan
Oleh : Laila Thamrin
Siapa yang tak kenal dengan warisan? Pasti semua orang tahu. Dan kalau bicara warisan, yang terbayang tentulah harta. Tak salah memang. Karena memang seperti itulah adanya.
Warisan merupakan harta yang ditinggalkan seseorang saat dia meninggal dunia. Terkadang harta yang ditinggalkannya ini bisa jadi rebutan. Bahkan perseteruan kaum kerabatnya. Apalagi jika harta yang diwariskan banyak dan menggiurkan. Sudah tabiat manusia menyukai harta. Karena itu memang kesenangan dunia, selain tahta dan wanita.
Beruntung, Islam punya aturan yang jelas berkaitan dengan harta warisan ini. Sehingga, tak perlu payah ahli waris memperebutkan harta si mayit. Tinggal duduk diam saja, jika dia termasuk golongan yang berhak, bagian harta warisan untuknya pun akan didapat.
Namun, sebenarnya tak hanya harta yang layak diperhatikan kala seorang manusia berpulang ke pangkuan Rabbnya. Apalagi jika yang meninggal adalah seseorang yang telah memiliki anak. Ada yang lebih berharga dibanding sekedar uang, rumah, tanah, emas dan permata.
Ayah yang kaya akan mewariskan hartanya pada anak keturunannya. Namun ayah yang salih, tak serta merta mampu mewariskan kesalihannya kepada anaknya. Begitu pun ibu yang ahli ibadah, tak menjamin anaknya menjadi ahli ibadah pula. Lalu bagaimana?
Anak akan mewarisi kesalihan ayah dan ibunya jikalau iman ditanamkan dalam dadanya. Diajarkan tentang keimanan terhadap Rabbnya sejak kecil. Ditanamkan bahwa Allah itu Al Khalik (Maha Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Maha Pengatur). Dikuatkan setiap saat dengan pelaksanaan syariatNya dalam keseharian. Karena Allah juga Maha Mengetahui, sehingga saat manusia lalai dalam melaksanakan perintahNya, Allah pasti tahu.
Karenanya tugas orangtua lah mendidik anak-anaknya dengan iman dan Islam. Sehingga, andai Allah memanggil ayah dan ibunya, anak telah mewarisi iman yang kokoh dan Islam yang kuat. Pahala ayah ibunya pun akan terus mengalir melampaui usianya. Sebab anak yang salih pasti akan melakukan kebaikan dimana saja dan dalam kondisi apapun jua. Dia juga senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, meski keduanya telah tiada.
Lihatlah bagaimana seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi yang diabadikan Allah dalam Alquran kala menasihati anaknya. Meski dia hanyalah seorang budak, namun keimanan dan kecerdasan akalnya telah menjadikan pembelajaran berharga bagi umat Muhammad Saw. Ya, dialah Luqmanul Hakim, yang bisa kita ikuti nasihatnya kepada anaknya dalam Alquran Surah Luqman.
Allah Swt berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Begitu pula saat beliau memberikan nasihat lainnya pada anaknya. Seperti firman Allah Swt :
"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16)
Jelas sekali pada ayat itu Luqman menasihati anaknya dengan nasihat yang jitu. Iman kepada Allah Swt sebagai pondasi yang utama, dan tak menduakanNya pada apapun jua. Lalu berikutnya, pengikat iman tersebut agar tak goyah adalah keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala hal yang manusia kerjakan. Meski perbuatan sangat sepele sekalipun, semisal buang angin yang tak terlihat pelakunya oleh siapapun, namun terasa jelas aromanya. Hingga tak ada yang bisa menuduh siapa pelakunya. Namun Allah pasti tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meski tak ada pengakuan dari mulut si pelaku.
Banyak dari orang tua sekarang yang sibuk memikirkan anaknya kelak hidup berkecukupan materi. Tapi terkadang lupa memikirkan bagaimana agar anaknya hidup dengan kekokohan iman di dada agar hidup lebih berseri. Harta mudah dicari tetapi tak dibawa mati. Namun iman di hati harus serius dicari, karena dia yang menemani sampai dibawa mati.
Hanya iman yang kokoh yang layak diwariskan kepada anak-anak kita. Agar Islam tetap terus terjaga hingga akhir masa. Dan kembali berjaya di dunia ini. Maka, layak kiranya mulai sekarang kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan warisan iman ini untuk anak-anak kita. Jangan sampai terlambat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)
Wallahua'lam bish shawwab []
13 Zulhijjah 1439 H
24 Agustus 2018
#revowriter
#essay
Oleh : Laila Thamrin
Siapa yang tak kenal dengan warisan? Pasti semua orang tahu. Dan kalau bicara warisan, yang terbayang tentulah harta. Tak salah memang. Karena memang seperti itulah adanya.
Warisan merupakan harta yang ditinggalkan seseorang saat dia meninggal dunia. Terkadang harta yang ditinggalkannya ini bisa jadi rebutan. Bahkan perseteruan kaum kerabatnya. Apalagi jika harta yang diwariskan banyak dan menggiurkan. Sudah tabiat manusia menyukai harta. Karena itu memang kesenangan dunia, selain tahta dan wanita.
Beruntung, Islam punya aturan yang jelas berkaitan dengan harta warisan ini. Sehingga, tak perlu payah ahli waris memperebutkan harta si mayit. Tinggal duduk diam saja, jika dia termasuk golongan yang berhak, bagian harta warisan untuknya pun akan didapat.
Namun, sebenarnya tak hanya harta yang layak diperhatikan kala seorang manusia berpulang ke pangkuan Rabbnya. Apalagi jika yang meninggal adalah seseorang yang telah memiliki anak. Ada yang lebih berharga dibanding sekedar uang, rumah, tanah, emas dan permata.
Ayah yang kaya akan mewariskan hartanya pada anak keturunannya. Namun ayah yang salih, tak serta merta mampu mewariskan kesalihannya kepada anaknya. Begitu pun ibu yang ahli ibadah, tak menjamin anaknya menjadi ahli ibadah pula. Lalu bagaimana?
Anak akan mewarisi kesalihan ayah dan ibunya jikalau iman ditanamkan dalam dadanya. Diajarkan tentang keimanan terhadap Rabbnya sejak kecil. Ditanamkan bahwa Allah itu Al Khalik (Maha Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Maha Pengatur). Dikuatkan setiap saat dengan pelaksanaan syariatNya dalam keseharian. Karena Allah juga Maha Mengetahui, sehingga saat manusia lalai dalam melaksanakan perintahNya, Allah pasti tahu.
Karenanya tugas orangtua lah mendidik anak-anaknya dengan iman dan Islam. Sehingga, andai Allah memanggil ayah dan ibunya, anak telah mewarisi iman yang kokoh dan Islam yang kuat. Pahala ayah ibunya pun akan terus mengalir melampaui usianya. Sebab anak yang salih pasti akan melakukan kebaikan dimana saja dan dalam kondisi apapun jua. Dia juga senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, meski keduanya telah tiada.
Lihatlah bagaimana seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi yang diabadikan Allah dalam Alquran kala menasihati anaknya. Meski dia hanyalah seorang budak, namun keimanan dan kecerdasan akalnya telah menjadikan pembelajaran berharga bagi umat Muhammad Saw. Ya, dialah Luqmanul Hakim, yang bisa kita ikuti nasihatnya kepada anaknya dalam Alquran Surah Luqman.
Allah Swt berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Begitu pula saat beliau memberikan nasihat lainnya pada anaknya. Seperti firman Allah Swt :
"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16)
Jelas sekali pada ayat itu Luqman menasihati anaknya dengan nasihat yang jitu. Iman kepada Allah Swt sebagai pondasi yang utama, dan tak menduakanNya pada apapun jua. Lalu berikutnya, pengikat iman tersebut agar tak goyah adalah keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala hal yang manusia kerjakan. Meski perbuatan sangat sepele sekalipun, semisal buang angin yang tak terlihat pelakunya oleh siapapun, namun terasa jelas aromanya. Hingga tak ada yang bisa menuduh siapa pelakunya. Namun Allah pasti tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meski tak ada pengakuan dari mulut si pelaku.
Banyak dari orang tua sekarang yang sibuk memikirkan anaknya kelak hidup berkecukupan materi. Tapi terkadang lupa memikirkan bagaimana agar anaknya hidup dengan kekokohan iman di dada agar hidup lebih berseri. Harta mudah dicari tetapi tak dibawa mati. Namun iman di hati harus serius dicari, karena dia yang menemani sampai dibawa mati.
Hanya iman yang kokoh yang layak diwariskan kepada anak-anak kita. Agar Islam tetap terus terjaga hingga akhir masa. Dan kembali berjaya di dunia ini. Maka, layak kiranya mulai sekarang kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan warisan iman ini untuk anak-anak kita. Jangan sampai terlambat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)
Wallahua'lam bish shawwab []
13 Zulhijjah 1439 H
24 Agustus 2018
#revowriter
#essay
Jumat, 03 Agustus 2018
Bayang-Bayang Merdeka
Oleh : Laila Thamrin
Sorak-sorai terdengar di seluruh pelosok negeri
Saat Bung Karno mengucap proklamasi
Bayangan kehidupan baru pun menari-nari
Bebas lepas dari penguasa kompeni
Negeri Dam enyah, Paman Sam tertawa
Merdeka di bibir, namun terjerat di raga
Kekayaan ibu pertiwi dikeruk sesukanya
Rakyat terbelenggu, tergadailah nyawa
Andai semua mau berkaca
Menatap jauh menembus sukma
Pasti bertemu satu muara
Tegakkan Islam kaffah, agar bahagia
Handil Bakti, 03082018
#belajarnulispuisi
#WCWH02
Sorak-sorai terdengar di seluruh pelosok negeri
Saat Bung Karno mengucap proklamasi
Bayangan kehidupan baru pun menari-nari
Bebas lepas dari penguasa kompeni
Negeri Dam enyah, Paman Sam tertawa
Merdeka di bibir, namun terjerat di raga
Kekayaan ibu pertiwi dikeruk sesukanya
Rakyat terbelenggu, tergadailah nyawa
Andai semua mau berkaca
Menatap jauh menembus sukma
Pasti bertemu satu muara
Tegakkan Islam kaffah, agar bahagia
Handil Bakti, 03082018
#belajarnulispuisi
#WCWH02
Kecil-Kecil Jadi Pengantin
(Praktisi Pendidikan)
(Telah dimuat di Surat Kabar Harian Radar Banjarmasin pada Sabtu, 28 Juli 2018)
Kamis, 12 Juli 2018 adalah hari yang membahagiakan bagi sejoli ZA dan IB. Tersebab hari itu keduanya mengucap ijab kabul tanda sahnya mereka dalam ikatan pernikahan. Esoknya, tamu-tamu pun berdatangan saat resepsi sederhana di rumahnya. Suka cita nampak di raut wajah kedua mempelai. Meski sesekali terlihat mereka tersipu malu kala ada tamu yang menyalaminya.
Namun, kebahagiaannya tiba-tiba harus terputus. Pernikahan siri yang dilakukan pasangan ini dianggap tidak sah oleh pejabat terkait. Pasalnya, usia mempelai dipandang tak cukup jika diukur dengan aturan negara. Dalam UU Perkawinan Tahun 1974, usia yang legal untuk menikah bagi laki-laki 19 tahun, sedangkan perempuan 16 tahun. Sementara ZA berusia 14 tahun dan IB 15 tahun. Ternyata meski kecil, mereka telah berani memutuskan jadi pengantin.
Kehebohan perkawinan mereka pun tak hanya di kampungnya, Desa Tungkap, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, provinsi Kalimantan Selatan. Tapi juga telah viral di dunia maya. Video prosesi pernikahan mereka ramai jadi buah bibir. Dengan mahar 100 ribu rupiah, ZA mantap mengucapkan ijab kabulnya.
Meski orangtua mereka memberikan alasan bahwa pernikahan itu dilakukan karena kuatir akan terjadi “hal yang tidak diinginkan”, namun hukum negara tak bisa mentolerirnya. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, mengatakan perkawinan anak yang terjadi di Kabupaten Tapin, Kalsel ini sudah dibatalkan. Sebagaimana dilansir oleh liputan6.com, usai temu media di kantornya. Menurutnya, kasus pernikahan di bawah umur ini sudah sering terjadi. Dan beberapa kasus pun sudah dibatalkan pula.
Masih dari liputan6.com, Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Ai Maryati Solihah menanggapi adanya kabar viral tersebut. Jika pernikahan tersebut benar adanya, Ai sungguh menyayangkan. Menurutnya, KPAI akan mendalami dan melakukan investigasi terkait hal itu. Sebab perkawinan usia kanak-kanak ini tak lazim dilakukan oleh KUA.
Banyak pihak berpendapat bahwa pernikahan dini berbahaya. Terutama jika ditilik dari segi medis. Karena usia di bawah 16 tahun bagi perempuan organ reproduksinya dianggap belum siap. Sehingga, remaja perempuan yang menikah usia dini berisiko mengalami masalah kesehatan reproduksi, seperti kanker leher rahim, trauma fisik pada organ intim, dan kehamilan berisiko tinggi (preeklampsia), bayi prematur, dan tingginya angka kematian ibu.
Selain itu, faktor ekonomi juga satu hal yang dipersoalkan. Anak di bawah umur masih terkategori usia sekolah, sehingga tak layak bekerja. Lalu darimana mereka bisa membiayai keluarganya?
Belum lagi secara psikologis, kematangan pemikirannya disangsikan mampu melewati berbagai ujian rumah tangga. Hingga sering terjadi pernikahan bubar dengan mudahnya. Apalagi kasus perceraian di Indonesia cukup tinggi, sekitar 350 ribuan di tahun 2016.(republika.co.id) Bahkan sebagaimana dilansir oleh gulalives.co, meningkatnya jumlah pernikahan muda selama sepuluh tahun terakhir berbanding lurus dengan meningkatnya angka perceraian.
Pemerintah pun kemudian gencar melakukan sosialisasi program Genre, Generasi Berencana. Program yang diluncurkan oleh BKKBN ini bertujuan mencegah lajunya pernikahan dini di masyarakat. Sasarannya ke kalangan remaja. Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof. Rizal Damanik, mengajak pemuda-pemudi di usia 12-24 tahun untuk merencanakan masa depan dengan baik. Karena itu, dia mengimbau agar pemuda-pemudi tidak menikah dalam usia muda, tidak melakukan hubungan intim pranikah, dan tidak terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.(www.bkkbn.go.id)
Ada Apa Dengan Program Pencegahan Pernikahan Dini?
Program pencegahan pernikahan dini ini merupakan program yang dicanangkan oleh UNICEF (United Nations Childrens Fund), salah satu lembaga yang bernaung di bawah PBB. UNICEF mengestimasi setiap tahun 12 juta perempuan memutuskan menikah dini di seluruh dunia. Data dari Unicef tahun 2018 juga menyebutkan angka perkawinan anak di Indonesia berada di peringkat ke-7 se-Asia Tenggara. Ini peringkat yang cukup tinggi. Karenanya, Badan Sasaran Pembangunan Berkelanjutan PBB menargetkan dunia bebas praktik pernikahan di bawah umur pada 2030 mendatang.
Namun di sisi lain, pencegahan pernikahan dini menyebabkan suburnya pergaulan bebas di kalangan remaja. Hingga seks bebas dan aborsi pun jadi perkara biasa. Perusakan terhadap generasi muslim pun semakin sempurna. Karena kebebasan berbuat yang lahir dari Sekulerisme telah menggejala. Hingga Islam dan Kapitalisme seolah tiada beda. Padahal sejatinya tak ada yang sama dari keduanya.
Sistem pendidikan sekuler juga turut andil dalam membentuk karakter anak. Hingga saat memasuki usia baligh, anak tidak menunjukkan kematangan jiwa dan pemikirannya. Sekolah lebih berorientasi untuk mendapatkan ijazah. Kemudian mampu bersaing di bursa kerja. Sementara pola pikir dan pola sikapnya yang sesuai karakter Islam tak terbentuk dengan baik. Alhasil, alih-alih membangun keluarga, membangun karakter dirinya saja masih perlu dibina. Pengerdilan jiwa para pemuda Islam ini memang buah diterapkannya Kapitalisme di negeri ini.
Pernikahan dalam Islam
Tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk melangsungkan keturunan yang akan melanjutkan kelestarian generasi. Penting bagi umat Islam untuk menjaga agar keturunan mereka tak punah. Agar Islam tetap menjadi pegangan umat manusia hingga akhir zaman.
Dalam Islam usia menikah ditentukan dengan syarat baligh. Jika seseorang telah baligh, maka dia siap memikul beban kewajiban dari Al Khaliknya. Maka sistem pendidikan Islam yang diterapkan turut membentuk karakter anak yang berkepribadian Islam yang mantap. Hingga anak siap menjalankan semua syariat Islam yang dibebankan padanya saat usia baligh datang. Termasuk kewajiban memikul nafkah bagi laki-laki. Dan siap pula baginya untuk menikah.
Hukum asal menikah adalah Jaiz (diperbolehkan). Tapi akan menjadi wajib ketika seseorang telah mampu dan dia takut akan terjerumus pada zina. Mampu disini tentu terkait dengan banyak hal. Mampu secara pemikiran, mental, seksual, ekonomi dan mampu bertanggungjawab terhadap keluarga yang bakal dibangunnya.
Rasulullah Saw bersabda, "Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. Sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya." (Muttafaq'alaihi)
Menikah bukan sekedar ijab kabul dihadapan penghulu. Namun menikah merupakan "mitsaqon ghaliza", perjanjian yang kokoh, yang melibatkan Allah Swt di dalamnya. Berijab dan kabul atas nama Allah untuk mengikatkan dua orang sejoli dalam ikatan suci dan halal.
Ikatan itu diharapkan akan melahirkan keturunan yang sholih. Dalam bangunan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Karenanya menikah itu bukan sekedar cara melampiaskan nafsu belaka. Tetapi membangun separuh agama. Hingga terlahirlah generasi Islam yang siap menyambut tongkat estafet kepemimpinan umat Islam yang mulia.
Maka, tak salah kiranya kecil-kecil jadi pengantin, selama syarat dan ketentuannya berlaku sesuai syariat Islam. Jika tidak sesuai syarat dan ketentuannya, jangan coba-coba untuk menikah. Wallahualam bish shawwab. []
Langganan:
Postingan (Atom)






