Oleh : Laila Thamrin
Andai hidup kita bisa diputar ulang ke belakang, dan menembus ruang waktu yang lampau, kita akan dapati begitu mencoloknya perbedaan dunia Islam dan dunia Barat. Terlebih jika mesin waktu itu kita hentikan di abad ke-10 Masehi. Kita akan terkesima dengan kesempurnaan peradaban Islam yang mewarnai dunia. Dan kita pun akan tercengang menatap peradaban Barat yang tertinggal jauh di belakang.
Dalam buku "Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia" karya Dr. Raghib as-Sirjani, dituliskan dalam pengantarnya bahwa Inggris Anglo-Saxon pada abad ke-7 M hingga ke-10 M merupakan negeri tandus, terisolir, kumuh dan liar. Rumah-rumah yang dibangun hanya berupa tumpukan batu-batu kasar yang diperkuat dengan tanah halus. Bahkan berpintu sempit dan tak berjendela.
Cara hidupnya juga masih tak teratur. Mereka biasanya punya satu ruangan besar dalam rumahnya tempat berkumpul bagi seluruh keluarga, pelayan dan kerabat lainnya. Jika malam menjelang, mereka akan tidur beralaskan tanah di rumah itu atau di bangku-bangku panjang yang kadang tersedia. Seluruh anggota keluarga, laki-laki dan perempuan, anak-anak maupun orang dewasa, tidur dan makan di satu ruangan yang sama. Senjata senantiasa ada di samping kepala saat mereka tidur, karena pencurian sering terjadi.
Bahkan digambarkan bahwa Barat belum mengenal kebersihan. Sampah dan kotoran hewan menumpuk di sekitar rumahnya. Hingga menerbitkan bau busuk yang menyengat. Terkadang, hewan-hewan peliharaannya pun dimasukkan ke dalam rumah, berkumpul bersama seluruh anggota keluarganya.
Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan negara Islam. Saat Islam melingkupi banyak negeri di benua Asia, Eropa dan juga Afrika, peradabannya telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Kota-kota tertata dengan apik. Rumah-rumah dengan kondisi yang bersih dan nyaman. Kesehatan masyarakatnya pun terjamin. Bahkan menjadi pusat ilmu bagi seluruh dunia.
Kita bisa tengok kota-kota seperti Cordoba, Granada dan Sevilla yang terdapat di Eropa saat Islam menaunginya. Di malam hari, Cordoba terlihat terang bercahaya karena lampu-lampu yang terpasang di sepanjang jalannya. Lorong-lorong jalan dihiasi batu ubin. Taman-taman indah dan kebun-kebun yang rindang bertebaran di seluruh kota.
Begitupun Granada, satu kota di Spanyol, yang terkenal dengan istana al-Hamra. Satu bangunan indah yang merupakan kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan Bani Ummayyah. Dibangun di atas sebuah bukit menghadap kota Granada. Di sekeliling bukit tersebut terdapat hamparan ladang pertanian yang sangat luas. Hingga sekarang sisa-sisa kemegahan istana ini menjadi perhatian para wisatawan manca negara yang berkunjung ke sana.
Sevilla lain lagi. Kota yang juga di Spanyol ini pernah menjadi pusat produksi minyak zaitun. Ada sekitar 100.000 tempat pemerahan minyak zaitun di sini. Hampir seluruh sudut kota ditumbuhi pohon zaitun. Selain itu, kota ini terkenal dengan tenun sutranya. Terdapat 6000 alat tenun yang dimiliki.
Kota-kota ini telah mengalami kemajuan pesat dibandingkan Inggris, padahal semuanya berada di benua Eropa. Sungguh, Eropa menjadi bercahaya karena peradaban Islam mewarnainya. Bukan dari peradaban Barat yang masih tenggelam.
Sementara Baghdad, kota di Jazirah Arab yang juga sangat terkenal karena keindahan arsitekturnya. Di masa Khalifah al-Mansur, kota Baghdad yang kecil dan sempit disulap menjadi daerah yang megah. Khalifah mengerahkan para insinyur teknik, arsitek, dan ahli ilmu ukur untuk membangunnya. Perlu biaya 4.800.000 dirham yang dikeluarkan negara untuk pembangunan ini.
Sungai Efrat dan Tigris memiliki 11 cabang yang airnya mengalir ke seluruh rumah dan istana Baghdad. Di sungai Tigris terdapat 30.000 jembatan dan 60.000 tempat pemandian. Masjid-masjid pun berdiri megah di seluruh kota. Ada 300.000 buah masjid yang dibangun dengan arsitektur indah bercorak budaya Islam.
Sementara penduduknya kebanyakan tercetak menjadi ulama, sastrawan dan juga filsuf. Dan sentuhan arsitektur Islam di negeri-negeri tersebut masih bisa dirasakan hingga saat ini. Meski sudah tak seutuh di masa kejayaannya.
Ini hanyalah sebagian kecil bukti bahwa peradaban Islam pernah berdiri kokoh di bumi ini. Bahkan menjadi mercusuar dunia. Peradaban Islam yang mengajarkan tentang thaharah(bersuci) telah menjadikan kehidupan masyarakat bersih dan sehat.
Peradaban Islam yang mengajarkan tentang kewajiban menuntut ilmu telah melahirkan insan-insan yang cerdas. Mereka abadikan dalam ribuan buku-buku yang bermanfaat. Hingga hasil karya para ulama yang sekaligus ilmuwan ini mampu mencetuskan inovasi dalam kehidupan umat manusia sampai sekarang.
Peradaban Islam juga yang mengajarkan tentang aturan hidup dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan bidang-bidang lainnya. Sehingga mampu mengubah kondisi kehidupan masyarakatnya menjadi tentram dan sejahtera.
Betapa peradaban Islam telah mampu mengubah wajah dunia. Yang dulunya kelam, gelap, suram dan tidak teratur telah berubah menjadi indah, damai, sejahtera dan bercahaya. Bahkan seluruh mata dunia tertuju pada Khilafah Islamiyah yang menjadi "role of model" negeri-negeri kafir saat itu. Sekaligus sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia dan rujukan atas semua persoalan manusia.
Tidakkah kondisi ini membuat kita rindu untuk kembali dalam pengaturan Islam? Dimana peradaban Islam memuliakan seluruh manusia. Memperhatikan kebutuhannya. Melayani dengan sepenuh cinta. Tak ada yang ingin diraih oleh para penguasa negara Islam kecuali ridha Allah semata, dan berharap surgaNya.
Dan inilah yang saat ini sangat dibutuhkan dunia. Peradaban Islam yang berpijak pada Alquran dan Sunnah Rasul-Nya. Yang akan menghantarkan setiap insan menuju Jannah-Nya. Peradaban Islam memang layak menjadi peradaban dunia. []
#postingbareng
#peradabanIslam
#peradabanliterat
#miladrevowriter
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pilihan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 April 2019
Kamis, 04 April 2019
Warisan Peradaban Islam yang Tenggelam
Oleh : Laila Thamrin
Telah lama Barat menganggap bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang mereka raih, karena mereka fokus pada kehidupan dunia dan meninggalkan agama. Karena sejarah panjang era kegelapan telah membuat mereka alergi terhadap agama.
Berbeda dengan Islam. Sebagai ideologi, Islam justru tak memisahkan urusan kehidupan dengan agama. Semua satu kesatuan yang menyeluruh dan tak bisa dipisahkan. Bahkan karena keagungan ajaran Islam, muncullah para ilmuwan Islam yang diakui dunia. Mereka tak sekedar ilmuwan, tapi juga sekaligus menjadi ahli ibadah, ahli hadits, ahli ilmu alquran dan berbagai gelar lainnya yang tersemat.
Sejarah mencatat bahwa lahirnya para ilmuwan muslim ini justru saat mereka hidup dalam naungan syariat Islam, naungan Khilafah Islamiyah. Sebelum Islam datang, bangsa arab hanya mengenal ilmu sejarah dan geografi hanya sedikit. Tetapi, sejak Islam tegak mengharuskan perluasan wilayah dengan jihad. Sehingga kaum muslimin haruslah menjelajah berbagai daerah. Menempuh daratan, gunung, lembah, sungai, lautan dan berbagai bentang alam lainnya. Dari sini, berkembanglah ilmu sejarah dan geografi dari para ilmuwan muslim.
Tak hanya itu, kaum muslimin juga mulai mempelajari tentang hewan dan tumbuhan. Hewan-hewan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Juga tumbuhan yang berguna bagi pengobatan. Sehingga ilmu zoologi dan botani juga digeluti oleh para ilmuwan muslim demi keberlangsungan hidup manusia.
Sekolah-sekolah juga kemudian dibangun oleh khalifah. Pada masa Khilafah Bani Abbasiyah, khususnya zaman Khalifah al-Mansur dan Khalifah al-Makmun, banyak aktivitas dilakukan untuk menerjemahkan karya ilmiah. Dan pada akhir abad ke-10 telah banyak karya ilmiah penting yang dihasilkan. Banyak para penerjemah yang terkenal dari berbagai suku bangsa, seperti Naubakht dari Persia dan Muhammad bin Ibrahim al-Fazari dari Arab.
Tak cukup sampai disitu, berbagai bidang ilmu lainnya pun dikuasai oleh para ilmuwan muslim. Kita mengenal sebagian nama-nama mereka hingga saat ini. Sebut saja al-Biruni yang terkenal di bidang kimia dan botani, al-Idrisi di bidang geografi, Ibnu Sina di bidang kedokteran, al-Khawarizmi di bidang matematika, dan sederet nama-nama ilmuwan lainnya.
Dan yang paling membanggakan bahwasanya ilmu yang mereka temukan tetap dijadikan sebagai acuan bagi ilmu-ilmu terapan masa kini. Dari merekalah akhirnya kita bisa mengenal arah kiblat, arah mata angin, memilih menu makanan sehat, memasak dengan cara mudah dan cepat, dan lain sebagainya.
Inilah karya ilmuwan muslim di masa keemasan peradaban Islam. Yang menjadi dasar berkembangnya ilmu pengetahuan selanjutnya. Semua tak lepas dari peran negara yang memberikan ruang dan kesempatan besar pada mereka. Memberikan fasilitas secara cuma-cuma untuk mereka belajar dan mengembangkan risetnya. Sarana dan prasarana berupa bangunan sekolah dan asrama, buku-buku yang diperlukan, alat-alat laboratorium untuk penelitian, dan lain sebagainya. Bahkan, perpustakaan menjadi perhatian negara pula. Dan terus di dorong oleh negara agar kaum muslimin mencintai ilmu. Hingga karya-karya mereka dibukukan dengan rapi dan menjadi bahan literatur generasi selanjutnya.
Demikianlah warisan peradaban Islam yang kita miliki. Sejatinya, warisan ini tetap terjaga dalam naungan Khilafah Islamiyah. Namun sayang, saat ini warisan peradaban Islam ini tenggelam dalam hiruk pikuk kapitalisme yang menyelimuti dunia. Sehingga, banyak generasi muda Islam tak kenal dengan peradabannya sendiri. Kini saatnya kita berjuang untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah tegak di muka bumi. Agar peradaban Islam kembali berdiri dan kokoh hingga akhir zaman nanti.[]
#postingbareng
#peradabanIslam
#peradabanliterat
#miladrevowriter
#revowriter5
Telah lama Barat menganggap bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang mereka raih, karena mereka fokus pada kehidupan dunia dan meninggalkan agama. Karena sejarah panjang era kegelapan telah membuat mereka alergi terhadap agama.
Berbeda dengan Islam. Sebagai ideologi, Islam justru tak memisahkan urusan kehidupan dengan agama. Semua satu kesatuan yang menyeluruh dan tak bisa dipisahkan. Bahkan karena keagungan ajaran Islam, muncullah para ilmuwan Islam yang diakui dunia. Mereka tak sekedar ilmuwan, tapi juga sekaligus menjadi ahli ibadah, ahli hadits, ahli ilmu alquran dan berbagai gelar lainnya yang tersemat.
Sejarah mencatat bahwa lahirnya para ilmuwan muslim ini justru saat mereka hidup dalam naungan syariat Islam, naungan Khilafah Islamiyah. Sebelum Islam datang, bangsa arab hanya mengenal ilmu sejarah dan geografi hanya sedikit. Tetapi, sejak Islam tegak mengharuskan perluasan wilayah dengan jihad. Sehingga kaum muslimin haruslah menjelajah berbagai daerah. Menempuh daratan, gunung, lembah, sungai, lautan dan berbagai bentang alam lainnya. Dari sini, berkembanglah ilmu sejarah dan geografi dari para ilmuwan muslim.
Tak hanya itu, kaum muslimin juga mulai mempelajari tentang hewan dan tumbuhan. Hewan-hewan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Juga tumbuhan yang berguna bagi pengobatan. Sehingga ilmu zoologi dan botani juga digeluti oleh para ilmuwan muslim demi keberlangsungan hidup manusia.
Sekolah-sekolah juga kemudian dibangun oleh khalifah. Pada masa Khilafah Bani Abbasiyah, khususnya zaman Khalifah al-Mansur dan Khalifah al-Makmun, banyak aktivitas dilakukan untuk menerjemahkan karya ilmiah. Dan pada akhir abad ke-10 telah banyak karya ilmiah penting yang dihasilkan. Banyak para penerjemah yang terkenal dari berbagai suku bangsa, seperti Naubakht dari Persia dan Muhammad bin Ibrahim al-Fazari dari Arab.
Tak cukup sampai disitu, berbagai bidang ilmu lainnya pun dikuasai oleh para ilmuwan muslim. Kita mengenal sebagian nama-nama mereka hingga saat ini. Sebut saja al-Biruni yang terkenal di bidang kimia dan botani, al-Idrisi di bidang geografi, Ibnu Sina di bidang kedokteran, al-Khawarizmi di bidang matematika, dan sederet nama-nama ilmuwan lainnya.
Dan yang paling membanggakan bahwasanya ilmu yang mereka temukan tetap dijadikan sebagai acuan bagi ilmu-ilmu terapan masa kini. Dari merekalah akhirnya kita bisa mengenal arah kiblat, arah mata angin, memilih menu makanan sehat, memasak dengan cara mudah dan cepat, dan lain sebagainya.
Inilah karya ilmuwan muslim di masa keemasan peradaban Islam. Yang menjadi dasar berkembangnya ilmu pengetahuan selanjutnya. Semua tak lepas dari peran negara yang memberikan ruang dan kesempatan besar pada mereka. Memberikan fasilitas secara cuma-cuma untuk mereka belajar dan mengembangkan risetnya. Sarana dan prasarana berupa bangunan sekolah dan asrama, buku-buku yang diperlukan, alat-alat laboratorium untuk penelitian, dan lain sebagainya. Bahkan, perpustakaan menjadi perhatian negara pula. Dan terus di dorong oleh negara agar kaum muslimin mencintai ilmu. Hingga karya-karya mereka dibukukan dengan rapi dan menjadi bahan literatur generasi selanjutnya.
Demikianlah warisan peradaban Islam yang kita miliki. Sejatinya, warisan ini tetap terjaga dalam naungan Khilafah Islamiyah. Namun sayang, saat ini warisan peradaban Islam ini tenggelam dalam hiruk pikuk kapitalisme yang menyelimuti dunia. Sehingga, banyak generasi muda Islam tak kenal dengan peradabannya sendiri. Kini saatnya kita berjuang untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah tegak di muka bumi. Agar peradaban Islam kembali berdiri dan kokoh hingga akhir zaman nanti.[]
#postingbareng
#peradabanIslam
#peradabanliterat
#miladrevowriter
#revowriter5
Kamis, 28 Maret 2019
Siapa Dia?
Oleh : Laila Thamrin
Saat anak lahir, yang kesakitan luar biasa tapi pasti paling bahagia, siapa?
Saat anak sudah bisa ngomong, sudah bisa jalan, apalagi berlari, yang paling bangga, siapa?
Saat anak demam, yang gak bisa makan dan gak pengen tidur beberapa malam, siapa?
Saat anak mulai masuk sekolah, yang rela berjejer nungguin di depan pagar sampai gak masak buat makan siang, siapa hayo?
Saat anak dapat PR dari sekolah, yang paling sibuk nyariin jawaban, kira-kira siapa?
Saat ulangan umum, yang rempong nyuruh anak belajar, siapa coba?
Saat fajar mulai menyapa, yang mengguncang-guncang badan anaknya supaya lekas ngambil air wudhu, siapa?
Saat jam masuk sekolah hampir tiba, yang memburu anak-anaknya supaya bergegas berangkat sekolah, siapa?
Saat anak lulus tingkatan demi tingkatan sekolahnya hingga sarjana, yang meneteskan air mata, siapa?
Saat anak lelakinya mengucap ijab kabul, yang membanjir airmatanya, siapa?
Saat anak perempuannya dipersunting seorang lelaki, yang terisak tanpa suara, siapa?
Saat seorang cucu hadir mewarnai hidup mereka, yang ribut mau mengasuhnya, siapa?
MasyaAllah....semua jawaban bermuara pada satu kata .... IBU.
Dia hadir dalam setiap tahap perkembangan anaknya. Dia hadir dalam setiap bahagia anaknya. Dan dia hadir dalam setiap sedih dan duka anak-anaknya. Karena seorang ibu, telah diberikan anugrah terindah oleh Allah yang memiliki kasih sayang dan kelemahlembutan bagi anak-anaknya.
Dan ingatlah wahai anak, seberapa besar pun engkau sekarang, seberapa pun usiamu saat ini, maka muliakanlah kedua orangtuamu. Terutama, Ibumu. Berbaktilah pada keduanya, lebih-lebih ibumu.
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Wallahu'alam bish shawwab. []
21 Rajab 1440 H / 28 Maret 2019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Saat anak lahir, yang kesakitan luar biasa tapi pasti paling bahagia, siapa?
Saat anak sudah bisa ngomong, sudah bisa jalan, apalagi berlari, yang paling bangga, siapa?
Saat anak demam, yang gak bisa makan dan gak pengen tidur beberapa malam, siapa?
Saat anak mulai masuk sekolah, yang rela berjejer nungguin di depan pagar sampai gak masak buat makan siang, siapa hayo?
Saat anak dapat PR dari sekolah, yang paling sibuk nyariin jawaban, kira-kira siapa?
Saat ulangan umum, yang rempong nyuruh anak belajar, siapa coba?
Saat fajar mulai menyapa, yang mengguncang-guncang badan anaknya supaya lekas ngambil air wudhu, siapa?
Saat jam masuk sekolah hampir tiba, yang memburu anak-anaknya supaya bergegas berangkat sekolah, siapa?
Saat anak lulus tingkatan demi tingkatan sekolahnya hingga sarjana, yang meneteskan air mata, siapa?
Saat anak lelakinya mengucap ijab kabul, yang membanjir airmatanya, siapa?
Saat anak perempuannya dipersunting seorang lelaki, yang terisak tanpa suara, siapa?
Saat seorang cucu hadir mewarnai hidup mereka, yang ribut mau mengasuhnya, siapa?
MasyaAllah....semua jawaban bermuara pada satu kata .... IBU.
Dia hadir dalam setiap tahap perkembangan anaknya. Dia hadir dalam setiap bahagia anaknya. Dan dia hadir dalam setiap sedih dan duka anak-anaknya. Karena seorang ibu, telah diberikan anugrah terindah oleh Allah yang memiliki kasih sayang dan kelemahlembutan bagi anak-anaknya.
Dan ingatlah wahai anak, seberapa besar pun engkau sekarang, seberapa pun usiamu saat ini, maka muliakanlah kedua orangtuamu. Terutama, Ibumu. Berbaktilah pada keduanya, lebih-lebih ibumu.
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Wallahu'alam bish shawwab. []
21 Rajab 1440 H / 28 Maret 2019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
#SerialTaqarrubIlallah05
Oleh : Laila Thamrin
Takut Kepada Allah Swt
Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab ra terlihat menangis saat seorang ajudannya menceritakan bahwa seekor keledai di Iraq telah tergelincir kakinya karena jalanan yang berlubang. Akibatnya keledai itu pun meluncur ke jurang.
Sang ajudan keheranan melihat ekspresi Umar bin Khattab ra yang terkenal keras dan tegas, bisa menangis hanya karena seekor keledai yang terjungkal. Akhirnya, ajudan itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?"
Dengan sorot mata yang tajam Khalifah menjawab,"Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah kamu lakukan ketika memimpin rakyatmu?"
MasyaAllah...begitu besar tanggung jawab Khalifah Umar bin Khattab ra terhadap rakyatnya. Pandangannya yang jauh ke depan membuat dia menangis saat "hanya" seekor keledai yang terjatuh ke jurang karena jalanan yang rusak dan berlubang. Karena lubang di jalanan tersebut tak hanya bisa membuat keledai celaka, tapi juga sangat besar kemungkinannya manusia pun celaka karenanya. Dan dia sebagai pemimpin merasa telah lalai untuk memberikan pelayanan terkait dengan jalan di Iraq. Maka, ketakutan segera menyelusup ke seluruh tubuhnya. Hingga airmata tak sanggup lagi dibendungnya.
Ya, beliau merupakan contoh seorang pemimpin yang sangat layak diteladani. Pemimpin yang sangat perhatian pada rakyatnya. Bertanggungjawab penuh untuk menyejahterakan rakyatnya. Bahkan beliau tak pernah mau makan enak, sebelum rakyatnya kenyang. Mengapa kiranya Khalifah Umar bin Khattab ra bisa seperti itu?
Takut kepada Allah Swt jawabannya. Karena beliau takut akan murka dan azab Allah jika melanggar syariat-Nya.
Benarlah hadits Qudsi ini :
"Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, aku tidak akan menghimpun terhadap hamba-Ku dua rasa takut dan dua rasa aman. Jika dia takut kepada-Ku di dunia, maka aku beri rasa aman padanya pada Hari Kiamat. Sebaliknya, jika dia merasa aman dari-Ku di dunia maka Aku beri dia rasa takut pada Hari Kiamat." (HR. Ibnu Hibban, al-Baihaqi, Ibnu al-Mubarak)
Menjadi seorang pemimpin perlu wawasan yang luas. Visi dan misi yang ideologis. Agar kesejahteraan rakyat terpenuhi seluruhnya. Serta tak tergiur pada harta duniawi semata.
Jika kita ambil ibrohnya, bahwasanya rasa takut yang harus dibagun adalah takut akan azab Allah Swt. Sehingga menuntut kita untuk tetap berada dalam koridor syariat Islam. Tak keluar barang sedikit pun.
Terlebih lagi para da'i yang menyuarakan Islam yang hakiki, yaitu Islam Kaffah. Harus senantiasa berani menyampaikan kebenaran, meski celaan orang-orang yang suka mencela datang bertubi-tubi. Bahkan persekusi tak jarang pula akan dialami. Takutnya hanya pada Allah Azza wa Jala. Yang justru akan menimpakan azab bagi orang yang lalai atau bahkan benci terhadap syariat-Nya.
Wallahu'alam bish shawwab. []
Handil Bakti, 10032019
#OPEy2019
#Part7
#Day7
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Takut Kepada Allah Swt
Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab ra terlihat menangis saat seorang ajudannya menceritakan bahwa seekor keledai di Iraq telah tergelincir kakinya karena jalanan yang berlubang. Akibatnya keledai itu pun meluncur ke jurang.
Sang ajudan keheranan melihat ekspresi Umar bin Khattab ra yang terkenal keras dan tegas, bisa menangis hanya karena seekor keledai yang terjungkal. Akhirnya, ajudan itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?"
Dengan sorot mata yang tajam Khalifah menjawab,"Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah kamu lakukan ketika memimpin rakyatmu?"
MasyaAllah...begitu besar tanggung jawab Khalifah Umar bin Khattab ra terhadap rakyatnya. Pandangannya yang jauh ke depan membuat dia menangis saat "hanya" seekor keledai yang terjatuh ke jurang karena jalanan yang rusak dan berlubang. Karena lubang di jalanan tersebut tak hanya bisa membuat keledai celaka, tapi juga sangat besar kemungkinannya manusia pun celaka karenanya. Dan dia sebagai pemimpin merasa telah lalai untuk memberikan pelayanan terkait dengan jalan di Iraq. Maka, ketakutan segera menyelusup ke seluruh tubuhnya. Hingga airmata tak sanggup lagi dibendungnya.
Ya, beliau merupakan contoh seorang pemimpin yang sangat layak diteladani. Pemimpin yang sangat perhatian pada rakyatnya. Bertanggungjawab penuh untuk menyejahterakan rakyatnya. Bahkan beliau tak pernah mau makan enak, sebelum rakyatnya kenyang. Mengapa kiranya Khalifah Umar bin Khattab ra bisa seperti itu?
Takut kepada Allah Swt jawabannya. Karena beliau takut akan murka dan azab Allah jika melanggar syariat-Nya.
Benarlah hadits Qudsi ini :
"Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, aku tidak akan menghimpun terhadap hamba-Ku dua rasa takut dan dua rasa aman. Jika dia takut kepada-Ku di dunia, maka aku beri rasa aman padanya pada Hari Kiamat. Sebaliknya, jika dia merasa aman dari-Ku di dunia maka Aku beri dia rasa takut pada Hari Kiamat." (HR. Ibnu Hibban, al-Baihaqi, Ibnu al-Mubarak)
Menjadi seorang pemimpin perlu wawasan yang luas. Visi dan misi yang ideologis. Agar kesejahteraan rakyat terpenuhi seluruhnya. Serta tak tergiur pada harta duniawi semata.
Jika kita ambil ibrohnya, bahwasanya rasa takut yang harus dibagun adalah takut akan azab Allah Swt. Sehingga menuntut kita untuk tetap berada dalam koridor syariat Islam. Tak keluar barang sedikit pun.
Terlebih lagi para da'i yang menyuarakan Islam yang hakiki, yaitu Islam Kaffah. Harus senantiasa berani menyampaikan kebenaran, meski celaan orang-orang yang suka mencela datang bertubi-tubi. Bahkan persekusi tak jarang pula akan dialami. Takutnya hanya pada Allah Azza wa Jala. Yang justru akan menimpakan azab bagi orang yang lalai atau bahkan benci terhadap syariat-Nya.
Wallahu'alam bish shawwab. []
Handil Bakti, 10032019
#OPEy2019
#Part7
#Day7
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
#SerialTaqarrubIlallah04
Oleh : Laila Thamrin
Meraih Nilai Tertinggi
Saat bicara tentang nilai tertinggi, apa kira-kira yang terbayang oleh kita? Ranking kelas? Juara pertama? Murid teladan? Mahasiswa terbaik? Atau seseorang yang kuliah di universitas ternama di dunia?
Ya, semua tak keliru. Persepsi tentang nilai terbaik senantiasa dikaitkan dengan nilai akademis di institusi pendidikan. Mereka yang meraih nilai terbaik merupakan orang-orang terpilih karena kecerdasannya. Namun, penilaian terhadap akademis berada di tangan manusia. Lalu, bagaimanakah kira-kira seorang muslim bisa meraih nilai tertinggi di mata Allah?
Allah Swt berfirman :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. at-Taubah [9] : 24)
Ternyata, nilai tertinggi di mata Allah adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih disukai daripada dunia dan segala isinya. Di sinilah seorang muslim dituntut untuk mengorbankan semua kepentingannya di dunia. Melepaskan ikatan-ikatan kelompok yang memilinnya di dunia. Kemudian, mengubahnya dengan memosisikan dakwah sebagai poros utama dalam kehidupannya. Inilah bukti keimanan seorang muslim. Tunduk dan patuh pada perintah Allah. Ikhlas menjalankan semua perintah-Nya.
Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kita skala prioritas pelaksanaan amal. Sebagaimana sabda beliau :
"Jika kalian berjual beli secara al-'ainah dan kalian mengambil ekor sapi serta kalian lebih rela dengan tanaman pertanian, sementara kalian meninggalkan jihad, maka Allah timpakan atas kalian kehinaan yang tidak Dia cabut sampai kalian kembali lepada agama kalian." (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi)
Begitulah Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kepada kaum muslimin untuk memilah amal dengan cermat. Dan tak salah jika dakwah 'amar ma'ruf nahyi munkar, menjadi posisi teratas dalam prioritas amal.
Aktivitas dakwah telah diperintahkan Allah. Karena dengan berdakwah, Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tengoklah, bagaimana Salafus Saleh dulunya berjuang meninggikan kalimat Allah. Mereka benar-benar menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih utama dari kesenangan apapun juga di dunia ini.
Lihatlah Khalid bin Walid ra yang berkata, "Tidak ada satu malam pun di dalamnya diberikan kepadaku pengantin atau aku diberi kabar gembira dengan lahirnya anak laki-laki, yang lebih aku sukai dari satu malam yang dingin mencekam dalam satu ekspedisi dari para mujahidin untuk memerangi orang-orang musyrik esok harinya."
Begitu juga cerita Sa'ad bin Abi Waqash ra. Seorang yang dulunya kafir, lalu masuk Islam. Namun ibunya terus berupaya agar Sa'ad kembali pada agama asalnya. Ibunya memboikot Sa'ad dengan tak mau makan apapun juga, kecuali anaknya meninggalkan Islam. Namun, dengarlah penuturan Sa'ad bin Abi Waqash :
"Engkau tahu, demi Allah wahai Ibu, seandainya engkau punya seratus nyawa lalu keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku. Ini makanlah jika engkau mau atau jangan engkau makan."
Subhanallah...itu hanya contoh kecil yang bisa kita jadikan ibroh. Dari situ kita mesti berkaca pada diri kita, apa yang sudah kita lakukan agar bisa meraih nilai terbaik di sisi Allah? Sudahkah kesenangan dunia lebih kecil dalam pandangan kita? Bagaimana dengan keluarga kita, apakah mereka lebih berharga daripada Allah dan Rasul-Nya?
Mulai lah kita berbenah untuk menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang utama. Salatlah di awal waktu. Berpuasalah dengan gembira di bulan Ramadhan. Jagalah pergaulan dengan lawan jenis yang non mahram. Berdakwahlah dengan segenap curahan kemampuan yang kita punya. Dan raihlah nilai tertinggi di sisi Allah Azza wa Jala, agar pintu surga terkuak untuk kita.
Wallahu a'lam bish shawwab. []
Handil Bakti, 09032019
#OPEy2019
#Part7
#Day6
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Meraih Nilai Tertinggi
Saat bicara tentang nilai tertinggi, apa kira-kira yang terbayang oleh kita? Ranking kelas? Juara pertama? Murid teladan? Mahasiswa terbaik? Atau seseorang yang kuliah di universitas ternama di dunia?
Ya, semua tak keliru. Persepsi tentang nilai terbaik senantiasa dikaitkan dengan nilai akademis di institusi pendidikan. Mereka yang meraih nilai terbaik merupakan orang-orang terpilih karena kecerdasannya. Namun, penilaian terhadap akademis berada di tangan manusia. Lalu, bagaimanakah kira-kira seorang muslim bisa meraih nilai tertinggi di mata Allah?
Allah Swt berfirman :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. at-Taubah [9] : 24)
Ternyata, nilai tertinggi di mata Allah adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih disukai daripada dunia dan segala isinya. Di sinilah seorang muslim dituntut untuk mengorbankan semua kepentingannya di dunia. Melepaskan ikatan-ikatan kelompok yang memilinnya di dunia. Kemudian, mengubahnya dengan memosisikan dakwah sebagai poros utama dalam kehidupannya. Inilah bukti keimanan seorang muslim. Tunduk dan patuh pada perintah Allah. Ikhlas menjalankan semua perintah-Nya.
Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kita skala prioritas pelaksanaan amal. Sebagaimana sabda beliau :
"Jika kalian berjual beli secara al-'ainah dan kalian mengambil ekor sapi serta kalian lebih rela dengan tanaman pertanian, sementara kalian meninggalkan jihad, maka Allah timpakan atas kalian kehinaan yang tidak Dia cabut sampai kalian kembali lepada agama kalian." (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi)
Begitulah Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kepada kaum muslimin untuk memilah amal dengan cermat. Dan tak salah jika dakwah 'amar ma'ruf nahyi munkar, menjadi posisi teratas dalam prioritas amal.
Aktivitas dakwah telah diperintahkan Allah. Karena dengan berdakwah, Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tengoklah, bagaimana Salafus Saleh dulunya berjuang meninggikan kalimat Allah. Mereka benar-benar menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih utama dari kesenangan apapun juga di dunia ini.
Lihatlah Khalid bin Walid ra yang berkata, "Tidak ada satu malam pun di dalamnya diberikan kepadaku pengantin atau aku diberi kabar gembira dengan lahirnya anak laki-laki, yang lebih aku sukai dari satu malam yang dingin mencekam dalam satu ekspedisi dari para mujahidin untuk memerangi orang-orang musyrik esok harinya."
Begitu juga cerita Sa'ad bin Abi Waqash ra. Seorang yang dulunya kafir, lalu masuk Islam. Namun ibunya terus berupaya agar Sa'ad kembali pada agama asalnya. Ibunya memboikot Sa'ad dengan tak mau makan apapun juga, kecuali anaknya meninggalkan Islam. Namun, dengarlah penuturan Sa'ad bin Abi Waqash :
"Engkau tahu, demi Allah wahai Ibu, seandainya engkau punya seratus nyawa lalu keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku. Ini makanlah jika engkau mau atau jangan engkau makan."
Subhanallah...itu hanya contoh kecil yang bisa kita jadikan ibroh. Dari situ kita mesti berkaca pada diri kita, apa yang sudah kita lakukan agar bisa meraih nilai terbaik di sisi Allah? Sudahkah kesenangan dunia lebih kecil dalam pandangan kita? Bagaimana dengan keluarga kita, apakah mereka lebih berharga daripada Allah dan Rasul-Nya?
Mulai lah kita berbenah untuk menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang utama. Salatlah di awal waktu. Berpuasalah dengan gembira di bulan Ramadhan. Jagalah pergaulan dengan lawan jenis yang non mahram. Berdakwahlah dengan segenap curahan kemampuan yang kita punya. Dan raihlah nilai tertinggi di sisi Allah Azza wa Jala, agar pintu surga terkuak untuk kita.
Wallahu a'lam bish shawwab. []
Handil Bakti, 09032019
#OPEy2019
#Part7
#Day6
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
#SerialTaqarrubIlallah03
Oleh : Laila Thamrin
Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah
Para sahabat dan salafus saleh merupakan generasi terbaik yang memberikan teladan terbaik pula. Sosok mereka tak hanya sekokoh karang memegang yang wajib dan menjauhi yang haram. Namun juga, selalu berhias dengan amalan nafilah.
Amalan nafilah atau sunnah, bagi para Sahabat dan salafus salih, bukanlah sebagai amalan kelas dua yang tak menggiurkan. Tapi sebaliknya, setiap ada kesempatan, mereka senantiasa melakukan yang sunnah untuk menambah pundi pahalanya. Bahkan terlihat seolah yang sunnah pun seperti sebuah kewajiban. Saking bersemangatnya mereka melaksanakannya.
Kita pun patut bercermin pada kebiasaan baik mereka ini. Karena Rasulullah Saw juga telah memberikan suri teladan yang terbaik bagi kita, umatnya. Beliau selalu memotivasi kaum muslimin agar terus melaksanakan kebaikan.
Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, "Hendaknya kalian melaksanakan qiyamul lail (salat tahajjud), sebab sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menjadi penebus untuk berbagai keburukan, melarang dari dosa, mengusir/menjauhkan penyakit dari jasad, dan di dalam malam itu ada saat-saat yang di dalamnya doa diijabah." (HR. Ath-Thabarani, at-Tirmidzi, Ahmad, dll)
Salat tahajjud merupakan momen yang paling tepat bagi semua mukmin untuk bersujud dan mengadukan apapun kepada-Nya, diluar salat wajib tentunya. Terlebih para pengemban dakwah yang menginginkan segera tegaknya syari'at Allah Swt di bumi ini. Dengan sistem Khilafahnya. Dengan seluruh peraturan hidupnya yang berpijak pada Alquran dan as-Sunnah. Minta lah kepada Allah saat tahajjud, agar semua bisa terwujud.
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Saya tidak menemukan dari ibadah sesuatu yang lebih kuat daripada salat di tengah malam." Ditanyakan kepadanya, "Mengapa orang yang melakukan salat tahajjud termasuk manusia yang paling bagus wajahnya?" Beliau menjawab, "Sebab mereka berkhalwat dengan ar-Rahman (Zat Yang Maha Pengasih), maka Dia memakaikan pakaian dari cahanya-Nya kepada mereka."
Banyak lagi amalan sunnah lainnya. Seperti salat dhuha, salat tarawih, salat witir, salat istikharah, dan lainnya. Juga memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, puasa sunnah, dan sederet kebaikan lainnya. Apabila kita rajin mengamalkannya, maka akan merapatkan jarak kita dengan Al Khalik. Dan apapun doa kita, niscaya Allah akan senang mengijabahnya.
Tengoklah kisah kemenangan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel. Dia perintahkan pasukannya untuk berpuasa di hari Senin, 19 Jumadil Ula tahun 757 H. Sebagai upaya bertaqarrub kepada Allah, sekaligus penyucian jiwa-jiwa para ksatria ini agar siap berperang. Setelah berbuka dan melaksanakan salat berjama'ah, Sulthan pun berkhutbah di depan pasukannya untuk memompa semangat mereka. Hingga keesokan harinya, pasukan ini pun meringsek memasuki Konstantinopel melalui gunung, membawa kapal-kapal mereka mendaki. Sampai pertolongan Allah pun menghampiri mereka. Dan kemenangan tersemat manis di dada pasukan al-Fatih.
Kisah fenomenal ini menjadi bukti kepada kita, betapa amalan nafilah, yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan oleh pasukan Sulthan Muhammad al-Fatih telah menghantarkan kemenangan besar bagi umat Islam.
Karenanya, mulai sekarang berapa pun usia menjelang, kita upayakan untuk terus meningkatkan amalan nafilah ini. Supaya semakin rapat dengan-Nya. Dan terus berdoa agar pertolongan Allah untuk tegaknya syariat Islam ini disegerakan oleh-Nya.
Aamiin.
Handil Bakti, 08032019
#OPEy2019
#Part7
#Day4
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah
Para sahabat dan salafus saleh merupakan generasi terbaik yang memberikan teladan terbaik pula. Sosok mereka tak hanya sekokoh karang memegang yang wajib dan menjauhi yang haram. Namun juga, selalu berhias dengan amalan nafilah.
Amalan nafilah atau sunnah, bagi para Sahabat dan salafus salih, bukanlah sebagai amalan kelas dua yang tak menggiurkan. Tapi sebaliknya, setiap ada kesempatan, mereka senantiasa melakukan yang sunnah untuk menambah pundi pahalanya. Bahkan terlihat seolah yang sunnah pun seperti sebuah kewajiban. Saking bersemangatnya mereka melaksanakannya.
Kita pun patut bercermin pada kebiasaan baik mereka ini. Karena Rasulullah Saw juga telah memberikan suri teladan yang terbaik bagi kita, umatnya. Beliau selalu memotivasi kaum muslimin agar terus melaksanakan kebaikan.
Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, "Hendaknya kalian melaksanakan qiyamul lail (salat tahajjud), sebab sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menjadi penebus untuk berbagai keburukan, melarang dari dosa, mengusir/menjauhkan penyakit dari jasad, dan di dalam malam itu ada saat-saat yang di dalamnya doa diijabah." (HR. Ath-Thabarani, at-Tirmidzi, Ahmad, dll)
Salat tahajjud merupakan momen yang paling tepat bagi semua mukmin untuk bersujud dan mengadukan apapun kepada-Nya, diluar salat wajib tentunya. Terlebih para pengemban dakwah yang menginginkan segera tegaknya syari'at Allah Swt di bumi ini. Dengan sistem Khilafahnya. Dengan seluruh peraturan hidupnya yang berpijak pada Alquran dan as-Sunnah. Minta lah kepada Allah saat tahajjud, agar semua bisa terwujud.
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Saya tidak menemukan dari ibadah sesuatu yang lebih kuat daripada salat di tengah malam." Ditanyakan kepadanya, "Mengapa orang yang melakukan salat tahajjud termasuk manusia yang paling bagus wajahnya?" Beliau menjawab, "Sebab mereka berkhalwat dengan ar-Rahman (Zat Yang Maha Pengasih), maka Dia memakaikan pakaian dari cahanya-Nya kepada mereka."
Banyak lagi amalan sunnah lainnya. Seperti salat dhuha, salat tarawih, salat witir, salat istikharah, dan lainnya. Juga memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, puasa sunnah, dan sederet kebaikan lainnya. Apabila kita rajin mengamalkannya, maka akan merapatkan jarak kita dengan Al Khalik. Dan apapun doa kita, niscaya Allah akan senang mengijabahnya.
Tengoklah kisah kemenangan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel. Dia perintahkan pasukannya untuk berpuasa di hari Senin, 19 Jumadil Ula tahun 757 H. Sebagai upaya bertaqarrub kepada Allah, sekaligus penyucian jiwa-jiwa para ksatria ini agar siap berperang. Setelah berbuka dan melaksanakan salat berjama'ah, Sulthan pun berkhutbah di depan pasukannya untuk memompa semangat mereka. Hingga keesokan harinya, pasukan ini pun meringsek memasuki Konstantinopel melalui gunung, membawa kapal-kapal mereka mendaki. Sampai pertolongan Allah pun menghampiri mereka. Dan kemenangan tersemat manis di dada pasukan al-Fatih.
Kisah fenomenal ini menjadi bukti kepada kita, betapa amalan nafilah, yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan oleh pasukan Sulthan Muhammad al-Fatih telah menghantarkan kemenangan besar bagi umat Islam.
Karenanya, mulai sekarang berapa pun usia menjelang, kita upayakan untuk terus meningkatkan amalan nafilah ini. Supaya semakin rapat dengan-Nya. Dan terus berdoa agar pertolongan Allah untuk tegaknya syariat Islam ini disegerakan oleh-Nya.
Aamiin.
Handil Bakti, 08032019
#OPEy2019
#Part7
#Day4
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Rabu, 13 Maret 2019
#SerialTaqarrubIlallah02
Indahnya Membaca Alquran
Oleh : Laila Thamrin
Rasulullah Saw bersabda :
"Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatu pun dari Alquran adalah seperti rumah yang roboh." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, ath-Thabarani, al-Hakim, al-Baihaqi)
Pernah melihat orang yang limbung karena banyak masalah? Atau justru pernah anda merasakan sendiri begitu banyaknya masalah mengepung? Lalu, jika anda baca Alquran perlahan-lahan, bagaimana rasanya?
Saya pernah merasakan itu. Begitu banyaknya ujian yang seolah menghimpit hidup ini. Namun ketika saya mengakrabkan diri dengan membaca Alquran, seolah semua ujian itu ringan dipikul. Dan jalan keluar pun berdatangan. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw, bahwa Alquran seperti nyawa dalam sebuah rumah, jika tak ada sentuhan Alquran akan robohlah rumah itu.
Alquran merupakan kalamullah. Berisi tentang petunjuk hidup manusia selama di dunia. Merupakan satu-satunya kitab di dunia yang jika dibaca oleh manusia akan mendatangkan pahala bagi pembacanya, juga yang mendengarkannya. Bahkan pahala yang di dapat dinilai huruf demi huruf, meski si pembacanya terbata-bata.
"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah (Alquran) maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf, dan MIIM satu huruf." (HR. Tirmidzi)
Rugi sekali jika telah mengaku Muslim, namun jarang menyentuh Alquran. Karena membaca Alquran mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi." (QS. Fathir [35] : 29)
Rasulullah Saw sering memilih pemimpin suatu delegasi untuk urusan negara dari banyaknya hafalan mereka. Yang paling banyak hafalannya, atau yang paling bagus bacaannya, itulah yang terpilih.
Dalam hadits Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah Saw mengutus delegasi berjumlah beberapa orang, lalu beliau meminta mereka membaca Alquran. Beliau meminta tiap orang untuk membaca Alquran, yakni yang dia hafal. Beliau datang kepada salah seorang laki-laki dari mereka yang paling muda usianya. Beliau bersabda, "Apa yang engkau hafal, ya Fulan?" Dia menjawab, "Aku hafal ini dan ini dan surat al-Baqarah." Rasulullah saw pun bersabda, "Apakah engkau hafal surat al-Baqarah?" Dia menjawab,"Benar." Rasulullah saw bersabda,"Berangkatlah, dan engkau menjadi pemimpin (amir) mereka." (HR. Ibnu Hibban)
Begitu istimewa orang yang membaca Alquran dan mampu menghafalnya. Orang yang membaca Alquran hendaknya dalam keadaan khusyu', tadabbur dan tunduk. Disunnahkan hingga menangis dan berusaha menangis. Disunnahkan juga membacanya seperti Rasulullah Saw, yaitu dengan tartil, tidak lambat dan tidak cepat. Beliau membaca dengan jeda di tiap ayat.
Jadikanlah Alquran teman terbaik kita. Di kala suka maupun duka. Bacalah di setiap kesempatan yang kita punya. Resapi isinya. Dijalankan semua perintah yang ada di dalamnya. Jauhi larangan Allah yang termaktub di sana. Karena Rasulullah Saw bersabda, "Bacalah Alquran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada orang yang membacanya." (HR. Muslim)
Wallahua'lam bish shawwab.[]
Handil Bakti, 13032019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Oleh : Laila Thamrin
Rasulullah Saw bersabda :
"Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatu pun dari Alquran adalah seperti rumah yang roboh." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, ath-Thabarani, al-Hakim, al-Baihaqi)
Pernah melihat orang yang limbung karena banyak masalah? Atau justru pernah anda merasakan sendiri begitu banyaknya masalah mengepung? Lalu, jika anda baca Alquran perlahan-lahan, bagaimana rasanya?
Saya pernah merasakan itu. Begitu banyaknya ujian yang seolah menghimpit hidup ini. Namun ketika saya mengakrabkan diri dengan membaca Alquran, seolah semua ujian itu ringan dipikul. Dan jalan keluar pun berdatangan. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw, bahwa Alquran seperti nyawa dalam sebuah rumah, jika tak ada sentuhan Alquran akan robohlah rumah itu.
Alquran merupakan kalamullah. Berisi tentang petunjuk hidup manusia selama di dunia. Merupakan satu-satunya kitab di dunia yang jika dibaca oleh manusia akan mendatangkan pahala bagi pembacanya, juga yang mendengarkannya. Bahkan pahala yang di dapat dinilai huruf demi huruf, meski si pembacanya terbata-bata.
"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah (Alquran) maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf, dan MIIM satu huruf." (HR. Tirmidzi)
Rugi sekali jika telah mengaku Muslim, namun jarang menyentuh Alquran. Karena membaca Alquran mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi." (QS. Fathir [35] : 29)
Rasulullah Saw sering memilih pemimpin suatu delegasi untuk urusan negara dari banyaknya hafalan mereka. Yang paling banyak hafalannya, atau yang paling bagus bacaannya, itulah yang terpilih.
Dalam hadits Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah Saw mengutus delegasi berjumlah beberapa orang, lalu beliau meminta mereka membaca Alquran. Beliau meminta tiap orang untuk membaca Alquran, yakni yang dia hafal. Beliau datang kepada salah seorang laki-laki dari mereka yang paling muda usianya. Beliau bersabda, "Apa yang engkau hafal, ya Fulan?" Dia menjawab, "Aku hafal ini dan ini dan surat al-Baqarah." Rasulullah saw pun bersabda, "Apakah engkau hafal surat al-Baqarah?" Dia menjawab,"Benar." Rasulullah saw bersabda,"Berangkatlah, dan engkau menjadi pemimpin (amir) mereka." (HR. Ibnu Hibban)
Begitu istimewa orang yang membaca Alquran dan mampu menghafalnya. Orang yang membaca Alquran hendaknya dalam keadaan khusyu', tadabbur dan tunduk. Disunnahkan hingga menangis dan berusaha menangis. Disunnahkan juga membacanya seperti Rasulullah Saw, yaitu dengan tartil, tidak lambat dan tidak cepat. Beliau membaca dengan jeda di tiap ayat.
Jadikanlah Alquran teman terbaik kita. Di kala suka maupun duka. Bacalah di setiap kesempatan yang kita punya. Resapi isinya. Dijalankan semua perintah yang ada di dalamnya. Jauhi larangan Allah yang termaktub di sana. Karena Rasulullah Saw bersabda, "Bacalah Alquran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada orang yang membacanya." (HR. Muslim)
Wallahua'lam bish shawwab.[]
Handil Bakti, 13032019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Rabu, 06 Maret 2019
#SerialTaqarrubIlallah01
Oleh : Laila Thamrin
Ihsanu al-'Amal
Allah Swt berfirman :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al Mulk[67] : 2)
Ihsanu al-'Amal bermakna amal yang baik. Menurut para imam salaf rahimahullah, supaya amal itu menjadi baik maka harus terkandung dua hal di dalamnya. Pertama, ikhlas semata-semata melakukannya karena Allah. Kedua, sesuai dengan syara'.
Sebagaimana ucapan seorang tokoh terkemuka di masa tabi'it tabi'in, Fudhail bin 'Iyadh tentang surah al-Mulk ayat 2 tersebut. Dia berkata, "Yakni yang paling ikhlas dan yang paling benar." Lalu dikatakan, "Wahai Abu 'Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling benar?" Dia berkata, "Sesungguhnya amal perbuatan itu jika tepat tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima. Sebaliknya, jika ikhlas tapi tidak benar, juga tidak diterima. Amal tidak diterima sampai merupakan amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas adalah amal dilakukan karena Allah. Dan benar adalah berada di atas as-sunnah."
Begitu gamblang apa yang diterangkan oleh Fudhail bin 'Iyadh tentang amal yang baik ini. Maka, perlu kiranya kita menengok kembali ke belakang, sudahkah amal kita memenuhi dua kriteria ini? Dan yakinkah kita bahwa amal kita akan terima Allah Swt?
Terkadang kita lupa untuk meniatkan amal kita hanya karena Allah. Tapi inginnya terlihat baik di mata manusia. Nastaghfirullah!
Apalagi jika ternyata yang kita lakukan tak ada syari'atnya dalam Islam. Bagaimana amal kita bisa diterima oleh-Nya?
Contoh nih, seseorang yang suka berderma ke anak yatim, juga kaum gelandangan dan orang-orang miskin lainnya. Niatnya sedekah sih, tapi setelahnya tebar berita ke medsos. Akhirnya pujian pun mengalir padanya. Nah, yang begini hati-hati ya amalnya tertolak. Karena niatnya tak ikhlas, meski caranya sesuai syariat Islam.
Atau berderma secara ikhlas karena Allah, tak menyebarkan beritanya kemanapun. Namun harta yang disumbangkan dari hasil keringat yang tak halal, semisal korupsi, berjudi, jualan narkoba, atau hasil kecurangan dalam berdagang. Maka yang demikian pun bisa tertolak amalnya.
Al-Hasan bin ar-Rabi' mengatakan tentang jihadnya al-Imam al-Jalil Abdullah bin al-Mubarak : Seorang penunggang kuda keluar dari barisan pasukan kaum Muslim seraya mengenakan penutup wajah lalu membunuh tentara Persia yang membunuh kaum Muslim, maka kaum Muslim pun bertakbir untuknya. Lalu dia masuk ke tengah kerumunan orang dan tidak ada seorang pun yang mengetahui dia. Aku ikuti dia sampai aku memintanya karena Allah agar dia mengangkat penutup wajahnya maka aku pun mengenalnya, lalu aku katakan, "Engkau sembunyikan diri dengan kemenangan besar yang Allah Swt mudahkan melalui kedua tanganmu?" Maka dia berkata,"Apa yang aku lakukan untuk Dia (Allah Swt) maka tidak tersembunyi bagi-Nya."
Begitulah gambaran amal seseorang yang ikhlas karena Allah Swt dan sesuai dengan syara'. Amal seperti inilah yang akan diterima oleh Allah. Tak peduli apakah manusia lainnya melihat atau tidak apa kebaikan yang dia lakukan, yang penting Allah tahu dan ridha' atasnya, itu cukup baginya.
Karenanya, bagi setiap Muslim harus terus memupuk sifat seperti ini sebagai upaya taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Yang beramal kebaikan sesuai hukum syara' dan melakukannya ikhlas karena Allah semata. Dan inilah sebaik-baik amal yang akan mendatangkan pahala.
Batola, 06032019
#OPEy2019
#Part7
#Day3
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Ihsanu al-'Amal
Allah Swt berfirman :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al Mulk[67] : 2)
Ihsanu al-'Amal bermakna amal yang baik. Menurut para imam salaf rahimahullah, supaya amal itu menjadi baik maka harus terkandung dua hal di dalamnya. Pertama, ikhlas semata-semata melakukannya karena Allah. Kedua, sesuai dengan syara'.
Sebagaimana ucapan seorang tokoh terkemuka di masa tabi'it tabi'in, Fudhail bin 'Iyadh tentang surah al-Mulk ayat 2 tersebut. Dia berkata, "Yakni yang paling ikhlas dan yang paling benar." Lalu dikatakan, "Wahai Abu 'Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling benar?" Dia berkata, "Sesungguhnya amal perbuatan itu jika tepat tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima. Sebaliknya, jika ikhlas tapi tidak benar, juga tidak diterima. Amal tidak diterima sampai merupakan amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas adalah amal dilakukan karena Allah. Dan benar adalah berada di atas as-sunnah."
Begitu gamblang apa yang diterangkan oleh Fudhail bin 'Iyadh tentang amal yang baik ini. Maka, perlu kiranya kita menengok kembali ke belakang, sudahkah amal kita memenuhi dua kriteria ini? Dan yakinkah kita bahwa amal kita akan terima Allah Swt?
Terkadang kita lupa untuk meniatkan amal kita hanya karena Allah. Tapi inginnya terlihat baik di mata manusia. Nastaghfirullah!
Apalagi jika ternyata yang kita lakukan tak ada syari'atnya dalam Islam. Bagaimana amal kita bisa diterima oleh-Nya?
Contoh nih, seseorang yang suka berderma ke anak yatim, juga kaum gelandangan dan orang-orang miskin lainnya. Niatnya sedekah sih, tapi setelahnya tebar berita ke medsos. Akhirnya pujian pun mengalir padanya. Nah, yang begini hati-hati ya amalnya tertolak. Karena niatnya tak ikhlas, meski caranya sesuai syariat Islam.
Atau berderma secara ikhlas karena Allah, tak menyebarkan beritanya kemanapun. Namun harta yang disumbangkan dari hasil keringat yang tak halal, semisal korupsi, berjudi, jualan narkoba, atau hasil kecurangan dalam berdagang. Maka yang demikian pun bisa tertolak amalnya.
Al-Hasan bin ar-Rabi' mengatakan tentang jihadnya al-Imam al-Jalil Abdullah bin al-Mubarak : Seorang penunggang kuda keluar dari barisan pasukan kaum Muslim seraya mengenakan penutup wajah lalu membunuh tentara Persia yang membunuh kaum Muslim, maka kaum Muslim pun bertakbir untuknya. Lalu dia masuk ke tengah kerumunan orang dan tidak ada seorang pun yang mengetahui dia. Aku ikuti dia sampai aku memintanya karena Allah agar dia mengangkat penutup wajahnya maka aku pun mengenalnya, lalu aku katakan, "Engkau sembunyikan diri dengan kemenangan besar yang Allah Swt mudahkan melalui kedua tanganmu?" Maka dia berkata,"Apa yang aku lakukan untuk Dia (Allah Swt) maka tidak tersembunyi bagi-Nya."
Begitulah gambaran amal seseorang yang ikhlas karena Allah Swt dan sesuai dengan syara'. Amal seperti inilah yang akan diterima oleh Allah. Tak peduli apakah manusia lainnya melihat atau tidak apa kebaikan yang dia lakukan, yang penting Allah tahu dan ridha' atasnya, itu cukup baginya.
Karenanya, bagi setiap Muslim harus terus memupuk sifat seperti ini sebagai upaya taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Yang beramal kebaikan sesuai hukum syara' dan melakukannya ikhlas karena Allah semata. Dan inilah sebaik-baik amal yang akan mendatangkan pahala.
Batola, 06032019
#OPEy2019
#Part7
#Day3
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
#SerialTaqarrubIlallah
Oleh : Laila Thamrin
Disarikan dari Kitab "Taqarrub Ilallah" karya Fauziy Sinuqruth.
InsyaAllah enam hari ke depan akan kita ulas bagian-bagian dari buku ini.
========================
Mukaddimah
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati." (QS. al-Ahqaf[46] : 13)
Istiqomah. Satu kata yang singkat, namun dalam maknanya. Secara umum istiqomah bermakna konsisten menjalankan kebaikan dan teguh dalam pendirian menjalankan apa yang diridhoi oleh Allah Swt.
Bagi seorang mukmin, menjaga keistiqomahan merupakan perjuangan. Apalagi di tengah terpaan pemikiran Barat yang kian menderas. Umat Islam diserang dari berbagai sisi. Dilabeling dengan berbagai cap menyudutkan, semisal teroris, fundamentalis, radikalis, ekstrimis, dan sebagainya. Lalu menegatifkan ungkapan-ungkapan yang berasal dari Islam sehingga terkesan sederhana atau bahkan buruk, padahal memiliki makna yang berseberangan dengan yang mereka gaungkan, seperti jihad, poligami, kafir, dsb. Sungguh, dalam kondisi seperti ini seorang mukmin wajib untuk tetap istiqomah dengan Dienullah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Ahqaf ayat 13 tersebut di atas.
Dan agar keteguhan kita berpegang pada tali agama Allah tetap kokoh, maka sangat penting kita untuk menguatkan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) kita. Dan tentu saja Islam sebagai landasan pijakannya. Agar tetap terjaga kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) di dalam diri kita sebagai seorang mukmin.
Karenanya, bertaqarrub ilallah merupakan salah satu upaya agar kekuatan Syakhsiyah Islamiyah kita tetap terjaga. Memperbaiki niat, membaca Alquran, memperbanyak amalan nafilah, mengelokkan akhlak, memperbanyak doa, dzikir dan istighfar, dan perkara-perkara lainnya. Maka jika kita telah dekat kepada Allah Swt, apapun yang kita minta selama tak menyalahi syariat-Nya, maka Allah akan mudah mengabulkannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil." (HR. Bukhari).
Maka, apa lagi yang menghalangi kita untuk bersegera merapat kepada-Nya? Padahal fajar kemenangan semakin mendekat ke hadapan kita. Agar doa kita segera diijabah oleh-Nya. Dan kejayaan peradaban Islam segera kembali berada di genggaman umat Islam.
Allahu Akbar!
Batola, 05032019
#OPEy2019
#Part7
#Day2
#MenyalaBersamaRevowriter
#Gemesda
#Revowriter5
Disarikan dari Kitab "Taqarrub Ilallah" karya Fauziy Sinuqruth.
InsyaAllah enam hari ke depan akan kita ulas bagian-bagian dari buku ini.
========================
Mukaddimah
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati." (QS. al-Ahqaf[46] : 13)
Istiqomah. Satu kata yang singkat, namun dalam maknanya. Secara umum istiqomah bermakna konsisten menjalankan kebaikan dan teguh dalam pendirian menjalankan apa yang diridhoi oleh Allah Swt.
Bagi seorang mukmin, menjaga keistiqomahan merupakan perjuangan. Apalagi di tengah terpaan pemikiran Barat yang kian menderas. Umat Islam diserang dari berbagai sisi. Dilabeling dengan berbagai cap menyudutkan, semisal teroris, fundamentalis, radikalis, ekstrimis, dan sebagainya. Lalu menegatifkan ungkapan-ungkapan yang berasal dari Islam sehingga terkesan sederhana atau bahkan buruk, padahal memiliki makna yang berseberangan dengan yang mereka gaungkan, seperti jihad, poligami, kafir, dsb. Sungguh, dalam kondisi seperti ini seorang mukmin wajib untuk tetap istiqomah dengan Dienullah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Ahqaf ayat 13 tersebut di atas.
Dan agar keteguhan kita berpegang pada tali agama Allah tetap kokoh, maka sangat penting kita untuk menguatkan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) kita. Dan tentu saja Islam sebagai landasan pijakannya. Agar tetap terjaga kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) di dalam diri kita sebagai seorang mukmin.
Karenanya, bertaqarrub ilallah merupakan salah satu upaya agar kekuatan Syakhsiyah Islamiyah kita tetap terjaga. Memperbaiki niat, membaca Alquran, memperbanyak amalan nafilah, mengelokkan akhlak, memperbanyak doa, dzikir dan istighfar, dan perkara-perkara lainnya. Maka jika kita telah dekat kepada Allah Swt, apapun yang kita minta selama tak menyalahi syariat-Nya, maka Allah akan mudah mengabulkannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil." (HR. Bukhari).
Maka, apa lagi yang menghalangi kita untuk bersegera merapat kepada-Nya? Padahal fajar kemenangan semakin mendekat ke hadapan kita. Agar doa kita segera diijabah oleh-Nya. Dan kejayaan peradaban Islam segera kembali berada di genggaman umat Islam.
Allahu Akbar!
Batola, 05032019
#OPEy2019
#Part7
#Day2
#MenyalaBersamaRevowriter
#Gemesda
#Revowriter5
Selasa, 22 Januari 2019
Hidayah telah Bertandang
"Dunia ini hanya sementara..."
Kutipan indah ini disampaikan Raffi Ahmad saat pengajian perdana di rumahnya. Siapa yang tak kenal Raffi Ahmad? Seantero Indonesia Raya ini pasti kenal, karena dia seorang publik figur. Dunia entertainment menjadi kesehariannya. Yang lekat dengan kehidupan glamour.
Saat dia mengadakan kajian di rumahnya, tentu semua sahabat hijrahnya menyambut dengan suka cita. Dia ceritakan jikalau selama ini apa yang dia inginkan mudah sekali tercapai. Namun, hatinya terasa hampa. Dan Ustadz Abu Fida yang hadir saat itu mengatakan, bahwasanya itu tanda jika hidayah Allah sudah masuk. Ya, hidayah telah bertandang kepada Raffi. Tabarakallah !
Hidayah memang rahasia Allah. Hanya DIA yang berhak memilih siapa yang layak mendapatkannya. Tapi manusia, dengan akal pikiran yang telah dianugrahkan Allah kepadanya, sejatinya mampu menjemput hidayah itu segera.
Allah telah berikan banyak tanda-tanda di dunia ini yang mampu menghantarkan manusia pada petunjuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya :
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."
"Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di Bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa."
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,"
"mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan."
(TQS. Yunus : 5-8 )
Kita doakan bagi saudara, sahabat dan semua kenalan kita yang telah meniti jalan hijrah, semoga istiqomah. Begitupun dengan Raffi Ahmad dan keluarga.
Kita pun senantiasa berdoa, agar Allah tetapkan kita juga dalam jalan-Nya. Serta memperbanyak amal yang mendatangkan pahala. Karena sebaik-baik tempat kembali hanyalah Kampung Akhirat. Dan sebaik-baik bekal hanyalah amal shalih. Sedangkan dunia hanyalah sementara saja.
"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (TQS. Al-An'am : 32)
@Laila Thamrin
(22012019)
#OPEy2019
#Day2
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Kutipan indah ini disampaikan Raffi Ahmad saat pengajian perdana di rumahnya. Siapa yang tak kenal Raffi Ahmad? Seantero Indonesia Raya ini pasti kenal, karena dia seorang publik figur. Dunia entertainment menjadi kesehariannya. Yang lekat dengan kehidupan glamour.
Saat dia mengadakan kajian di rumahnya, tentu semua sahabat hijrahnya menyambut dengan suka cita. Dia ceritakan jikalau selama ini apa yang dia inginkan mudah sekali tercapai. Namun, hatinya terasa hampa. Dan Ustadz Abu Fida yang hadir saat itu mengatakan, bahwasanya itu tanda jika hidayah Allah sudah masuk. Ya, hidayah telah bertandang kepada Raffi. Tabarakallah !
Hidayah memang rahasia Allah. Hanya DIA yang berhak memilih siapa yang layak mendapatkannya. Tapi manusia, dengan akal pikiran yang telah dianugrahkan Allah kepadanya, sejatinya mampu menjemput hidayah itu segera.
Allah telah berikan banyak tanda-tanda di dunia ini yang mampu menghantarkan manusia pada petunjuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya :
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."
"Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di Bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa."
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,"
"mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan."
(TQS. Yunus : 5-8 )
Kita doakan bagi saudara, sahabat dan semua kenalan kita yang telah meniti jalan hijrah, semoga istiqomah. Begitupun dengan Raffi Ahmad dan keluarga.
Kita pun senantiasa berdoa, agar Allah tetapkan kita juga dalam jalan-Nya. Serta memperbanyak amal yang mendatangkan pahala. Karena sebaik-baik tempat kembali hanyalah Kampung Akhirat. Dan sebaik-baik bekal hanyalah amal shalih. Sedangkan dunia hanyalah sementara saja.
"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (TQS. Al-An'am : 32)
@Laila Thamrin
(22012019)
#OPEy2019
#Day2
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Luruhnya Hati Sang Pembunuh Singa Allah
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS. Al-Baqarah: 218)
Saat kita napak tilas perjalanan hidup Baginda Rasulullah Saw, tak pelak pasti akan kita temui awal hijrah beliau. Pun peperangan demi peperangan yang dilalui Beliau bersama para sahabatnya tercinta.
Adalah perang Badar, perang pertama yang terjadi setelah Negara Islam tegak di Madinah. Dengan kekuatan 300 pasukan kaum muslimin, Allah menangkan di atas 1000 pasukan kafir Quraisy. Tabarakallahu 'alaikum.
Dikabarkan bahwasanya dalam perang Badar telah terbunuh sekitar 70 orang Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan kaum muslimin. Diantara yang terbunuh itu terdapat salah seorang pembesar Quraisy bernama 'Utbah. Juga adiknya Syaibah. Dan anaknya, Al-Walid bin 'Utbah.
Tiga lelaki sedarah ini adalah ayah, paman dan saudara dari Hindun binti 'Utbah, seorang perempuan Quraisy, istri Abu Sufyan bin Harb, salah seorang tokoh pemuka Quraisy yang sangat membenci Islam yang dibawa Rasulullah Saw. Bahkan dia menjadi bagian tentara kaum musyrik Quraisy di perang Badar.
Kemarahan Hindun semakin memuncak. Darahnya mendidih saat mendapatkan kabar duka ini. Apalagi ternyata, anaknya pun telah menjadi korban dalam perang Badar tersebut. Menurut informasi yang diperolehnya, pembunuh orang-orang terkasihnya adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Saw. Maka dia pun bertekad untuk membalas kematian keluarganya dengan menjadikan Hamzah, Sang Singa Allah, sebagai salah satu target yang harus dibunuhnya pula. Selain Rasulullah Saw tentunya. Dan sebagian kaum kafir Quraisy pun memiliki pemikiran serupa dengan Hindun.
Tepat setahun sejak perang Badar, orang-orang musyrik Makkah telah menyiapkan pasukannya untuk memerangi kaum muslimin. Dendam kesumat yang terpatri di hati mereka membuat semangat mereka bergelora. Sebanyak 3000 pasukan Quraisy telah disiapkan. Dan dalam pasukan ini terselip seorang budak milik Jabir bin Muth'im yang bernama Wahsyi. Seorang budak dari Habasyah yang diberikan tugas khusus oleh Hindun. Tidak lain tugasnya membunuh Hamzah, Sang Singa Allah. Wahsyi memiliki keahlian yang luar biasa dalam melempar tombak. Dengan iming-iming kebebasannya dan juga perhiasan emas berlian, Wahsyi menyanggupi tugas khusus ini.
Genderang perang Uhud pun telah ditabuh. Kaum muslimin merangsek pertahanan pasukan Quraisy dengan semangat jihadnya. Hamzah bin Abdul Muthallib terlihat menerobos pasukan Quraisy. Satu demi satu lawan dilumatnya. Pedangnya mengayun ke kiri dan kanan tak kenal ampun. Pasukan Quraisy pun terlihat kocar-kacir.
Namun, tanpa disadari oleh Hamzah, sepasang mata terus mengamati gerak-geriknya. Mencari celah peluang untuk melontarkan tombaknya. Dia berlindung di sela-sela pepohonan dan bebatuan. Dan disaat yang dianggapnya tepat, Wahsyi segera melemparkan tombaknya ke arah Hamzah. Seketika tombak itu menembus perut Hamzah. Hingga kematian pun menjemputnya. Singa Allah syahid di perang Uhud, diujung tombak Wahsyi.
Kabar kematian Hamzah bin Abdul Muthallib segera sampai ke telinga Hindun dan pasukan Quraisy. Bergegas Hindun dan perempuan-perempuan Quraisy lainnya mendatangi tubuh Hamzah. Mereka lalu merusak jenazah Hamzah dengan keji. Kepuasan nampak jelas dari wajah-wajah mereka. Terlebih, setelah perang Uhud dimenangkan oleh pasukan Quraisy. Sorak sorai kemenangam mereka semakin lantang.
Waktu terus berputar. Kaum muslimin terus mendapatkan kemenangan demi kemenangan atas izin Allah. Hingga tiba saatnya Rasulullah Saw dan para sahabat menaklukkan Makkah. Peristiwa Fathu Makkah menjadi kilasan sejarah Islam yang istimewa. Tak ada senjata. Tak ada pertumpahan darah. Saat itu Rasulullah Saw berkata kepada penduduk Makkah, "Siapa saja yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat."
Dan Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia. Hindun binti 'Utbah yang telah 20 tahun memusuhi Rasulullah Saw dan kaum muslimin, hari itu menyatakan ke-Islamannya tanpa paksaan dari siapa pun. Benarlah bahwasanya hati manusia berada diantara jari-jari Allah.
Saat Hindun berkata pada suaminya untuk menjadi pengikut Muhammad Saw, suaminya sedikit ragu. Tapi Hindun meyakinkannya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan salat, berdiri, ruku', dan sujud."
'Aisyah ra menuturkan, "Hindun datang kepada Nabi Saw seraya berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah membinasakannya, daripada golonganmu. Tetapi hari ini, tidak ada golongan di dunia yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu." Rasulullah Saw pun membalas, "Begitu juga aku. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya." (HR. Muslim no 8 dan 1714)
Dan suaminya pun saat itu melakukan hal serupa dengannya. Siapa yang menyangka Hindun dan suaminya akan menerima Islam tanpa perlawanan? Dan kita dapati Rasulullah Saw menerima keislaman mereka dengan ikhlas. Padahal keduanya begitu keras permusuhannya pada Islam. Bahkan kekejaman Hindun pada paman beliau, Hamzah, sungguh diluar kewajaran. Namun, tak ada yang menghalangi mereka untuk menerima cahaya Islam menerangi qalbunya.
Hindun binti 'Utbah berubah menjadi seorang perempuan muslimah yang salihah. Luruh sudah keangkuhan dan kejahiliyahannya. Dia tampil menjadi sosok muslimah yang sangat istimewa karena kecerdasannya. Allah telah menerangi hatinya dengan cahaya Islam. Memupus semua kedengkian yang sebelumnya melekat dalam dirinya. Dan dia berubah menjadi pembela Islam yang militan. Sekaligus menjadi seorang ahli ibadah dan memegang kuat janji setianya pada Rasulullah Saw.
Hijrahnya seorang Hindun patut kita teladani. Hijrah yang totalitas hanya menuju Islam Kaffah. Melepaskan seluruh kejahiliyahan yang sebelumnya telah memenuhi ruang hidupnya. Merobohkan semua berhala-berhala yang menjadi penghalangnya. Meninggalkan semua kekufuran yang awalnya menjadi denyut nadinya. Dan beralihlah hidup dan matinya hanya untuk Islam semata.
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (TQS. At-Taubah : 20)
@Laila Thamrin
(20012019)
*Inspirasi dari buku "35 Sirah Shahabiyah" karya Muhammad Al-Mishri.
#Revowriter
#NgajiLiterasi
#Gemesda
#Hijrah
Saat kita napak tilas perjalanan hidup Baginda Rasulullah Saw, tak pelak pasti akan kita temui awal hijrah beliau. Pun peperangan demi peperangan yang dilalui Beliau bersama para sahabatnya tercinta.
Adalah perang Badar, perang pertama yang terjadi setelah Negara Islam tegak di Madinah. Dengan kekuatan 300 pasukan kaum muslimin, Allah menangkan di atas 1000 pasukan kafir Quraisy. Tabarakallahu 'alaikum.
Dikabarkan bahwasanya dalam perang Badar telah terbunuh sekitar 70 orang Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan kaum muslimin. Diantara yang terbunuh itu terdapat salah seorang pembesar Quraisy bernama 'Utbah. Juga adiknya Syaibah. Dan anaknya, Al-Walid bin 'Utbah.
Tiga lelaki sedarah ini adalah ayah, paman dan saudara dari Hindun binti 'Utbah, seorang perempuan Quraisy, istri Abu Sufyan bin Harb, salah seorang tokoh pemuka Quraisy yang sangat membenci Islam yang dibawa Rasulullah Saw. Bahkan dia menjadi bagian tentara kaum musyrik Quraisy di perang Badar.
Kemarahan Hindun semakin memuncak. Darahnya mendidih saat mendapatkan kabar duka ini. Apalagi ternyata, anaknya pun telah menjadi korban dalam perang Badar tersebut. Menurut informasi yang diperolehnya, pembunuh orang-orang terkasihnya adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Saw. Maka dia pun bertekad untuk membalas kematian keluarganya dengan menjadikan Hamzah, Sang Singa Allah, sebagai salah satu target yang harus dibunuhnya pula. Selain Rasulullah Saw tentunya. Dan sebagian kaum kafir Quraisy pun memiliki pemikiran serupa dengan Hindun.
Tepat setahun sejak perang Badar, orang-orang musyrik Makkah telah menyiapkan pasukannya untuk memerangi kaum muslimin. Dendam kesumat yang terpatri di hati mereka membuat semangat mereka bergelora. Sebanyak 3000 pasukan Quraisy telah disiapkan. Dan dalam pasukan ini terselip seorang budak milik Jabir bin Muth'im yang bernama Wahsyi. Seorang budak dari Habasyah yang diberikan tugas khusus oleh Hindun. Tidak lain tugasnya membunuh Hamzah, Sang Singa Allah. Wahsyi memiliki keahlian yang luar biasa dalam melempar tombak. Dengan iming-iming kebebasannya dan juga perhiasan emas berlian, Wahsyi menyanggupi tugas khusus ini.
Genderang perang Uhud pun telah ditabuh. Kaum muslimin merangsek pertahanan pasukan Quraisy dengan semangat jihadnya. Hamzah bin Abdul Muthallib terlihat menerobos pasukan Quraisy. Satu demi satu lawan dilumatnya. Pedangnya mengayun ke kiri dan kanan tak kenal ampun. Pasukan Quraisy pun terlihat kocar-kacir.
Namun, tanpa disadari oleh Hamzah, sepasang mata terus mengamati gerak-geriknya. Mencari celah peluang untuk melontarkan tombaknya. Dia berlindung di sela-sela pepohonan dan bebatuan. Dan disaat yang dianggapnya tepat, Wahsyi segera melemparkan tombaknya ke arah Hamzah. Seketika tombak itu menembus perut Hamzah. Hingga kematian pun menjemputnya. Singa Allah syahid di perang Uhud, diujung tombak Wahsyi.
Kabar kematian Hamzah bin Abdul Muthallib segera sampai ke telinga Hindun dan pasukan Quraisy. Bergegas Hindun dan perempuan-perempuan Quraisy lainnya mendatangi tubuh Hamzah. Mereka lalu merusak jenazah Hamzah dengan keji. Kepuasan nampak jelas dari wajah-wajah mereka. Terlebih, setelah perang Uhud dimenangkan oleh pasukan Quraisy. Sorak sorai kemenangam mereka semakin lantang.
Waktu terus berputar. Kaum muslimin terus mendapatkan kemenangan demi kemenangan atas izin Allah. Hingga tiba saatnya Rasulullah Saw dan para sahabat menaklukkan Makkah. Peristiwa Fathu Makkah menjadi kilasan sejarah Islam yang istimewa. Tak ada senjata. Tak ada pertumpahan darah. Saat itu Rasulullah Saw berkata kepada penduduk Makkah, "Siapa saja yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat."
Dan Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia. Hindun binti 'Utbah yang telah 20 tahun memusuhi Rasulullah Saw dan kaum muslimin, hari itu menyatakan ke-Islamannya tanpa paksaan dari siapa pun. Benarlah bahwasanya hati manusia berada diantara jari-jari Allah.
Saat Hindun berkata pada suaminya untuk menjadi pengikut Muhammad Saw, suaminya sedikit ragu. Tapi Hindun meyakinkannya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan salat, berdiri, ruku', dan sujud."
'Aisyah ra menuturkan, "Hindun datang kepada Nabi Saw seraya berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah membinasakannya, daripada golonganmu. Tetapi hari ini, tidak ada golongan di dunia yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu." Rasulullah Saw pun membalas, "Begitu juga aku. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya." (HR. Muslim no 8 dan 1714)
Dan suaminya pun saat itu melakukan hal serupa dengannya. Siapa yang menyangka Hindun dan suaminya akan menerima Islam tanpa perlawanan? Dan kita dapati Rasulullah Saw menerima keislaman mereka dengan ikhlas. Padahal keduanya begitu keras permusuhannya pada Islam. Bahkan kekejaman Hindun pada paman beliau, Hamzah, sungguh diluar kewajaran. Namun, tak ada yang menghalangi mereka untuk menerima cahaya Islam menerangi qalbunya.
Hindun binti 'Utbah berubah menjadi seorang perempuan muslimah yang salihah. Luruh sudah keangkuhan dan kejahiliyahannya. Dia tampil menjadi sosok muslimah yang sangat istimewa karena kecerdasannya. Allah telah menerangi hatinya dengan cahaya Islam. Memupus semua kedengkian yang sebelumnya melekat dalam dirinya. Dan dia berubah menjadi pembela Islam yang militan. Sekaligus menjadi seorang ahli ibadah dan memegang kuat janji setianya pada Rasulullah Saw.
Hijrahnya seorang Hindun patut kita teladani. Hijrah yang totalitas hanya menuju Islam Kaffah. Melepaskan seluruh kejahiliyahan yang sebelumnya telah memenuhi ruang hidupnya. Merobohkan semua berhala-berhala yang menjadi penghalangnya. Meninggalkan semua kekufuran yang awalnya menjadi denyut nadinya. Dan beralihlah hidup dan matinya hanya untuk Islam semata.
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (TQS. At-Taubah : 20)
@Laila Thamrin
(20012019)
*Inspirasi dari buku "35 Sirah Shahabiyah" karya Muhammad Al-Mishri.
#Revowriter
#NgajiLiterasi
#Gemesda
#Hijrah
Dimana Al Junnah?
Heboh lagi perkara prostitusi online. Karena yang terjaring publik figur. Dan bayarannya fantastis. Bikin "takjub" sekaligus miris. Murah sekali harga sebuah kehormatan perempuan. Padahal, jika perempuan mempersembahkan dirinya hanya untuk suami halalnya, surga menantinya. Tak ada artinya harta dunia.
Tapi mengapa banyak yang menggadaikan akhiratnya untuk kesenangan dunia yang hanya sekejap ini? Zina dilakoni, demi fulus semata. Akankah surga bisa dibeli dengan uang? Dunia sudah terbalik....😪
Makin gemes saat mendengar ada yang mendukung aksi jual kehormatan ini. Katanya, itu mengikuti hukum permintaan dan penawaran. Dan harga 80 juta merupakan penawaran yang di atas rata-rata. Kudu belajar banyak dari pelakunya supaya bisa memiliki harga tawar yang tinggi.
Aneh ... kehormatan perempuan jadi barang dagangan. Serendah itukah nilai sebuah kehormatan perempuan? Nastaghfirullah...😓
Fyiuh...tambah puyeng saya. Maksiat kok makin hari, makin banyak peminatnya. Banyak suporternya. Hati-hati loh, yang dukung kemaksiatan ntar kecipratan dosanya. Mau?? Saya sih 'emoh.'
Dunia sudah semakin lapuk. Umat terus terseret dalam arus Kapitalisme-Liberalisme. Semua bebas. Ukuran kebahagiaan hanyalah materi semata. Jika ada uang, kebahagiaan seolah segera datang. Tapi, benarkah ketentraman jiwa akan didapatkan para pemuja materi? Apakah kebahagiannya mampu bertahan lama? Ah, rasanya tidak...😒
Andai saja Islam menjadi pijakan dalam berpikir dan berbuat, tentu takkan terjadi hal serupa ini. Karena dalam Islam, kemuliaan perempuan sungguh terjaga. Jika dia belum baligh, maka perempuan ada di bawah perlindungan ayahnya atau saudara laki-lakinya. begitupun saat dia sudah baligh tapi belum menikah.
Namun, apabila dia sudah menikah, maka suaminya adalah qowwam sekaligus pelindungnya yang utama. Dan yang paling berperan besar dalam melindungi rakyatnya, termasuk perempuan, tentu saja negara. Karena negaralah perisai (Al Junnah) terbesar melindungi aqidah dan akhlak masyarakatnya.
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
Masih ingat kan kita dengan riwayat seorang perempuan yang diganggu oleh pemuda kafir Romawi di masa kekuasaan Khalifah Mu'tasim Billah. Perempuan itu berteriak lantang,"Wahai Mu'tasim, dimanakah engkau?"
Sejurus kemudian Sang Khalifah telah menurunkan pasukannya yang mengular demi mendengar teriakan si perempuan tersebut. Yang luar biasanya, kepala pasukan ada di Amuriyah (Turki), tempat perempuan itu diganggu. Sementara ekornya ada di Baghdad, tempat Khalifah berada. Dan pasukan Islam mampu mengobrak-abrik tentara Romawi dan mengalahkannya. MasyaAllah...begitu besar penjagaan negara atas seorang perempuan. Ini baru seorang saja. Bagaimana jika banyak yang mengadu? Tentu akan jauh lebih dahsyat lagi pembelaan Khalifah atasnya.
Bagaimana dengan sekarang? Berapa banyak perempuan muslimah terzalimi? Teraniaya? Tergadai kehormatannya?
Siapa yang membela mereka? Siapa yang melindunginya? 😭😭
Dimana Al Junnah kita?
Kini, saatnya kita mengembalikan kesadaran umat. Agar mereka kembali pada aturan Islam. Yang mampu memposisikan perempuan pada kedudukannya yang mulia. Sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sebagai pendidik generasi yang taat pada Dien-nya. Sebagai pencetak pemuda-pemuda Islam yang mampu menaklukkan dunia dan menegakkan kembali peradaban Islam yang mulia. Yang menegakkan al Junnah (Perisai) bagi umat. Hingga keberkahan turun dari langit dan memancar dari perut bumi.
Allah Swt berfirman :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'rāf : 96)
@LailaThamrin
#Revowriter
#Gemesda
Tapi mengapa banyak yang menggadaikan akhiratnya untuk kesenangan dunia yang hanya sekejap ini? Zina dilakoni, demi fulus semata. Akankah surga bisa dibeli dengan uang? Dunia sudah terbalik....😪
Makin gemes saat mendengar ada yang mendukung aksi jual kehormatan ini. Katanya, itu mengikuti hukum permintaan dan penawaran. Dan harga 80 juta merupakan penawaran yang di atas rata-rata. Kudu belajar banyak dari pelakunya supaya bisa memiliki harga tawar yang tinggi.
Aneh ... kehormatan perempuan jadi barang dagangan. Serendah itukah nilai sebuah kehormatan perempuan? Nastaghfirullah...😓
Fyiuh...tambah puyeng saya. Maksiat kok makin hari, makin banyak peminatnya. Banyak suporternya. Hati-hati loh, yang dukung kemaksiatan ntar kecipratan dosanya. Mau?? Saya sih 'emoh.'
Dunia sudah semakin lapuk. Umat terus terseret dalam arus Kapitalisme-Liberalisme. Semua bebas. Ukuran kebahagiaan hanyalah materi semata. Jika ada uang, kebahagiaan seolah segera datang. Tapi, benarkah ketentraman jiwa akan didapatkan para pemuja materi? Apakah kebahagiannya mampu bertahan lama? Ah, rasanya tidak...😒
Andai saja Islam menjadi pijakan dalam berpikir dan berbuat, tentu takkan terjadi hal serupa ini. Karena dalam Islam, kemuliaan perempuan sungguh terjaga. Jika dia belum baligh, maka perempuan ada di bawah perlindungan ayahnya atau saudara laki-lakinya. begitupun saat dia sudah baligh tapi belum menikah.
Namun, apabila dia sudah menikah, maka suaminya adalah qowwam sekaligus pelindungnya yang utama. Dan yang paling berperan besar dalam melindungi rakyatnya, termasuk perempuan, tentu saja negara. Karena negaralah perisai (Al Junnah) terbesar melindungi aqidah dan akhlak masyarakatnya.
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
Masih ingat kan kita dengan riwayat seorang perempuan yang diganggu oleh pemuda kafir Romawi di masa kekuasaan Khalifah Mu'tasim Billah. Perempuan itu berteriak lantang,"Wahai Mu'tasim, dimanakah engkau?"
Sejurus kemudian Sang Khalifah telah menurunkan pasukannya yang mengular demi mendengar teriakan si perempuan tersebut. Yang luar biasanya, kepala pasukan ada di Amuriyah (Turki), tempat perempuan itu diganggu. Sementara ekornya ada di Baghdad, tempat Khalifah berada. Dan pasukan Islam mampu mengobrak-abrik tentara Romawi dan mengalahkannya. MasyaAllah...begitu besar penjagaan negara atas seorang perempuan. Ini baru seorang saja. Bagaimana jika banyak yang mengadu? Tentu akan jauh lebih dahsyat lagi pembelaan Khalifah atasnya.
Bagaimana dengan sekarang? Berapa banyak perempuan muslimah terzalimi? Teraniaya? Tergadai kehormatannya?
Siapa yang membela mereka? Siapa yang melindunginya? 😭😭
Dimana Al Junnah kita?
Kini, saatnya kita mengembalikan kesadaran umat. Agar mereka kembali pada aturan Islam. Yang mampu memposisikan perempuan pada kedudukannya yang mulia. Sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sebagai pendidik generasi yang taat pada Dien-nya. Sebagai pencetak pemuda-pemuda Islam yang mampu menaklukkan dunia dan menegakkan kembali peradaban Islam yang mulia. Yang menegakkan al Junnah (Perisai) bagi umat. Hingga keberkahan turun dari langit dan memancar dari perut bumi.
Allah Swt berfirman :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'rāf : 96)
@LailaThamrin
#Revowriter
#Gemesda
Minggu, 02 Desember 2018
Pendar Cinta karena Allah
Monas, tugu yang menjulang gagah, akan jadi tujuan hari ini. Tepat 2 Desember 2018 tugu Monas akan kembali diguyur ar Rayah dan al Liwa. Pasti!
Ya, karena umat muslim di seluruh penjuru negeri Indonesia tercinta ini telah berbondong-bondong melangkahkan kaki. Menuju Monas, di Jakarta. Bukan untuk melihat Monas. Bukan! Tapi untuk menyatukan diri bersama barisan saudara seiman dalam "Reuni 212."
Tak lekang dari ingatan kita, kala 212 di tahun 2016 pertama bergelora. Tersebab perkataan seorang penista agama. Hingga seluruh umat Islam membela agamanya.
Kini, gelora itu kian membuncah. Tak sekedar reuni biasa. Tapi ini upaya nyata untuk menyatukan rasa, pikiran dan juga asa. Demi satu tujuan, tegaknya kembali kejayaan Islam.
"Laa ilaha ilallah. Muhammad ar-Rasulullah."
Inilah kalimat tauhid. Inilah kalimat pemersatu umat di seluruh penjuru bumi. Inilah spirit terbesar langkah kaki jutaan anak bangsa berlari menuju Monas hari ini. Menuju kesatuan umat. Menuju ridha illahi.
Tua-muda, lelaki-perempuan, anak-anak dan orangtua, yang kuat berjalan hingga yang perlu kursi roda, yang sempurna fisiknya hingga yang diberi kekurangan. Semua berkumpul jadi satu. Berpendar dengan ar-Rayah dan al-Liwa. Demi tegaknya Islam Rahmatan lil 'Alamin. Pendar cinta karena Allah.
"Berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai." (TQS.Ali Imran : 103)
"Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara." (TQS. al-Hujurat : 10)
****
Laila Thamrin
Ahad, 212-2018
#BelaTauhid212
#212BersatuDibawahTauhid
Ya, karena umat muslim di seluruh penjuru negeri Indonesia tercinta ini telah berbondong-bondong melangkahkan kaki. Menuju Monas, di Jakarta. Bukan untuk melihat Monas. Bukan! Tapi untuk menyatukan diri bersama barisan saudara seiman dalam "Reuni 212."
Tak lekang dari ingatan kita, kala 212 di tahun 2016 pertama bergelora. Tersebab perkataan seorang penista agama. Hingga seluruh umat Islam membela agamanya.
Kini, gelora itu kian membuncah. Tak sekedar reuni biasa. Tapi ini upaya nyata untuk menyatukan rasa, pikiran dan juga asa. Demi satu tujuan, tegaknya kembali kejayaan Islam.
"Laa ilaha ilallah. Muhammad ar-Rasulullah."
Inilah kalimat tauhid. Inilah kalimat pemersatu umat di seluruh penjuru bumi. Inilah spirit terbesar langkah kaki jutaan anak bangsa berlari menuju Monas hari ini. Menuju kesatuan umat. Menuju ridha illahi.
Tua-muda, lelaki-perempuan, anak-anak dan orangtua, yang kuat berjalan hingga yang perlu kursi roda, yang sempurna fisiknya hingga yang diberi kekurangan. Semua berkumpul jadi satu. Berpendar dengan ar-Rayah dan al-Liwa. Demi tegaknya Islam Rahmatan lil 'Alamin. Pendar cinta karena Allah.
"Berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai." (TQS.Ali Imran : 103)
"Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara." (TQS. al-Hujurat : 10)
****
Laila Thamrin
Ahad, 212-2018
#BelaTauhid212
#212BersatuDibawahTauhid
Kamis, 15 November 2018
Lillah, Meskipun Lelah
Ketika kita ingin menjadi lebih baik tentu perlu perjuangan. Akan ada banyak riak-riak menghadang di kiri kanan jalan. Tapi inilah sebuah tantangan. Dan kita tak boleh berpatah arang.
Kadang, saat dalam perjalanan menuju keadaan yang lebih baik, banyak yang mengkritik. Entah kritik untuk menguatkan atau justru untuk menjatuhkan. Tapi itu hal biasa. Jangan pernah dipersoalkan. Ambil sisi positifnya, lihat kaca, cermati diri kita. Bisa jadi kritik itu benar adanya. Maka saatnya kita perbaiki dan melaju lebih sempurna.
Yuk besarkan hati kita. Berbaik sangka pada sodara. Selama kritik untuk memperbaiki, segeralah untuk berbenah diri. Tapi, awas... jika ada yang mengkritik untuk membully, atau sekedar menertawai. Maka yang begini gak usah diladeni. Abaikan saja. Anggap angin berisik yang sedang mencari pijakan.
Ingat satu hal, goresan pena kita untuk menjaring pahala. Bukan sekedar gaya. Jadi, luruskan niat kita, semata karena ingin meraih ridho-Nya. Bukan sekedar pujian dari manusia.
Menulislah Lillah.
Meski kita harus lelah.
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#muhasabahdiri
#hanyainginlebihbaik
#gerakanmedsosuntukdakwah
#gemesda
#revowriter
Kadang, saat dalam perjalanan menuju keadaan yang lebih baik, banyak yang mengkritik. Entah kritik untuk menguatkan atau justru untuk menjatuhkan. Tapi itu hal biasa. Jangan pernah dipersoalkan. Ambil sisi positifnya, lihat kaca, cermati diri kita. Bisa jadi kritik itu benar adanya. Maka saatnya kita perbaiki dan melaju lebih sempurna.
Yuk besarkan hati kita. Berbaik sangka pada sodara. Selama kritik untuk memperbaiki, segeralah untuk berbenah diri. Tapi, awas... jika ada yang mengkritik untuk membully, atau sekedar menertawai. Maka yang begini gak usah diladeni. Abaikan saja. Anggap angin berisik yang sedang mencari pijakan.
Ingat satu hal, goresan pena kita untuk menjaring pahala. Bukan sekedar gaya. Jadi, luruskan niat kita, semata karena ingin meraih ridho-Nya. Bukan sekedar pujian dari manusia.
Menulislah Lillah.
Meski kita harus lelah.
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#muhasabahdiri
#hanyainginlebihbaik
#gerakanmedsosuntukdakwah
#gemesda
#revowriter
Rabu, 24 Oktober 2018
Tauhid, Identitas Diri Muslim Sejati
Tanggal 22 Oktober 2018 jadi penanda. Bukan sekedar peringatan Hari Santri yang dilekatkan padanya. Tapi semangat bela Islam seluruh muslim yang tetiba berkobar. Menyala seolah tak terbendung.
Pasalnya, ada yang berani membakar bendera hitam bertuliskan tauhidullah. Maka umat Islam pun bereaksi. Mereka tak sudi bendera Rasulullah Saw diperlakukan seperti ini. Ribuan muslim kemudian ramai menunjukkan pembelaannya pada bendera Nabi.
Kaum muslim sudah kadung memahami bahwa bendera hitam bertuliskan lafaz "Laa ilaha ilallah, Muhammad Rasulullah" adalah bendera Nabi. Bukan milik organisasi manapun di dunia ini.
Sabda Nabi Saw :
"Panjinya Rasulullah (Rayyah) berwarna hitam dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah." (HR. Ath Thabrani)
Kalimat tauhid inilah yang mempersaudarakan umat Islam. Yang menautkan hati seorang muslim dengan muslim lainnya, meski terhalang samudra dan berbeda benua. Bahkan tak pernah bertemu muka. Tapi memiliki rasa yang sama. Dan kalimat tauhid pula yang akan menyelamatkan akhir hidup kita hingga layak ke surga-Nya.
Dulu, para sahabat Rasul pun begitu bangga membopong bendera ini. Mengibarkannya ke seluruh pelosok bumi. Mempertahankannya meski nyawa bayarannya. Hingga hidup menjadi lebih mulia. Dan Allah ridha atasnya.
Hari ini, umat pun semakin mengerti bahwa bendera tauhid layak menjadi identitas diri seorang muslim sejati. Karena akan dirasakan indahnya hidup dalam balutan Islam. Dan dalam dekapan kemuliaan Islam yang hakiki.
Laila Thamrin
23102018
#BelaKalimatTauhid
#BelaBenderaTauhid
#GerakanMedsosUntukDakwah
#Gemesda
#Revowriter
Pasalnya, ada yang berani membakar bendera hitam bertuliskan tauhidullah. Maka umat Islam pun bereaksi. Mereka tak sudi bendera Rasulullah Saw diperlakukan seperti ini. Ribuan muslim kemudian ramai menunjukkan pembelaannya pada bendera Nabi.
Kaum muslim sudah kadung memahami bahwa bendera hitam bertuliskan lafaz "Laa ilaha ilallah, Muhammad Rasulullah" adalah bendera Nabi. Bukan milik organisasi manapun di dunia ini.
Sabda Nabi Saw :
"Panjinya Rasulullah (Rayyah) berwarna hitam dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah." (HR. Ath Thabrani)
Kalimat tauhid inilah yang mempersaudarakan umat Islam. Yang menautkan hati seorang muslim dengan muslim lainnya, meski terhalang samudra dan berbeda benua. Bahkan tak pernah bertemu muka. Tapi memiliki rasa yang sama. Dan kalimat tauhid pula yang akan menyelamatkan akhir hidup kita hingga layak ke surga-Nya.
Dulu, para sahabat Rasul pun begitu bangga membopong bendera ini. Mengibarkannya ke seluruh pelosok bumi. Mempertahankannya meski nyawa bayarannya. Hingga hidup menjadi lebih mulia. Dan Allah ridha atasnya.
Hari ini, umat pun semakin mengerti bahwa bendera tauhid layak menjadi identitas diri seorang muslim sejati. Karena akan dirasakan indahnya hidup dalam balutan Islam. Dan dalam dekapan kemuliaan Islam yang hakiki.
Laila Thamrin
23102018
#BelaKalimatTauhid
#BelaBenderaTauhid
#GerakanMedsosUntukDakwah
#Gemesda
#Revowriter
Sabtu, 20 Oktober 2018
Gerakan Medsos Untuk Dakwah
Dulu, kita hanya kenal pena dan kertas untuk menulis. Kian hari teknologi kian canggih.
Kini hanya dengan jari, tulisan mampu terlukis. Apa yang kita tulis pun bisa dibaca ratusan bahkan ribuan orang. Ya...media sosial telah mampu menerbangkan coretan jemari kita ke sudut-sudut yang tak terjangkau oleh selembar kertas.
Namun, sayangnya tak semua tulisan yang bertebaran di sosmed bisa diambil. Perlu hati-hati ketika menelan berita. Apalagi menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Yuk jadikan sosmed sarana dakwah. Karena dakwah tak melulu ceramah. Menulis pun bisa menjadi silah sampainya hidayah. Dengan satu catatan, tulisan No Hoax, No Nyinyir, No Bully. Tapi jadikan tulisan kita Santun, Cerdas dan Elegan. Hukum syara jadi pegangan. Kalimat Allah dan Rasul-Nya jadi junjungan.
Mudah kan? Let's kita gaungkan #gerakanmedsosuntukdakwah bersama kami #revowriter sejati. 😊
Thank's a lot atas pencerahannya ya cikgu Kholda Najiyah. 😘😘
Laila Thamrin
Kini hanya dengan jari, tulisan mampu terlukis. Apa yang kita tulis pun bisa dibaca ratusan bahkan ribuan orang. Ya...media sosial telah mampu menerbangkan coretan jemari kita ke sudut-sudut yang tak terjangkau oleh selembar kertas.
Namun, sayangnya tak semua tulisan yang bertebaran di sosmed bisa diambil. Perlu hati-hati ketika menelan berita. Apalagi menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Yuk jadikan sosmed sarana dakwah. Karena dakwah tak melulu ceramah. Menulis pun bisa menjadi silah sampainya hidayah. Dengan satu catatan, tulisan No Hoax, No Nyinyir, No Bully. Tapi jadikan tulisan kita Santun, Cerdas dan Elegan. Hukum syara jadi pegangan. Kalimat Allah dan Rasul-Nya jadi junjungan.
Mudah kan? Let's kita gaungkan #gerakanmedsosuntukdakwah bersama kami #revowriter sejati. 😊
Thank's a lot atas pencerahannya ya cikgu Kholda Najiyah. 😘😘
Laila Thamrin
Minggu, 23 September 2018
Buka Mata Buka Hati #15
Lautan Kasih Sayang
Teriknya sinar sang surya seakan menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuhku. Dahaga menyerbuku. Bukannya tak ada air ataukah tak sempat minum barang seteguk. Tapi ketaatan pada Rabbul Izzati yang menuntunku untuk tak makan dan minum hari itu.
Tepat 10 Muharram 1440 H, hari Asyura yang disunnahkan puasa bagi muslim. Dan aku pun berusaha tegar menjalaninya. Begitu pula si bungsuku. Meski terlihat kusut mukanya kala kujemput sekolah. Trus mengadu, "Ummi, teman-teman banyak yang gak puasa. Naura haus, Mi."
"Yang sabar ya, Nak. Hari ini puasa sunnah. Yang mengerjakannya dapat pahala sunnah. Yang hari ini tak puasa terlihat enak. Tapi mereka tak dapat pahala sunnah, meski mereka tak berdosa. Naura mau gak dapat kenikmatannya nanti di surga? Teman-teman yang gak puasa belum tentu dapat loh di surga,"kujelaskan demi menenangkannya.
"Mau dong, Mi." Riang dia menjawabku. Meski suaranya sedikit lemes.
Kami pun meluncur pulang.
Saat di rumah segera Naura melepas baju dan berendam di baskom besar. Biar adem katanya. Ya, cuaca hari itu memang sangat menggigit panasnya. Sudah dinyalakan kipas angin saja, panasnya masih membara. Subhanallah.
Setengah jam berendam bikin adem. Seger. Lalu segera Naura pakai baju. Bedak. Wangi deh. Trus tetiba bilang, "Mi, hari ini Ummi belum ada cium Naura," sambil rebahan di sampingku.
"Oh iya ya...Ummi lupa." Segera kupeluk dan kuciumi dia dengan sepenuh cinta.
"Suka gak diciumi Ummi, Nak."
"Ho-oh." Angguknya cepat sambil tersenyum, menampakkan sederet giginya meski ada jendelanya, alias ompong.
Ya, bungsuku sudah usia 9 tahun. Tapi suka sekali dicium. Apalagi kalau selesai mandi, pasti minta dicium Ummi.
*****
Kadang kita lupa memberikan sekedar ciuman pada anak-anak kita yang mulai besar, bahkan beranjak remaja. Terlebih pada anak lelaki. Padahal, bagi seorang anak, ciuman ayah dan ibunya ternyata menunjukkan bahwa kedua orangtuanya masih peduli padanya. Masih sayang dan cinta.
Anak keduaku yang laki-laki juga begitu. Dia semringah sekali jika kulayangkan ciuman ke pipinya. Padahal dia sudah SMP kelas delapan loh.
Begitupun sulungku. Gadis manis yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua belas. Jika kucium pipi kanannya, pasti pipi kirinya disodorkan juga. Bahkan minta dipeluk. Begitulah anak-anakku.
Menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences, pelukan dan ciuman pada anak ternyata dapat menambah jumlah produksi hormon oksitosin dan endorfin yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak-anak.(muslimah.me)
Situs www.beranihijrah.org melansir, bahwa seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City (AS), Edward R.Christopherson.Ph.D, menyatakan jika pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya. Bahkan hal ini bisa memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.
Hmm, ternyata mencium anak banyak manfaatnya. Utamanya mendapatkan pahala. Sekaligus menghidupkan kasih sayang dan cinta antara anak dan orangtua. Bahkan Rasulullah Saw, sang teladan kita, juga telah mengajarkan hal serupa. Jauh sebelum orang-orang masa kini memahaminya.
“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)
Abu Hurairah ra berkata, "Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ternyata, curahan kasih sayang kepada anak-anak kita nampak terasa bagi mereka kala menciuminya. Dan mereka merasakan kebahagiaan yang tak terperi saat ciuman kita mendarat di pipi atau keningnya.
Lautan kasih sayang sungguh tak bertepi.
Dalam, hingga sampai ke hati.
Menciumi anak hanyalah seteguk kasih dan cinta.
Dari sepasang orantua yang mulia.
Hanya berharap rahmat dari Illahi Rabbi
Maka, sudahkah anda mencium anak-anak hari ini? 😄
Laila Thamrin
21092018
#BermainKata009
#NgajiLiterasi
#Revowriter
Teriknya sinar sang surya seakan menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuhku. Dahaga menyerbuku. Bukannya tak ada air ataukah tak sempat minum barang seteguk. Tapi ketaatan pada Rabbul Izzati yang menuntunku untuk tak makan dan minum hari itu.
Tepat 10 Muharram 1440 H, hari Asyura yang disunnahkan puasa bagi muslim. Dan aku pun berusaha tegar menjalaninya. Begitu pula si bungsuku. Meski terlihat kusut mukanya kala kujemput sekolah. Trus mengadu, "Ummi, teman-teman banyak yang gak puasa. Naura haus, Mi."
"Yang sabar ya, Nak. Hari ini puasa sunnah. Yang mengerjakannya dapat pahala sunnah. Yang hari ini tak puasa terlihat enak. Tapi mereka tak dapat pahala sunnah, meski mereka tak berdosa. Naura mau gak dapat kenikmatannya nanti di surga? Teman-teman yang gak puasa belum tentu dapat loh di surga,"kujelaskan demi menenangkannya.
"Mau dong, Mi." Riang dia menjawabku. Meski suaranya sedikit lemes.
Kami pun meluncur pulang.
Saat di rumah segera Naura melepas baju dan berendam di baskom besar. Biar adem katanya. Ya, cuaca hari itu memang sangat menggigit panasnya. Sudah dinyalakan kipas angin saja, panasnya masih membara. Subhanallah.
Setengah jam berendam bikin adem. Seger. Lalu segera Naura pakai baju. Bedak. Wangi deh. Trus tetiba bilang, "Mi, hari ini Ummi belum ada cium Naura," sambil rebahan di sampingku.
"Oh iya ya...Ummi lupa." Segera kupeluk dan kuciumi dia dengan sepenuh cinta.
"Suka gak diciumi Ummi, Nak."
"Ho-oh." Angguknya cepat sambil tersenyum, menampakkan sederet giginya meski ada jendelanya, alias ompong.
Ya, bungsuku sudah usia 9 tahun. Tapi suka sekali dicium. Apalagi kalau selesai mandi, pasti minta dicium Ummi.
*****
Kadang kita lupa memberikan sekedar ciuman pada anak-anak kita yang mulai besar, bahkan beranjak remaja. Terlebih pada anak lelaki. Padahal, bagi seorang anak, ciuman ayah dan ibunya ternyata menunjukkan bahwa kedua orangtuanya masih peduli padanya. Masih sayang dan cinta.
Anak keduaku yang laki-laki juga begitu. Dia semringah sekali jika kulayangkan ciuman ke pipinya. Padahal dia sudah SMP kelas delapan loh.
Begitupun sulungku. Gadis manis yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua belas. Jika kucium pipi kanannya, pasti pipi kirinya disodorkan juga. Bahkan minta dipeluk. Begitulah anak-anakku.
Menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences, pelukan dan ciuman pada anak ternyata dapat menambah jumlah produksi hormon oksitosin dan endorfin yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak-anak.(muslimah.me)
Situs www.beranihijrah.org melansir, bahwa seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City (AS), Edward R.Christopherson.Ph.D, menyatakan jika pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya. Bahkan hal ini bisa memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.
Hmm, ternyata mencium anak banyak manfaatnya. Utamanya mendapatkan pahala. Sekaligus menghidupkan kasih sayang dan cinta antara anak dan orangtua. Bahkan Rasulullah Saw, sang teladan kita, juga telah mengajarkan hal serupa. Jauh sebelum orang-orang masa kini memahaminya.
“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)
Abu Hurairah ra berkata, "Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ternyata, curahan kasih sayang kepada anak-anak kita nampak terasa bagi mereka kala menciuminya. Dan mereka merasakan kebahagiaan yang tak terperi saat ciuman kita mendarat di pipi atau keningnya.
Lautan kasih sayang sungguh tak bertepi.
Dalam, hingga sampai ke hati.
Menciumi anak hanyalah seteguk kasih dan cinta.
Dari sepasang orantua yang mulia.
Hanya berharap rahmat dari Illahi Rabbi
Maka, sudahkah anda mencium anak-anak hari ini? 😄
Laila Thamrin
21092018
#BermainKata009
#NgajiLiterasi
#Revowriter
Jumat, 07 September 2018
Buka Mata Buka Hati #14
Sensasi Jumat Berkah
Alhamdulillah, kembali dipertemukan Allah dengan hari Jumat. Setiap bertemu Jumat, rasanya hati ini berbeda. Saya merasa selalu senang di hari Jumat. Bukan karena pulang kerja lebih cepat loh ya...hehe. Tapi sensasi berkah di hari Jumat selalu melekat.
Salamah dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Hari terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Sebab pada hari itu Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam as. Dia memasukkan Adam ke surga, pada hari itu ia diturunkan ke bumi dan pada hari itu terjadi kiamat serta pada hari itu terdapat satu masa dimana tidak seorangpun berdo’a kecuali Dia akan mengabulkan do’a itu.” (HR.Muslim)
Jumat itu hari istimewa. Salat yang hanya diwajibkan bagi laki-laki muslim adalah salat Jumat. Memotong kuku dan menggunting rambut di hari Jumat dapat pahala sunnah. Setiap doa yang dilangitkan di hari Jumat niscaya akan dikabulkan Allah. Keberkahan dan keagungan hari Jumat sungguh membuatnya seperti hari Raya umat Islam.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” (HR. Muslim)
Tersebab Jumat yang penuh berkah ini banyak muslim yang memanfaatkan Jumat untuk bersedekah. Seperti hari ini, pagi-pagi saat saya berangkat ke tempat mengajar, saya sudah semringah melihat ada yang buka warung sedekah. Ada juga yang warungnya hanya bermodalkan sebuah meja di pinggir jalan dan bertajuk "makanan gratis." Uwow...masyaAllah.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tentang keutamaan hari Jum’at, “Bahwasanya sedekah di hari Jum’at dibandingkan semua hari dalam sepekan seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan selainnya.”
Iri rasanya melihat mereka yang ringan hati dan tangannya untuk berbagi. Meniatkan hati juga untuk bisa selalu berbagi, meski dompet tak selalu penuh berisi.
Tak salah memang untuk selalu bersedekah. Baik dalam keadaan sempit, terlebih lagi jika saat lapang. Karena sejatinya harta untuk disedekahkan tak berkurang.
Rasulullah Saw bersabda :
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)
Bahkan Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi yang bersedekah. Menggiurkan! Rugikan kalau kita tak bersedekah?
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Rasulullah Saw pun telah menguatkan dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. Tirmidzi)
Hmmm....tunggu apa lagi. Jadikan sedekah bagian hidup kita. Bila tak mampu banyak, tak apa sedikit. Bila tak bisa dengan uang, dengan apapun boleh kok bersedekah, asalkan barang yang halal. Makanan, pakaian, buah-buahan. Bahkan sebutir kurma saja bisa jadi sedekah.
Tak hanya barang, berbuat baik pun bisa bernilai sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan bisa jadi sedekah. Bahkan hanya seulas senyuman pada orang lain sudah menjadi sedekah pula. MasyaAllah, begitu indah bukan?
Rasulullah Saw bersabda :
“Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.”(Muttafaqun 'alaih)
“Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu merupakan sedekah bagimu.”(HR.Bukhari)
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”(HR.at Tirmizi)
Salam Jumat Berkah...😊🙏
Laila Thamrin
07092018
#inspirasihariini
#jumatberkah
#gerakandakwahuntukmedsos
#dakwahtakmeluluceramah
#revowriter
Alhamdulillah, kembali dipertemukan Allah dengan hari Jumat. Setiap bertemu Jumat, rasanya hati ini berbeda. Saya merasa selalu senang di hari Jumat. Bukan karena pulang kerja lebih cepat loh ya...hehe. Tapi sensasi berkah di hari Jumat selalu melekat.
Salamah dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Hari terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Sebab pada hari itu Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam as. Dia memasukkan Adam ke surga, pada hari itu ia diturunkan ke bumi dan pada hari itu terjadi kiamat serta pada hari itu terdapat satu masa dimana tidak seorangpun berdo’a kecuali Dia akan mengabulkan do’a itu.” (HR.Muslim)
Jumat itu hari istimewa. Salat yang hanya diwajibkan bagi laki-laki muslim adalah salat Jumat. Memotong kuku dan menggunting rambut di hari Jumat dapat pahala sunnah. Setiap doa yang dilangitkan di hari Jumat niscaya akan dikabulkan Allah. Keberkahan dan keagungan hari Jumat sungguh membuatnya seperti hari Raya umat Islam.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” (HR. Muslim)
Tersebab Jumat yang penuh berkah ini banyak muslim yang memanfaatkan Jumat untuk bersedekah. Seperti hari ini, pagi-pagi saat saya berangkat ke tempat mengajar, saya sudah semringah melihat ada yang buka warung sedekah. Ada juga yang warungnya hanya bermodalkan sebuah meja di pinggir jalan dan bertajuk "makanan gratis." Uwow...masyaAllah.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tentang keutamaan hari Jum’at, “Bahwasanya sedekah di hari Jum’at dibandingkan semua hari dalam sepekan seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan selainnya.”
Iri rasanya melihat mereka yang ringan hati dan tangannya untuk berbagi. Meniatkan hati juga untuk bisa selalu berbagi, meski dompet tak selalu penuh berisi.
Tak salah memang untuk selalu bersedekah. Baik dalam keadaan sempit, terlebih lagi jika saat lapang. Karena sejatinya harta untuk disedekahkan tak berkurang.
Rasulullah Saw bersabda :
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)
Bahkan Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi yang bersedekah. Menggiurkan! Rugikan kalau kita tak bersedekah?
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Rasulullah Saw pun telah menguatkan dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. Tirmidzi)
Hmmm....tunggu apa lagi. Jadikan sedekah bagian hidup kita. Bila tak mampu banyak, tak apa sedikit. Bila tak bisa dengan uang, dengan apapun boleh kok bersedekah, asalkan barang yang halal. Makanan, pakaian, buah-buahan. Bahkan sebutir kurma saja bisa jadi sedekah.
Tak hanya barang, berbuat baik pun bisa bernilai sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan bisa jadi sedekah. Bahkan hanya seulas senyuman pada orang lain sudah menjadi sedekah pula. MasyaAllah, begitu indah bukan?
Rasulullah Saw bersabda :
“Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.”(Muttafaqun 'alaih)
“Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu merupakan sedekah bagimu.”(HR.Bukhari)
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”(HR.at Tirmizi)
Salam Jumat Berkah...😊🙏
Laila Thamrin
07092018
#inspirasihariini
#jumatberkah
#gerakandakwahuntukmedsos
#dakwahtakmeluluceramah
#revowriter
Jumat, 24 Agustus 2018
Buka Mata Buka Hati #13
Warisan
Oleh : Laila Thamrin
Siapa yang tak kenal dengan warisan? Pasti semua orang tahu. Dan kalau bicara warisan, yang terbayang tentulah harta. Tak salah memang. Karena memang seperti itulah adanya.
Warisan merupakan harta yang ditinggalkan seseorang saat dia meninggal dunia. Terkadang harta yang ditinggalkannya ini bisa jadi rebutan. Bahkan perseteruan kaum kerabatnya. Apalagi jika harta yang diwariskan banyak dan menggiurkan. Sudah tabiat manusia menyukai harta. Karena itu memang kesenangan dunia, selain tahta dan wanita.
Beruntung, Islam punya aturan yang jelas berkaitan dengan harta warisan ini. Sehingga, tak perlu payah ahli waris memperebutkan harta si mayit. Tinggal duduk diam saja, jika dia termasuk golongan yang berhak, bagian harta warisan untuknya pun akan didapat.
Namun, sebenarnya tak hanya harta yang layak diperhatikan kala seorang manusia berpulang ke pangkuan Rabbnya. Apalagi jika yang meninggal adalah seseorang yang telah memiliki anak. Ada yang lebih berharga dibanding sekedar uang, rumah, tanah, emas dan permata.
Ayah yang kaya akan mewariskan hartanya pada anak keturunannya. Namun ayah yang salih, tak serta merta mampu mewariskan kesalihannya kepada anaknya. Begitu pun ibu yang ahli ibadah, tak menjamin anaknya menjadi ahli ibadah pula. Lalu bagaimana?
Anak akan mewarisi kesalihan ayah dan ibunya jikalau iman ditanamkan dalam dadanya. Diajarkan tentang keimanan terhadap Rabbnya sejak kecil. Ditanamkan bahwa Allah itu Al Khalik (Maha Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Maha Pengatur). Dikuatkan setiap saat dengan pelaksanaan syariatNya dalam keseharian. Karena Allah juga Maha Mengetahui, sehingga saat manusia lalai dalam melaksanakan perintahNya, Allah pasti tahu.
Karenanya tugas orangtua lah mendidik anak-anaknya dengan iman dan Islam. Sehingga, andai Allah memanggil ayah dan ibunya, anak telah mewarisi iman yang kokoh dan Islam yang kuat. Pahala ayah ibunya pun akan terus mengalir melampaui usianya. Sebab anak yang salih pasti akan melakukan kebaikan dimana saja dan dalam kondisi apapun jua. Dia juga senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, meski keduanya telah tiada.
Lihatlah bagaimana seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi yang diabadikan Allah dalam Alquran kala menasihati anaknya. Meski dia hanyalah seorang budak, namun keimanan dan kecerdasan akalnya telah menjadikan pembelajaran berharga bagi umat Muhammad Saw. Ya, dialah Luqmanul Hakim, yang bisa kita ikuti nasihatnya kepada anaknya dalam Alquran Surah Luqman.
Allah Swt berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Begitu pula saat beliau memberikan nasihat lainnya pada anaknya. Seperti firman Allah Swt :
"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16)
Jelas sekali pada ayat itu Luqman menasihati anaknya dengan nasihat yang jitu. Iman kepada Allah Swt sebagai pondasi yang utama, dan tak menduakanNya pada apapun jua. Lalu berikutnya, pengikat iman tersebut agar tak goyah adalah keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala hal yang manusia kerjakan. Meski perbuatan sangat sepele sekalipun, semisal buang angin yang tak terlihat pelakunya oleh siapapun, namun terasa jelas aromanya. Hingga tak ada yang bisa menuduh siapa pelakunya. Namun Allah pasti tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meski tak ada pengakuan dari mulut si pelaku.
Banyak dari orang tua sekarang yang sibuk memikirkan anaknya kelak hidup berkecukupan materi. Tapi terkadang lupa memikirkan bagaimana agar anaknya hidup dengan kekokohan iman di dada agar hidup lebih berseri. Harta mudah dicari tetapi tak dibawa mati. Namun iman di hati harus serius dicari, karena dia yang menemani sampai dibawa mati.
Hanya iman yang kokoh yang layak diwariskan kepada anak-anak kita. Agar Islam tetap terus terjaga hingga akhir masa. Dan kembali berjaya di dunia ini. Maka, layak kiranya mulai sekarang kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan warisan iman ini untuk anak-anak kita. Jangan sampai terlambat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)
Wallahua'lam bish shawwab []
13 Zulhijjah 1439 H
24 Agustus 2018
#revowriter
#essay
Oleh : Laila Thamrin
Siapa yang tak kenal dengan warisan? Pasti semua orang tahu. Dan kalau bicara warisan, yang terbayang tentulah harta. Tak salah memang. Karena memang seperti itulah adanya.
Warisan merupakan harta yang ditinggalkan seseorang saat dia meninggal dunia. Terkadang harta yang ditinggalkannya ini bisa jadi rebutan. Bahkan perseteruan kaum kerabatnya. Apalagi jika harta yang diwariskan banyak dan menggiurkan. Sudah tabiat manusia menyukai harta. Karena itu memang kesenangan dunia, selain tahta dan wanita.
Beruntung, Islam punya aturan yang jelas berkaitan dengan harta warisan ini. Sehingga, tak perlu payah ahli waris memperebutkan harta si mayit. Tinggal duduk diam saja, jika dia termasuk golongan yang berhak, bagian harta warisan untuknya pun akan didapat.
Namun, sebenarnya tak hanya harta yang layak diperhatikan kala seorang manusia berpulang ke pangkuan Rabbnya. Apalagi jika yang meninggal adalah seseorang yang telah memiliki anak. Ada yang lebih berharga dibanding sekedar uang, rumah, tanah, emas dan permata.
Ayah yang kaya akan mewariskan hartanya pada anak keturunannya. Namun ayah yang salih, tak serta merta mampu mewariskan kesalihannya kepada anaknya. Begitu pun ibu yang ahli ibadah, tak menjamin anaknya menjadi ahli ibadah pula. Lalu bagaimana?
Anak akan mewarisi kesalihan ayah dan ibunya jikalau iman ditanamkan dalam dadanya. Diajarkan tentang keimanan terhadap Rabbnya sejak kecil. Ditanamkan bahwa Allah itu Al Khalik (Maha Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Maha Pengatur). Dikuatkan setiap saat dengan pelaksanaan syariatNya dalam keseharian. Karena Allah juga Maha Mengetahui, sehingga saat manusia lalai dalam melaksanakan perintahNya, Allah pasti tahu.
Karenanya tugas orangtua lah mendidik anak-anaknya dengan iman dan Islam. Sehingga, andai Allah memanggil ayah dan ibunya, anak telah mewarisi iman yang kokoh dan Islam yang kuat. Pahala ayah ibunya pun akan terus mengalir melampaui usianya. Sebab anak yang salih pasti akan melakukan kebaikan dimana saja dan dalam kondisi apapun jua. Dia juga senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, meski keduanya telah tiada.
Lihatlah bagaimana seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi yang diabadikan Allah dalam Alquran kala menasihati anaknya. Meski dia hanyalah seorang budak, namun keimanan dan kecerdasan akalnya telah menjadikan pembelajaran berharga bagi umat Muhammad Saw. Ya, dialah Luqmanul Hakim, yang bisa kita ikuti nasihatnya kepada anaknya dalam Alquran Surah Luqman.
Allah Swt berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Begitu pula saat beliau memberikan nasihat lainnya pada anaknya. Seperti firman Allah Swt :
"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16)
Jelas sekali pada ayat itu Luqman menasihati anaknya dengan nasihat yang jitu. Iman kepada Allah Swt sebagai pondasi yang utama, dan tak menduakanNya pada apapun jua. Lalu berikutnya, pengikat iman tersebut agar tak goyah adalah keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala hal yang manusia kerjakan. Meski perbuatan sangat sepele sekalipun, semisal buang angin yang tak terlihat pelakunya oleh siapapun, namun terasa jelas aromanya. Hingga tak ada yang bisa menuduh siapa pelakunya. Namun Allah pasti tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meski tak ada pengakuan dari mulut si pelaku.
Banyak dari orang tua sekarang yang sibuk memikirkan anaknya kelak hidup berkecukupan materi. Tapi terkadang lupa memikirkan bagaimana agar anaknya hidup dengan kekokohan iman di dada agar hidup lebih berseri. Harta mudah dicari tetapi tak dibawa mati. Namun iman di hati harus serius dicari, karena dia yang menemani sampai dibawa mati.
Hanya iman yang kokoh yang layak diwariskan kepada anak-anak kita. Agar Islam tetap terus terjaga hingga akhir masa. Dan kembali berjaya di dunia ini. Maka, layak kiranya mulai sekarang kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan warisan iman ini untuk anak-anak kita. Jangan sampai terlambat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)
Wallahua'lam bish shawwab []
13 Zulhijjah 1439 H
24 Agustus 2018
#revowriter
#essay
Jumat, 20 Juli 2018
Mutiara dari Bumi Lambung Mangkurat
“Rambutnya yang cukup panjang dan disanggul rapi telah putus diterjang peluru. Sedang lengannya yang kiri ditembus pula oleh peluru yang lain sehingga badannya bergelimang darah. Baju dan celana compang camping, darahnya mengalir membasahi tubuh, namun air matanya tak pernah jatuh setetes pun menyesali perjuangannya itu. Wasiat almarhum ayah dan suaminya sebelum masuk perangkap Belanda tetap dipegang teguh.” (Anggraeni Antemas dalam artikelnya di Harian Utama edisi 26 September 1970 yang berjudul ‘Mengenang Kembali Perdjuangan Pahlawan Puteri Kalimantan Gusti Zaleha)
*****
Pada tahun 1880, tepatnya di Muara Lawung, daerah lembah sungai Barito, lahirlah seorang bayi mungil dari Nyai Salmah, isteri Sultan Muhammad Seman. Bayi perempuan ini diberi nama Gusti Zaleha. Perang Banjar yang bermula sejak tahun 1859, dan dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari, telah mewarnai awal hidupnya. Karenanya, masa kecilnya telah lekat dengan nuansa perjuangan melawan kolonialisme Belanda.
Terlahir sebagai cucu Pangeran Antasari, seorang pejuang perang melawan Belanda di Kalimantan Selatan. Putri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari ini bergelar Ratu Zaleha. Gelar ini diberikan tersebab seutas cincin yang diberikan ayahnya sebelum ayahnya wafat. Cincin yang hanya boleh dipakai oleh seorang Raja. Dan kala itu ayahnya, adalah seorang Raja Kerajaan Banjar yang terusir oleh Belanda. Dan sejak ayahnya mangkat, gelar Ratupun disematkan pada Zaleha. Sehingga namanya menjadi Ratu Zaleha.
Ratu Zaleha mewarisi darah bangsawan dari kakeknya, sekaligus darah seorang pejuang yang gigih mengusir serdadu Belanda keluar dari Bumi Lambung Mangkurat. Meski ditakdirkan sebagai perempuan, namun tak menghalanginya untuk mengangkat senjata dan bergerilya melanjutkan perjuangan ayah dan kakeknya.
Hingga beranjak remaja, Ratu Zaleha telah ikut berjuang bersama ayahnya. Keluar masuk hutan di Kalimantan guna menyusun strategi penyerangan terhadap penjajah Belanda. Dia juga meraih dukungan perjuangan dari suku-suku Dayak pedalaman, suku asli di Kalimantan.
Ada suku Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai, Suku Banjar. Dan salah seorang tokoh perempuan Dayak Kenyah, bernama Bulan Jihad yang menjadi muallaf, ikut berjuang bersamanya.
Berdua dengan Bulan Jihad, Ratu Zaleha juga memberikan pengajaran kepada masyarakat Banjar. Dia yang cerdas mampu mengajari anak-anak baca tulis huruf Arab Melayu dan ajaran agama Islam. Mereka berdua juga memberikan pendidikan tentang Islam dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya kepada perempuan-perempuan Banjar yang terjajah oleh Belanda.
Kehidupan perjuangan dilaluinya dengan penuh semangat. Keluar masuk hutan, mendaki dan menuruni pegunungan sudah biasa dilakukannya. Apalagi dia menikah dengan seorang pejuang pula. Gusti Muhammad Arsyad, lelaki beruntung yang mempersuntingnya. Dari keturunan yang segaris dengannya.
Pasangan Ratu Zaleha dan Gusti Muhammad Arsyad memiliki satu kakek yang sama, yaitu Pangeran Antasari. Ayah kedua sejoli ini bersaudara. Mereka anaknya Pangeran Antasari dari ibu yang berbeda, yaitu Gusti Muhammad Seman dan Gusti Muhammad Said. Semua dari keluarga kerajaan Banjar. Dan kehidupan perjuanganpun semakin menggelora dalam keluarganya, meski seharusnya mereka semua berada dalam istana. Namun, hidup di benteng-benteng pertahanan yang selalu berpindah-pindah justru lebih mereka pilih. Daripada menyerahkan urusan hidupnya di tangan kolonial Belanda.
Semangat perjuangan dari sang kakek tetap dipegang teguh keluarga Ratu Zaleha ini. Slogan perjuangan "Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing" yang digaungkan kakeknya pertama kali, telah tertanam kuat dalam dirinya. Apalagi kolaborasi kekuatan jiwa ayah dan suaminya dalam perjuangan ini membuat Ratu Zaleha tak pernah berpatah arang dalam berjuang. Hingga dia mendapat julukan macan wanita yang terus melawan Belanda.
Kegigihannya dalam perjuangan ini membuat Belanda terus memburunya. Dia telah jadi target utama Belanda, karena Belanda menganggap kelompok keluarga _Pegustian_ (sebutan untuk kaum bangsawan Banjar) berbahaya bagi posisinya. Berbagai macam cara dan taktik diupayakan Belanda. Namun Ratu Zaleha dan kelompoknya belum tertangkap jua.
Hingga pada tahun 1905 terjadi pertempuran sengit antara pasukan Ratu Zaleha dan ayahnya dengan Belanda. Dua kelompok ini berhadapan dan saling baku tembak. Pasukan Ratu Zaleha bertahan di benteng Manawing, Kalang Barah-Sungai Manawing di lembah Sungai Barito. Pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Hans Christoffel, seorang pemimpin yang berpengalaman di medan tempur Perang Aceh.
Kondisi alam di Sumatera yang mirip dengan Kalimantan, membuat pasukan tentara marsose Belanda mampu menandingi kelihaian perang gerilya pasukan Ratu Zaleha.
Untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Meski segala daya upaya telah dikerahkan oleh seluruh pasukan Ratu Zaleha, namun takdir telah dituliskan. Ayahandanya tercinta Sultan Muhammad Seman gugur. Kesedihan mendalampun dirasakan Ratu Zaleha. Belum kering airmatanya tersebab sebelumnya suami terkasih dipaksa menyerahkan diri pada Belanda. Karena terdesak tak mampu melawan lagi, akhirnya sang suamipun rela diasingkan ke Buitenzorg (sekarang kota Bogor) pada 1 Agustus 1904.
Gugurnya Sultan Muhammad Seman menandai Perang Banjar berakhir, dimana benteng Manawing berhasil dikuasai Belanda. Hal ini memaksa Ratu Zaleha dan pasukannya, juga Nyai Salmah, ibunya untuk menyelamatkan diri. Meski airmata tak mampu disembunyikan, tetapi kekuatan jiwanya menuntutnya untuk tidak menyerah kepada lawan begitu saja. Tak pernah sekalipun airmatanya menetes karena penyesalan memilih jalan perjuangan ini.
Mereka memasuki daerah Lahey, kemudian lanjut ke Mea. Ini merupakan sebuah perkampungan di tepian Sungai Barito, tepatnya di daerah Teweh Hulu. Daerah ini dipandang cukup aman karena terisolir. Merupakan daerah pedalaman Kalimantan yang sulit ditembus bagi para pendatang dari luar yang tak kenal medannya.
Perjuangan belumlah usai. Belanda terus mengejar Ratu Zaleha. Posisinyapun tercium oleh Belanda. Ratu Zaleha tak kenal takut. Dengan bersenjatakan kelewang, senjata khas Kalimantan, diapun menebas leher para serdadu Belanda. Keberaniannya patut ditiru. Bahkan saat Belanda membakar hutan disekeliling persembunyiannya, dia tetap berusaha melakukan perlawanan.
Dia lari dan bersembunyi di salah satu rumah penduduk. Pemilik rumahpun membukakan pintu dan memberikan pelayanan padanya. Dipersilakan mandi dan disediakan baju ganti oleh si pemilik rumah. Tetapi, kebaikannya ternyata semu. Seusai Ratu Zaleha mandi dan telah wangi, ternyata pasukan Belanda telah menantinya. Diapun tak mampu berkutik lagi. Berpasrah diri pada Illahi saat dibawa pergi oleh sang penjajah. Ternyata, si pemilik rumah telah berkhianat pada perjuangan rakyatnya sendiri.
Ratu Zalehapun diasingkan ke Buitenzorg, menyusul suami tercinta. Begitupun ibunya, Nyai Salmah. Merekapun melewati hari-hari tuanya di pengasingan selama 30 tahun lebih. Di tahun 1937, Belanda memulangkannya ke Banjarmasin.
Kondisi fisik yang mulai menua menyebabkan dia mulai sakit-sakitan. Begitupun sang suami. Dan manusia tak mampu menghalangi kala ajal datang menjemput. Gusti Muhammad Arsyad kembali keharibaanNya pada tahun 1941. Sementara Ratu Zaleha menyusul kemudian di tahun 1953, tepat pada tanggal 24 September. Dia dimakamkan di Komplek Makam Pahlawan Perang Banjar di Jalan Masjid Jami Banjarmasin. Berdekatan dengan kakeknya, Pangeran Antasari.
Ratu Zaleha adalah simbol kekuatan seorang perempuan. Kekuatan perjuangan dalam melawan penjajahan. Pengorbanan dan keteguhan hatinya layak ditiru oleh para pejuang saat ini. Khususnya para pejuang penegakkan syariat Islam. Dimana keberanian, kekokohan jiwa dan keyakinan akan kemenangan tergambar jelas dalam episode kehidupan Ratu Zaleha ini. Dialah satu mutiara dari Bumi Lambung Mangkurat. []
Laila Thamrin
Praktisi Pendidikan
(20072018)
Sumber :
1. http://pahlawanbanua.blogspot.com/2017/10/ratu-zaleha-aluh-idut-ketangguhan-2.html?m=1
2. http://googleweblight.com/i?u=http://kabarbanjarmasin.com/posting/ratu-zaleha-pahlawan-wanita-dari-kalimantan.html&hl=id-ID
3. https://googleweblight.com/i?u=https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ratu_Zaleha&hl=id-ID
4. http://suluhbanjar.blogspot.com/2011/09/ratu-jaleha-srikandi-gagah-berani-dalam.html?m=0
#PR3
#FeatureBiografi
#PahlawanBanjar
#PejuangPerempuan
#PerempuanHebat
*****
Pada tahun 1880, tepatnya di Muara Lawung, daerah lembah sungai Barito, lahirlah seorang bayi mungil dari Nyai Salmah, isteri Sultan Muhammad Seman. Bayi perempuan ini diberi nama Gusti Zaleha. Perang Banjar yang bermula sejak tahun 1859, dan dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari, telah mewarnai awal hidupnya. Karenanya, masa kecilnya telah lekat dengan nuansa perjuangan melawan kolonialisme Belanda.
Terlahir sebagai cucu Pangeran Antasari, seorang pejuang perang melawan Belanda di Kalimantan Selatan. Putri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari ini bergelar Ratu Zaleha. Gelar ini diberikan tersebab seutas cincin yang diberikan ayahnya sebelum ayahnya wafat. Cincin yang hanya boleh dipakai oleh seorang Raja. Dan kala itu ayahnya, adalah seorang Raja Kerajaan Banjar yang terusir oleh Belanda. Dan sejak ayahnya mangkat, gelar Ratupun disematkan pada Zaleha. Sehingga namanya menjadi Ratu Zaleha.
Ratu Zaleha mewarisi darah bangsawan dari kakeknya, sekaligus darah seorang pejuang yang gigih mengusir serdadu Belanda keluar dari Bumi Lambung Mangkurat. Meski ditakdirkan sebagai perempuan, namun tak menghalanginya untuk mengangkat senjata dan bergerilya melanjutkan perjuangan ayah dan kakeknya.
Hingga beranjak remaja, Ratu Zaleha telah ikut berjuang bersama ayahnya. Keluar masuk hutan di Kalimantan guna menyusun strategi penyerangan terhadap penjajah Belanda. Dia juga meraih dukungan perjuangan dari suku-suku Dayak pedalaman, suku asli di Kalimantan.
Ada suku Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai, Suku Banjar. Dan salah seorang tokoh perempuan Dayak Kenyah, bernama Bulan Jihad yang menjadi muallaf, ikut berjuang bersamanya.
Berdua dengan Bulan Jihad, Ratu Zaleha juga memberikan pengajaran kepada masyarakat Banjar. Dia yang cerdas mampu mengajari anak-anak baca tulis huruf Arab Melayu dan ajaran agama Islam. Mereka berdua juga memberikan pendidikan tentang Islam dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya kepada perempuan-perempuan Banjar yang terjajah oleh Belanda.
Kehidupan perjuangan dilaluinya dengan penuh semangat. Keluar masuk hutan, mendaki dan menuruni pegunungan sudah biasa dilakukannya. Apalagi dia menikah dengan seorang pejuang pula. Gusti Muhammad Arsyad, lelaki beruntung yang mempersuntingnya. Dari keturunan yang segaris dengannya.
Pasangan Ratu Zaleha dan Gusti Muhammad Arsyad memiliki satu kakek yang sama, yaitu Pangeran Antasari. Ayah kedua sejoli ini bersaudara. Mereka anaknya Pangeran Antasari dari ibu yang berbeda, yaitu Gusti Muhammad Seman dan Gusti Muhammad Said. Semua dari keluarga kerajaan Banjar. Dan kehidupan perjuanganpun semakin menggelora dalam keluarganya, meski seharusnya mereka semua berada dalam istana. Namun, hidup di benteng-benteng pertahanan yang selalu berpindah-pindah justru lebih mereka pilih. Daripada menyerahkan urusan hidupnya di tangan kolonial Belanda.
Semangat perjuangan dari sang kakek tetap dipegang teguh keluarga Ratu Zaleha ini. Slogan perjuangan "Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing" yang digaungkan kakeknya pertama kali, telah tertanam kuat dalam dirinya. Apalagi kolaborasi kekuatan jiwa ayah dan suaminya dalam perjuangan ini membuat Ratu Zaleha tak pernah berpatah arang dalam berjuang. Hingga dia mendapat julukan macan wanita yang terus melawan Belanda.
Kegigihannya dalam perjuangan ini membuat Belanda terus memburunya. Dia telah jadi target utama Belanda, karena Belanda menganggap kelompok keluarga _Pegustian_ (sebutan untuk kaum bangsawan Banjar) berbahaya bagi posisinya. Berbagai macam cara dan taktik diupayakan Belanda. Namun Ratu Zaleha dan kelompoknya belum tertangkap jua.
Hingga pada tahun 1905 terjadi pertempuran sengit antara pasukan Ratu Zaleha dan ayahnya dengan Belanda. Dua kelompok ini berhadapan dan saling baku tembak. Pasukan Ratu Zaleha bertahan di benteng Manawing, Kalang Barah-Sungai Manawing di lembah Sungai Barito. Pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Hans Christoffel, seorang pemimpin yang berpengalaman di medan tempur Perang Aceh.
Kondisi alam di Sumatera yang mirip dengan Kalimantan, membuat pasukan tentara marsose Belanda mampu menandingi kelihaian perang gerilya pasukan Ratu Zaleha.
Untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Meski segala daya upaya telah dikerahkan oleh seluruh pasukan Ratu Zaleha, namun takdir telah dituliskan. Ayahandanya tercinta Sultan Muhammad Seman gugur. Kesedihan mendalampun dirasakan Ratu Zaleha. Belum kering airmatanya tersebab sebelumnya suami terkasih dipaksa menyerahkan diri pada Belanda. Karena terdesak tak mampu melawan lagi, akhirnya sang suamipun rela diasingkan ke Buitenzorg (sekarang kota Bogor) pada 1 Agustus 1904.
Gugurnya Sultan Muhammad Seman menandai Perang Banjar berakhir, dimana benteng Manawing berhasil dikuasai Belanda. Hal ini memaksa Ratu Zaleha dan pasukannya, juga Nyai Salmah, ibunya untuk menyelamatkan diri. Meski airmata tak mampu disembunyikan, tetapi kekuatan jiwanya menuntutnya untuk tidak menyerah kepada lawan begitu saja. Tak pernah sekalipun airmatanya menetes karena penyesalan memilih jalan perjuangan ini.
Mereka memasuki daerah Lahey, kemudian lanjut ke Mea. Ini merupakan sebuah perkampungan di tepian Sungai Barito, tepatnya di daerah Teweh Hulu. Daerah ini dipandang cukup aman karena terisolir. Merupakan daerah pedalaman Kalimantan yang sulit ditembus bagi para pendatang dari luar yang tak kenal medannya.
Perjuangan belumlah usai. Belanda terus mengejar Ratu Zaleha. Posisinyapun tercium oleh Belanda. Ratu Zaleha tak kenal takut. Dengan bersenjatakan kelewang, senjata khas Kalimantan, diapun menebas leher para serdadu Belanda. Keberaniannya patut ditiru. Bahkan saat Belanda membakar hutan disekeliling persembunyiannya, dia tetap berusaha melakukan perlawanan.
Dia lari dan bersembunyi di salah satu rumah penduduk. Pemilik rumahpun membukakan pintu dan memberikan pelayanan padanya. Dipersilakan mandi dan disediakan baju ganti oleh si pemilik rumah. Tetapi, kebaikannya ternyata semu. Seusai Ratu Zaleha mandi dan telah wangi, ternyata pasukan Belanda telah menantinya. Diapun tak mampu berkutik lagi. Berpasrah diri pada Illahi saat dibawa pergi oleh sang penjajah. Ternyata, si pemilik rumah telah berkhianat pada perjuangan rakyatnya sendiri.
Ratu Zalehapun diasingkan ke Buitenzorg, menyusul suami tercinta. Begitupun ibunya, Nyai Salmah. Merekapun melewati hari-hari tuanya di pengasingan selama 30 tahun lebih. Di tahun 1937, Belanda memulangkannya ke Banjarmasin.
Kondisi fisik yang mulai menua menyebabkan dia mulai sakit-sakitan. Begitupun sang suami. Dan manusia tak mampu menghalangi kala ajal datang menjemput. Gusti Muhammad Arsyad kembali keharibaanNya pada tahun 1941. Sementara Ratu Zaleha menyusul kemudian di tahun 1953, tepat pada tanggal 24 September. Dia dimakamkan di Komplek Makam Pahlawan Perang Banjar di Jalan Masjid Jami Banjarmasin. Berdekatan dengan kakeknya, Pangeran Antasari.
Ratu Zaleha adalah simbol kekuatan seorang perempuan. Kekuatan perjuangan dalam melawan penjajahan. Pengorbanan dan keteguhan hatinya layak ditiru oleh para pejuang saat ini. Khususnya para pejuang penegakkan syariat Islam. Dimana keberanian, kekokohan jiwa dan keyakinan akan kemenangan tergambar jelas dalam episode kehidupan Ratu Zaleha ini. Dialah satu mutiara dari Bumi Lambung Mangkurat. []
Laila Thamrin
Praktisi Pendidikan
(20072018)
Sumber :
1. http://pahlawanbanua.blogspot.com/2017/10/ratu-zaleha-aluh-idut-ketangguhan-2.html?m=1
2. http://googleweblight.com/i?u=http://kabarbanjarmasin.com/posting/ratu-zaleha-pahlawan-wanita-dari-kalimantan.html&hl=id-ID
3. https://googleweblight.com/i?u=https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ratu_Zaleha&hl=id-ID
4. http://suluhbanjar.blogspot.com/2011/09/ratu-jaleha-srikandi-gagah-berani-dalam.html?m=0
#PR3
#FeatureBiografi
#PahlawanBanjar
#PejuangPerempuan
#PerempuanHebat
Langganan:
Postingan (Atom)



















