Senin, 25 Desember 2017

WASPADAI SERUAN ISLAM MODERAT

Waspadai Seruan Islam Moderat

Oleh: Laila Thamrin

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan beragama secara ekstrem bukanlah cara beragama yang diajarkan Rasulullah SAW. Hal ini diungkapkannya saat sambutan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1439 H yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/11/2017) malam.

Lukman Hakim juga mengatakan bahwa umat Islam dihadirkan sebagai ummatan wasathan (umat yang adil dan pilihan), umat pertengahan, umat moderat, umat yang adil, umat yang anti terhadap sikap ekstrimisme dan tindakan yang melampaui batas. (eramuslim.com)

Pernyataan Menag ini cukup menggelitik. Pasalnya, dia menyebutkan kata ekstrem dan wasathan, dua kata yang secara arti terkesan berseberangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata ekstrem adalah 1. Paling ujung (paling tinggi, paling keras); 2. Sangat keras dan teguh; fanatik. Berarti jika disematkan dengan pernyataan “beragama yang ekstrem” akan menjadi “beragama dengan sangat keras dan teguh; fanatik.” Sedangkan kata wasathan sering dimaknai sebagai pertengahan atau moderasi, yang memang menunjuk pada pengertian adil.

Jadi apa yang disampaikan oleh Menag intinya bahwa Rasulullah SAW itu tidak mengajarkan beragama secara ekstrem. Dan umat Islam adalah umat yang berada dipertengahan atau moderat. Umat Islam yang moderat itu biasanya ditunjukkan dengan sikap seorang muslim yang terbuka kepada siapa saja, baik kepada sesama muslim, non muslim, bahkan kepada orang yang atheis sekalipun. Toleran terhadap penganut agama lain, mengakui pelaku LGBT, menerima keberadaan PSK, menyetujui nikah beda agama atau nikah sesama jenis, menjadikan adat sebagai bagian dari syariat, dan sebagainya. Namun di sisi lain alergi dengan jilbab, jihad dan syariat.

Rakyat terus digiring untuk menerima Islam moderat sebagai bagian dari hidupnya. Hal-hal demikian dianggap sebagai perilaku umat Islam yang baik, yang wasathan atau moderat. Bahkan pemahaman Islam moderat ini juga telah dikukuhkan dalam Deklarasi Serpong pada Senin, 21 November 2017, bersamaan dengan acara International Islamic Education Expo (IIEE) atau Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017 di Serpong, Tangerang Selatan.
Dalam acara tersebut, Deklarasi Serpong diucapkan bersamaan oleh perwakilan beberapa ormas Islam, diantaranya NU, Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, dan Al Khairat. Serta Rektor  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya mewakili pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Menag Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, “Isi Deklarasi Serpong adalah bagaimana kita menjadikan Islam wasathiyah, Islam yang rahmatan lil alamin sebagai pedoman untuk menyebarkan Islam moderat.” (detiknews.com)

Islam moderat tidak pernah dikenal dalam Islam dan bukan berasal dari Islam. Barat memang sangat suka memberikan berbagai label untuk mengkotak-kotakkan umat Islam. Taruhlah seperti Islam Fundamental, Islam Radikal, Islam Liberal, Islam Nusantara, Islam Moderat, dan sebagainya. Tujuannya agar antar kelompok dalam Islam ini saling cela, menjatuhkan dan bermusuhan, hingga akhirnya terjadi perpecahan. Jadi jelas, istilah ini bukan berakar dari Islam.
Pemahaman Islam moderat ini sangat berbahaya bagi umat. Islam moderat akan dijadikan sebagai senjata untuk melemahkan aqidah umat. Karena akan menjauhkan dari ajaran Islam yang sesungguhnya...
Ajaran Islam akan senantiasa dikompromikan dengan keadaan, situasi, kondisi dan siapa yang dihadapi. Dan identitas sebagai muslim yang berkepribadian Islam menjadi kabur karenanya. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda ,”Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi” (HR. Ad Daruquthni).

Dalam Islam, tak pernah ada labeling. Islam itu hanya satu. Islam ya Islam. Seluruh aturan tentang kehidupan manusia termuat di dalam Alquran dan assunah dengan lengkap. Islam yang sekarang tak ada bedanya dengan Islam yang diturunkan di masa Rasulullah SAW. Tak ada yang tereduksi. Yang terus berkembang itu hanyalah persoalan hidup manusia dari masa ke masa. Allah SWT telah menegaskan dalam firmannya:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Alkitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya.”(QS. Ali Imran : 19)  

Islam mengajarkan bahwa Iman itu adalah percaya dan yakin kepada keberadaan Allah SWT sebagai satu-satunya Rabb yang berhak disembah, percaya dan yakin kepada MalaikatNya, Kitab-kitabNya, Nabi dan RasulNya, Hari Kiamat, serta Qadha-Qadar baik dan buruknya. Islam telah menetapkan tata cara sholat, puasa, zakat dan berhaji. Juga tata cara pernikahan, perceraian, pengasuhan anak, perwalian dan pewarisan.

Islam mengatur hukum-hukum bagi pezina, pencuri, peminum khamr, pembunuh, penjudi, koruptor, pelaku liwath(homoseks), dan pelanggaran lainnya. Begitu juga masalah ekonomi, pendidikan, sosial dan politik. Lengkap tak ada yang tertinggal. Hingga Islam sebagai rahmatan lil alamin akan terwujud jika Islam diterapkan secara sempurna dan menyeluruh, bukan menjadikan Islam Washatan atau Moderat.

Dalam Islam antara al haq dan al bathil itu tegas. Beda Islam dan Kafir itu jelas. Tak ada yang sifatnya ditengah-tengah atau moderat. Allah SWT berfirman, “Janganlah kalian campur adukkan antara kebenaran(al haq) dan yang bathil, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 42)
Beragama yang eksrem justru menjadi hal yang penting bagi umat Islam. Karena hanya dengan beragama dengan “keras dan teguhlah” maka Islam dan umatnya akan tetap terjaga hingga akhir zaman. Sebagaimana firman Allah,“Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara Kaaffah dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208)

Jadi, umat Islam harus waspada terhadap seruan Islam moderat ini yang sebenarnya adalah upaya dari Barat dan musuh-musuh Islam lainnya untuk menjauhkan Islam dari umatnya, memecah belah kaum muslimin dan menghalangi kembalinya kebangkitan Islam. Wallahu’alam bish showwab.
By : Laila Thamrin

*Anggota Komunitas Revowriter
*Tulisan ini telah dipublikasikan di Voa Islam pada Ahad, 10 Desember 2017

Minggu, 24 Desember 2017

PUJIAN

Seorang hamba yang bertaqwa tak perlu pujian dari sesamanya ketika berbuat kebaikan, lebih-lebih ketika melaksanakan kewajiban. Manusia hanya perlu pujian dari Allah semata, karena pujianNya mengandung pahala yang kan menyelamatkan manusia. Dan ini takkan bisa diberikan oleh siapapun kecuali Dia.

Pujian dari sesama manusia kadang bisa menjerumuskan. Karena bisa jadi setelah dipuji, riya kan menghampiri diri. Tapi, kadang disisi yang lain pujian bisa menjadi penyemangat agar diri semakin bertambah-tambah kebaikannya.

Namun, pujian hanya tepat diberikan pada seseorang yang melaksanakan hukum Allah dengan benar. Bukan yang melanggarnya. Apalagi menginjak-injaknya. Karena nilai terpuji dan tercela hanyalah dari sisi Allah semata. Bukan dari manusia.

Jadi, layakkah Hakim-hakim MK mendapatkan pujian, padahal hukum yang mereka agungkan adalah hukum buatan manusia?

أَفَحُكْمَ الْجٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al Maidah : 50)

Laila Qadarsih Thamrin
24122017

#IslamKaffah
#PenulisBelaIslam
#PengingatDiri
#BeraniNulisBeraniDakwah

Sabtu, 23 Desember 2017

MENGAPA HARUS BELA ISLAM ?

Suatu hari yang terik dan panas terdengar sayup-sayup suara merintih, "Ahad...Ahad...Ahad.." Terlihat seorang laki-laki, hitam legam kulitnya, terbaring diatas padang pasir yang panas, dan diatas perutnya terdapat sebongkah batu besar menindihnya. Bukan karena terjadi longsor kala itu hingga si batu ada diatas tubuhnya. Tapi karena memang batu itu sengaja diletakkan oleh Umayyah bin Khalaf, tuannya. Ya...dialah sosok Bilal bin Rabah ra, seorang budak yang berkuli hitam, tengah disiksa oleh tuannya karena keIslamannya. Dia dipaksa untuk kembali kepada agama tuannya. "Sembahlah Latta dan Uzza!" teriak Umayyah bin Khalaf. Bilal tak bergeming. Dia kokoh dengan pendiriannya. Hingga datanglah Abu Bakar Ash Shiddiq ra membelanya. Maka terbebaslah Bilal dari tangan Umayyah bin Khalaf dengan sembilan uqyah emas. Abu Bakar ra telah membelinya. Sekaligus Abu Bakar ra membebaskannya menjadi manusia merdeka, bukan lagi seorang budak.

MasyaAllah...kisah Bilal bin Rabah ra yang sangat masyhur ini mengajarkan kepada kita betapa pembelaan seorang muslim terhadap agamanya akan membawa kebaikan dunia dan akhirat. Bilal bin Rabah ra kemudian menjadi muazzinnya Rasulullah SAW. Menjadi seorang muslim yang diperhitungkan dalam setiap jihad. Suara merdunya ketika mengumandangkan azzan menjadi penyemangat setiap muslim untuk segera melaksanakan sholat berjamaah. Bahkan hingga sekarang namanya diabadikan sebagai panggilan bagi setiap muazzin di mesjid-mesjid di Nusantara. "Mana Bilalnya?" tanya orang-orang jika sebuah mesjid tak ada yang azan.

Islam memang wajib dibela, karena Allah SWT akan memberikan pahala kepada orang-orang yang menyampaikan perkataan-perkataan yang baik. Dan bagi orang-orang yang merusak Islam, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka. Maka, menulislah untuk membela Islam. Sampaikan semua tulisan kita pada semua orang. Tunjukkan keagungan Islam dengan pena kita. Dan tunjukkan pada dunia bahwa hanya Islam yang layak menaungi mereka di dunia dan akhirat.

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصّٰلِحُ يَرْفَعُهُۥ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّـَٔاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ

"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur."(QS. Fathir : 10)

Laila Thamrin
23122017

#kulWA
#AMK4
#PenulisBelaIslam
#BeraniNulisBeraniDakwah

Rabu, 08 Juni 2016



Kokohkan Langkah, Menggapai Cita Bersama


Suasana pagi yang sedikit berawan dan butiran gerimis tipis membasahi sebagian kota Banjarbaru tak mengurangi langkah kami untuk berangkat menuju Hotel Rodhita, tempat dimana anak sulung kami tercinta, Nur Adzkia Kamilah, hari ini mengikuti Wisuda. Ya, hari ini Sabtu, 4 Juni 2016 adalah hari kelulusan Adzkia, panggilan sayang kami, setelah tiga tahun menjalani sekolah di SMP Islam Terpadu Insantama Banjarbaru.

Ada rasa senang yang menggebu-gebu, rasa gembira yang membuncah, meskipun ada rasa gelisah dan sedih yang terselip didalamnya. Hal itu tersirat pada wajah-wajah para siswa, khususnya kelas 6 dan 9 Sekolah Islam Terpadu Insantama ini. Pun juga pada para orang tua yang diundang untuk hadir, meskipun berdandan rapi dan semburat bahagia muncul pada wajahnya, tetapi tetap ada  rasa sedih dan haru yang tersimpan rapi didalamnya.

Itu juga yang muncul pada kami. Sejak pertama duduk dan mendengarkan prosesi awal pembukaan acara, rasa gundah tiba-tiba menyeruak dalam dada. Kata demi kata yang diuangkapkan para guru dan orang tua yang mewakili berbicara didepan podium membuat semakin membuat mata ini tak tahan menampung panasnya air mata yang berdesakan ingin keluar. Hingga penampilan siswa-siswi kelas 5 dan 8 yang begitu menyentuh hati, tak kuasa lagi membendung tetesan air mata ini hingga pecah menjadi sebuah tangisan yang mengalirkan air mata dengan derasnya. Hingga tissu pun tak henti harus ditarik terus dari tempatnya.

Ya...diawali dari sebuah cerita salah satu episode kehidupan Rasulullah SAW ketika mendakwahkan Islam di Mekkah dan Madinah. Dimana salah satu sahabat Beliau, Khalid Bin Walid yang terkenal dengan julukan "Panglima Perang Yang Tak Pernah Kalah", dulunya adalah seorang kafir yang sangat memusuhi Rasul SAW dan pengikut beliau. Dan yang paling fenomenal saat itu adalah kejadian saat Perang Uhud. Kaum Muslimin harus berhadapan dengan pasukan kafir Quraish yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid.

Perang ini terjadi di bukit Uhud, dimana dibukit ini kaum muslimin menempatkan pasukan panahnya diatas bukit. Strategi yang sangat bagus kala itu, karena dari atas bukit bisa melihat musuh dengan lebih jelas.  Pertempuran antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraish pun terjadi. Dan dimenangkan oleh kaum muslimin. Kaum kafir pimpinan Khalid Bin Walid mundur ke belakang. Kaum Muslimin bertakbir atas kemenangan ini. Pasukan panah yang ada diatas bukit pun terperangah melihat harta bawaan kaum kafir yang ditinggalkannya begitu banyak. Harta rampasan perang (ghanimah) yang "menyilaukan mata" sebagian besar pasukan perang dari kaum muslimin. Mereka pun beramai-ramai menuruni bukit Uhud menyerbu harta tersebut. Mereka tak perduli terhadap seruan Rasulullah SAW untuk tetap ada ditempatnya masing-masing sebelum diperintahkan berpindah. Inilah awal petaka itu.....

Khalid bin Walid, sebagai pimpinan pasukan musuh yang awalnya kalah tiba-tiba melihat kejadian ini. Dia segera memerintahkan pasukan berkudanya untuk menaiki Bukit Uhud yang ditinggalkan pasukan panah kaum Muslimin dari arah belakang. Hingga mereka mengepung bukit itu. Padahal Rasulullah SAW masih ada dibukit itu, dengan ditemani hanya beberapa orang sahabat saja. Sungguh.....inilah yang membuat tetesan air mataku tak terbendung lagi...membayangkan Manusia yang paling Mulia, Rasulullah Muhammad SAW terkepung musuh dan nyawanya diujung tanduk....hingga beberapa gigi depan beliau rontok karena terkena pukulan orang-orang kafir yang beringas dan sangat bernafsu untuk membunuh Beliau. Tak rela rasanya mendengar cerita ini...dimana Beliau mendapatkan kesakitan yang luar biasa untuk mempertahankan Islam hingga bisa kita kenal dan menjadi hidup kita saat ini.

Air mata ini semakin deras mengalir ketika anak-anak di SIT Insantama ini memvisualisasikannya dengan apik dalam drama singkat ini, namun sarat akan makna.
Begitu besar pengorbanan para sahabat yang melindungi Beliau dipersembunyiannya di Bukit Uhud itu. Ada yang penggal tangannya. Ada yang mendapatkan puluhan luka karena sabetan pedang dan tusukan tombak. Ada yang putus telinganya. Subhanallah....tapi itu menjadi ringan dirasakan oleh para sahabat ketika mendapati Rasulullah SAW masih hidup, meskipun Beliau pun terluka.

Satu pelajaran yang didapatkan dari peristiwa Perang Uhud ini adalah pentingnya ta'at pada pemimpin. Ta'at pada aturan dan perintah dari seorang pemimpin menjadi sangat penting. Karena dari keta'atan ini akan membawa pada tujuan yang ingin dicapai.

Anak-anak di SIT Insantama ini telah mengingatkan semua orang tua yang hadir dan juga semua siswa untuk menjadi seorang hamba yang selalu ta'at pada Khaliknya. Seorang Muslim hanya wajib ta'at pada perintah Allah SWT maupun larangan-Nya.

Masya Allah....sebagai orangtua, kami merasakan bahagia luar biasa, melihat perkembangan anak-anak kami selama bersekolah disini. Ini bukan promosi, tapi kami sekedar menceritakan bagaimana kami merasakan ada hal yang berbeda disekolah ini yang kami dapatkan. Anak kami menjadi individu yang lebih ta'at kepada Allah SWT. Dia sudah terbiasa memakai jilbab(jubah) dan khimar(kerudung) jika keluar rumah. Tentu ini bukan karena takut dengan guru dan orangtuanya, tetapi lebih karena dia faham bahwa itu diperintahkan oleh Allah SWT sesuai dengan firmanNya dalam QS. Al Ahzab : 59 dan QS. An Nur : 31. Tak hanya itu, mereka pun diajarkan bagaimana pergaulan yang benar antara laki-laki dan perempuan didalam Islam, yang intinya "No Pacaran". Dan banyak hal lainnya lagi.

Kebahagian ini tak terkirakan. Keharuan kembali muncul diacara puncak Wisuda ini, ketika satu persatu siswa-siswi kelas 6 dan 9 dipanggil dengan didampingi kedua orangtuanya untuk diberikan kenang-kenangan dari sekolah.
Dan derai tangis anak-anak, para guru dan para orangtua pun semakin bertambah deras ketika sesi terakhir berjalan. Salam-salaman, ucapan ma'af dan terimakasih, peluk cium dan foto bersama sungguh semakin menyempurnakan pertemuan ini. Sungguh berkesan. Wisuda...adalah perpisahan yang rasanya semakin mebuat anak-anak tak ingin berpisah dengan para guru dan teman-temannya. Serasa waktu inginnya tak berputar. Agar terus mereka puas bersama dan tak ada kesedihan yang dirasa. Yang ingin dirasa hanyalah kesenangan dan kegembiraan.

Namun, hidup memang terus melangkah ke depan. Semua rintangan harus dilalui. Semua ujian dan cobaan harus dijalani. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tetapi perpisahan ini hanya sementara, karena kita berharap kan bertemu kembali suatu saat nanti, bahkan hingga ke SurgaNya.

Maka, tak salah sekolah ini megambil tema "Kokohkan Langkah, Menggapai Cita Bersama".  Langkah yang tepat adalah langkah yang sesuai dengan perintah dan larangan  Allah SWT, untuk menggapai cita bersama yaitu menuju pada keridhoanNya.

Selamat buat ananda kami Nur Adzkia Kamilah, semoga sukses terus menyertaimu bersama doa Ummi dan Abi tercinta. Semoga semua cita-citamu mendapatkan ridho dari Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin

Nahnu uhibbuki Adzkia.

Banjarbaru, Sabtu 4 Juni 2016
Wisuda III SIT Insantama
Hotel Rodhita

By : Laila Qadarsih

Senin, 22 Februari 2016

Tim Work Hebat


Cuaca yang akhir-akhir ni kurang bersahabat membuat pertahanan tubuh juga tak mampu bertahan. Kadang panas yang begitu menyengat, tiba-tiba berubah dengan cepat dengan datangnya awan cumulus yang bergumpal-gumpal dan membawa hujan deras. Tiap hari saya nih punya jadwal ngantar dan jemput anak-anak sekolah. Yaah..inilah bagian yang cukup menyenangkan menjadi seorang ibu...hee...."My Trip My Adventure"...meskipun trip nya cuma sekolahan dan rumah...

Nah, ternyata hari itu...saya ga kuat lagi nahan virus nih. Dan jadilah saya sakit, flu menyerang. Setelah sebelumnya Kaka Hanif dan De Naura yang kena duluan, tp mereka sudah berangsur sembuh. Jadi pas pulang jemput anak-anak sekolah, badan saya ga enak banget. Bersin-bersin, hidung mampet, kepala berat, badan rasa sakit semua. Qadarullah...

Walhasil, tempat tidur jadi pilihan yang paling pas deh buat saya. Sambil olesin Vicks dan Minyak kayu putih ke leher, istirahat sebentar dan berdoa semoga Allah segera pulihkan lagi tenaganya.
Eeh..ga lama ternyata de Naura datang kekamar, bawakan segelas besar air teh hangat. Wow..kejutan nih. De Naura bilang, "Mi, ini teh hangatnya buat Ummi. Kan Ummi lagi sakit, jadi Naura bikinin ini buat Ummi supaya Ummi badannya enak." Masyaallah...senang sekali saya dapat suguhan teh hangat dari Naura.
Naura ini sekarang sudah 7 tahun usianya, kelas 1 SD. Alhamdulillah....

Kadang anak-anak kita melakukan hal yang tak disangka-sangka lo bunda....yang bikin air mata kita netes ga terasa. Kaya yang dilakukan Naura itu contohnya. Saya ucapin terimakasih sambil ciumin dia. Nauranya senang dan sumringah sekali...karena merasa dia telah membantu Ummi nya. Kelihatannya kecil ya, tapi efeknya luar biasa. Naura jadi ga minta dibantu untuk ngerjain yang lain-lain hari itu, karena dia tahu Ummi nya lagi sakit dan dia merasa mampu melayani Ummi nya. Saya apresiasi buanget deh....

Kalo Ka Hanif lain lagi. Pas malam beranjak datang, dan kebetulan Abu Hanif hari itu pulang kerja agak malam, sementara saya ga nyaman banget untuk bangun dan masak, saya panggil ka Hanif. Kita diskusi nih...buat menu makan malam itu. Karena Ka Hanif sekarang sudah berusia 10 tahun dan kelas 5 SD, jadinya enak diajak diskusi. Kita diskusi bagaimana caranya supaya makan malam bisa terpenuhi. Dan akhirnya kita sepakati, karena Ka Hanif belum bisa masak dia bertugas beli nasi goreng diujung jalan dekat rumah. Hehehe....praktis dan solutif.
Dan Ka Hanif langsung setuju karena dia suka naik sepeda kemana-mana dan paling suka makan nasi goreng. Klop deh. Tapi sebelum beli nasi goreng, saya minta tolong ka Hanif untuk beli gula dulu ke warung seberang rumah, pas kebetulan gula kita habis. :)
Beres beli gula, berangkatlah si ka Hanif dengan semangat. Wuss....cepet banget!

Sekitar 15 menit....sudah datang lagi dengan nasi goreng ditangan. Hehe. De Naura langsung menyerbu. Ambil piring dan sendok. Trus duduk didepan tempat tidur Ummi, dan makan dengan lahap, setelah sebelumnya berdoa dulu. Subhanallah....luar biasa mereka. Saya bangga dengan mereka.
Hari itu kami bertiga yang tertinggal dirumah, karena si sulung ka Adzkia sekolahnya di Pondok, dan Abi belum datang kerja, kami bisa jadi "Tim Work Hebat". Hehe....
Hebat menurut saya...karena pas saya sakit dan ga bisa memenuhi kebutuhan mereka, Hanif dan Naura bisa bekerja sama membantu Ummi nya.
Rasanya ada perasaan haru biru dalam dada, ada perasaan bersalah juga karena kadang bisa jengkel dengan tingkah polah mereka sehari-hari. Besar ternyata perhatian mereka pada Ummi nya. Walau kadang kita tak melihat secara langsung.

Benar memang yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk selalu berakhlak yang baik kepada keluarga. Kepada anak-anak kita terutama. Anak adalah amanah yang paling berharga. Mendidik mereka dengan cinta dan kasih sayang sungguh terasa tenang dan menentramkan. Anak-anak kita adalah penyejuk mata kita, qurrota a'yun. Mendidik mereka dengan baik akan menghantarkan kita ke surgaNya.
Rasulullah SAW bersabda : "Man Laa yarham laa yurham" . Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi (HR. Bukhari)

Catatan manis di hari Kamis, 18 Peb 2016

By : Laila Qadarsih

Senin, 08 Februari 2016

Welcome Back Diriku !

Alhamdulillah....setelah "vacum" sekian lama, akhirnya jari jemari ini mulai rindu tuk kembali aktif.
Saya memang bukan penulis ulung, tapi selalu pengeeeen sekali piawai dalam menulis. Cuma...ya itulah, berkejaran dengan berbagai macam kewajiban hingga blog ini jadi terabaikan. Hehe....
Padahal mestinya keinginan harus dibarengi dengan latihan ya....
"Bisa karena biasa" , begitu kira-kira harusnya...hee....

Dan berkat seorang teman yg mengundang saya untuk gabung di komunitas ibu-ibu yang produktif dengan berbagai prestasi sesuai passion nya, semangat saya untuk menulis kembali muncul. Semoga saya bisa kembali rajin menuangkan "isi kepala" saya ke blog tersayang ini.

Welcome Back diriku ! Hehe....:)

Minggu, 12 Desember 2010

Melatih Kemandirian Anak


A.   Definisi Mandiri
Dalam masyarakat biasanya mandiri diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memenuhi keperluannya sendiri, baik pada anak maupun orang dewasa. Misalnya : mampu mandi sendiri, mampu makan sendiri, mampu memakai pakaiannya sendiri, dan sebagainya.
Sedangkan dalam kacamata Islam, seseorang dikategorikan mandiri apabila orang tersebut mampu memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan fisik (hajatul udhowiyah) maupun kebutuhan nalurinya (gharaiz), yang dilakukannya sendiri sesuai dengan aturan Islam dan tanpa banyak tergantung dengan orang lain. Misalnya : mampu makan sendiri dan memilih makanan yang halalan thoyyiban, mampu memakai pakaian sendiri dan menutup auratnya dengan benar, mampu mengendalikan amarahnya ketika muncul atau menyalurkannya dengan benar, dan sebagainya.
Mungkin kita bisa memperhatikan, sejauh ini anak-anak kita kira-kira sudahkah mengarah pada kemandirian? Dan apakah Islam sudah menjadi ukuran dalam kemandirian mereka?

B.   Beberapa hal yang menyebabkan anak tidak mandiri
 1.    Adanya kekhawatiran yang berlebihan dari orang tua terhadap anaknya.
Misalnya : ortu suka melarang anaknya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bias dikerjakan anak meskipun belum sempurna. Seperti anak tidak boleh makan sendiri karena khawatir tumpah dan berhamburan, anak tidak boleh mandi sendiri karena khawatir masuk angin, menghambur-hamburkan sabun dan air,  atau anak tidak boleh turun naik tangga (kalo rumahnya bertingkat) karena khawatir terpeleset dan jatuh. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
2.    Orang tua yang sering membatasi dan melarang anaknya berbuat sesuatu secara berlebihan.  Biasanya dengan ungkapan : “jangan ….”, atau “tidak boleh…..”. Misalnya : “Nanda jangan  naik turun tangga.” 
3.    Kasih sayang orang tua yang terlalu berlebihan.
Semua orang tua pasti sayang pada buah hatinya. Namun ungkapan kasih sayang yang berlebihan kadang membuat anak menjadi sangat manja dan tidak mandiri. Bentuk ungkapan kasih sayang itu biasanya dalam bentuk pemenuhan semua keinginan anaknya, tanpa melihat lagi apakah memang diperlukan atau tidak untuk anak.

C.    Cara-cara melatih anak agar bisa mandiri
Agar anak-anak kita bisa menjadi mandiri ada beberapa cara untuk melatihnya, diantaranya :
1.    Memberikan pemahaman sesuai dengan tingkat perkembangan (kemampuan) akalnya.
Tahap perkembangan akal :
a.    0 – 2 th :
v  Memberikan informasi dan fakta sebanyak2nya, dan sering di ulang2
v  Pemberian kata-kata yang positif, mis : “Subhanallah, anak ummi cantik sekali sesudah mandi hari ini.” 
v  Pengucapan kata-kata oleh ortu dengan lafadz yang jelas dan benar, mis : Susu, bukan tutu.
b.    2 – 5 th :
v  Melatih proses berpikir dgn memberikan pertanyaan2 yg  menggugah pemikirannya, spt : mengapa air hujan turun dari langit?
v  Memberikan permainan2 yang merangsang akalnya untuk berpikir, spt : menyusun balok2, puzzle, dll.
v  Melatih disiplin sikapnya, sperti buang sampah pada tempatnya, mengajak sholat, dll.
c.    5 – 6 th :
v  Membiasakan suasana berpikir pada anak dalam setiap kesempatan (dgn selalu menanyakan alasan2 dia mengerjakan sesuatu, mis : mengapa tidak mau mandi? mengapa suka memukul? Dsb)
v  Memberikan informasi-informasi ttg aqidah, syariat dan akhlak.
v  Membiasakan anak suka menghafal do’a2 harian, hadits, ayat-ayat al qur’an.
v  Membiasakan mengucapkan kalimat2 thoyyibah dan makna2nya
v  Membiasakan melakukan kewajiban secara teratur, seperti sholat, puasa, amar ma’ruf nahyi munkar,  berbuat baik pada ibu-bapak dan saudara, dll
v  Membiasakan berakhlak yang baik, sperti tidak berdusta, tidak sombong, rajin, dsb
d.    6 – 7 th :
v  Anak sudah dibiasakan disiplin waktu untuk melaksanakn beban-beban hukum syara, seperti sholat pada waktunya, puasa sehari penuh, mengatur waktu2 utk bermain dan belajar, dll.
v  Sudah biasa dengan hafalan do’a, hadits, ayat-ayat Al Qur’an, bacaan sholat, dll.
v  Sudah dibiasakan dengan aturan2 dan dijelaskan tujuan membuat aturan tersebut, serta konsekuensi jika anak melanggarnya, mis : jika tidak sholat zuhur terlebih dahulu maka anak tidak boleh makan siang, jika hafalannya belum  lancar tidak akan diajak kerumah nenek, dll.
v  Sudah menumbuhkan rasa takut karena Allah, bukan karena ortu atau guru, mis : jika tidak sholat maka Allah tidak suka pada kita, kalo Allah sudah tak suka bisa jadi kita tak dimasukkanNya ke dalam surga.
v  Mulai belajar menulis, membaca dan berhitung.
e.     7 – Baligh :
v  Sudah terbiasa untuk selalu berpikir ketika mengerjakan sesuatu, mis : ketika makan selalu memilih yg halal dan thoyyib.
v  Sudah terbiasa mengerjakan kewajiban individu seperti wudhu dan sholat, puasa, berbuat baik pada ortu, guru, saudara dan orang2 yg lebih tua, menutup aurat dgn benar,dsb.
v  Sudah terbiasa berakhlak yg baik dan senantiasa memperhatikan adab2 yg baik, spt suka menolong saudara, suka bersedekah, selalu jujur, bias mengendalikan amarah, dsb.

2.    Berbuatlah secara bijaksana.
Maksudnya, janganlah kita memaksa anak untuk mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu, kecuali hal itu berbahaya atau tidak sesuai dengan syari’at. Mengajarkan apa pun kepada anak mesti kita perhatikan kondisi mereka. Jika mereka dalam keadaan senang (enjoy) biasanya semua pengajaran kita mudah diserap oleh anak.

3.    Memberikan kasih sayang secara wajar, tidak berlebihan ataupun kurang.
Kasih sayang wujudnya tidak semata-mata dengan hadiah atau materi. Perlakuan yang baik dan perhatian yang penuh terhadap anak sebenarnya adalah wujud dari kasih sayang. Namun jika ortu ingin menunjukkannya dengan bentuk materi berupa hadiah atau yang lainnya itupun sah-sah saja. Asalkan tidak menjadi kebiasaan sehingga yang terbentuk dalam pikiran anak bahwa orang tua sayang jika semua keinginannya dipenuhi, sehingga muncullah sosok anak yang manja, malas dan egois. Memberi pujian, kata-kata positif atau ciuman pada anak sebagai wujud kasih sayang sepertinya lebih bermakna pada anak daripada sekedar materi yang berlebihan. Namun miskin kasih sayang justru akan membuat anak merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, sehingga bias jadi membuat anak menjadi bandel, jahat dan sifat-sifat buruk lainnya.

4.    Memberikan pendidikan secara tegas kepada anak.
Konsisten terhadap apa yang sudah diajarkan kepada anak. Tentunya pengajaran yang dimaksud adalah yang sesuai dengan syari’at Islam. Dan kerjasama antara ayah dan ibu sangat diperlukan. Misal : anak diajarkan untuk tidur terpisah pada usia 7 atau 8 tahun. Diawal pengajaran bisa jadi anak akan menangis ketika tidur sendiri. Tapi orang tua tetap memberikan pengertian dan penjelasan mengapa tidurnya harus terpisah dg ortu, serta memberikan rasa aman pada anak, bukan dengan mengalah dan membiarkan anak kembali tidur bersama ortunya. Ketegasan sikap ortu ini akan memunculkan keberanian dan kemandiriannya untuk bisa tidur sendirian.

D.   Kesimpulan
Kemandirian anak bisa dibangun sejak usia dini dengan arahan dan bimbingan orang tua. Orang tua perlu memberikan contoh yang baik pada anak. Orang tua juga harus memberikan kesempatan pada anak untuk mempraktekkan kemandirian tersebut ketika anak berupaya memenuhi kebutuhan2nya. Dan jangan lupa berikan reward (penghargaan) pada anak ketika ia telah mampu melaksanakannya, sehingga muncul rasa percaya dirinya.

Wallahu’alam bish showwab.