Tak terasa seminggu telah berlalu. Sabtu, 10 November yang lalu kami sekeluarga pulang ke kampung suami. Karena bertepatan Rabiul Awal, di rumah Abah dan Mama menyelenggarakan peringatan Maulid Rasulullah Saw. Masyarakat di kampung suamiku ini menyambutnya dengan penuh suka cita. Karena kecintaan mereka pada Rasulullah Muhammad Saw tak bisa digantikan dengan apapun jua.
Acara Maulid Rasul dimulai sejak jam 8 pagi. Tamu-tamu mulai datang satu persatu. Aku ikut membantu menyiapkan berbagai sajian yang akan dihidangkan. Kue-kue, teh dan susu hangat hidangan pembukanya. Irama pukulan "tarbang", alat musik sejebis rebana, mulai terdengar. Diikuti syair puji-pujian kepada Rasulullah Saw mulai berkumandang. Para tamu dan tuan rumah hanyut dalam kegembiraan yang syahdu.
Aku pun terbayang sosok Rasulullah Saw yang sangat luar biasa. Sempurna akhlaknya, sempurna sebagai suami, sempurna sebagai ayah, sempurna sebagai sahabat, bahkan sempurna sebagai kepala negara. Beliau tak hanya harus dipuji. Tapi yang utama apa yang dibawa Rasul hendaknya diikuti. Tanpa tapi, tanpa nanti. Dari mulai urusan individu yang remeh temeh seperti makan, minum, berpakaian, ibadah, dll. Hingga urusan besar yang berkaitan dengan negara, seperti urusan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan politik. Semua telah diajarkan Rasul, dan sejatinya diikuti oleh umatnya. Bukan hanya jadi cerita lalu dan dongeng pengantar tidur.
Tabuhan "tarbang" yang terakhir ditutup doa. Ibu-ibu di dapur sibuk menata makanan ke dalam piring, karena setelah berdoa makanan harus disajikan. Riuhnya alunan syair di ruangan depan bertaut dengan riuhnya obrolan ibu-ibu sembari tangannya cekatan menata makanan yang hendak disajikan. Maklum, lama tak bersua keluarga, ciri khas perempuan pun tak bisa dihindarkan. Ngobrol. Hehe...
Yang menyelenggarakan acara ini tak hanya di rumah mertuaku. Tapi tetangga yang lain juga banyak yang mengadakan. Dan masing-masing mengundang keluarga besar plus handai taulannya. Selesai para tamu makan. Khusus kaum laki-lakinya, beranjak keluar, menuju Mushalla di kampung itu. Sedangkan yang perempuan bersiap membereskan piring dan gelas kotor yang tersisa. Dan menunggu di rumah sambil menyiapkan menu selanjutnya.
Sementara para lelaki mendengarkan ceramah di mushalla, undangan terus berdatangan ke rumah. Keluarga Abah dan Mama dari kampung sebelah, kawan-kawan beliau, juga kawan-kawan adik-adik iparku datang memenuhi undangan. Mereka datang sambil membawa buah tangan. Ada yang memberi gula, teh, kue, buah, dsb. Ini tradisi turun temurun.
Saat jarum jam mengarah ke angka 11.30 ceramah di Mushalla usai. Para tamu lelaki pun kembali ke rumah Abah dan Mama. Hidangan berikutnya siap disajikan kembali. Jika makan pagi menunya nasi kuning plus masak habang ikan Tauman dan telur bebek. Maka siang ini para tamu dimanjakan dengan daging masak habang bumbu kelapa goreng plus sop ayam dan nasi putih hangat. Tak ketinggalan semangka merah merona menjadi hidangan penutupnya. Hmm, asyik bukan...undangan ternyata dapat dua kali sajian. Makan pagi dan makan siang sekaligus dengan menu berbeda.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah peribahasa yang pernah kudapatkan. Ternyata tak usah jauh ke pulau sebelah atau pun ke negeri tetangga. Cukup ke kampung sebelah yang berbeda kabupaten saja, sebuah kebiasaan bisa berbeda. Namun, selama hati kita terpaut pada satu ILLah, yaitu "La illaha ilallah, Muhammadur Rasulullah" maka kerekatan tetap terjaga. Yang perlu dibenahi adalah pemikiran orang-orang yang masih keliru, yang melenceng dari akidah Islam. Yang menyatakan bendera tauhid benderanya sebuah ormas. Bahkan menyatakan bendera itu simbol teroris. Astaghfirullah...ini benar-benar harus diluruskan.
Sejatinya, peringatan Maulidur Rasulullah Saw ini bukan seremonial belaka yang berulang tiap tahunnya. Tetapi hendaknya menjadi motivasi kita bersama untuk segera menjalankan apa yang diajarkan Rasulullah Saw. Dan meninggalkan semua yang tak sesuai dengan ajaran beliau. Mengambil semua ajaran Islam, dan membuang sekularisme-kapitalis dalam kehidupan ini.
Sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam firman-Nya :
وَمَآ ءَاتٰىكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al Hasyr : 7)
Sebagaiman lahirnya Rasulullah Saw di 12 Rabiul Awal tahun Gajah menjadi momen penting bagi cikal bakal tegaknya peradaban Islam yang mulia. Maka kita semua berharap semoga bulan Rabiul Awal tahun ini menjadi tonggak perubahan umat Islam. Menuju peradaban Islam yang mulia dengan terwujudnya Islam kaffah di seluruh penjuru dunia.
Aamiin Allahumma Aamiin
@Laila Thamrin
#rabiulawal
#maulidrasul
#gemesda
#gerakanmedsosuntukdakwah
#revowriter
*gambar dari google.com
Tampilkan postingan dengan label My Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Diary. Tampilkan semua postingan
Minggu, 18 November 2018
Kamis, 15 November 2018
Lillah, Meskipun Lelah
Ketika kita ingin menjadi lebih baik tentu perlu perjuangan. Akan ada banyak riak-riak menghadang di kiri kanan jalan. Tapi inilah sebuah tantangan. Dan kita tak boleh berpatah arang.
Kadang, saat dalam perjalanan menuju keadaan yang lebih baik, banyak yang mengkritik. Entah kritik untuk menguatkan atau justru untuk menjatuhkan. Tapi itu hal biasa. Jangan pernah dipersoalkan. Ambil sisi positifnya, lihat kaca, cermati diri kita. Bisa jadi kritik itu benar adanya. Maka saatnya kita perbaiki dan melaju lebih sempurna.
Yuk besarkan hati kita. Berbaik sangka pada sodara. Selama kritik untuk memperbaiki, segeralah untuk berbenah diri. Tapi, awas... jika ada yang mengkritik untuk membully, atau sekedar menertawai. Maka yang begini gak usah diladeni. Abaikan saja. Anggap angin berisik yang sedang mencari pijakan.
Ingat satu hal, goresan pena kita untuk menjaring pahala. Bukan sekedar gaya. Jadi, luruskan niat kita, semata karena ingin meraih ridho-Nya. Bukan sekedar pujian dari manusia.
Menulislah Lillah.
Meski kita harus lelah.
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#muhasabahdiri
#hanyainginlebihbaik
#gerakanmedsosuntukdakwah
#gemesda
#revowriter
Kadang, saat dalam perjalanan menuju keadaan yang lebih baik, banyak yang mengkritik. Entah kritik untuk menguatkan atau justru untuk menjatuhkan. Tapi itu hal biasa. Jangan pernah dipersoalkan. Ambil sisi positifnya, lihat kaca, cermati diri kita. Bisa jadi kritik itu benar adanya. Maka saatnya kita perbaiki dan melaju lebih sempurna.
Yuk besarkan hati kita. Berbaik sangka pada sodara. Selama kritik untuk memperbaiki, segeralah untuk berbenah diri. Tapi, awas... jika ada yang mengkritik untuk membully, atau sekedar menertawai. Maka yang begini gak usah diladeni. Abaikan saja. Anggap angin berisik yang sedang mencari pijakan.
Ingat satu hal, goresan pena kita untuk menjaring pahala. Bukan sekedar gaya. Jadi, luruskan niat kita, semata karena ingin meraih ridho-Nya. Bukan sekedar pujian dari manusia.
Menulislah Lillah.
Meski kita harus lelah.
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#muhasabahdiri
#hanyainginlebihbaik
#gerakanmedsosuntukdakwah
#gemesda
#revowriter
Ibu Pertiwi
Apa kabarmu ibu pertiwi?
Lama aku tak mendengarmu bernyanyi
Dengan kidung suci penuh harmoni
Seperti bunda merawat bayi
Apa yang terjadi padamu ibu pertiwi?
Padahal semua anakmu berkata cinta padamu sampai mati
Tapi ternyata ada yang mengkhianati
Hingga satu sama lain saling mencurigai
Janganlah engkau bersedih wahai ibu pertiwi
Masih ada anakmu yang rela berdiri
Berpegang tangan berderap kaki
Untuk tegak dan kibarkan panji
Lihat, dan senyumlah ibu pertiwi
Sejenak lagi engkau akan lebih berseri
Karena anakmu akan segera mewarnai bumi
Dengan Islam dan titah ILLahi
Mari kawan kita pegangan tangan
Padukan hati, jiwa dan pikiran
Melangkah dengan satu ayunan
Untuk meraih sebaik-baik peradaban
Agar ibu pertiwi tak lagi tenggelam
Dalam kehidupan kelam dan kejam
Tapi bangkit dari peraduan malam
Menyongsong cerahnya kejayaan Islam
Laila Thamrin
#sajakbebas
#GeMesDa
#GerakanMedsosUntukDakwah
#Revowriter
#NgajiLiterasi
Lama aku tak mendengarmu bernyanyi
Dengan kidung suci penuh harmoni
Seperti bunda merawat bayi
Apa yang terjadi padamu ibu pertiwi?
Padahal semua anakmu berkata cinta padamu sampai mati
Tapi ternyata ada yang mengkhianati
Hingga satu sama lain saling mencurigai
Janganlah engkau bersedih wahai ibu pertiwi
Masih ada anakmu yang rela berdiri
Berpegang tangan berderap kaki
Untuk tegak dan kibarkan panji
Lihat, dan senyumlah ibu pertiwi
Sejenak lagi engkau akan lebih berseri
Karena anakmu akan segera mewarnai bumi
Dengan Islam dan titah ILLahi
Mari kawan kita pegangan tangan
Padukan hati, jiwa dan pikiran
Melangkah dengan satu ayunan
Untuk meraih sebaik-baik peradaban
Agar ibu pertiwi tak lagi tenggelam
Dalam kehidupan kelam dan kejam
Tapi bangkit dari peraduan malam
Menyongsong cerahnya kejayaan Islam
Laila Thamrin
#sajakbebas
#GeMesDa
#GerakanMedsosUntukDakwah
#Revowriter
#NgajiLiterasi
Minggu, 04 November 2018
Setia Bersamamu
Bau khas rumah sakit tak bisa dihindari. Kala anakku harus dirawat beberapa hari karena panas badannya tak kunjung reda. Rasa kuatir tentu menyergap diriku. Ibu mana yang bisa tenang jika anaknya sakit?
Saat kami sudah ada di ruangan perawatan, ternyata sudah ada penghuni lain di ruangan itu. Karena memang ruangan kelas 1 yang dituju diperuntukkan bagi dua orang pasien. Pasien terdahulu ini seorang ibu, lebih tepatnya nenek usia 70 tahun lebih. Tapi masih terlihat kuat dan nampak jelas aura kecantikannya
Yang menarik, bukan perkara sakit yang diderita si nenek ini. Tapi fakta si nenek yang selalu ditunggui suaminya dengan setia. Tabir kain yang memisahkan dua pasien dalam satu ruangan ini tentu tak bisa meredam suara percakapan dibaliknya. Meski penglihatan tak mampu menembus laku siapa pun yang ada dibalik tabir.
Senang sekaligus iri melihat kemesraan nenek dan kakek ini. Si kakek dengan sabar dan telaten melayani istrinya. Makan, minum, ke kamar mandi/wc, mendengarkan keluhan istrinya, dan sebagainya. Kadang mereka bercengkrama berdua dan terkekeh bersama. Aku dan suami saling pandang dan ikut tersenyum mendengarnya.
Anak-anak beliau juga datang silih berganti. Sepertinya sangat akrab dan hangat dengan ayah ibunya. Tak pernah terdengar kata-kata umpatan, kemarahan atau kalimat buruk lainnya. Bahkan ketika pagi-pagi anak bungsu mereka datang dengan membawa camilan sambil cerita bahwa dia kehilangan uang hasil kerjanya sebagai sopir taksi online hari kemarin, si nenek ini dengan tenang berujar, "Memang bukan rezeki kamu, nak...mau bilang apa?"
Wow...amazing! Jarang kutemui ibu atau ayah yang tak emosi ketika mendengar anaknya kecurian, kecopetan, atau kehilangan harta dengan jalan tak biasa ini. Tapi tidak dengan mereka. Dengan tawa renyahnya si nenek ini menasihati anaknya, "Makanya, menaruh duit itu jangan sembarangan. Jadikan ini pelajaran. Harus hati-hati."
MasyaAllah...ini pun pelajaran bagiku dan suami. Setia sampai tua usia. Sabar dalam setiap deraan ujian-Nya. Dan pandai mengelola emosi meski sesuatu yang tak disuka mampir di hadapan kita.
Semoga kakek dan nenek ini sehat selalu. Begitupun anakku yang masih tergolek sayu. Hanya kepada Allah lah tempatku mengadu. Karena semua peristiwa pasti ada hikmahnya selalu.
Laila Thamrin
#goresanhatibunda
#pengingatdiri
#gemesda
#revowriter
*ilustrasi gambar dari koleksi google.com
Saat kami sudah ada di ruangan perawatan, ternyata sudah ada penghuni lain di ruangan itu. Karena memang ruangan kelas 1 yang dituju diperuntukkan bagi dua orang pasien. Pasien terdahulu ini seorang ibu, lebih tepatnya nenek usia 70 tahun lebih. Tapi masih terlihat kuat dan nampak jelas aura kecantikannya
Yang menarik, bukan perkara sakit yang diderita si nenek ini. Tapi fakta si nenek yang selalu ditunggui suaminya dengan setia. Tabir kain yang memisahkan dua pasien dalam satu ruangan ini tentu tak bisa meredam suara percakapan dibaliknya. Meski penglihatan tak mampu menembus laku siapa pun yang ada dibalik tabir.
Senang sekaligus iri melihat kemesraan nenek dan kakek ini. Si kakek dengan sabar dan telaten melayani istrinya. Makan, minum, ke kamar mandi/wc, mendengarkan keluhan istrinya, dan sebagainya. Kadang mereka bercengkrama berdua dan terkekeh bersama. Aku dan suami saling pandang dan ikut tersenyum mendengarnya.
Anak-anak beliau juga datang silih berganti. Sepertinya sangat akrab dan hangat dengan ayah ibunya. Tak pernah terdengar kata-kata umpatan, kemarahan atau kalimat buruk lainnya. Bahkan ketika pagi-pagi anak bungsu mereka datang dengan membawa camilan sambil cerita bahwa dia kehilangan uang hasil kerjanya sebagai sopir taksi online hari kemarin, si nenek ini dengan tenang berujar, "Memang bukan rezeki kamu, nak...mau bilang apa?"
Wow...amazing! Jarang kutemui ibu atau ayah yang tak emosi ketika mendengar anaknya kecurian, kecopetan, atau kehilangan harta dengan jalan tak biasa ini. Tapi tidak dengan mereka. Dengan tawa renyahnya si nenek ini menasihati anaknya, "Makanya, menaruh duit itu jangan sembarangan. Jadikan ini pelajaran. Harus hati-hati."
MasyaAllah...ini pun pelajaran bagiku dan suami. Setia sampai tua usia. Sabar dalam setiap deraan ujian-Nya. Dan pandai mengelola emosi meski sesuatu yang tak disuka mampir di hadapan kita.
Semoga kakek dan nenek ini sehat selalu. Begitupun anakku yang masih tergolek sayu. Hanya kepada Allah lah tempatku mengadu. Karena semua peristiwa pasti ada hikmahnya selalu.
Laila Thamrin
#goresanhatibunda
#pengingatdiri
#gemesda
#revowriter
*ilustrasi gambar dari koleksi google.com
Kamis, 12 Juli 2018
Buka Mata Buka Hati #12
Kebahagiaan Dibalik Mudik Yang Tertunda
Bukan harta yang bikin orangtua bahagia. Tapi pertemuan dengan buah hati tercintalah jawabannya. Meski anak yang dirantau datang tanpa memberikan apapun, asalkan datang dengan sepenuh cinta pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Terlebih jika sudah lama tak berjumpa, karena terhalang jarak dan kesibukan kerja.
*****
Mudik saat lebaran memang telah jadi tradisi di Indonesia. Termasuk di keluarga kecilku. Kebiasaan unik ini baru kurasakan sensasinya 17 tahun belakangan ini saja. Dulu, waktu lihat teman-teman kuliah pada sibuk membicarakan jadwal kepulangan mudiknya, aku cuma senyum dan sesekali nimbrung. Pernah terbersit dalam hatiku, "kapan ya aku bisa mudik kaya mereka?" Hehe..karena kuliahku hanya berjarak 40 kilometer dari rumahku.
Tapi, tak disangka-sangka, ternyata Allah dengar dan berikan aku kesempatan loh. Bahkan bisa mudik ke daerah paling ujung dari provinsiku. Ya, sejak aku menikah dengan seorang putra daerah Tabalong, salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Sejak itulah aku baru mengerti "penting"nya mudik. Dan akupun melakoninya dengan berbagai pernak-perniknya.
Seperti Lebaran tahun ini, meski rencana mudik sudah disusun, namun mudikku gagal. Pasalnya, anak-anak dan aku gantian sakit. Jadilah aku perawat merangkap jadi pasien juga. Alhasil, terpaksa hanya suami yang mudik. Karena setahun sudah tak pulang ke rumah orang tuanya.
Sedih juga aku gak bisa ikut mudik. Mertua dan adik-adik iparkupun menunggu kedatangan kami sekeluarga penuh harap. Ada terselip rasa kecewa ketika aku dan anak-anak tak ikut pulang.
"Sakit ya, kak?" tanya adik iparku lewat sambungan telpon pas suami sudah sampai di sana.
"Iya, dik. Anak-anak terserang cacar air. Mulai si tengah, si bungsu, sampai si sulung. Bahkan aku juga ikut terjangkit." jawabku sedih.
"Subhanallah. Semoga cepat pulih lagi ya, kak." sambungnya.
Begitupun kala suami cerita kalau Mama dan Abah menyambut kedatangannya sembari berkata, "Kenapa anak-anakmu gak ikut, Rizal?" kepada suamiku. Nampak sekali kerinduan beliau terhadap cucu-cucunya. Maklumlah, kami tinggal lumayan jauh dari rumah mereka.
Kabupaten Tabalong itu berjarak kurang lebih 232 kilometer dari kota Banjarmasin, kota kelahiranku sekaligus daerah tinggal kami sekarang. Jarak tempuh yang memakan waktu 7-8 jam lewat darat ini cukup melelahkan. Dan bagi anak bungsuku bahkan memabukkan. Mabuk darat. Sampai dia sering muntah-muntah jika mudik. Lemes jadinya.
Apalagi ongkosnya, terasa lumayan besar ketika Lebaran datang. Karena biasanya akan naik sekitar 20-30% dari harga normal. Dari yang seharga 75 ribu perorang normalnya, bisa sampai 100 ribu perorang saat musim mudik. Bayangkan saja, kalau kami pulang berlima. Balik juga berlima. Tambah menu camilan dan makan berat di jalan. Wah, tentu bagi kami, semua perlu perhitungan. Entahlah bagi mereka yang berduit banyak.
Ini bukan perkara aku dan suami hitung-hitungan ya untuk urusan berbakti pada orangtua. Bukan itu. Tapi semata-mata perkara uangnya yang kadang tak cukup. Tersebab itulah, minimal setahun sekali mudik rasanya sangat pas bagi ukuran kantong suamiku. Kan aku tanggungan suamiku. Hehehe.... Dan orangtua pun memahaminya. Sehingga tiap lebaran pasti aku dan keluarga dinanti-nanti oleh Mama dan Abah di kampung halaman.
****
Hampir sebulan syawal kujalani. Musim mudikpun sudah lama berlalu. Tapi anak-anak masih libur sekolahnya. Aku pun sudah kembali sehat. Tiba-tiba suami berkata, "Kita mudik yuk, Mi! Mumpung anak-anak masih libur sekolah. Sekalian jenguk Mama, beliau lagi kurang sehat."
Aku terperangah. Yang terbersit dibenakku hanya satu, ongkosnya! Akupun langsung berucap, "Ongkosnya gimana, Bi? Anak-anak sebentar lagi sekolah. Keperluan sekolahnya juga belum terbeli."
"Alhamdulillah, Abi dapat rezeki lebih. InsyaAllah cukup buat kita sewa mobil aja dan berangkat semua."
"What? Sewa mobil? Bukannya tambah mahal?" ucapku
"Gak papa. Sekali-sekali. Mumpung uangnya ada dan cukup." kata suamiku dengan mata berbinar.
Aku kayak dapat durian runtuh deh. Hehe...karena biasanya kalau mudik yang pertama dihitung pasti ongkosnya. Dan ini tiba-tiba suami malah nawarin sewa mobil yang tentu saja agak lebih mahal.
Sempat sih terucap pada suami mending uangnya disimpan aja buat keperluan renovasi rumah yang belum kelar. Tapi suami bilang, kalau uang seberapapun diniatkan untuk membahagiakan orangtua, insyaAllah nanti Allah ganti dengan yang lebih baik.
Glek! Akupun tersadar. Benar juga kata suamiku. Akupun manut saja. Berharap Allah akan berikan yang terbaik untuk semuanya.
Akhirnya, persiapanpun dilakukan. Pilih tanggal yang pas. Berapa hari mau mudiknya. Cari tempat penyewaan mobil. Tanya-tanya teman harga kisarannya. Pokoknya sibuk deh.
Apalagi ingat kalau ibu mertuaku sempat sakit kakinya pas lebaran kemarin. Dan kata Abah, sehari setelah suamiku balik ke Banjarmasin, Mama sempat dibawa ke IGD. Ngilu di kaki kiri Mama sampai bikin beliau hampir tak kuat menahannya. Bahkan tak mampu dipakai untuk berjalan. Selera makan beliaupun hilang. Jadinya asupan energi tak ada masuk. Tentu saja tubuh beliau ikut lemes.
Beruntung, beliau dibolehkan rawat jalan. Namun, harus dapat asupan nutrisi pengganti dari selang infus. Dan tambah beruntung lagi, salah satu mantu Mama seorang perawat di rumah sakit Tabalong. Adik ipar suamiku. Allah Maha Pembuat Skenario.
*****
Singkat cerita, aku sekeluarga memilih mudik di hari Minggu pagi. Anak-anakpun ternyata lebih enjoy menikmati perjalanan mudiknya. Meski tetap diwarnai mabuknya si bungsu dan beberapa kali muntah selama diperjalanan.
Delapan jam lamanya kami tempuh tuk menyusuri jalan menuju Kabupaten Tabalong. Hingga jam 5 sore kami pun sampai. Dan meluncurlah mobil abu-abu metalik yang kami kendarai tepat di halaman rumah Mama dan Abah. Klaksonpun dibunyikan suamiku. Tiin...tiin!
"Assalamu'alaikum!" Suamiku mengucap salam seraya melongok ke pintu samping. Kebetulan Mama sedang duduk di ruang tengah rumah itu. Ruangan ini berhubungan langsung dengan pintu samping yang menuju ke teras depan rumah. Jadi, sejurus beliau tengok keluar pintu, mobil kami yang parkir di halamanpun jelas terlihat.
Beliau terperanjat. Tak mengira putra sulungnya ada di hadapannya. Plus menantu dan cucu-cucunya. Beliau membalas salam sambil berdiri dan menyongsong suamiku.
Semringah sekali raut muka beliau. Takjub dan bahagia jelas sekali terpancar di mata beliau. Kusalami Mama dengan penuh takzim. Beliau cium kedua pipiku. Pun anak-anakku.
Beliau bilang, "Aku benar-benar tak menyangka kalau kalian semua yang datang. Kukira tadi itu mobil Annisa. Tapi pas masuk ke rumah ternyata Rizal yang datang." ungkap beliau penuh bahagia. Annisa adalah adik perempuan suamiku.
"Ayo, bawa masuk semua barangnya. Sini, kita bikin minuman hangat." ajak beliau.
"Nggih, Ma." jawabku.
"Rizal, cepat telpon Abah. Tadi barusan Abah ke rumah Annisa. Suruh segera pulang. Sekalian Annisa suruh juga kesini." kata Mama bersemangat.
Suamikupun segera meraih gawainya, dan ngobrol dengan Abah. Rumah Annisa hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah Mama. Jadi sekitar lima menit saja Abah sudah nongol. Langsung memanggil nama anak-anakku. Masya Allah...ternyata benar, kakek dan nenek itu kecintaannya pada cucu-cucunya jauh lebih nampak ekspresinya daripada ke anak-anaknya. Meskipun aku yakin, cinta kepada anaknya tentu juga takkan berkurang sedikitpun.
Bahagiapun kurasakan hari itu. Meski tubuh ini letih melalui perjalanan yang cukup panjang. Apalagi kadang sport jantung gara-gara jalan yang penuh tantangan. Namun semua tiba-tiba sirna ketika melihat kebahagiaan Mama dan Abah dengan kedatanganku sekeluarga. Dan uniknya, beliau tak pernah bertanya oleh-oleh apa yang dibawakan anaknya. Tak pernah sekalipun. Justru semua yang beliau punya dikeluarkan untuk anak, menantu dan cucu-cucunya.
Inilah letak kebahagiaan hakiki yang hanya bisa didapatkan tatkala bertemu orangtua. Jika tak mudik ke kampung halaman, takkan pernah merasakan kebahagiaan ini. Terlebih bagi para perantau yang sudah merantau jauh dari kampungnya.
Makanya, para perantau pasti bela-belain buat mudik tiap tahun. Karena rasa ini takkan bisa diungkapkan sempurna dengan kata-kata dan tulisan. Hanya perbuatan yang bisa melukiskan betapa indahnya rasa ini. Rasa bahagia tak bertepi kala bertemu dengan keluarga di kampung, khususnya orangtua tercinta.
Disinilah aku belajar arti sebuah kebahagiaan ketika berkumpul bersama orangtua. Salah satu bukti cinta dan bakti anak kepada ayah ibunya. Wujud birrul walidain yang diperintahkan agama. Rugi besar jika kita abaikan mereka dimasa tuanya. Apalagi jika keduanya masih hidup. Karena dari merekalah keberkahan hidup di dunia kan kita peroleh. Bahkan pintu surgapun kan terbuka untuk kita karenanya.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran yang artinya :
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’ : 23)
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. Al-Isra' : 24)
Alhamdulillah, meski mudikku sekeluarga tertunda, namun kebahagiaan tetap menyeruak saat berjumpa dengan Abah dan Mama. Karena berjumpa dengan orangtua tak harus menanti Lebaran tiba. Kapan saja jika ada kesempatan dan waktunya, datangilah mereka. Karena bagi orangtua anak adalah permata hati yang takkan berubah posisinya sejak lahir hingga kapanpun jua.[]
Laila Thamrin
(Handil Bakti, 12072018)
Bukan harta yang bikin orangtua bahagia. Tapi pertemuan dengan buah hati tercintalah jawabannya. Meski anak yang dirantau datang tanpa memberikan apapun, asalkan datang dengan sepenuh cinta pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Terlebih jika sudah lama tak berjumpa, karena terhalang jarak dan kesibukan kerja.
*****
Mudik saat lebaran memang telah jadi tradisi di Indonesia. Termasuk di keluarga kecilku. Kebiasaan unik ini baru kurasakan sensasinya 17 tahun belakangan ini saja. Dulu, waktu lihat teman-teman kuliah pada sibuk membicarakan jadwal kepulangan mudiknya, aku cuma senyum dan sesekali nimbrung. Pernah terbersit dalam hatiku, "kapan ya aku bisa mudik kaya mereka?" Hehe..karena kuliahku hanya berjarak 40 kilometer dari rumahku.
Tapi, tak disangka-sangka, ternyata Allah dengar dan berikan aku kesempatan loh. Bahkan bisa mudik ke daerah paling ujung dari provinsiku. Ya, sejak aku menikah dengan seorang putra daerah Tabalong, salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Sejak itulah aku baru mengerti "penting"nya mudik. Dan akupun melakoninya dengan berbagai pernak-perniknya.
Seperti Lebaran tahun ini, meski rencana mudik sudah disusun, namun mudikku gagal. Pasalnya, anak-anak dan aku gantian sakit. Jadilah aku perawat merangkap jadi pasien juga. Alhasil, terpaksa hanya suami yang mudik. Karena setahun sudah tak pulang ke rumah orang tuanya.
Sedih juga aku gak bisa ikut mudik. Mertua dan adik-adik iparkupun menunggu kedatangan kami sekeluarga penuh harap. Ada terselip rasa kecewa ketika aku dan anak-anak tak ikut pulang.
"Sakit ya, kak?" tanya adik iparku lewat sambungan telpon pas suami sudah sampai di sana.
"Iya, dik. Anak-anak terserang cacar air. Mulai si tengah, si bungsu, sampai si sulung. Bahkan aku juga ikut terjangkit." jawabku sedih.
"Subhanallah. Semoga cepat pulih lagi ya, kak." sambungnya.
Begitupun kala suami cerita kalau Mama dan Abah menyambut kedatangannya sembari berkata, "Kenapa anak-anakmu gak ikut, Rizal?" kepada suamiku. Nampak sekali kerinduan beliau terhadap cucu-cucunya. Maklumlah, kami tinggal lumayan jauh dari rumah mereka.
Kabupaten Tabalong itu berjarak kurang lebih 232 kilometer dari kota Banjarmasin, kota kelahiranku sekaligus daerah tinggal kami sekarang. Jarak tempuh yang memakan waktu 7-8 jam lewat darat ini cukup melelahkan. Dan bagi anak bungsuku bahkan memabukkan. Mabuk darat. Sampai dia sering muntah-muntah jika mudik. Lemes jadinya.
Apalagi ongkosnya, terasa lumayan besar ketika Lebaran datang. Karena biasanya akan naik sekitar 20-30% dari harga normal. Dari yang seharga 75 ribu perorang normalnya, bisa sampai 100 ribu perorang saat musim mudik. Bayangkan saja, kalau kami pulang berlima. Balik juga berlima. Tambah menu camilan dan makan berat di jalan. Wah, tentu bagi kami, semua perlu perhitungan. Entahlah bagi mereka yang berduit banyak.
Ini bukan perkara aku dan suami hitung-hitungan ya untuk urusan berbakti pada orangtua. Bukan itu. Tapi semata-mata perkara uangnya yang kadang tak cukup. Tersebab itulah, minimal setahun sekali mudik rasanya sangat pas bagi ukuran kantong suamiku. Kan aku tanggungan suamiku. Hehehe.... Dan orangtua pun memahaminya. Sehingga tiap lebaran pasti aku dan keluarga dinanti-nanti oleh Mama dan Abah di kampung halaman.
****
Hampir sebulan syawal kujalani. Musim mudikpun sudah lama berlalu. Tapi anak-anak masih libur sekolahnya. Aku pun sudah kembali sehat. Tiba-tiba suami berkata, "Kita mudik yuk, Mi! Mumpung anak-anak masih libur sekolah. Sekalian jenguk Mama, beliau lagi kurang sehat."
Aku terperangah. Yang terbersit dibenakku hanya satu, ongkosnya! Akupun langsung berucap, "Ongkosnya gimana, Bi? Anak-anak sebentar lagi sekolah. Keperluan sekolahnya juga belum terbeli."
"Alhamdulillah, Abi dapat rezeki lebih. InsyaAllah cukup buat kita sewa mobil aja dan berangkat semua."
"What? Sewa mobil? Bukannya tambah mahal?" ucapku
"Gak papa. Sekali-sekali. Mumpung uangnya ada dan cukup." kata suamiku dengan mata berbinar.
Aku kayak dapat durian runtuh deh. Hehe...karena biasanya kalau mudik yang pertama dihitung pasti ongkosnya. Dan ini tiba-tiba suami malah nawarin sewa mobil yang tentu saja agak lebih mahal.
Sempat sih terucap pada suami mending uangnya disimpan aja buat keperluan renovasi rumah yang belum kelar. Tapi suami bilang, kalau uang seberapapun diniatkan untuk membahagiakan orangtua, insyaAllah nanti Allah ganti dengan yang lebih baik.
Glek! Akupun tersadar. Benar juga kata suamiku. Akupun manut saja. Berharap Allah akan berikan yang terbaik untuk semuanya.
Akhirnya, persiapanpun dilakukan. Pilih tanggal yang pas. Berapa hari mau mudiknya. Cari tempat penyewaan mobil. Tanya-tanya teman harga kisarannya. Pokoknya sibuk deh.
Apalagi ingat kalau ibu mertuaku sempat sakit kakinya pas lebaran kemarin. Dan kata Abah, sehari setelah suamiku balik ke Banjarmasin, Mama sempat dibawa ke IGD. Ngilu di kaki kiri Mama sampai bikin beliau hampir tak kuat menahannya. Bahkan tak mampu dipakai untuk berjalan. Selera makan beliaupun hilang. Jadinya asupan energi tak ada masuk. Tentu saja tubuh beliau ikut lemes.
Beruntung, beliau dibolehkan rawat jalan. Namun, harus dapat asupan nutrisi pengganti dari selang infus. Dan tambah beruntung lagi, salah satu mantu Mama seorang perawat di rumah sakit Tabalong. Adik ipar suamiku. Allah Maha Pembuat Skenario.
*****
Singkat cerita, aku sekeluarga memilih mudik di hari Minggu pagi. Anak-anakpun ternyata lebih enjoy menikmati perjalanan mudiknya. Meski tetap diwarnai mabuknya si bungsu dan beberapa kali muntah selama diperjalanan.
Delapan jam lamanya kami tempuh tuk menyusuri jalan menuju Kabupaten Tabalong. Hingga jam 5 sore kami pun sampai. Dan meluncurlah mobil abu-abu metalik yang kami kendarai tepat di halaman rumah Mama dan Abah. Klaksonpun dibunyikan suamiku. Tiin...tiin!
"Assalamu'alaikum!" Suamiku mengucap salam seraya melongok ke pintu samping. Kebetulan Mama sedang duduk di ruang tengah rumah itu. Ruangan ini berhubungan langsung dengan pintu samping yang menuju ke teras depan rumah. Jadi, sejurus beliau tengok keluar pintu, mobil kami yang parkir di halamanpun jelas terlihat.
Beliau terperanjat. Tak mengira putra sulungnya ada di hadapannya. Plus menantu dan cucu-cucunya. Beliau membalas salam sambil berdiri dan menyongsong suamiku.
Semringah sekali raut muka beliau. Takjub dan bahagia jelas sekali terpancar di mata beliau. Kusalami Mama dengan penuh takzim. Beliau cium kedua pipiku. Pun anak-anakku.
Beliau bilang, "Aku benar-benar tak menyangka kalau kalian semua yang datang. Kukira tadi itu mobil Annisa. Tapi pas masuk ke rumah ternyata Rizal yang datang." ungkap beliau penuh bahagia. Annisa adalah adik perempuan suamiku.
"Ayo, bawa masuk semua barangnya. Sini, kita bikin minuman hangat." ajak beliau.
"Nggih, Ma." jawabku.
"Rizal, cepat telpon Abah. Tadi barusan Abah ke rumah Annisa. Suruh segera pulang. Sekalian Annisa suruh juga kesini." kata Mama bersemangat.
Suamikupun segera meraih gawainya, dan ngobrol dengan Abah. Rumah Annisa hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah Mama. Jadi sekitar lima menit saja Abah sudah nongol. Langsung memanggil nama anak-anakku. Masya Allah...ternyata benar, kakek dan nenek itu kecintaannya pada cucu-cucunya jauh lebih nampak ekspresinya daripada ke anak-anaknya. Meskipun aku yakin, cinta kepada anaknya tentu juga takkan berkurang sedikitpun.
Bahagiapun kurasakan hari itu. Meski tubuh ini letih melalui perjalanan yang cukup panjang. Apalagi kadang sport jantung gara-gara jalan yang penuh tantangan. Namun semua tiba-tiba sirna ketika melihat kebahagiaan Mama dan Abah dengan kedatanganku sekeluarga. Dan uniknya, beliau tak pernah bertanya oleh-oleh apa yang dibawakan anaknya. Tak pernah sekalipun. Justru semua yang beliau punya dikeluarkan untuk anak, menantu dan cucu-cucunya.
Inilah letak kebahagiaan hakiki yang hanya bisa didapatkan tatkala bertemu orangtua. Jika tak mudik ke kampung halaman, takkan pernah merasakan kebahagiaan ini. Terlebih bagi para perantau yang sudah merantau jauh dari kampungnya.
Makanya, para perantau pasti bela-belain buat mudik tiap tahun. Karena rasa ini takkan bisa diungkapkan sempurna dengan kata-kata dan tulisan. Hanya perbuatan yang bisa melukiskan betapa indahnya rasa ini. Rasa bahagia tak bertepi kala bertemu dengan keluarga di kampung, khususnya orangtua tercinta.
Disinilah aku belajar arti sebuah kebahagiaan ketika berkumpul bersama orangtua. Salah satu bukti cinta dan bakti anak kepada ayah ibunya. Wujud birrul walidain yang diperintahkan agama. Rugi besar jika kita abaikan mereka dimasa tuanya. Apalagi jika keduanya masih hidup. Karena dari merekalah keberkahan hidup di dunia kan kita peroleh. Bahkan pintu surgapun kan terbuka untuk kita karenanya.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran yang artinya :
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’ : 23)
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. Al-Isra' : 24)
Alhamdulillah, meski mudikku sekeluarga tertunda, namun kebahagiaan tetap menyeruak saat berjumpa dengan Abah dan Mama. Karena berjumpa dengan orangtua tak harus menanti Lebaran tiba. Kapan saja jika ada kesempatan dan waktunya, datangilah mereka. Karena bagi orangtua anak adalah permata hati yang takkan berubah posisinya sejak lahir hingga kapanpun jua.[]
Laila Thamrin
(Handil Bakti, 12072018)
Senin, 02 Juli 2018
Buka Mata Buka Hati #10
MENAPAKI POROS SURGA
Kemarin saya ikut Halal bi Halal dengan teman-teman pengajian. Alhamdulillah banyak tercerahkan dengan tausiyah ustaznya. Pulangnya ternyata terjebak macet di beberapa ruas jalan. Untung saya dan suami naik motor. Meski motor butut, tapi kendaraan ini yang selalu mengantarkan saya wara-wiri membelah belantara kota.
Dan jangan salah, dengan si bebek ini kemacetan bisa ditembus lebih cepat dibanding mobil-mobil mengkilat beroda empat. Mereka masih setia antri dan menguji kesabaran para penumpangnya. Wa bil khusus si sopir. Hehe..😁
Eh iya, bicara macet nih...biasanya barisan motor bebek dan sejenisnya, akan selalu cari celah supaya bisa terus maju. Andai punya sayap mungkin langsung terbang deh sekalian. Hihihi...
Dan para "bebekers" ini biasanya paling jago cari "jalan tikus" alias jalan-jalan tembus yang bisa mempercepat sampai ke tujuan. Bisa jalan-jalan yang melewati kompleks perumahan tertentu. Bisa pula memang jalan alternatif yang dibangun pemerintah, namun bukan jalan propinsi. Bingung kan? Hahaha...pokoke intinya jalan yang bisa mempercepat sampai ke tujuan. Gitu ajah...😁.
Dan kamipun berpikiran yang sama dengan "bebekers" yang lain. Pilih jalan alternatif. Harapan hati, jalan yang dipilih bisa lebih lengang dan tak berjubel. Tapi, apa hendak dikata, ternyata hampir semua orang punya pikiran yang serupa. Termasuk sopir si roda empatpun pilih jalan yang sama.
Oh my God, bisa dibayangkan bukan? 😱 Ternyata, jalan menelikung tetap resikonya kemacetan, kepanasan, kegerahan. Ditambah emosi pengendara yang naik turun. Pasalnya, semua pada cari celah untuk saling mendahului, agar segera terbebas dari macet. Antara tangan memutar gas dan kaki menginjak rem jadi saling berlomba-lomba. Hedeuh..maunya enak, tak tahunya tambah payah. Capek deh!
Andai tadi kami memilih jalur utama, bisa jadi takkan semacet ini. Karena dulu pernah kami alami, orang-orang memilih jalur alternatif dengan pemikiran yang serupa, anti macet. Tapi kami tetap berada di jalur utama. Anti mainstream lah dengan pilihan orang kebanyakan. Meski jalannya agak lebih jauh. Ternyata justru gak macet dan gak bising. Malah lebih enjoy dan tenang. Hingga sampai dengan selamat tanpa banyak menginjak pedal rem.
*****
Kalau memilih jalan di jalan raya saja kita harus berada pada jalur utama, apatah lagi memilih jalan hidup ya. Gak main-main loh ini. Jalan hidup menentukan jalan kita setelah mati.
Sebagai muslim, tak cukup yang dibawa amal salih seadanya. Tapi amal salih yang sekiranya bisa terus bertambah setiap saat.
Allah SWT memerintahkan kepada muslim untuk hanya mengikuti jalan Islam. Serta tidak mengikuti jalan-jalan lain selain Islam.
Sebagaimana ditegaskan Allah dalam firmanNya :
"Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena bisa menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah kalian diperintahkan agar kalian bertakwa." (QS. al-An'am [6] : 153)
Menurut Imam as Samarqandi dalam kitab tafsirnya, Bahr al-'Ulum (1/495), ayat ini bermakna bahwa Islam sebagai agama yang lurus. Karena itu ikutilah jalan Islam. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, yakni jalan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya dengan menetapi jalan Islam dan menjauhi jalan-jalan lain selain Islam, kita akan menjadi orang yang bertakwa. (Dikutip dari Buletin Dakwah Kaffah edisi 044/23Ramadan1439H)
Lihat saja sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang menelikung dari jalan Islam. Bermesraan dengan Yahudi dan Nasrani. Berjabat tangan dan berangkulan dengan Kapitalisme Sekuler. Mengusung demokrasi. Lalu menginjak-nginjak harga dirinya sendiri sebagai umat Islam. Mengkhianati kaum muslimin lain yang masih taat pada Rabbnya.
Bahkan mereka yang menelikung ini pula yang mengadudomba sesama muslim. Mengkotak-kotakkan umat ke dalam Islam Liberal, Islam Radikal, Islam Moderat, Islam Nusantara dan lebeling Islam lainnya. Hingga memunculkan stigma negatif kepada para pejuang syariah dan khilafah.
Apakah "jalan tikus" seperti ini yang akan membahagiakan mereka di akhirat kelak? Padahal jalan ke surga ditentukan oleh jalan yang dipilihnya di dunia. Dan kehidupan dunia ini hanyalah kehidupan semu yang nikmatnya hanya sesaat. Yang bisa melenakan manusia, hingga jalan ke surga menjadi terhalang oleh silaunya harta dunia.
Ya, disisi ibadah mereka masih mengambil Islam. Salat, puasa, bayar zakat, berhaji, menikah atau bercerai, mengurusi jenazah, semua masih dengan aturan syariat Islam. Namun, muamalah mereka merujuk pada hukum-hukum dari jalan hidup yang lain.
Ekonomi berbasis kapitalisme jadi pegangan. Pendidikan sekuler digalakkan. Politik dengan demokrasi disanjung dan diagungkan. Interaksi sosialnya yang mengusung kebebasan (liberalisme). Apakah yang seperti ini kan menggiring umat pada ketakwaan yang hakiki?
Padahal sejatinya menurut Umar bin Abdul Azis ra yang diabadikan dalam Kitab at-Taqwa oleh Ibn Abi Dunya, "Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering salat malam, atau sering melakukan keduanya. Akan tetapi takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan dan melaksanakan apa saja yang diwajibkan."
Allah SWT berfirman, "Berkatalah Rasul,"Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini suatu yang diabaikan." (QS. Al Furqon [25] : 30)
Maka berpalingnya umat Islam dari Alquran inilah yang membuat ketakwaan hakiki sulit diraih. Kecuali jika semua muslim segera kembali ke jalan Islam. Jalan yang akan menghantarkan setiap muslim ke surgaNya.
Dan jalan ini tak cukup jika hanya individu per individu saja yang menapakinya. Harus semua masyarakat menjalaninya. Termasuk negara sebagai institusi utama yang mengarahkan semua rakyatnya. Negaralah yang punya kekuatan besar untuk mengarahkan rakyatnya menapaki jalan ini.
Karenanya, tetaplah dalam jalan Islam ini. Jalan utama yang meski banyak yang melewati dia pasti akan sampai ke tujuan hakiki. Meski akan banyak onak dan duri, namun jalan ini tetaplah jalan yang terbaik. Yang menjadikannya sebagai poros utama ke surgaNya.
Laila Thamrin
02Juli2018/18Syawal1436H
#SyawalBersamaRevowriter
#GerakanMedsosUntukDakwah
#DakwahMengguncangDunia
#IslamKaffah
#IslamRahmatanLilAlamin
#IslamPorosSurga
#IslamSelamatkanNegeri
Kemarin saya ikut Halal bi Halal dengan teman-teman pengajian. Alhamdulillah banyak tercerahkan dengan tausiyah ustaznya. Pulangnya ternyata terjebak macet di beberapa ruas jalan. Untung saya dan suami naik motor. Meski motor butut, tapi kendaraan ini yang selalu mengantarkan saya wara-wiri membelah belantara kota.
Dan jangan salah, dengan si bebek ini kemacetan bisa ditembus lebih cepat dibanding mobil-mobil mengkilat beroda empat. Mereka masih setia antri dan menguji kesabaran para penumpangnya. Wa bil khusus si sopir. Hehe..😁
Eh iya, bicara macet nih...biasanya barisan motor bebek dan sejenisnya, akan selalu cari celah supaya bisa terus maju. Andai punya sayap mungkin langsung terbang deh sekalian. Hihihi...
Dan para "bebekers" ini biasanya paling jago cari "jalan tikus" alias jalan-jalan tembus yang bisa mempercepat sampai ke tujuan. Bisa jalan-jalan yang melewati kompleks perumahan tertentu. Bisa pula memang jalan alternatif yang dibangun pemerintah, namun bukan jalan propinsi. Bingung kan? Hahaha...pokoke intinya jalan yang bisa mempercepat sampai ke tujuan. Gitu ajah...😁.
Dan kamipun berpikiran yang sama dengan "bebekers" yang lain. Pilih jalan alternatif. Harapan hati, jalan yang dipilih bisa lebih lengang dan tak berjubel. Tapi, apa hendak dikata, ternyata hampir semua orang punya pikiran yang serupa. Termasuk sopir si roda empatpun pilih jalan yang sama.
Oh my God, bisa dibayangkan bukan? 😱 Ternyata, jalan menelikung tetap resikonya kemacetan, kepanasan, kegerahan. Ditambah emosi pengendara yang naik turun. Pasalnya, semua pada cari celah untuk saling mendahului, agar segera terbebas dari macet. Antara tangan memutar gas dan kaki menginjak rem jadi saling berlomba-lomba. Hedeuh..maunya enak, tak tahunya tambah payah. Capek deh!
Andai tadi kami memilih jalur utama, bisa jadi takkan semacet ini. Karena dulu pernah kami alami, orang-orang memilih jalur alternatif dengan pemikiran yang serupa, anti macet. Tapi kami tetap berada di jalur utama. Anti mainstream lah dengan pilihan orang kebanyakan. Meski jalannya agak lebih jauh. Ternyata justru gak macet dan gak bising. Malah lebih enjoy dan tenang. Hingga sampai dengan selamat tanpa banyak menginjak pedal rem.
*****
Kalau memilih jalan di jalan raya saja kita harus berada pada jalur utama, apatah lagi memilih jalan hidup ya. Gak main-main loh ini. Jalan hidup menentukan jalan kita setelah mati.
Sebagai muslim, tak cukup yang dibawa amal salih seadanya. Tapi amal salih yang sekiranya bisa terus bertambah setiap saat.
Allah SWT memerintahkan kepada muslim untuk hanya mengikuti jalan Islam. Serta tidak mengikuti jalan-jalan lain selain Islam.
Sebagaimana ditegaskan Allah dalam firmanNya :
"Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena bisa menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah kalian diperintahkan agar kalian bertakwa." (QS. al-An'am [6] : 153)
Menurut Imam as Samarqandi dalam kitab tafsirnya, Bahr al-'Ulum (1/495), ayat ini bermakna bahwa Islam sebagai agama yang lurus. Karena itu ikutilah jalan Islam. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, yakni jalan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya dengan menetapi jalan Islam dan menjauhi jalan-jalan lain selain Islam, kita akan menjadi orang yang bertakwa. (Dikutip dari Buletin Dakwah Kaffah edisi 044/23Ramadan1439H)
Lihat saja sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang menelikung dari jalan Islam. Bermesraan dengan Yahudi dan Nasrani. Berjabat tangan dan berangkulan dengan Kapitalisme Sekuler. Mengusung demokrasi. Lalu menginjak-nginjak harga dirinya sendiri sebagai umat Islam. Mengkhianati kaum muslimin lain yang masih taat pada Rabbnya.
Bahkan mereka yang menelikung ini pula yang mengadudomba sesama muslim. Mengkotak-kotakkan umat ke dalam Islam Liberal, Islam Radikal, Islam Moderat, Islam Nusantara dan lebeling Islam lainnya. Hingga memunculkan stigma negatif kepada para pejuang syariah dan khilafah.
Apakah "jalan tikus" seperti ini yang akan membahagiakan mereka di akhirat kelak? Padahal jalan ke surga ditentukan oleh jalan yang dipilihnya di dunia. Dan kehidupan dunia ini hanyalah kehidupan semu yang nikmatnya hanya sesaat. Yang bisa melenakan manusia, hingga jalan ke surga menjadi terhalang oleh silaunya harta dunia.
Ya, disisi ibadah mereka masih mengambil Islam. Salat, puasa, bayar zakat, berhaji, menikah atau bercerai, mengurusi jenazah, semua masih dengan aturan syariat Islam. Namun, muamalah mereka merujuk pada hukum-hukum dari jalan hidup yang lain.
Ekonomi berbasis kapitalisme jadi pegangan. Pendidikan sekuler digalakkan. Politik dengan demokrasi disanjung dan diagungkan. Interaksi sosialnya yang mengusung kebebasan (liberalisme). Apakah yang seperti ini kan menggiring umat pada ketakwaan yang hakiki?
Padahal sejatinya menurut Umar bin Abdul Azis ra yang diabadikan dalam Kitab at-Taqwa oleh Ibn Abi Dunya, "Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering salat malam, atau sering melakukan keduanya. Akan tetapi takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan dan melaksanakan apa saja yang diwajibkan."
Allah SWT berfirman, "Berkatalah Rasul,"Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini suatu yang diabaikan." (QS. Al Furqon [25] : 30)
Maka berpalingnya umat Islam dari Alquran inilah yang membuat ketakwaan hakiki sulit diraih. Kecuali jika semua muslim segera kembali ke jalan Islam. Jalan yang akan menghantarkan setiap muslim ke surgaNya.
Dan jalan ini tak cukup jika hanya individu per individu saja yang menapakinya. Harus semua masyarakat menjalaninya. Termasuk negara sebagai institusi utama yang mengarahkan semua rakyatnya. Negaralah yang punya kekuatan besar untuk mengarahkan rakyatnya menapaki jalan ini.
Karenanya, tetaplah dalam jalan Islam ini. Jalan utama yang meski banyak yang melewati dia pasti akan sampai ke tujuan hakiki. Meski akan banyak onak dan duri, namun jalan ini tetaplah jalan yang terbaik. Yang menjadikannya sebagai poros utama ke surgaNya.
Laila Thamrin
02Juli2018/18Syawal1436H
#SyawalBersamaRevowriter
#GerakanMedsosUntukDakwah
#DakwahMengguncangDunia
#IslamKaffah
#IslamRahmatanLilAlamin
#IslamPorosSurga
#IslamSelamatkanNegeri
Senin, 25 Juni 2018
Buka Mata Buka Hati #09
KEMBALI
Allah Swt berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ إِلَّا مَتٰعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran : 185)
Ya, setiap makhlukNya pasti kan kembali lagi kepada Sang Khalik. Dia lah yang berkuasa menetapkan kapan manusia dilahirkan ke dunia dan kapan harus kembali lagi.
Dunia hanyalah persinggahan sementara. Ayah, ibu, saudara, isteri, suami, anak, kerabat dan sahabat hanya menemani sementara. Lahir sendiri dan kembalipun sendiri. Hanya satu yang menemani, amal sholih.
Hari ini semua bersedih, tersebab seorang Da'i telah dipanggil oleh Sang Khalik. Seorang da'i yang menginspirasi banyak orang. Karena hijrahnya yang fenomenal ditengah ketenarannya sebagai rocker terkenal papan atas Indonesia tahun 1990-an silam. Dan di tahun 1996 dia memutuskan untuk hijrah. Meninggalkan panggung seninya. Dan beralih pada jalan dakwah.
Ya, siapa yang tak kenal KH. Hari Moekti. Ceramahnya menghentak. Membuat tiap kepala yang mendengarnya berpikir ulang tentang dirinya masing-masing. Tak kenal takut. Tanpa tedeng aling-aling menyampaikan kebenaran, meski kecut kan dirasakan jama'ah yang hadir. Namun kehadirannya selalu dinantikan. Selalu dirindukan. Membludak selalu jama'ahnya.
Beliau salah seorang pejuang terdepan penegakan syari'ah dan khilafah. Mendakwahkan Islam kepada umat Islam di seluruh pelosok Indonesia. Tak kenal lelah. Meski harus menempuh jalan yang jauh.
Selamat jalan Ustaz. Semoga dari lisanmu banyak membawa kebaikan dan perubahan pada banyak orang. Dan mengalirkan pahala untukmu. Sebagai bekalmu di yaumil hisab.
Semoga kami pun kan selalu melakukan kebaikan dan keta'atan sepertimu. Dan istiqomah dalam jalan Islam ini. Aamiin.
Laila Thamrin
25062018
#inmemoriam
#UstazHariMoekti
#pejuangsyariahdankhilafaha
Allah Swt berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ إِلَّا مَتٰعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran : 185)
Ya, setiap makhlukNya pasti kan kembali lagi kepada Sang Khalik. Dia lah yang berkuasa menetapkan kapan manusia dilahirkan ke dunia dan kapan harus kembali lagi.
Dunia hanyalah persinggahan sementara. Ayah, ibu, saudara, isteri, suami, anak, kerabat dan sahabat hanya menemani sementara. Lahir sendiri dan kembalipun sendiri. Hanya satu yang menemani, amal sholih.
Hari ini semua bersedih, tersebab seorang Da'i telah dipanggil oleh Sang Khalik. Seorang da'i yang menginspirasi banyak orang. Karena hijrahnya yang fenomenal ditengah ketenarannya sebagai rocker terkenal papan atas Indonesia tahun 1990-an silam. Dan di tahun 1996 dia memutuskan untuk hijrah. Meninggalkan panggung seninya. Dan beralih pada jalan dakwah.
Ya, siapa yang tak kenal KH. Hari Moekti. Ceramahnya menghentak. Membuat tiap kepala yang mendengarnya berpikir ulang tentang dirinya masing-masing. Tak kenal takut. Tanpa tedeng aling-aling menyampaikan kebenaran, meski kecut kan dirasakan jama'ah yang hadir. Namun kehadirannya selalu dinantikan. Selalu dirindukan. Membludak selalu jama'ahnya.
Beliau salah seorang pejuang terdepan penegakan syari'ah dan khilafah. Mendakwahkan Islam kepada umat Islam di seluruh pelosok Indonesia. Tak kenal lelah. Meski harus menempuh jalan yang jauh.
Selamat jalan Ustaz. Semoga dari lisanmu banyak membawa kebaikan dan perubahan pada banyak orang. Dan mengalirkan pahala untukmu. Sebagai bekalmu di yaumil hisab.
Semoga kami pun kan selalu melakukan kebaikan dan keta'atan sepertimu. Dan istiqomah dalam jalan Islam ini. Aamiin.
Laila Thamrin
25062018
#inmemoriam
#UstazHariMoekti
#pejuangsyariahdankhilafaha
IED MUBARAK
Jepretan
kemacetan kala mudik dan lelahnya menenteng sejibun tas. Wajah kuyu, lelah dan bermandikan keringat tak lupa diupload bersama sejuta harapan bertemu keluarga besar di udik. Namun semangat lebaran memompakan energi yang tak terkira besarnya. Hingga semua kepenatan fisik dan psikis terbang bagaikan angin. Tak berbekas. Apalagi terbayang muka emak, abah, nenek, kakek, keponakan, adik-kakak, dan semua handai taulan di kampung. Kami Pulang....
Idulfitri pasti memberikan cerita seru dan membahagiakan. Lihat saja, linimasa medsos bertabur kebahagiaan. Kalaupun disela-sela kebahagiaan terselip cerita sedih yang tak diharapkan, akan segera di"skip" sementara. Agar kebahagiaan tetap terpancar di hari nan fitri ini.
Ketemu keluarga besar pasti seneng tak terkira. Sampai kadang "lupa diri". Ngobrol ngalor ngidul, tapi jangan lupa jaga lisan! Ngobrol seperlunya. Bahagia sepuasnya. 😄
Idulfitri juga ternyata membawa keberkahan pada semua. Rezeki berlimpah, dari mulai makanan, minuman hingga ada yang berbagi uang di hari Lebaran. MasyaAllah....
Eh ada juga loh pemutihan utang, senengnya...alhamdulillah, barakallahu alaikum. 😊
Moga momen Idulfitri kali ini benar-benar menjadi pembuka bagi kebaikan kita seterusnya. Awal perubahan untuk terus istiqomah. Sudah terbiasa mengerjakan yang sunnah selama Ramadan, moga terus berlanjut diluar Ramadan. Kewajiban utama jangan sampai ditinggalkan. Apalagi kewajiban dakwah yang sangat urgen untuk perubahan umat pada kebaikan. Agar kejayaan Islam kembali lagi ke pangkuan kaum muslimin.
Happy Ied Mubarak ! 😍😍
Laila Thamrin
17Juni2018
03Syawal1439H
#latepost
#iedmubarak
#idulfitribersamarevowriter
#syawal
#happyfamily
kemacetan kala mudik dan lelahnya menenteng sejibun tas. Wajah kuyu, lelah dan bermandikan keringat tak lupa diupload bersama sejuta harapan bertemu keluarga besar di udik. Namun semangat lebaran memompakan energi yang tak terkira besarnya. Hingga semua kepenatan fisik dan psikis terbang bagaikan angin. Tak berbekas. Apalagi terbayang muka emak, abah, nenek, kakek, keponakan, adik-kakak, dan semua handai taulan di kampung. Kami Pulang....
Idulfitri pasti memberikan cerita seru dan membahagiakan. Lihat saja, linimasa medsos bertabur kebahagiaan. Kalaupun disela-sela kebahagiaan terselip cerita sedih yang tak diharapkan, akan segera di"skip" sementara. Agar kebahagiaan tetap terpancar di hari nan fitri ini.
Ketemu keluarga besar pasti seneng tak terkira. Sampai kadang "lupa diri". Ngobrol ngalor ngidul, tapi jangan lupa jaga lisan! Ngobrol seperlunya. Bahagia sepuasnya. 😄
Idulfitri juga ternyata membawa keberkahan pada semua. Rezeki berlimpah, dari mulai makanan, minuman hingga ada yang berbagi uang di hari Lebaran. MasyaAllah....
Eh ada juga loh pemutihan utang, senengnya...alhamdulillah, barakallahu alaikum. 😊
Moga momen Idulfitri kali ini benar-benar menjadi pembuka bagi kebaikan kita seterusnya. Awal perubahan untuk terus istiqomah. Sudah terbiasa mengerjakan yang sunnah selama Ramadan, moga terus berlanjut diluar Ramadan. Kewajiban utama jangan sampai ditinggalkan. Apalagi kewajiban dakwah yang sangat urgen untuk perubahan umat pada kebaikan. Agar kejayaan Islam kembali lagi ke pangkuan kaum muslimin.
Happy Ied Mubarak ! 😍😍
Laila Thamrin
17Juni2018
03Syawal1439H
#latepost
#iedmubarak
#idulfitribersamarevowriter
#syawal
#happyfamily
Senin, 07 Mei 2018
Buka Mata, Buka Hati #01
OPTIMIS
By Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan - Revowriter)
Kian hari kehidupan terasa semakin rumit. BBM naik secara periodik, tanpa permisi sebelumnya. Listrik dan air bila telat bayar bakalan didenda. Semua barang kena pajak. Pendidikan berkualitas mahal. Kesehatan apalagi, tak ada uang tak bisa berobat. Sedangkan pendapatan tak pernah mencukupi semua kebutuhan. Akhirnya, rentenir berdasi dibalik Bank dan jasa pembiayaan laku keras. Karena dianggap mampu menyelesaikan masalah sesaat. Padahal dampak berkepanjangan semakin menjerat.
Seluruh lini kehidupan rasanya tak ada yang luput dari serangan. Sistem sosial di masyarakat juga amburadul. Muda-mudi tak kenal batas pergaulan. Akibatnya kehamilan tak diinginkan terjadi. Aborsi pun jadi pilihan. Mautpun siap mencengkram.
Belum lagi kasus penganiayaan di sana-sini. Ayah cekik anaknya. Murid aniaya gurunya. Isteri di-dor suaminya. Mengerikan. Tak ada lagi harganya nyawa manusia. Seolah perseteruan hidup mengharuskan saling sikut dan tusuk agar menang. Persis seperti masyarakat jahiliyah sebelum Islam datang. Padahal di zaman now pelakunya muslim. Namun sayang, hukum Islam diletakkan dipojok ruangan, hanya sebagai pajangan.
Korupsi merajalela. Narkoba kian menggila. Sumber daya alam di gunung, di perut bumi bahkan di lautan terus diobral kepada asing dan aseng. Ketika kemiskinan mulai melanda, berharap kekayaan dari racun kalajengking sedangkan gunung emas diserahkan pada asing.
Belum lagi pengangguran kian hari kian membukit. Namun tak ada solusi yang ditawarkan penguasa. Yang disodorkan justru keleluasan TKA menyerbu negeri ini. Dari level buruh sampai dosen. Tak hanya lapangan kerja yang dikuasainya, tapi juga pemikiran dan gaya hidup mereka kan disebarkannya. Bukankah ini bahaya besar yang sengaja diundang?
Negeri ini telah diserang. Ya, serangan neoimperialisme dan neoliberalisme oleh Barat. Neoimperialisme (penjajahan gaya baru) tak memerlukan senjata fisik, tapi cukup dengan menguasai pemikiran penguasa sebuah negeri. Maka negeri itu kan berjalan sesuai arahan penjajahnya. Persis seperti sapi yang dicocok hidungnya. Ngikut terus apa yang diinginkan tuannya.
Setali tiga uang dengan neoliberalisme. Yang menghendaki supaya peran negara terpinggirkan dalam pengaturan ekonominya. Alhasil, korporat pun merajalela menguasai hajat hidup masyarakat. Privatisasi sektor publik, pencabutan subsidi komoditas strategis dan penghilangan hak-hak istimewa BUMN pun terjadi. Jadi tak heran harga BBM, pupuk, dan gas menjadi mahal karena tak disubsidi.
Kebutuhan pokok rakyat pun kian meroket. Solusi yang ditawarkan pun bikin kelucuan tingkat tinggi. Cabe mahal, ayo tanam sendiri. Daging sapi mahal, substitusi ke keong sawah. Ikan kalengan ada cacingnya, malah dibilang bahwa cacing juga sumber protein. Wah, ini sudah seperti Negeri Ketoprak Humor kaya serial televisi.
Terlalu banyak kerumitan ini. Apa yang harus kita lakukan? Cukupkah hanya berdiam diri dan berharap perubahan segera terjad? Ataukah ada jalan lain yang bisa kita tempuh?
Seorang Muslim selama masih berpegang teguh pada Din-Nya, pasti punya solusi terhadap persoalan yang menimpanya. Karena setiap kesulitan hidup adalah ujian dari Allah SWT kepada hambaNya. Maka haruslah ada upaya untuk menyelesaikannya. Dan upaya itu haruslah komprehensif, agar semua persoalan itu tuntas terselesaikan. Bukan penyelesaian sesaat yang menimbulkan masalah baru lagi.
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al Baqarah : 214)
"....Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar Ra'du : 11)
Tuntunan ini yang mendorong muslim untuk selalu sabar menghadapi ujian. Dan optimis pada perubahan hidupnya. Perubahan pada keadaan yang lebih baik dari yang ada saat ini.
Optimis harus dipupuk pada setiap diri. Terlebih lagi para pengemban dakwah. Bagaimana agar dakwah Islam ditengah masyarakat tetap bisa dilaksanakan dalam kondisi apapun. Senang maupun susah. Dipermudah penguasa ataupun dipersekusi. Diberi karpet merah ataukah didzolimi. Tetap optimis dalam berdakwah.
Optimis bahwa semua ajaran Islam akan sampai dan diterima umat. Termasuk menyampaikan kepada umat bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Wajib dilaksanakan untuk menyelesaikan persoalan umat yang bejibun. Khilafah yang akan mengurai semua keruwetan masalah hidup umat sekarang ini.
Optimis pula kita karena Khilafah adalah janji Allah Swt. Tak ada yang sempurna memberikan janji dan menepatinya kecuali Allah Rabbul Izzati. Maka, mengapa kita harus sangsi bahwa Khilafah kan memberikan penyelesaian?
Teruslah berjuang untuk menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Setiap kesulitan yang dihadapi kan diberikan Allah dua jalan kemudahan untuk melaluinya. Sebagaimana Allah berfirman :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al Insyiroh : 5-6)
Imam ar Razi menukil sebuah hadits Qudsi, sebagaimana dituturkan oleh Ibn Abbas ra.
bahwa Rasul Saw pernah bersabda, "Allah Swt telah berfirman, "Aku telah menciptakan satu kesulitan diantara dua kemudahan. Karena itu tidak akan pernah satu kesulitan bisa mengalahkan dua kemudahan."
Indah bukan? Allah telah menjanjikan lebih dari yang kita harapkan. Jadi, optimislah ! Bahwa Islam akan menang. Islam kan kembali berjaya. Dan syariat Islam yang paripurna segera terwujud dalam naungan Khilafah Rasyidah ala Minhajjin Nubuwwah.
Ahad, 06052018
#KhilafahAjaranIslam
#HTILayakMenang
#HTIdiHati
By Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan - Revowriter)
Kian hari kehidupan terasa semakin rumit. BBM naik secara periodik, tanpa permisi sebelumnya. Listrik dan air bila telat bayar bakalan didenda. Semua barang kena pajak. Pendidikan berkualitas mahal. Kesehatan apalagi, tak ada uang tak bisa berobat. Sedangkan pendapatan tak pernah mencukupi semua kebutuhan. Akhirnya, rentenir berdasi dibalik Bank dan jasa pembiayaan laku keras. Karena dianggap mampu menyelesaikan masalah sesaat. Padahal dampak berkepanjangan semakin menjerat.
Seluruh lini kehidupan rasanya tak ada yang luput dari serangan. Sistem sosial di masyarakat juga amburadul. Muda-mudi tak kenal batas pergaulan. Akibatnya kehamilan tak diinginkan terjadi. Aborsi pun jadi pilihan. Mautpun siap mencengkram.
Belum lagi kasus penganiayaan di sana-sini. Ayah cekik anaknya. Murid aniaya gurunya. Isteri di-dor suaminya. Mengerikan. Tak ada lagi harganya nyawa manusia. Seolah perseteruan hidup mengharuskan saling sikut dan tusuk agar menang. Persis seperti masyarakat jahiliyah sebelum Islam datang. Padahal di zaman now pelakunya muslim. Namun sayang, hukum Islam diletakkan dipojok ruangan, hanya sebagai pajangan.
Korupsi merajalela. Narkoba kian menggila. Sumber daya alam di gunung, di perut bumi bahkan di lautan terus diobral kepada asing dan aseng. Ketika kemiskinan mulai melanda, berharap kekayaan dari racun kalajengking sedangkan gunung emas diserahkan pada asing.
Belum lagi pengangguran kian hari kian membukit. Namun tak ada solusi yang ditawarkan penguasa. Yang disodorkan justru keleluasan TKA menyerbu negeri ini. Dari level buruh sampai dosen. Tak hanya lapangan kerja yang dikuasainya, tapi juga pemikiran dan gaya hidup mereka kan disebarkannya. Bukankah ini bahaya besar yang sengaja diundang?
Negeri ini telah diserang. Ya, serangan neoimperialisme dan neoliberalisme oleh Barat. Neoimperialisme (penjajahan gaya baru) tak memerlukan senjata fisik, tapi cukup dengan menguasai pemikiran penguasa sebuah negeri. Maka negeri itu kan berjalan sesuai arahan penjajahnya. Persis seperti sapi yang dicocok hidungnya. Ngikut terus apa yang diinginkan tuannya.
Setali tiga uang dengan neoliberalisme. Yang menghendaki supaya peran negara terpinggirkan dalam pengaturan ekonominya. Alhasil, korporat pun merajalela menguasai hajat hidup masyarakat. Privatisasi sektor publik, pencabutan subsidi komoditas strategis dan penghilangan hak-hak istimewa BUMN pun terjadi. Jadi tak heran harga BBM, pupuk, dan gas menjadi mahal karena tak disubsidi.
Kebutuhan pokok rakyat pun kian meroket. Solusi yang ditawarkan pun bikin kelucuan tingkat tinggi. Cabe mahal, ayo tanam sendiri. Daging sapi mahal, substitusi ke keong sawah. Ikan kalengan ada cacingnya, malah dibilang bahwa cacing juga sumber protein. Wah, ini sudah seperti Negeri Ketoprak Humor kaya serial televisi.
Terlalu banyak kerumitan ini. Apa yang harus kita lakukan? Cukupkah hanya berdiam diri dan berharap perubahan segera terjad? Ataukah ada jalan lain yang bisa kita tempuh?
Seorang Muslim selama masih berpegang teguh pada Din-Nya, pasti punya solusi terhadap persoalan yang menimpanya. Karena setiap kesulitan hidup adalah ujian dari Allah SWT kepada hambaNya. Maka haruslah ada upaya untuk menyelesaikannya. Dan upaya itu haruslah komprehensif, agar semua persoalan itu tuntas terselesaikan. Bukan penyelesaian sesaat yang menimbulkan masalah baru lagi.
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al Baqarah : 214)
"....Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar Ra'du : 11)
Tuntunan ini yang mendorong muslim untuk selalu sabar menghadapi ujian. Dan optimis pada perubahan hidupnya. Perubahan pada keadaan yang lebih baik dari yang ada saat ini.
Optimis harus dipupuk pada setiap diri. Terlebih lagi para pengemban dakwah. Bagaimana agar dakwah Islam ditengah masyarakat tetap bisa dilaksanakan dalam kondisi apapun. Senang maupun susah. Dipermudah penguasa ataupun dipersekusi. Diberi karpet merah ataukah didzolimi. Tetap optimis dalam berdakwah.
Optimis bahwa semua ajaran Islam akan sampai dan diterima umat. Termasuk menyampaikan kepada umat bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Wajib dilaksanakan untuk menyelesaikan persoalan umat yang bejibun. Khilafah yang akan mengurai semua keruwetan masalah hidup umat sekarang ini.
Optimis pula kita karena Khilafah adalah janji Allah Swt. Tak ada yang sempurna memberikan janji dan menepatinya kecuali Allah Rabbul Izzati. Maka, mengapa kita harus sangsi bahwa Khilafah kan memberikan penyelesaian?
Teruslah berjuang untuk menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Setiap kesulitan yang dihadapi kan diberikan Allah dua jalan kemudahan untuk melaluinya. Sebagaimana Allah berfirman :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al Insyiroh : 5-6)
Imam ar Razi menukil sebuah hadits Qudsi, sebagaimana dituturkan oleh Ibn Abbas ra.
bahwa Rasul Saw pernah bersabda, "Allah Swt telah berfirman, "Aku telah menciptakan satu kesulitan diantara dua kemudahan. Karena itu tidak akan pernah satu kesulitan bisa mengalahkan dua kemudahan."
Indah bukan? Allah telah menjanjikan lebih dari yang kita harapkan. Jadi, optimislah ! Bahwa Islam akan menang. Islam kan kembali berjaya. Dan syariat Islam yang paripurna segera terwujud dalam naungan Khilafah Rasyidah ala Minhajjin Nubuwwah.
Ahad, 06052018
#KhilafahAjaranIslam
#HTILayakMenang
#HTIdiHati
Rabu, 10 Januari 2018
MAWINEI
"Si anak muda tampak ingin mengungkapkan sesuatu, namun urung. Entah apa yang menahannya. Mawinei menemukan kilau aneh di matanya. Tak ubahnya seperti sinar mata seseorang yang baru saja berjumpa dengan sahabat yang telah lama berpisah. Takjub, rindu, sekaligus tanya. "Apakah kau lupa padaku?"
*****
Hmm...seuntai kalimat-kalimat indah begini yang bikin penasaran buku ini. Kutipan yang saya tulis itu bisa ditemukan pada halaman 151.
Jujur, saya belum tuntas membaca seluruh isi bukunya...baru setengahnya. Tapi rasa penasaran tentang akhir cerita seolah menggebu-gebu bikin saya tergoda ingin langsung membaca dibagian akhirnya. 😄 Hehe...walaupun itu tak jadi saya lakukan. Karena saya pikir, sangat sayang dilewatkan kata demi kata yang begitu indah dirangkaikan.
Mawinei, seorang gadis cilik yang berkulit putih dan bermata sipit, hasil kolaborasi gen suku Dayak Bukit dari pegunungan Meratus dengan Korea, begitu jelas digambarkan si penulis. Dia gadis cilik yang kemudian terus beranjak remaja dengan kisah kehidupannya yang penuh petualangan dan dinamika yang unik.
Tokoh seorang Kaayat, lelaki muda kampung yang kuat sorot matanya dan teguh pendiriannya. Calon kepala suku yang memiliki talenta yang berbeda dari kawan-kawan sebayanya. Dia sangat disayangi oleh Damang Aban, seorang Kepala Suku Dayak Bukit. Dia teman sepermainan Mawinei sejak kecil.
Ada dua tokoh muda-mudi yang diangkat dalam novel ini. Kira-kira pembaca bisakah menebak, ke arah mana alur cerita bergulir? Saya pun masih dalam proses nih..hehe... 😂
Kisah dua tokoh ini begitu dominan dalam novel karya bu Eva Liana ini. Novel yang berlatar budaya Dayak dari Kalimantan, cukup unik. Jarang kiranya kita dapati karya urang banua berlatar alam indah Loksado, satu desa di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, propinsi Kalsel.
Seumur-umur saya yang asli Urang Banua belum pernah ke Loksado...haha..kudet saya ...😂
Tapi membaca Mawinei, saya berasa ada disana loh...Serasa ikut menyusuri satu demi satu alam indahnya ketika Mawinei dan Kaayat pergi ke sekolah atau bermain bersama teman-temannya. Disela-sela hutan dan membelah pegunungan Meratus.
Sentuhan nilai-nilai Islam pun disematkan indah dalam beberapa potongan fragmen cerita ini. Tentang kewajiban menuntut ilmu, kewajiban menutup aurat, tentang mahram dan silaturahim.
Rasanya rugi kalo tak saya habiskan membaca ceritanya sampai tuntas. Harus berjuang nih membacanya, karena novel ini tebalnya 380 halaman loh, semoga bisa. Maklum emak-emak dengan segudang kegiatan...*jiah..emak sibuk nih ceritanya...hihi...😁
Baca novel ini ternyata cukup mengasyikkan. Meski gak ada adegan menegangkan dan misterius kayak di Lima Sekawan atau karyanya Agatha Christie...hehe. Jadi ingat masa lalu deh...zaman old.
Moga membaca novel ini mengawali saya untuk bisa kembali "gemar membaca", kayak dulu waktu masih remaja kalo nulis biodata dibuku album kenangannya teman-teman sekolah, kolom hobi pasti isinya "membaca". Wkwkwk.....😄
Baiklah...itu saja sekelumit tentang Mawinei ya. Saya mau lanjut baca lagi....☺
Laila Thamrin
10012018
#Day10
#1Day1Post2018
#ODOP2018
#NulisYuk!
#TemaLiterasi
#Revowriter
#AMK4
*****
Hmm...seuntai kalimat-kalimat indah begini yang bikin penasaran buku ini. Kutipan yang saya tulis itu bisa ditemukan pada halaman 151.
Jujur, saya belum tuntas membaca seluruh isi bukunya...baru setengahnya. Tapi rasa penasaran tentang akhir cerita seolah menggebu-gebu bikin saya tergoda ingin langsung membaca dibagian akhirnya. 😄 Hehe...walaupun itu tak jadi saya lakukan. Karena saya pikir, sangat sayang dilewatkan kata demi kata yang begitu indah dirangkaikan.
Mawinei, seorang gadis cilik yang berkulit putih dan bermata sipit, hasil kolaborasi gen suku Dayak Bukit dari pegunungan Meratus dengan Korea, begitu jelas digambarkan si penulis. Dia gadis cilik yang kemudian terus beranjak remaja dengan kisah kehidupannya yang penuh petualangan dan dinamika yang unik.
Tokoh seorang Kaayat, lelaki muda kampung yang kuat sorot matanya dan teguh pendiriannya. Calon kepala suku yang memiliki talenta yang berbeda dari kawan-kawan sebayanya. Dia sangat disayangi oleh Damang Aban, seorang Kepala Suku Dayak Bukit. Dia teman sepermainan Mawinei sejak kecil.
Ada dua tokoh muda-mudi yang diangkat dalam novel ini. Kira-kira pembaca bisakah menebak, ke arah mana alur cerita bergulir? Saya pun masih dalam proses nih..hehe... 😂
Kisah dua tokoh ini begitu dominan dalam novel karya bu Eva Liana ini. Novel yang berlatar budaya Dayak dari Kalimantan, cukup unik. Jarang kiranya kita dapati karya urang banua berlatar alam indah Loksado, satu desa di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, propinsi Kalsel.
Seumur-umur saya yang asli Urang Banua belum pernah ke Loksado...haha..kudet saya ...😂
Tapi membaca Mawinei, saya berasa ada disana loh...Serasa ikut menyusuri satu demi satu alam indahnya ketika Mawinei dan Kaayat pergi ke sekolah atau bermain bersama teman-temannya. Disela-sela hutan dan membelah pegunungan Meratus.
Sentuhan nilai-nilai Islam pun disematkan indah dalam beberapa potongan fragmen cerita ini. Tentang kewajiban menuntut ilmu, kewajiban menutup aurat, tentang mahram dan silaturahim.
Rasanya rugi kalo tak saya habiskan membaca ceritanya sampai tuntas. Harus berjuang nih membacanya, karena novel ini tebalnya 380 halaman loh, semoga bisa. Maklum emak-emak dengan segudang kegiatan...*jiah..emak sibuk nih ceritanya...hihi...😁
Baca novel ini ternyata cukup mengasyikkan. Meski gak ada adegan menegangkan dan misterius kayak di Lima Sekawan atau karyanya Agatha Christie...hehe. Jadi ingat masa lalu deh...zaman old.
Moga membaca novel ini mengawali saya untuk bisa kembali "gemar membaca", kayak dulu waktu masih remaja kalo nulis biodata dibuku album kenangannya teman-teman sekolah, kolom hobi pasti isinya "membaca". Wkwkwk.....😄
Baiklah...itu saja sekelumit tentang Mawinei ya. Saya mau lanjut baca lagi....☺
Laila Thamrin
10012018
#Day10
#1Day1Post2018
#ODOP2018
#NulisYuk!
#TemaLiterasi
#Revowriter
#AMK4
Senin, 01 Januari 2018
RESOLUSI EMAK
Tahun 2018 telah datang. Kalender tlah berganti. Masa depan semakin terbentang didepan mata. Berbagai Resolusi ke depan juga digaungkan. Baik para muda-mudi, selebriti, pejabat negeri, bahkan Emak-emak seksi. Ups..! Ya iyalah..seksi didepan suami pastinya. Gak boleh di depan yang lain ya Mak....✋😉
Kids zaman now resolusinya macam-macam dari yang ga jelas arah sampai yang ideologis. Dari sekedar mau lebih cantik or ganteng tahun ini, yang mau hindari micin sampai yang mau berjuang membela Islam. Joss !
Nah, giliran para Emak nih...apa ya resolusi tahun ini? Yang pasti emak kudu harus perhatikan perbaikan untuk diri, anak, suami, keluarga, masyarakat dan negara. Wuih...banyak ya...hehe..ga papa. Justru ini lo yang selama ini jarang terjadi. Harus ada perbedaan dari tahun-tahun yang lalu.
Kalo boleh berbagi nih, sebagai Emak saya punya resolusi untuk tahun ke depan. Pantengin ya...😀
Resolusi pertama : harus ada peningkatan sisi aqliyah dan ibadah. Tambah tsaqofah dengan ikut kajian keislaman, banyakin baca buku, sering kumpul dengan ibu-ibu yang punya visi dan misi yang sama. Tingkatkan ibadah sunnah, karena yang sunnah kalo dikerjakan kan dapat pahala. Perbaiki akhlak, suka bersedekah walaupun hanya dengan senyuman, asal ga senyum-senyum sendiri ya Mak...😄. Banyakin bantu teman, tetangga dan kerabat..bantu yang baik-baik tentunya.
Resolusi kedua : anak tentunya. Harus ada upaya nih buat perkokoh aqidah anak-anak. Tau kan sekarang zamannya pergaulan bebas, media digital menyelusup sampai kekamar, apalagi elgebete sudah menyerang kesemua lini, gak hanya kaum old tapi justru sasarannya kids zaman now. Nah, ini perlu upaya serius. Mesti diberi pemahaman tentang dari mana, untuk apa dan mau kemana kita hidup? Agar mereka mengerti 'way of life' dan bersegera taat pada syariat. Jadi Emak harus carikan nih komunitas buat anak-anak yang bisa mewujudkan harapan Emak ini.
Resolusi ketiga : harus selalu menjalin komunikasi dalam keluarga, baik dengan ayah maupun dengan ananda semua. Emak harus rajin berhias dan bikin Ayah tetap happy dan makin sayang nih dirumah. Hihihi...kan mottonya "menua bersamamu dalam taat, hingga sampai ke surgaNya."...aamiin...😇 Trus kudu jadi sahabat buat anak-anak. Ini nih yang nuntut Emak harus terus jadi pembelajar, setiap saat, setiap ada kesempatan. Makanya sekolahnya Emak tuh sepanjang hayat.
Resolusi keempat : melihat kondisi masyarakat yang kian hari kian jauh dari Islam, maka emak harus jadi bagian penyeru kebaikan. Penyeru perubahan dimasyarakat. Nah, ini juga perlu upaya besar nih...moga Emak dimudahkan untuk terus belajar ilmu agama lebih banyak lagi ya. Meski kadang harus berkejaran dengan waktu dan kemampuan fisik yang kian rapuh. Maklum, Emak kan sudah memasuki usia sore..hehe.
Wah..gak terasa nih, ternyata empat resolusi aja dah bikin emak harus berjibaku. Ini harapan yang sebenarnya sudah dibuat sejak mulai mengawali pernikahan dulu. Tapi gak papa ya, refresh resolusi, biar keluarga terus harmonis, anak-anak tetap manis, masyarakat tambah agamis dan terwujud negara yang ideologis.
Yuk tulis resolusimu Mak!
Laila Thamrin
01012018
#Day1
#TemaKeluarga
#1Day1Post2018
#ODOP2018
#NulisYuk
#Revowriter
#PenulisBelaIslam
Kids zaman now resolusinya macam-macam dari yang ga jelas arah sampai yang ideologis. Dari sekedar mau lebih cantik or ganteng tahun ini, yang mau hindari micin sampai yang mau berjuang membela Islam. Joss !
Nah, giliran para Emak nih...apa ya resolusi tahun ini? Yang pasti emak kudu harus perhatikan perbaikan untuk diri, anak, suami, keluarga, masyarakat dan negara. Wuih...banyak ya...hehe..ga papa. Justru ini lo yang selama ini jarang terjadi. Harus ada perbedaan dari tahun-tahun yang lalu.
Kalo boleh berbagi nih, sebagai Emak saya punya resolusi untuk tahun ke depan. Pantengin ya...😀
Resolusi pertama : harus ada peningkatan sisi aqliyah dan ibadah. Tambah tsaqofah dengan ikut kajian keislaman, banyakin baca buku, sering kumpul dengan ibu-ibu yang punya visi dan misi yang sama. Tingkatkan ibadah sunnah, karena yang sunnah kalo dikerjakan kan dapat pahala. Perbaiki akhlak, suka bersedekah walaupun hanya dengan senyuman, asal ga senyum-senyum sendiri ya Mak...😄. Banyakin bantu teman, tetangga dan kerabat..bantu yang baik-baik tentunya.
Resolusi kedua : anak tentunya. Harus ada upaya nih buat perkokoh aqidah anak-anak. Tau kan sekarang zamannya pergaulan bebas, media digital menyelusup sampai kekamar, apalagi elgebete sudah menyerang kesemua lini, gak hanya kaum old tapi justru sasarannya kids zaman now. Nah, ini perlu upaya serius. Mesti diberi pemahaman tentang dari mana, untuk apa dan mau kemana kita hidup? Agar mereka mengerti 'way of life' dan bersegera taat pada syariat. Jadi Emak harus carikan nih komunitas buat anak-anak yang bisa mewujudkan harapan Emak ini.
Resolusi ketiga : harus selalu menjalin komunikasi dalam keluarga, baik dengan ayah maupun dengan ananda semua. Emak harus rajin berhias dan bikin Ayah tetap happy dan makin sayang nih dirumah. Hihihi...kan mottonya "menua bersamamu dalam taat, hingga sampai ke surgaNya."...aamiin...😇 Trus kudu jadi sahabat buat anak-anak. Ini nih yang nuntut Emak harus terus jadi pembelajar, setiap saat, setiap ada kesempatan. Makanya sekolahnya Emak tuh sepanjang hayat.
Resolusi keempat : melihat kondisi masyarakat yang kian hari kian jauh dari Islam, maka emak harus jadi bagian penyeru kebaikan. Penyeru perubahan dimasyarakat. Nah, ini juga perlu upaya besar nih...moga Emak dimudahkan untuk terus belajar ilmu agama lebih banyak lagi ya. Meski kadang harus berkejaran dengan waktu dan kemampuan fisik yang kian rapuh. Maklum, Emak kan sudah memasuki usia sore..hehe.
Wah..gak terasa nih, ternyata empat resolusi aja dah bikin emak harus berjibaku. Ini harapan yang sebenarnya sudah dibuat sejak mulai mengawali pernikahan dulu. Tapi gak papa ya, refresh resolusi, biar keluarga terus harmonis, anak-anak tetap manis, masyarakat tambah agamis dan terwujud negara yang ideologis.
Yuk tulis resolusimu Mak!
Laila Thamrin
01012018
#Day1
#TemaKeluarga
#1Day1Post2018
#ODOP2018
#NulisYuk
#Revowriter
#PenulisBelaIslam
Selasa, 26 Desember 2017
Seikat Bunga Ungu
Tak perlu kata-kata, cukup seikat bunga ternyata bisa menyampaikan rasa itu.
Meski saya tak berharap ada kata di hari istimewa, tapi ternyata ananda ingin mengungkap rasa.
Dan meski tak terucap dan tak terlihat, tapi seorang ibu pasti kan tahu akan rasa itu.
Memang tak layak latah merayakan sesuatu yang tak pernah ada.
Tapi, pemberian seorang anak patut mendapatkan apresiasi karena pastilah itu lahir dari sebuah "cinta".
Love you my kids, you are the best gift in my life
😍😍😍😍😍
Laila Thamrin
26122017
#SeikatBungaUngu
#HadiahdiHariIbu
#Buahtangandaripondok
Rabu, 08 Juni 2016
Suasana pagi yang sedikit berawan
dan butiran gerimis tipis membasahi sebagian kota Banjarbaru tak mengurangi
langkah kami untuk berangkat menuju Hotel Rodhita, tempat dimana anak sulung
kami tercinta, Nur Adzkia Kamilah, hari ini mengikuti Wisuda. Ya, hari ini
Sabtu, 4 Juni 2016 adalah hari kelulusan Adzkia,
panggilan sayang kami, setelah tiga tahun menjalani sekolah di SMP Islam
Terpadu Insantama Banjarbaru.
Ada rasa senang yang
menggebu-gebu, rasa gembira yang membuncah, meskipun ada rasa gelisah dan sedih
yang terselip didalamnya. Hal itu tersirat pada wajah-wajah para siswa,
khususnya kelas 6 dan 9 Sekolah Islam Terpadu Insantama ini. Pun juga pada para
orang tua yang diundang untuk hadir, meskipun berdandan rapi dan semburat
bahagia muncul pada wajahnya, tetapi tetap ada rasa sedih dan haru yang tersimpan rapi
didalamnya.
Itu juga yang muncul pada kami.
Sejak pertama duduk dan mendengarkan prosesi awal pembukaan acara, rasa gundah
tiba-tiba menyeruak dalam dada. Kata demi kata yang diuangkapkan para guru dan
orang tua yang mewakili berbicara didepan podium membuat semakin membuat mata
ini tak tahan menampung panasnya air mata yang berdesakan ingin keluar. Hingga
penampilan siswa-siswi kelas 5 dan 8 yang begitu menyentuh hati, tak kuasa lagi
membendung tetesan air mata ini hingga pecah menjadi sebuah tangisan yang
mengalirkan air mata dengan derasnya. Hingga tissu pun tak henti harus ditarik
terus dari tempatnya.
Ya...diawali dari sebuah cerita
salah satu episode kehidupan Rasulullah SAW ketika mendakwahkan Islam di Mekkah
dan Madinah. Dimana salah satu sahabat Beliau, Khalid Bin Walid yang
terkenal dengan julukan "Panglima
Perang Yang Tak Pernah Kalah", dulunya adalah seorang kafir yang
sangat memusuhi Rasul SAW dan pengikut beliau. Dan yang paling fenomenal saat
itu adalah kejadian saat Perang Uhud. Kaum Muslimin harus berhadapan dengan
pasukan kafir Quraish yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid.
Perang ini terjadi di bukit Uhud,
dimana dibukit ini kaum muslimin menempatkan pasukan panahnya diatas bukit.
Strategi yang sangat bagus kala itu, karena dari atas bukit bisa melihat musuh
dengan lebih jelas. Pertempuran antara
kaum Muslimin dan kaum kafir Quraish pun terjadi. Dan dimenangkan oleh kaum
muslimin. Kaum kafir pimpinan Khalid Bin Walid mundur ke belakang. Kaum
Muslimin bertakbir atas kemenangan ini. Pasukan panah yang ada diatas bukit pun
terperangah melihat harta bawaan kaum kafir yang ditinggalkannya begitu banyak.
Harta rampasan perang (ghanimah) yang
"menyilaukan mata" sebagian besar pasukan perang dari kaum muslimin.
Mereka pun beramai-ramai menuruni bukit Uhud menyerbu harta tersebut. Mereka
tak perduli terhadap seruan Rasulullah SAW untuk tetap ada ditempatnya
masing-masing sebelum diperintahkan berpindah. Inilah awal petaka itu.....
Khalid bin Walid, sebagai pimpinan
pasukan musuh yang awalnya kalah tiba-tiba melihat kejadian ini. Dia segera
memerintahkan pasukan berkudanya untuk menaiki Bukit Uhud yang ditinggalkan
pasukan panah kaum Muslimin dari arah belakang. Hingga mereka mengepung bukit
itu. Padahal Rasulullah SAW masih ada dibukit itu, dengan ditemani hanya
beberapa orang sahabat saja. Sungguh.....inilah yang membuat tetesan air mataku
tak terbendung lagi...membayangkan Manusia yang paling Mulia, Rasulullah Muhammad SAW terkepung musuh
dan nyawanya diujung tanduk....hingga beberapa gigi depan beliau rontok karena
terkena pukulan orang-orang kafir yang beringas dan sangat bernafsu untuk
membunuh Beliau. Tak rela rasanya mendengar cerita ini...dimana Beliau
mendapatkan kesakitan yang luar biasa untuk mempertahankan Islam hingga bisa
kita kenal dan menjadi hidup kita saat ini.
Air mata ini semakin deras
mengalir ketika anak-anak di SIT Insantama ini memvisualisasikannya dengan apik
dalam drama singkat ini, namun sarat akan makna.
Begitu besar pengorbanan para sahabat yang melindungi Beliau
dipersembunyiannya di Bukit Uhud itu. Ada yang penggal tangannya. Ada yang
mendapatkan puluhan luka karena sabetan pedang dan tusukan tombak. Ada yang
putus telinganya. Subhanallah....tapi itu menjadi ringan dirasakan oleh para
sahabat ketika mendapati Rasulullah SAW masih hidup, meskipun Beliau pun
terluka.
Satu pelajaran yang didapatkan
dari peristiwa Perang Uhud ini adalah pentingnya
ta'at pada pemimpin. Ta'at pada aturan dan perintah dari seorang pemimpin menjadi
sangat penting. Karena dari keta'atan ini akan membawa pada tujuan yang ingin
dicapai.
Anak-anak di SIT Insantama ini
telah mengingatkan semua orang tua yang hadir dan juga semua siswa untuk
menjadi seorang hamba yang selalu ta'at pada Khaliknya. Seorang Muslim hanya wajib ta'at pada perintah Allah SWT
maupun larangan-Nya.
Masya Allah....sebagai orangtua,
kami merasakan bahagia luar biasa, melihat perkembangan anak-anak kami selama
bersekolah disini. Ini bukan promosi, tapi kami sekedar menceritakan bagaimana
kami merasakan ada hal yang berbeda disekolah ini yang kami dapatkan. Anak kami
menjadi individu yang lebih ta'at kepada Allah SWT. Dia sudah terbiasa memakai jilbab(jubah) dan khimar(kerudung) jika keluar rumah. Tentu ini bukan karena takut
dengan guru dan orangtuanya, tetapi lebih karena dia faham bahwa itu
diperintahkan oleh Allah SWT sesuai dengan firmanNya dalam QS. Al Ahzab : 59 dan QS. An
Nur : 31. Tak hanya itu, mereka pun diajarkan bagaimana pergaulan yang
benar antara laki-laki dan perempuan didalam Islam, yang intinya "No Pacaran". Dan banyak hal
lainnya lagi.
Kebahagian ini tak terkirakan.
Keharuan kembali muncul diacara puncak Wisuda ini, ketika satu persatu
siswa-siswi kelas 6 dan 9 dipanggil dengan didampingi kedua orangtuanya untuk
diberikan kenang-kenangan dari sekolah.
Dan derai tangis anak-anak, para
guru dan para orangtua pun semakin bertambah deras ketika sesi terakhir
berjalan. Salam-salaman, ucapan ma'af dan terimakasih, peluk cium dan foto
bersama sungguh semakin menyempurnakan pertemuan ini. Sungguh berkesan.
Wisuda...adalah perpisahan yang rasanya semakin mebuat anak-anak tak ingin
berpisah dengan para guru dan teman-temannya. Serasa waktu inginnya tak
berputar. Agar terus mereka puas bersama dan tak ada kesedihan yang dirasa.
Yang ingin dirasa hanyalah kesenangan dan kegembiraan.
Namun, hidup memang terus
melangkah ke depan. Semua rintangan harus dilalui. Semua ujian dan cobaan harus
dijalani. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tetapi perpisahan ini hanya
sementara, karena kita berharap kan bertemu kembali suatu saat nanti, bahkan
hingga ke SurgaNya.
Maka, tak salah sekolah ini
megambil tema "Kokohkan Langkah,
Menggapai Cita Bersama".
Langkah yang tepat adalah langkah yang sesuai dengan perintah dan
larangan Allah SWT, untuk menggapai cita
bersama yaitu menuju pada keridhoanNya.
Selamat buat ananda kami Nur
Adzkia Kamilah, semoga sukses terus menyertaimu bersama doa Ummi dan
Abi tercinta. Semoga semua cita-citamu mendapatkan ridho dari Allah SWT. Aamiin
Allahumma Aamiin
Nahnu uhibbuki Adzkia.
Banjarbaru, Sabtu 4 Juni 2016
Wisuda III SIT Insantama
Hotel Rodhita
By : Laila Qadarsih
Senin, 22 Februari 2016
Tim Work Hebat
Cuaca yang akhir-akhir ni kurang bersahabat membuat pertahanan tubuh juga tak mampu bertahan. Kadang panas yang begitu menyengat, tiba-tiba berubah dengan cepat dengan datangnya awan cumulus yang bergumpal-gumpal dan membawa hujan deras. Tiap hari saya nih punya jadwal ngantar dan jemput anak-anak sekolah. Yaah..inilah bagian yang cukup menyenangkan menjadi seorang ibu...hee...."My Trip My Adventure"...meskipun trip nya cuma sekolahan dan rumah...
Nah, ternyata hari itu...saya ga kuat lagi nahan virus nih. Dan jadilah saya sakit, flu menyerang. Setelah sebelumnya Kaka Hanif dan De Naura yang kena duluan, tp mereka sudah berangsur sembuh. Jadi pas pulang jemput anak-anak sekolah, badan saya ga enak banget. Bersin-bersin, hidung mampet, kepala berat, badan rasa sakit semua. Qadarullah...
Walhasil, tempat tidur jadi pilihan yang paling pas deh buat saya. Sambil olesin Vicks dan Minyak kayu putih ke leher, istirahat sebentar dan berdoa semoga Allah segera pulihkan lagi tenaganya.
Eeh..ga lama ternyata de Naura datang kekamar, bawakan segelas besar air teh hangat. Wow..kejutan nih. De Naura bilang, "Mi, ini teh hangatnya buat Ummi. Kan Ummi lagi sakit, jadi Naura bikinin ini buat Ummi supaya Ummi badannya enak." Masyaallah...senang sekali saya dapat suguhan teh hangat dari Naura.
Naura ini sekarang sudah 7 tahun usianya, kelas 1 SD. Alhamdulillah....
Kadang anak-anak kita melakukan hal yang tak disangka-sangka lo bunda....yang bikin air mata kita netes ga terasa. Kaya yang dilakukan Naura itu contohnya. Saya ucapin terimakasih sambil ciumin dia. Nauranya senang dan sumringah sekali...karena merasa dia telah membantu Ummi nya. Kelihatannya kecil ya, tapi efeknya luar biasa. Naura jadi ga minta dibantu untuk ngerjain yang lain-lain hari itu, karena dia tahu Ummi nya lagi sakit dan dia merasa mampu melayani Ummi nya. Saya apresiasi buanget deh....
Kalo Ka Hanif lain lagi. Pas malam beranjak datang, dan kebetulan Abu Hanif hari itu pulang kerja agak malam, sementara saya ga nyaman banget untuk bangun dan masak, saya panggil ka Hanif. Kita diskusi nih...buat menu makan malam itu. Karena Ka Hanif sekarang sudah berusia 10 tahun dan kelas 5 SD, jadinya enak diajak diskusi. Kita diskusi bagaimana caranya supaya makan malam bisa terpenuhi. Dan akhirnya kita sepakati, karena Ka Hanif belum bisa masak dia bertugas beli nasi goreng diujung jalan dekat rumah. Hehehe....praktis dan solutif.
Dan Ka Hanif langsung setuju karena dia suka naik sepeda kemana-mana dan paling suka makan nasi goreng. Klop deh. Tapi sebelum beli nasi goreng, saya minta tolong ka Hanif untuk beli gula dulu ke warung seberang rumah, pas kebetulan gula kita habis. :)
Beres beli gula, berangkatlah si ka Hanif dengan semangat. Wuss....cepet banget!
Sekitar 15 menit....sudah datang lagi dengan nasi goreng ditangan. Hehe. De Naura langsung menyerbu. Ambil piring dan sendok. Trus duduk didepan tempat tidur Ummi, dan makan dengan lahap, setelah sebelumnya berdoa dulu. Subhanallah....luar biasa mereka. Saya bangga dengan mereka.
Hari itu kami bertiga yang tertinggal dirumah, karena si sulung ka Adzkia sekolahnya di Pondok, dan Abi belum datang kerja, kami bisa jadi "Tim Work Hebat". Hehe....
Hebat menurut saya...karena pas saya sakit dan ga bisa memenuhi kebutuhan mereka, Hanif dan Naura bisa bekerja sama membantu Ummi nya.
Rasanya ada perasaan haru biru dalam dada, ada perasaan bersalah juga karena kadang bisa jengkel dengan tingkah polah mereka sehari-hari. Besar ternyata perhatian mereka pada Ummi nya. Walau kadang kita tak melihat secara langsung.
Benar memang yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk selalu berakhlak yang baik kepada keluarga. Kepada anak-anak kita terutama. Anak adalah amanah yang paling berharga. Mendidik mereka dengan cinta dan kasih sayang sungguh terasa tenang dan menentramkan. Anak-anak kita adalah penyejuk mata kita, qurrota a'yun. Mendidik mereka dengan baik akan menghantarkan kita ke surgaNya.
Rasulullah SAW bersabda : "Man Laa yarham laa yurham" . Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi (HR. Bukhari)
Catatan manis di hari Kamis, 18 Peb 2016
By : Laila Qadarsih
Senin, 08 Februari 2016
Welcome Back Diriku !
Alhamdulillah....setelah "vacum" sekian lama, akhirnya jari jemari ini mulai rindu tuk kembali aktif.
Saya memang bukan penulis ulung, tapi selalu pengeeeen sekali piawai dalam menulis. Cuma...ya itulah, berkejaran dengan berbagai macam kewajiban hingga blog ini jadi terabaikan. Hehe....
Padahal mestinya keinginan harus dibarengi dengan latihan ya....
"Bisa karena biasa" , begitu kira-kira harusnya...hee....
Dan berkat seorang teman yg mengundang saya untuk gabung di komunitas ibu-ibu yang produktif dengan berbagai prestasi sesuai passion nya, semangat saya untuk menulis kembali muncul. Semoga saya bisa kembali rajin menuangkan "isi kepala" saya ke blog tersayang ini.
Welcome Back diriku ! Hehe....:)
Saya memang bukan penulis ulung, tapi selalu pengeeeen sekali piawai dalam menulis. Cuma...ya itulah, berkejaran dengan berbagai macam kewajiban hingga blog ini jadi terabaikan. Hehe....
Padahal mestinya keinginan harus dibarengi dengan latihan ya....
"Bisa karena biasa" , begitu kira-kira harusnya...hee....
Dan berkat seorang teman yg mengundang saya untuk gabung di komunitas ibu-ibu yang produktif dengan berbagai prestasi sesuai passion nya, semangat saya untuk menulis kembali muncul. Semoga saya bisa kembali rajin menuangkan "isi kepala" saya ke blog tersayang ini.
Welcome Back diriku ! Hehe....:)
Rabu, 13 Oktober 2010
Kesabaran....
Sebulan terakhir ini hari-hariku terasa padat dan lumayan berat.....Sesudah Idul Fitri yang menyejukkan dan menentram hati, beberapa ujian sedih menghampiri. Anak bungsuku sakit, tapi Alhamdulillah sudah diberikan kembali kesehatannya, hingga ia ceria lagi. Kemudian berlanjut dengan persoalan pendidikan anak pertama dan keduaku....dan Alhamdulillah Allah juga telah memberikan jalan keluarnya sekarang. Ternyata Allah memang tak pernah ingkar dengan janjiNya..."Inna ma'al usri yusro..." Setiap langkah kita adalah pilihan dan setiap pilihan pasti ada ujian. Karena Allah sangat sayang dengan hambaNya, hingga Dia mengujinya untuk menaikkan derajatnya. Semoga hari-hari ke depan Kami sekeluarga bisa lebih sabar dan tawakkal menghadapi semua ujian dariNya. Amin.
Jumat, 03 September 2010
Anakku "Nyantri"
Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran yang berarti buat Adzkia dan teman-temannya. Dan menjadi motivasi buat terus menggali ilmu-ilmu Islam. amin.
Rabbana hablana min ajwaajina wa zurriyatina qurrata'ayuni wa ja'alani lil muttaqiina imaman. Amin
(by.Laila Qadarsih)
Selasa, 24 Agustus 2010
Ramadhan Bersama Ananda
Alhamdulillah...hari ini sudah memasuki hari ke-14 bulan Ramadhan 1431 H. Anak-anakku terlihat mulai terbiasa dengan puasa dan pernak-pernik yang menyertainya. Si sulung Adzkia masih kuat bertahan...tak tergoda dan alhamdulillah sehat. Anak keduaku, Hanif baru mulai belajar puasa tahun ini...puasanya unik, sahur antara jam 7-8 pagi dan sudah berbuka sekitar jam 12 atau 13...hehehe. Tak mengapalah pikirku, karena pembiasaan tak selalu dengan pemaksaan bukan? Yap...
Sedangkan si bungsu masih tak kenal arti puasa karena memang usianya baru 16 bulan, tapi dia selalu ikut sibuk pas kita mau berbuka...sibuk mau ngambil semuanya...hehe...
Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar bisa kami raih berkahnya dan anak-anakku bisa mendapatkan pembelajaran dengan keteladanan yang baik dari orang-orang sholeh disekelilingnya Amin. Dan kita semua mendapatkan ampunan Allah SWT.
Sedangkan si bungsu masih tak kenal arti puasa karena memang usianya baru 16 bulan, tapi dia selalu ikut sibuk pas kita mau berbuka...sibuk mau ngambil semuanya...hehe...
Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar bisa kami raih berkahnya dan anak-anakku bisa mendapatkan pembelajaran dengan keteladanan yang baik dari orang-orang sholeh disekelilingnya Amin. Dan kita semua mendapatkan ampunan Allah SWT.
Minggu, 22 Agustus 2010
Tulisan Perdana
Senang rasanya hari ini....sesuatu yang diinginkan mulai nampak tercapai. Mudah-mudahan ini menjadi langkah awal untuk langkah-langkah berikutnya yang lebih baik dan mantap. Amin.....(Apa ya maksudnya?...)
Langganan:
Postingan (Atom)














