Oleh : Laila Thamrin
Telah lama Barat menganggap bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang mereka raih, karena mereka fokus pada kehidupan dunia dan meninggalkan agama. Karena sejarah panjang era kegelapan telah membuat mereka alergi terhadap agama.
Berbeda dengan Islam. Sebagai ideologi, Islam justru tak memisahkan urusan kehidupan dengan agama. Semua satu kesatuan yang menyeluruh dan tak bisa dipisahkan. Bahkan karena keagungan ajaran Islam, muncullah para ilmuwan Islam yang diakui dunia. Mereka tak sekedar ilmuwan, tapi juga sekaligus menjadi ahli ibadah, ahli hadits, ahli ilmu alquran dan berbagai gelar lainnya yang tersemat.
Sejarah mencatat bahwa lahirnya para ilmuwan muslim ini justru saat mereka hidup dalam naungan syariat Islam, naungan Khilafah Islamiyah. Sebelum Islam datang, bangsa arab hanya mengenal ilmu sejarah dan geografi hanya sedikit. Tetapi, sejak Islam tegak mengharuskan perluasan wilayah dengan jihad. Sehingga kaum muslimin haruslah menjelajah berbagai daerah. Menempuh daratan, gunung, lembah, sungai, lautan dan berbagai bentang alam lainnya. Dari sini, berkembanglah ilmu sejarah dan geografi dari para ilmuwan muslim.
Tak hanya itu, kaum muslimin juga mulai mempelajari tentang hewan dan tumbuhan. Hewan-hewan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Juga tumbuhan yang berguna bagi pengobatan. Sehingga ilmu zoologi dan botani juga digeluti oleh para ilmuwan muslim demi keberlangsungan hidup manusia.
Sekolah-sekolah juga kemudian dibangun oleh khalifah. Pada masa Khilafah Bani Abbasiyah, khususnya zaman Khalifah al-Mansur dan Khalifah al-Makmun, banyak aktivitas dilakukan untuk menerjemahkan karya ilmiah. Dan pada akhir abad ke-10 telah banyak karya ilmiah penting yang dihasilkan. Banyak para penerjemah yang terkenal dari berbagai suku bangsa, seperti Naubakht dari Persia dan Muhammad bin Ibrahim al-Fazari dari Arab.
Tak cukup sampai disitu, berbagai bidang ilmu lainnya pun dikuasai oleh para ilmuwan muslim. Kita mengenal sebagian nama-nama mereka hingga saat ini. Sebut saja al-Biruni yang terkenal di bidang kimia dan botani, al-Idrisi di bidang geografi, Ibnu Sina di bidang kedokteran, al-Khawarizmi di bidang matematika, dan sederet nama-nama ilmuwan lainnya.
Dan yang paling membanggakan bahwasanya ilmu yang mereka temukan tetap dijadikan sebagai acuan bagi ilmu-ilmu terapan masa kini. Dari merekalah akhirnya kita bisa mengenal arah kiblat, arah mata angin, memilih menu makanan sehat, memasak dengan cara mudah dan cepat, dan lain sebagainya.
Inilah karya ilmuwan muslim di masa keemasan peradaban Islam. Yang menjadi dasar berkembangnya ilmu pengetahuan selanjutnya. Semua tak lepas dari peran negara yang memberikan ruang dan kesempatan besar pada mereka. Memberikan fasilitas secara cuma-cuma untuk mereka belajar dan mengembangkan risetnya. Sarana dan prasarana berupa bangunan sekolah dan asrama, buku-buku yang diperlukan, alat-alat laboratorium untuk penelitian, dan lain sebagainya. Bahkan, perpustakaan menjadi perhatian negara pula. Dan terus di dorong oleh negara agar kaum muslimin mencintai ilmu. Hingga karya-karya mereka dibukukan dengan rapi dan menjadi bahan literatur generasi selanjutnya.
Demikianlah warisan peradaban Islam yang kita miliki. Sejatinya, warisan ini tetap terjaga dalam naungan Khilafah Islamiyah. Namun sayang, saat ini warisan peradaban Islam ini tenggelam dalam hiruk pikuk kapitalisme yang menyelimuti dunia. Sehingga, banyak generasi muda Islam tak kenal dengan peradabannya sendiri. Kini saatnya kita berjuang untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah tegak di muka bumi. Agar peradaban Islam kembali berdiri dan kokoh hingga akhir zaman nanti.[]
#postingbareng
#peradabanIslam
#peradabanliterat
#miladrevowriter
#revowriter5
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 April 2019
Rabu, 06 Maret 2019
#SerialTaqarrubIlallah01
Oleh : Laila Thamrin
Ihsanu al-'Amal
Allah Swt berfirman :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al Mulk[67] : 2)
Ihsanu al-'Amal bermakna amal yang baik. Menurut para imam salaf rahimahullah, supaya amal itu menjadi baik maka harus terkandung dua hal di dalamnya. Pertama, ikhlas semata-semata melakukannya karena Allah. Kedua, sesuai dengan syara'.
Sebagaimana ucapan seorang tokoh terkemuka di masa tabi'it tabi'in, Fudhail bin 'Iyadh tentang surah al-Mulk ayat 2 tersebut. Dia berkata, "Yakni yang paling ikhlas dan yang paling benar." Lalu dikatakan, "Wahai Abu 'Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling benar?" Dia berkata, "Sesungguhnya amal perbuatan itu jika tepat tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima. Sebaliknya, jika ikhlas tapi tidak benar, juga tidak diterima. Amal tidak diterima sampai merupakan amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas adalah amal dilakukan karena Allah. Dan benar adalah berada di atas as-sunnah."
Begitu gamblang apa yang diterangkan oleh Fudhail bin 'Iyadh tentang amal yang baik ini. Maka, perlu kiranya kita menengok kembali ke belakang, sudahkah amal kita memenuhi dua kriteria ini? Dan yakinkah kita bahwa amal kita akan terima Allah Swt?
Terkadang kita lupa untuk meniatkan amal kita hanya karena Allah. Tapi inginnya terlihat baik di mata manusia. Nastaghfirullah!
Apalagi jika ternyata yang kita lakukan tak ada syari'atnya dalam Islam. Bagaimana amal kita bisa diterima oleh-Nya?
Contoh nih, seseorang yang suka berderma ke anak yatim, juga kaum gelandangan dan orang-orang miskin lainnya. Niatnya sedekah sih, tapi setelahnya tebar berita ke medsos. Akhirnya pujian pun mengalir padanya. Nah, yang begini hati-hati ya amalnya tertolak. Karena niatnya tak ikhlas, meski caranya sesuai syariat Islam.
Atau berderma secara ikhlas karena Allah, tak menyebarkan beritanya kemanapun. Namun harta yang disumbangkan dari hasil keringat yang tak halal, semisal korupsi, berjudi, jualan narkoba, atau hasil kecurangan dalam berdagang. Maka yang demikian pun bisa tertolak amalnya.
Al-Hasan bin ar-Rabi' mengatakan tentang jihadnya al-Imam al-Jalil Abdullah bin al-Mubarak : Seorang penunggang kuda keluar dari barisan pasukan kaum Muslim seraya mengenakan penutup wajah lalu membunuh tentara Persia yang membunuh kaum Muslim, maka kaum Muslim pun bertakbir untuknya. Lalu dia masuk ke tengah kerumunan orang dan tidak ada seorang pun yang mengetahui dia. Aku ikuti dia sampai aku memintanya karena Allah agar dia mengangkat penutup wajahnya maka aku pun mengenalnya, lalu aku katakan, "Engkau sembunyikan diri dengan kemenangan besar yang Allah Swt mudahkan melalui kedua tanganmu?" Maka dia berkata,"Apa yang aku lakukan untuk Dia (Allah Swt) maka tidak tersembunyi bagi-Nya."
Begitulah gambaran amal seseorang yang ikhlas karena Allah Swt dan sesuai dengan syara'. Amal seperti inilah yang akan diterima oleh Allah. Tak peduli apakah manusia lainnya melihat atau tidak apa kebaikan yang dia lakukan, yang penting Allah tahu dan ridha' atasnya, itu cukup baginya.
Karenanya, bagi setiap Muslim harus terus memupuk sifat seperti ini sebagai upaya taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Yang beramal kebaikan sesuai hukum syara' dan melakukannya ikhlas karena Allah semata. Dan inilah sebaik-baik amal yang akan mendatangkan pahala.
Batola, 06032019
#OPEy2019
#Part7
#Day3
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Ihsanu al-'Amal
Allah Swt berfirman :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al Mulk[67] : 2)
Ihsanu al-'Amal bermakna amal yang baik. Menurut para imam salaf rahimahullah, supaya amal itu menjadi baik maka harus terkandung dua hal di dalamnya. Pertama, ikhlas semata-semata melakukannya karena Allah. Kedua, sesuai dengan syara'.
Sebagaimana ucapan seorang tokoh terkemuka di masa tabi'it tabi'in, Fudhail bin 'Iyadh tentang surah al-Mulk ayat 2 tersebut. Dia berkata, "Yakni yang paling ikhlas dan yang paling benar." Lalu dikatakan, "Wahai Abu 'Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling benar?" Dia berkata, "Sesungguhnya amal perbuatan itu jika tepat tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima. Sebaliknya, jika ikhlas tapi tidak benar, juga tidak diterima. Amal tidak diterima sampai merupakan amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas adalah amal dilakukan karena Allah. Dan benar adalah berada di atas as-sunnah."
Begitu gamblang apa yang diterangkan oleh Fudhail bin 'Iyadh tentang amal yang baik ini. Maka, perlu kiranya kita menengok kembali ke belakang, sudahkah amal kita memenuhi dua kriteria ini? Dan yakinkah kita bahwa amal kita akan terima Allah Swt?
Terkadang kita lupa untuk meniatkan amal kita hanya karena Allah. Tapi inginnya terlihat baik di mata manusia. Nastaghfirullah!
Apalagi jika ternyata yang kita lakukan tak ada syari'atnya dalam Islam. Bagaimana amal kita bisa diterima oleh-Nya?
Contoh nih, seseorang yang suka berderma ke anak yatim, juga kaum gelandangan dan orang-orang miskin lainnya. Niatnya sedekah sih, tapi setelahnya tebar berita ke medsos. Akhirnya pujian pun mengalir padanya. Nah, yang begini hati-hati ya amalnya tertolak. Karena niatnya tak ikhlas, meski caranya sesuai syariat Islam.
Atau berderma secara ikhlas karena Allah, tak menyebarkan beritanya kemanapun. Namun harta yang disumbangkan dari hasil keringat yang tak halal, semisal korupsi, berjudi, jualan narkoba, atau hasil kecurangan dalam berdagang. Maka yang demikian pun bisa tertolak amalnya.
Al-Hasan bin ar-Rabi' mengatakan tentang jihadnya al-Imam al-Jalil Abdullah bin al-Mubarak : Seorang penunggang kuda keluar dari barisan pasukan kaum Muslim seraya mengenakan penutup wajah lalu membunuh tentara Persia yang membunuh kaum Muslim, maka kaum Muslim pun bertakbir untuknya. Lalu dia masuk ke tengah kerumunan orang dan tidak ada seorang pun yang mengetahui dia. Aku ikuti dia sampai aku memintanya karena Allah agar dia mengangkat penutup wajahnya maka aku pun mengenalnya, lalu aku katakan, "Engkau sembunyikan diri dengan kemenangan besar yang Allah Swt mudahkan melalui kedua tanganmu?" Maka dia berkata,"Apa yang aku lakukan untuk Dia (Allah Swt) maka tidak tersembunyi bagi-Nya."
Begitulah gambaran amal seseorang yang ikhlas karena Allah Swt dan sesuai dengan syara'. Amal seperti inilah yang akan diterima oleh Allah. Tak peduli apakah manusia lainnya melihat atau tidak apa kebaikan yang dia lakukan, yang penting Allah tahu dan ridha' atasnya, itu cukup baginya.
Karenanya, bagi setiap Muslim harus terus memupuk sifat seperti ini sebagai upaya taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Yang beramal kebaikan sesuai hukum syara' dan melakukannya ikhlas karena Allah semata. Dan inilah sebaik-baik amal yang akan mendatangkan pahala.
Batola, 06032019
#OPEy2019
#Part7
#Day3
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
#SerialTaqarrubIlallah
Oleh : Laila Thamrin
Disarikan dari Kitab "Taqarrub Ilallah" karya Fauziy Sinuqruth.
InsyaAllah enam hari ke depan akan kita ulas bagian-bagian dari buku ini.
========================
Mukaddimah
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati." (QS. al-Ahqaf[46] : 13)
Istiqomah. Satu kata yang singkat, namun dalam maknanya. Secara umum istiqomah bermakna konsisten menjalankan kebaikan dan teguh dalam pendirian menjalankan apa yang diridhoi oleh Allah Swt.
Bagi seorang mukmin, menjaga keistiqomahan merupakan perjuangan. Apalagi di tengah terpaan pemikiran Barat yang kian menderas. Umat Islam diserang dari berbagai sisi. Dilabeling dengan berbagai cap menyudutkan, semisal teroris, fundamentalis, radikalis, ekstrimis, dan sebagainya. Lalu menegatifkan ungkapan-ungkapan yang berasal dari Islam sehingga terkesan sederhana atau bahkan buruk, padahal memiliki makna yang berseberangan dengan yang mereka gaungkan, seperti jihad, poligami, kafir, dsb. Sungguh, dalam kondisi seperti ini seorang mukmin wajib untuk tetap istiqomah dengan Dienullah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Ahqaf ayat 13 tersebut di atas.
Dan agar keteguhan kita berpegang pada tali agama Allah tetap kokoh, maka sangat penting kita untuk menguatkan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) kita. Dan tentu saja Islam sebagai landasan pijakannya. Agar tetap terjaga kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) di dalam diri kita sebagai seorang mukmin.
Karenanya, bertaqarrub ilallah merupakan salah satu upaya agar kekuatan Syakhsiyah Islamiyah kita tetap terjaga. Memperbaiki niat, membaca Alquran, memperbanyak amalan nafilah, mengelokkan akhlak, memperbanyak doa, dzikir dan istighfar, dan perkara-perkara lainnya. Maka jika kita telah dekat kepada Allah Swt, apapun yang kita minta selama tak menyalahi syariat-Nya, maka Allah akan mudah mengabulkannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil." (HR. Bukhari).
Maka, apa lagi yang menghalangi kita untuk bersegera merapat kepada-Nya? Padahal fajar kemenangan semakin mendekat ke hadapan kita. Agar doa kita segera diijabah oleh-Nya. Dan kejayaan peradaban Islam segera kembali berada di genggaman umat Islam.
Allahu Akbar!
Batola, 05032019
#OPEy2019
#Part7
#Day2
#MenyalaBersamaRevowriter
#Gemesda
#Revowriter5
Disarikan dari Kitab "Taqarrub Ilallah" karya Fauziy Sinuqruth.
InsyaAllah enam hari ke depan akan kita ulas bagian-bagian dari buku ini.
========================
Mukaddimah
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati." (QS. al-Ahqaf[46] : 13)
Istiqomah. Satu kata yang singkat, namun dalam maknanya. Secara umum istiqomah bermakna konsisten menjalankan kebaikan dan teguh dalam pendirian menjalankan apa yang diridhoi oleh Allah Swt.
Bagi seorang mukmin, menjaga keistiqomahan merupakan perjuangan. Apalagi di tengah terpaan pemikiran Barat yang kian menderas. Umat Islam diserang dari berbagai sisi. Dilabeling dengan berbagai cap menyudutkan, semisal teroris, fundamentalis, radikalis, ekstrimis, dan sebagainya. Lalu menegatifkan ungkapan-ungkapan yang berasal dari Islam sehingga terkesan sederhana atau bahkan buruk, padahal memiliki makna yang berseberangan dengan yang mereka gaungkan, seperti jihad, poligami, kafir, dsb. Sungguh, dalam kondisi seperti ini seorang mukmin wajib untuk tetap istiqomah dengan Dienullah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Ahqaf ayat 13 tersebut di atas.
Dan agar keteguhan kita berpegang pada tali agama Allah tetap kokoh, maka sangat penting kita untuk menguatkan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) kita. Dan tentu saja Islam sebagai landasan pijakannya. Agar tetap terjaga kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) di dalam diri kita sebagai seorang mukmin.
Karenanya, bertaqarrub ilallah merupakan salah satu upaya agar kekuatan Syakhsiyah Islamiyah kita tetap terjaga. Memperbaiki niat, membaca Alquran, memperbanyak amalan nafilah, mengelokkan akhlak, memperbanyak doa, dzikir dan istighfar, dan perkara-perkara lainnya. Maka jika kita telah dekat kepada Allah Swt, apapun yang kita minta selama tak menyalahi syariat-Nya, maka Allah akan mudah mengabulkannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil." (HR. Bukhari).
Maka, apa lagi yang menghalangi kita untuk bersegera merapat kepada-Nya? Padahal fajar kemenangan semakin mendekat ke hadapan kita. Agar doa kita segera diijabah oleh-Nya. Dan kejayaan peradaban Islam segera kembali berada di genggaman umat Islam.
Allahu Akbar!
Batola, 05032019
#OPEy2019
#Part7
#Day2
#MenyalaBersamaRevowriter
#Gemesda
#Revowriter5
Kamis, 15 November 2018
Imitasi
"Mama, ini bedak Mama ya? Aku boleh coba?"
"Ma, lipstik ini warnanya apa? Nyobain ya?"
"Ummi, kerudung ummi yang pink mana? Adek pinjem dong!"
"Bu, kaki Dede sudah hampir sama besarnya dengan kaki Ibu. Boleh pinjem sendal bertumitnya gak?"
*****
Pernah ditanya anak gadis yang beranjak baligh atau bahkan sudah baligh seperti ini? Atau malah anak yang lebih kecil lagi yang merengek minta pakai bedak dan lipstik ibunya? Saya yakin, yang punya anak perempuan pasti pernah mengalami yang begini.
Anak memang suka meniru apa yang dilihatnya. Ayah dan bundanya menjadi "role of models" yang utama. Baik anak perempuan maupun laki-laki kecenderungan menirunya sama besarnya. Tapi memang pada anak perempuan biasanya lebih terlihat jelas mengimitasi bundanya.
Kalau anak laki-laki jarang menunjukkan dalam kesehariannya. Tetapi bisa saja kebiasaan-kebiasaan ayahnya sehari-hari akan ditirunya tanpa orangtua menyadarinya. Misalnya nih : makan gak pakai doa, malas sikat gigi malam sebelum tidur, menaruh handuk sesudah mandi sembarangan, habis minum gelasnya digeletakkan sembarang tempat, kaos kaki terserak, de el el. Hayoo....siapa nih yang kebiasaan ayah di rumah seperti ini? 😁
Menurut para ahli psikologi anak, proses meniru atau imitasi adalah hal yang biasa pada anak. Ini adalah bagian pembelajaran pada si anak. Karena setiap makhluk hidup akan mencoba sesuatu yang dicerapnya melalui inderanya. Baik dengan melihat, mendengar, membaui, mengecap ataupun meraba. Bahkan ini adalah proses awal lahirnya sebuah pemikiran yang brillian di kemudian hari. Sebab, setiap pengalaman yang diperoleh anak akan tersimpan rapi di memori otaknya.
Yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua muslim tentu apa yang sejatinya layak mereka lihat, dengar, cium, rasa dan raba. Agar nanti proses imitasinya indah. Makanya, ayah bunda mesti menjadi model yang baik buat anak-anaknya.
Jika tak ingin anaknya pakai lipstik menor, alis terangkat tinggi, pipi merah delima, ya bunda harus memberi contoh dandanan yang sederhana. Bahkan harus dikenalkan ke ananda kalau berdandan cantik itu hanya untuk suaminya saja kelak.
Jika ingin anaknya berpakaian menutup aurat dengan sempurna, kasih contoh dulu bundanya dengan pakaian syar'i. Agar ananda tak asing lagi mengenakannya.
Semua memang perlu proses. Tak bisa juga instan. Ayah dan bunda harus mempola hidupnya dengan kebaikan di setiap kesempatan. Memperbaiki hal-hal buruk yang mungkin masih sering ayah bunda lakukan. Belajar mengelola emosi. Belajar lebih sabar dan bijaksana. Apalagi jika anak sudah menuju usia baligh. Konflik dengan anak akan mudah terjadi, jika ayah bunda tak mampu memahami mereka.
Menjadi orang tua itu ternyata belajar dari nol. Persis seperti angka dispenser bahan bakar di SPBU. Sebagai orangtua, ayah bunda harus memahami bagaimana merawat dan mendidik anak kala bayi, balita, anak yang sudah tamyiz, anak hampir baligh, anak sudah baligh, remaja, dan ketika anak bersiap melepas masa lajangnya. Bukan sekedar seperti air mengalir yang berjalan sesukanya dan seadanya.
Rasulullah saw bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Karenanya, ayah dan bunda harus selalu belajar, belajar dan belajar. Karena belajar tak pernah dibatasi usia. Dan belajar tak hanya di sekolah saja. Dalam kesempatan apapun belajar itu bisa dilakukan. Agar anak-anak ayah dan bunda terwarnai hanya dengan kebaikan Islam semata.
So, tak ada yang salah saat anak menjadi imitasi ayah dan bundanya. Biarkan mereka meniru selama apa yang ditiru adalah kebaikan. Tapi, jangan lupa pemikiran ananda tetap harus diarahkan pada jalan hidup yang benar. Mereka harus diajak untuk berpikir tentang 3 hal ; dari mana asal manusia? ; untuk apa manusia ada di dunia? ; dan hendak kemana setelah matinya?
Jika ketiga hal ini telah ditemukan jawabannya dengan benar dan sempurna, insyaAllah anak pasti hanya akan meniru sesuatu yang baik dari ayah bundanya, atau dari lingkungannya, atau dari teman-temannya. Karena Allah menjadi pegangannya, syariat Islam jalan hidupnya, dan menegakkan Islam kaffah tujuannya.
Jadi ingat pepatah indah ini :
"Isy kariiman awmut syahiidan" ; "Hidup Mulia atau Mati Syahid."
Wallahu'alam bish shawwab
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#remindingmyself
#GerakanMedsosUntukDakwah
#GeMesDa
#Revowriter
#NgajiLiterasi
"Ma, lipstik ini warnanya apa? Nyobain ya?"
"Ummi, kerudung ummi yang pink mana? Adek pinjem dong!"
"Bu, kaki Dede sudah hampir sama besarnya dengan kaki Ibu. Boleh pinjem sendal bertumitnya gak?"
*****
Pernah ditanya anak gadis yang beranjak baligh atau bahkan sudah baligh seperti ini? Atau malah anak yang lebih kecil lagi yang merengek minta pakai bedak dan lipstik ibunya? Saya yakin, yang punya anak perempuan pasti pernah mengalami yang begini.
Anak memang suka meniru apa yang dilihatnya. Ayah dan bundanya menjadi "role of models" yang utama. Baik anak perempuan maupun laki-laki kecenderungan menirunya sama besarnya. Tapi memang pada anak perempuan biasanya lebih terlihat jelas mengimitasi bundanya.
Kalau anak laki-laki jarang menunjukkan dalam kesehariannya. Tetapi bisa saja kebiasaan-kebiasaan ayahnya sehari-hari akan ditirunya tanpa orangtua menyadarinya. Misalnya nih : makan gak pakai doa, malas sikat gigi malam sebelum tidur, menaruh handuk sesudah mandi sembarangan, habis minum gelasnya digeletakkan sembarang tempat, kaos kaki terserak, de el el. Hayoo....siapa nih yang kebiasaan ayah di rumah seperti ini? 😁
Menurut para ahli psikologi anak, proses meniru atau imitasi adalah hal yang biasa pada anak. Ini adalah bagian pembelajaran pada si anak. Karena setiap makhluk hidup akan mencoba sesuatu yang dicerapnya melalui inderanya. Baik dengan melihat, mendengar, membaui, mengecap ataupun meraba. Bahkan ini adalah proses awal lahirnya sebuah pemikiran yang brillian di kemudian hari. Sebab, setiap pengalaman yang diperoleh anak akan tersimpan rapi di memori otaknya.
Yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua muslim tentu apa yang sejatinya layak mereka lihat, dengar, cium, rasa dan raba. Agar nanti proses imitasinya indah. Makanya, ayah bunda mesti menjadi model yang baik buat anak-anaknya.
Jika tak ingin anaknya pakai lipstik menor, alis terangkat tinggi, pipi merah delima, ya bunda harus memberi contoh dandanan yang sederhana. Bahkan harus dikenalkan ke ananda kalau berdandan cantik itu hanya untuk suaminya saja kelak.
Jika ingin anaknya berpakaian menutup aurat dengan sempurna, kasih contoh dulu bundanya dengan pakaian syar'i. Agar ananda tak asing lagi mengenakannya.
Semua memang perlu proses. Tak bisa juga instan. Ayah dan bunda harus mempola hidupnya dengan kebaikan di setiap kesempatan. Memperbaiki hal-hal buruk yang mungkin masih sering ayah bunda lakukan. Belajar mengelola emosi. Belajar lebih sabar dan bijaksana. Apalagi jika anak sudah menuju usia baligh. Konflik dengan anak akan mudah terjadi, jika ayah bunda tak mampu memahami mereka.
Menjadi orang tua itu ternyata belajar dari nol. Persis seperti angka dispenser bahan bakar di SPBU. Sebagai orangtua, ayah bunda harus memahami bagaimana merawat dan mendidik anak kala bayi, balita, anak yang sudah tamyiz, anak hampir baligh, anak sudah baligh, remaja, dan ketika anak bersiap melepas masa lajangnya. Bukan sekedar seperti air mengalir yang berjalan sesukanya dan seadanya.
Rasulullah saw bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Karenanya, ayah dan bunda harus selalu belajar, belajar dan belajar. Karena belajar tak pernah dibatasi usia. Dan belajar tak hanya di sekolah saja. Dalam kesempatan apapun belajar itu bisa dilakukan. Agar anak-anak ayah dan bunda terwarnai hanya dengan kebaikan Islam semata.
So, tak ada yang salah saat anak menjadi imitasi ayah dan bundanya. Biarkan mereka meniru selama apa yang ditiru adalah kebaikan. Tapi, jangan lupa pemikiran ananda tetap harus diarahkan pada jalan hidup yang benar. Mereka harus diajak untuk berpikir tentang 3 hal ; dari mana asal manusia? ; untuk apa manusia ada di dunia? ; dan hendak kemana setelah matinya?
Jika ketiga hal ini telah ditemukan jawabannya dengan benar dan sempurna, insyaAllah anak pasti hanya akan meniru sesuatu yang baik dari ayah bundanya, atau dari lingkungannya, atau dari teman-temannya. Karena Allah menjadi pegangannya, syariat Islam jalan hidupnya, dan menegakkan Islam kaffah tujuannya.
Jadi ingat pepatah indah ini :
"Isy kariiman awmut syahiidan" ; "Hidup Mulia atau Mati Syahid."
Wallahu'alam bish shawwab
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#remindingmyself
#GerakanMedsosUntukDakwah
#GeMesDa
#Revowriter
#NgajiLiterasi
Jumat, 24 Agustus 2018
Buka Mata Buka Hati #13
Warisan
Oleh : Laila Thamrin
Siapa yang tak kenal dengan warisan? Pasti semua orang tahu. Dan kalau bicara warisan, yang terbayang tentulah harta. Tak salah memang. Karena memang seperti itulah adanya.
Warisan merupakan harta yang ditinggalkan seseorang saat dia meninggal dunia. Terkadang harta yang ditinggalkannya ini bisa jadi rebutan. Bahkan perseteruan kaum kerabatnya. Apalagi jika harta yang diwariskan banyak dan menggiurkan. Sudah tabiat manusia menyukai harta. Karena itu memang kesenangan dunia, selain tahta dan wanita.
Beruntung, Islam punya aturan yang jelas berkaitan dengan harta warisan ini. Sehingga, tak perlu payah ahli waris memperebutkan harta si mayit. Tinggal duduk diam saja, jika dia termasuk golongan yang berhak, bagian harta warisan untuknya pun akan didapat.
Namun, sebenarnya tak hanya harta yang layak diperhatikan kala seorang manusia berpulang ke pangkuan Rabbnya. Apalagi jika yang meninggal adalah seseorang yang telah memiliki anak. Ada yang lebih berharga dibanding sekedar uang, rumah, tanah, emas dan permata.
Ayah yang kaya akan mewariskan hartanya pada anak keturunannya. Namun ayah yang salih, tak serta merta mampu mewariskan kesalihannya kepada anaknya. Begitu pun ibu yang ahli ibadah, tak menjamin anaknya menjadi ahli ibadah pula. Lalu bagaimana?
Anak akan mewarisi kesalihan ayah dan ibunya jikalau iman ditanamkan dalam dadanya. Diajarkan tentang keimanan terhadap Rabbnya sejak kecil. Ditanamkan bahwa Allah itu Al Khalik (Maha Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Maha Pengatur). Dikuatkan setiap saat dengan pelaksanaan syariatNya dalam keseharian. Karena Allah juga Maha Mengetahui, sehingga saat manusia lalai dalam melaksanakan perintahNya, Allah pasti tahu.
Karenanya tugas orangtua lah mendidik anak-anaknya dengan iman dan Islam. Sehingga, andai Allah memanggil ayah dan ibunya, anak telah mewarisi iman yang kokoh dan Islam yang kuat. Pahala ayah ibunya pun akan terus mengalir melampaui usianya. Sebab anak yang salih pasti akan melakukan kebaikan dimana saja dan dalam kondisi apapun jua. Dia juga senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, meski keduanya telah tiada.
Lihatlah bagaimana seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi yang diabadikan Allah dalam Alquran kala menasihati anaknya. Meski dia hanyalah seorang budak, namun keimanan dan kecerdasan akalnya telah menjadikan pembelajaran berharga bagi umat Muhammad Saw. Ya, dialah Luqmanul Hakim, yang bisa kita ikuti nasihatnya kepada anaknya dalam Alquran Surah Luqman.
Allah Swt berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Begitu pula saat beliau memberikan nasihat lainnya pada anaknya. Seperti firman Allah Swt :
"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16)
Jelas sekali pada ayat itu Luqman menasihati anaknya dengan nasihat yang jitu. Iman kepada Allah Swt sebagai pondasi yang utama, dan tak menduakanNya pada apapun jua. Lalu berikutnya, pengikat iman tersebut agar tak goyah adalah keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala hal yang manusia kerjakan. Meski perbuatan sangat sepele sekalipun, semisal buang angin yang tak terlihat pelakunya oleh siapapun, namun terasa jelas aromanya. Hingga tak ada yang bisa menuduh siapa pelakunya. Namun Allah pasti tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meski tak ada pengakuan dari mulut si pelaku.
Banyak dari orang tua sekarang yang sibuk memikirkan anaknya kelak hidup berkecukupan materi. Tapi terkadang lupa memikirkan bagaimana agar anaknya hidup dengan kekokohan iman di dada agar hidup lebih berseri. Harta mudah dicari tetapi tak dibawa mati. Namun iman di hati harus serius dicari, karena dia yang menemani sampai dibawa mati.
Hanya iman yang kokoh yang layak diwariskan kepada anak-anak kita. Agar Islam tetap terus terjaga hingga akhir masa. Dan kembali berjaya di dunia ini. Maka, layak kiranya mulai sekarang kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan warisan iman ini untuk anak-anak kita. Jangan sampai terlambat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)
Wallahua'lam bish shawwab []
13 Zulhijjah 1439 H
24 Agustus 2018
#revowriter
#essay
Oleh : Laila Thamrin
Siapa yang tak kenal dengan warisan? Pasti semua orang tahu. Dan kalau bicara warisan, yang terbayang tentulah harta. Tak salah memang. Karena memang seperti itulah adanya.
Warisan merupakan harta yang ditinggalkan seseorang saat dia meninggal dunia. Terkadang harta yang ditinggalkannya ini bisa jadi rebutan. Bahkan perseteruan kaum kerabatnya. Apalagi jika harta yang diwariskan banyak dan menggiurkan. Sudah tabiat manusia menyukai harta. Karena itu memang kesenangan dunia, selain tahta dan wanita.
Beruntung, Islam punya aturan yang jelas berkaitan dengan harta warisan ini. Sehingga, tak perlu payah ahli waris memperebutkan harta si mayit. Tinggal duduk diam saja, jika dia termasuk golongan yang berhak, bagian harta warisan untuknya pun akan didapat.
Namun, sebenarnya tak hanya harta yang layak diperhatikan kala seorang manusia berpulang ke pangkuan Rabbnya. Apalagi jika yang meninggal adalah seseorang yang telah memiliki anak. Ada yang lebih berharga dibanding sekedar uang, rumah, tanah, emas dan permata.
Ayah yang kaya akan mewariskan hartanya pada anak keturunannya. Namun ayah yang salih, tak serta merta mampu mewariskan kesalihannya kepada anaknya. Begitu pun ibu yang ahli ibadah, tak menjamin anaknya menjadi ahli ibadah pula. Lalu bagaimana?
Anak akan mewarisi kesalihan ayah dan ibunya jikalau iman ditanamkan dalam dadanya. Diajarkan tentang keimanan terhadap Rabbnya sejak kecil. Ditanamkan bahwa Allah itu Al Khalik (Maha Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Maha Pengatur). Dikuatkan setiap saat dengan pelaksanaan syariatNya dalam keseharian. Karena Allah juga Maha Mengetahui, sehingga saat manusia lalai dalam melaksanakan perintahNya, Allah pasti tahu.
Karenanya tugas orangtua lah mendidik anak-anaknya dengan iman dan Islam. Sehingga, andai Allah memanggil ayah dan ibunya, anak telah mewarisi iman yang kokoh dan Islam yang kuat. Pahala ayah ibunya pun akan terus mengalir melampaui usianya. Sebab anak yang salih pasti akan melakukan kebaikan dimana saja dan dalam kondisi apapun jua. Dia juga senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, meski keduanya telah tiada.
Lihatlah bagaimana seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi yang diabadikan Allah dalam Alquran kala menasihati anaknya. Meski dia hanyalah seorang budak, namun keimanan dan kecerdasan akalnya telah menjadikan pembelajaran berharga bagi umat Muhammad Saw. Ya, dialah Luqmanul Hakim, yang bisa kita ikuti nasihatnya kepada anaknya dalam Alquran Surah Luqman.
Allah Swt berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Begitu pula saat beliau memberikan nasihat lainnya pada anaknya. Seperti firman Allah Swt :
"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16)
Jelas sekali pada ayat itu Luqman menasihati anaknya dengan nasihat yang jitu. Iman kepada Allah Swt sebagai pondasi yang utama, dan tak menduakanNya pada apapun jua. Lalu berikutnya, pengikat iman tersebut agar tak goyah adalah keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala hal yang manusia kerjakan. Meski perbuatan sangat sepele sekalipun, semisal buang angin yang tak terlihat pelakunya oleh siapapun, namun terasa jelas aromanya. Hingga tak ada yang bisa menuduh siapa pelakunya. Namun Allah pasti tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meski tak ada pengakuan dari mulut si pelaku.
Banyak dari orang tua sekarang yang sibuk memikirkan anaknya kelak hidup berkecukupan materi. Tapi terkadang lupa memikirkan bagaimana agar anaknya hidup dengan kekokohan iman di dada agar hidup lebih berseri. Harta mudah dicari tetapi tak dibawa mati. Namun iman di hati harus serius dicari, karena dia yang menemani sampai dibawa mati.
Hanya iman yang kokoh yang layak diwariskan kepada anak-anak kita. Agar Islam tetap terus terjaga hingga akhir masa. Dan kembali berjaya di dunia ini. Maka, layak kiranya mulai sekarang kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan warisan iman ini untuk anak-anak kita. Jangan sampai terlambat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)
Wallahua'lam bish shawwab []
13 Zulhijjah 1439 H
24 Agustus 2018
#revowriter
#essay
Kamis, 05 Juli 2018
BUKA MATA BUKA HATI #11
Mengejar Ilmu Tanpa Zonasi
Dua pekan ini dunia pendidikan sedang musim penerimaan siswa baru. Pekan kemarin Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA. Dan pekan ini PPDB SMP. Riuh banget deh.
Ternyata di Indonesia tak hanya ada musim panas dan musim penghujan loh. Ada musim durian, musim rambutan, musim mangga, musim banjir, musim pilkada, musim tawuran, musim mudik, musim liburan. Dan ini lagi musim cari sekolah baru. Hehehe...banyakkan musimnya. 😅
PPDB online yang diselenggarakan hampir di seluruh Indonesia, khususnya kota-kota besar mulai berlaku. Termasuk di kota kami, Banjarmasin. Meski tahun kemaren sudah diberlakukan juga. Namun tahun ini diklaim lebih baik sistemnya dari tahun yang lalu.
Pelaksanaan sistem ini mengacu pada peraturan terbaru tentang PPDB yakni Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018. Salah satunya pengaturan penerimaan siswa berdasarkan zonasi, usia dan nilai.
Tiga item ini yang menseleksi siswa secara berurutan. Jadi zona tempat tinggal siswa yang mendaftar diukur dari kedekatan dengan sekolahnya akan mempengaruhi siswa itu bisa diterima atau tidak. Kemudian seleksi berikutnya adalah usianya. Dan yang terakhir nilai.
Tujuan pemerintah patut diapresiasi. Karena diharapkan ada pemerataan siswa yang memasuki sekolah negeri yang tersedia di suatu wilayah. Namun yang cukup banyak dikeluhkan pendaftar adalah masalah administrasi yang cukup rumit. Karena pendaftaran harus dilalui dua langkah. Online dan offline juga.
Jadi bisa dibayangkan, antrian mengular tiba-tiba terjadi di satu sekolah. Karena setelah daftar online, calon siswa harus verifikasi datanya lagi secara offline ke sekolah yang dituju. Bahkan ada kejadian, yang pingsan justru ibunya calon siswa. Gara-gara kelamaan antri di sekolah tersebut. Zonasi memang bikin sensi ya. 😁
Pendidikan memang tak pernah lepas dari masyarakat. Pendidikan adalah bagian hidup umat dan kebutuhan mendasar pula. Rasulullah Saw sendiri pernah bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim" (HR. Ibnu Majah)
Siapapun yang belajar dan terus belajar, maka pahalapun mengalir kepadanya. Apalagi ilmu yang diserapnya merupakan ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat.
Terlebih jika ilmu yang didapatnya disebarkannya kembali kepada orang lain, maka keberkahan dan pahalapun akan berlipat-lipat mengalir kepadanya.
Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw, "Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala pelakunya”. (HR.Muslim)
Dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk sosok manusia yang berkepribadian Islam. Yang menjadikan aqliyah(pemikiran) dan nafsiyah (sikap/perilaku) pada seseorang bersandarkan pada Islam semata. Agar setiap aktivitasnya tak keluar dari jalur syariat Allah. Dan tak melenceng dari sunnah Rasulullah.
Namun tak pernah ada pembatasan waktu bagi siapapun untuk belajar. Kecil, besar. Muda, tua. Kaya, miskin. Laki-laki, perempuan. Semua punya hak yang sama untuk belajar. Kapan saja, dan dimana saja.
Begitu pula tempat tinggal, tak akan menghalangi seseorang untuk melangkahkan kakinya ke daerah lain untuk menuntut ilmu. Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda, "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat." (Al Hadits)
Sekolah selayaknya disiapkan oleh negara dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Agar setiap sekolah sama kualitasnya. Baik sarana dan prasarananya, maupun para pengajarnya. Hingga tak ada pengkotakan sekolah jadi sekolah favorit dan tak favorit. Atau sekolah unggulan dan sekolah pinggiran. Yang bisa membuat "gap" di masyarakat bagi para lulusannya.
Tapi, jangan salah ya. Sekolah itu bukan semata untuk memudahkan cari kerja. Sekolah itu punya tujuan mulia, yaitu mencerdaskan seseorang. Dan setiap upaya para siswanya belajar sungguh-sungguh akan diberi imbalan pahala oleh Allah.
Nah, jika ada yang sekolah atau kuliah tapi malas-malasan belajarnya, suka bolos saat jam pelajaran, suka nyontek saat ulangan atau ujian, kira-kira bisa pinter gak? Trus pahala dari Allah bisa didapatkan gak ya? Coba deh, ortu aja nih kalo anaknya gak berkelakuan baik biasanya enggan kasih reward kan? Bagaimana dengan orang yang ogah-ogahan belajar, kira-kira layakkah dapat reward dari Allah?
Karenanya pantaskan diri kita untuk terus jadi seorang pembelajar yang baik di mata Allah. Yang bersungguh-sungguh kala menuntut ilmu. Yang selalu menghadirkan ruh saat belajar. Dimana kita beraktifitas dengan keyakinan penuh bahwa Allah mengawasi kita. Hingga tak mudah kita meninggalkan kewajiban dan melakukan kemaksiatan.
Jika sudah begini, yakinlah belajar kita kan dapat pahala dari Allah. InsyaAllah. Meski dalam belajar itu kita masih banyak bengongnya karena belum faham. Makanya kudu rajin mengulang dan membersamai buku pelajaran. Semua upaya pasti ada nilainya di sisi Allah.
Jadi, selalu niatkan kita belajar untuk dapat pahala dari Allah. Bukan sekedar dapat nilai tertinggi dari sang guru. Nilai itu bonus saja, saat belajar kita sudah lillahi ta'ala. Setiap langkah kita berjalan menuju sekolah atau majelis ilmu lainnya akan dicatat sebagai amal shalih oleh Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)
Tersebab itu semua, mengejar ilmu tak terhalang oleh usia, jenis kelamin, materi. Apalagi hanya sekedar zona tinggal.
Ingatlah selalu firman Allah Swt :
"… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah : 11)
"... Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar : 9)
Laila Thamrin
05072018
#revowriter
#WCWHbatch2
#IslamSelamatkanNegeri
#IslamKaffah
#IslamRahmatanLilAlamin
Dua pekan ini dunia pendidikan sedang musim penerimaan siswa baru. Pekan kemarin Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA. Dan pekan ini PPDB SMP. Riuh banget deh.
Ternyata di Indonesia tak hanya ada musim panas dan musim penghujan loh. Ada musim durian, musim rambutan, musim mangga, musim banjir, musim pilkada, musim tawuran, musim mudik, musim liburan. Dan ini lagi musim cari sekolah baru. Hehehe...banyakkan musimnya. 😅
PPDB online yang diselenggarakan hampir di seluruh Indonesia, khususnya kota-kota besar mulai berlaku. Termasuk di kota kami, Banjarmasin. Meski tahun kemaren sudah diberlakukan juga. Namun tahun ini diklaim lebih baik sistemnya dari tahun yang lalu.
Pelaksanaan sistem ini mengacu pada peraturan terbaru tentang PPDB yakni Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018. Salah satunya pengaturan penerimaan siswa berdasarkan zonasi, usia dan nilai.
Tiga item ini yang menseleksi siswa secara berurutan. Jadi zona tempat tinggal siswa yang mendaftar diukur dari kedekatan dengan sekolahnya akan mempengaruhi siswa itu bisa diterima atau tidak. Kemudian seleksi berikutnya adalah usianya. Dan yang terakhir nilai.
Tujuan pemerintah patut diapresiasi. Karena diharapkan ada pemerataan siswa yang memasuki sekolah negeri yang tersedia di suatu wilayah. Namun yang cukup banyak dikeluhkan pendaftar adalah masalah administrasi yang cukup rumit. Karena pendaftaran harus dilalui dua langkah. Online dan offline juga.
Jadi bisa dibayangkan, antrian mengular tiba-tiba terjadi di satu sekolah. Karena setelah daftar online, calon siswa harus verifikasi datanya lagi secara offline ke sekolah yang dituju. Bahkan ada kejadian, yang pingsan justru ibunya calon siswa. Gara-gara kelamaan antri di sekolah tersebut. Zonasi memang bikin sensi ya. 😁
Pendidikan memang tak pernah lepas dari masyarakat. Pendidikan adalah bagian hidup umat dan kebutuhan mendasar pula. Rasulullah Saw sendiri pernah bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim" (HR. Ibnu Majah)
Siapapun yang belajar dan terus belajar, maka pahalapun mengalir kepadanya. Apalagi ilmu yang diserapnya merupakan ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat.
Terlebih jika ilmu yang didapatnya disebarkannya kembali kepada orang lain, maka keberkahan dan pahalapun akan berlipat-lipat mengalir kepadanya.
Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw, "Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala pelakunya”. (HR.Muslim)
Dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk sosok manusia yang berkepribadian Islam. Yang menjadikan aqliyah(pemikiran) dan nafsiyah (sikap/perilaku) pada seseorang bersandarkan pada Islam semata. Agar setiap aktivitasnya tak keluar dari jalur syariat Allah. Dan tak melenceng dari sunnah Rasulullah.
Namun tak pernah ada pembatasan waktu bagi siapapun untuk belajar. Kecil, besar. Muda, tua. Kaya, miskin. Laki-laki, perempuan. Semua punya hak yang sama untuk belajar. Kapan saja, dan dimana saja.
Begitu pula tempat tinggal, tak akan menghalangi seseorang untuk melangkahkan kakinya ke daerah lain untuk menuntut ilmu. Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda, "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat." (Al Hadits)
Sekolah selayaknya disiapkan oleh negara dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Agar setiap sekolah sama kualitasnya. Baik sarana dan prasarananya, maupun para pengajarnya. Hingga tak ada pengkotakan sekolah jadi sekolah favorit dan tak favorit. Atau sekolah unggulan dan sekolah pinggiran. Yang bisa membuat "gap" di masyarakat bagi para lulusannya.
Tapi, jangan salah ya. Sekolah itu bukan semata untuk memudahkan cari kerja. Sekolah itu punya tujuan mulia, yaitu mencerdaskan seseorang. Dan setiap upaya para siswanya belajar sungguh-sungguh akan diberi imbalan pahala oleh Allah.
Nah, jika ada yang sekolah atau kuliah tapi malas-malasan belajarnya, suka bolos saat jam pelajaran, suka nyontek saat ulangan atau ujian, kira-kira bisa pinter gak? Trus pahala dari Allah bisa didapatkan gak ya? Coba deh, ortu aja nih kalo anaknya gak berkelakuan baik biasanya enggan kasih reward kan? Bagaimana dengan orang yang ogah-ogahan belajar, kira-kira layakkah dapat reward dari Allah?
Karenanya pantaskan diri kita untuk terus jadi seorang pembelajar yang baik di mata Allah. Yang bersungguh-sungguh kala menuntut ilmu. Yang selalu menghadirkan ruh saat belajar. Dimana kita beraktifitas dengan keyakinan penuh bahwa Allah mengawasi kita. Hingga tak mudah kita meninggalkan kewajiban dan melakukan kemaksiatan.
Jika sudah begini, yakinlah belajar kita kan dapat pahala dari Allah. InsyaAllah. Meski dalam belajar itu kita masih banyak bengongnya karena belum faham. Makanya kudu rajin mengulang dan membersamai buku pelajaran. Semua upaya pasti ada nilainya di sisi Allah.
Jadi, selalu niatkan kita belajar untuk dapat pahala dari Allah. Bukan sekedar dapat nilai tertinggi dari sang guru. Nilai itu bonus saja, saat belajar kita sudah lillahi ta'ala. Setiap langkah kita berjalan menuju sekolah atau majelis ilmu lainnya akan dicatat sebagai amal shalih oleh Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)
Tersebab itu semua, mengejar ilmu tak terhalang oleh usia, jenis kelamin, materi. Apalagi hanya sekedar zona tinggal.
Ingatlah selalu firman Allah Swt :
"… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah : 11)
"... Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar : 9)
Laila Thamrin
05072018
#revowriter
#WCWHbatch2
#IslamSelamatkanNegeri
#IslamKaffah
#IslamRahmatanLilAlamin
Kamis, 17 Mei 2018
Buka Mata Buka Hati #02
MENYIAPKAN ANAK MENYAMBUT RAMADHAN
By : Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan)
Alhamdulillah Ramadhan telah tiba. Namun sudah siapkah anak-anak kita beribadah bersama di bulan yang mulia ini?
Tiap keluarga pasti punya cara yang berbeda dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Apalagi jika keluarga ini sudah punya anak-anak yang siap diajak beribadah bersama. Dari anak usia dini hingga pra-baligh perlu tips dan trik jitu untuk mengajak mereka menikmati hari-hari bahagia menjalani bulan suci Ramadhan. Terutama belajar berpuasa dan menjalankan sunnah-sunnah lainnya di bulan ini.
Nah, ini ada beberapa tips untuk para Ayah dan Bunda supaya bisa menyiapkan ananda berpuasa :
1. Berikan pemahaman Aqidah.
Jelaskan pada anak tentang kewajiban puasa. Bahwa Allah Swt sebagai Al Khalik kita memerintahkan berbagai macam kewajiban, termasuk puasa. Di dalam Alquran Allah berfirman :
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah : 183)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, dibukakan pintu-pintu Surga, ditutup pintu-pintu Neraka. Didalam bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia rugi.” (HR. Nasai, Lafadz Hammad bin Zaid)
Sampaikan pula kepada anak bahwa perintah Allah ini wajib dikerjakan. Dan Allah akan memberikan ganjaran pahala bagi yang mengerjakannya. Selain itu Allah telah menyiapkan satu pintu khusus di surga bagi orang-orang yang melaksanakan puasa.
Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah Saw bersabda :
“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Memberikan gambaran keistimewaan Ramadhan dan motivasi meraih pahala
Sering-seringlah disoundkan pada anak tentang keistimewaan bulan Ramadhan. Seperti pahala yang berlimpah ketika melakukan kebaikan. Jadi motivasi anak supaya rajin berbuat baik. Membantu orangtua membereskan rumah, menyapu, menjaga adik. Senang bersedekah, berbagi kue-kue dengan teman, berbagi takjil bersama ayah bunda. Atau sekedar senyum manis selalu pada semua orang. Semua kan diganjar pahala berlimpah.
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman : “ Setiap amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk –Ku, Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika kalian sedang berpuasa janganlah berkata kotor atau menghardik. Apabila seseorang mengumpat atau memusuhinya, katakan : “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada minyak wangi, bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, ketika berbuka puasa ia bergembira dan ketika bertemu Rabbnya ia gembira dengan pahala puasanya. ( HR. Bukhari Muslim )
Apalagi kalau rajin mengaji, menghafal Alquran, dan rajin berdoa, tentu pahala pun kian deras membanjiri. Eh iya, sholat wajibnya juga gak boleh bolong-bolong lagi. Tambahan lagi kalau mampu berlatih sholat tarawih. Allah pasti akan menambahkan terus pahala buat anak-anak sholih ini.
Rasulullah Saw bersabda :
“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi” (HR. Tirmidzi)
3. Menceritakan kisah-kisah sahabat sebagai teladan dan penyemangat
Ceritakanlah pada anak bagaimana semangat para sahabat Rasulullah Saw dulu ketika menyambut Ramadhan. Bahkan ketika perintah berjihad pun datang di bulan Ramadhan mereka tak pernah menghentikan puasanya. Padahal mereka berjihad perginya sebagian besar hanya berjalan kaki.
Meskipun ada pasukan yang menaiki kuda dan unta, tapi tetap pasukan yang berjalan kaki jauh lebih banyak. Yang dilewati pun jalannya tak mulus. Padang pasir yang gersang dan tandus, panas, kering. Kadang harus menaiki gunung-gunung batu. Namun mereka tak mengeluh meski sedang puasa.
4. Ceritakan juga tentang nikmatnya berbuka puasa
Ini nih bagian yang paling urgen juga. Karena kenikmatan berbuka hanya dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa. Sedangkan bagi yang tak puasa tentu kenikmatan ini tak bisa dirasakannya.
Jadi bagi siapa yang berpuasa sehari penuh, nikmatnya sungguh luar biasa. Tak hanya nikmatnya bisa makan dan minum lagi. Tapi nikmat sesungguhnya adalah bahagia karena mampu sehari itu melatih kesabaran dan melawan hawa nafsu. Hingga terbayanglah dipelupuk mata "keranjang pahala" mulai terisi penuh.
Dalam hadis qudsi Allah Swt berfirman yang artinya :
“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaq ‘alaihi)
5. Motivasi untuk ikut kegiatan Ramadhan di sekolah
Buat anak-anak yang sudah sekolah, biasanya ada program sekolah selama Ramadhan. Nah, ini kesempatan besar orangtua menjadi motivator. Agar anak-anak bersemangat hadir dan ikut dalam kegiatan itu. Misalnya pesantren Ramadhan di sekolah.
Biasanya kegiatannya pasti seputar kajian sirah Rasulullah Saw, sirah sahabat, belajar mengaji Alquran dan menghafalkannya, bahkan sampai ada program i'tikaf bersama. Maka jika anak-anak mengikutinya dengan baik, pasti pahala didapatkan dengan mudah. InsyaAllah, jika motivasi ini diberikan anak-anak akan bersemangat untuk hadir.
6. Berikan reward/hadiah
Nah, ini yang biasanya paling ditunggu anak-anak. Karena anak-anak paling senang jika mendapatkan hadiah, tentu tak salah dalam mengajari mereka taat syariat hadiah kita berikan. Mengajarkan mereka puasa pun tak mengapa diiming-imingi hadiah. Semisal : boneka beruang, mobil-mobilan, buku bacaan, tas baru, jilbab baru, atau apapun sesuai kesepakatan dan sesuai kantong ortunya. Hehe.....
Ada juga yang rewardnya berupa uang. Satu hari puasa, nilainya 2000 rupiah misalnya. Hehe...ini puasa bayaran ya. Tapi sah-sah saja kalau mau reward seperti ini. Asalkan kuat bayar rewardnya ya bunda...😊
Pemberian reward hanya sebagai motivasi awal, agar mereka bersemangat untuk menjalankan puasa. Seiring bertambahnya usia, anak-anak harus dipastikan telah memahami kewajiban puasa itu. Dan reward utamanya hanya dari Allah Swt semata. Sehingga ke depannya mereka berpuasa bukan karena hadiah-hadiah lagi. Tapi memang menyadari bahwa itu sebuah kewajiban yang harus dijalankan. Jika tidak, maka dosa pun kan didapatkan.
Semoga tips di atas bisa membantu mengajak anak-anak berpuasa bersama. Sukses ya Ayah Bunda. Besok kita sudah memulai puasa kita.
Mohon maaf jika ada salah-salah kata dari saya. Semoga puasa kita diterima Allah. Dan Ramadhan tahun ini mendapatkan keberkahan dariNya. Aamiin.
Banjarmasin, 17 Mei 2018 / 1 Ramadhan 1439 H
#InspirasiRamadhan
#RamadhanBawaPerubahan
#RamadhanBersamaRevowriter
By : Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan)
Alhamdulillah Ramadhan telah tiba. Namun sudah siapkah anak-anak kita beribadah bersama di bulan yang mulia ini?
Tiap keluarga pasti punya cara yang berbeda dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Apalagi jika keluarga ini sudah punya anak-anak yang siap diajak beribadah bersama. Dari anak usia dini hingga pra-baligh perlu tips dan trik jitu untuk mengajak mereka menikmati hari-hari bahagia menjalani bulan suci Ramadhan. Terutama belajar berpuasa dan menjalankan sunnah-sunnah lainnya di bulan ini.
Nah, ini ada beberapa tips untuk para Ayah dan Bunda supaya bisa menyiapkan ananda berpuasa :
1. Berikan pemahaman Aqidah.
Jelaskan pada anak tentang kewajiban puasa. Bahwa Allah Swt sebagai Al Khalik kita memerintahkan berbagai macam kewajiban, termasuk puasa. Di dalam Alquran Allah berfirman :
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah : 183)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, dibukakan pintu-pintu Surga, ditutup pintu-pintu Neraka. Didalam bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia rugi.” (HR. Nasai, Lafadz Hammad bin Zaid)
Sampaikan pula kepada anak bahwa perintah Allah ini wajib dikerjakan. Dan Allah akan memberikan ganjaran pahala bagi yang mengerjakannya. Selain itu Allah telah menyiapkan satu pintu khusus di surga bagi orang-orang yang melaksanakan puasa.
Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah Saw bersabda :
“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Memberikan gambaran keistimewaan Ramadhan dan motivasi meraih pahala
Sering-seringlah disoundkan pada anak tentang keistimewaan bulan Ramadhan. Seperti pahala yang berlimpah ketika melakukan kebaikan. Jadi motivasi anak supaya rajin berbuat baik. Membantu orangtua membereskan rumah, menyapu, menjaga adik. Senang bersedekah, berbagi kue-kue dengan teman, berbagi takjil bersama ayah bunda. Atau sekedar senyum manis selalu pada semua orang. Semua kan diganjar pahala berlimpah.
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman : “ Setiap amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk –Ku, Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika kalian sedang berpuasa janganlah berkata kotor atau menghardik. Apabila seseorang mengumpat atau memusuhinya, katakan : “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada minyak wangi, bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, ketika berbuka puasa ia bergembira dan ketika bertemu Rabbnya ia gembira dengan pahala puasanya. ( HR. Bukhari Muslim )
Apalagi kalau rajin mengaji, menghafal Alquran, dan rajin berdoa, tentu pahala pun kian deras membanjiri. Eh iya, sholat wajibnya juga gak boleh bolong-bolong lagi. Tambahan lagi kalau mampu berlatih sholat tarawih. Allah pasti akan menambahkan terus pahala buat anak-anak sholih ini.
Rasulullah Saw bersabda :
“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi” (HR. Tirmidzi)
3. Menceritakan kisah-kisah sahabat sebagai teladan dan penyemangat
Ceritakanlah pada anak bagaimana semangat para sahabat Rasulullah Saw dulu ketika menyambut Ramadhan. Bahkan ketika perintah berjihad pun datang di bulan Ramadhan mereka tak pernah menghentikan puasanya. Padahal mereka berjihad perginya sebagian besar hanya berjalan kaki.
Meskipun ada pasukan yang menaiki kuda dan unta, tapi tetap pasukan yang berjalan kaki jauh lebih banyak. Yang dilewati pun jalannya tak mulus. Padang pasir yang gersang dan tandus, panas, kering. Kadang harus menaiki gunung-gunung batu. Namun mereka tak mengeluh meski sedang puasa.
4. Ceritakan juga tentang nikmatnya berbuka puasa
Ini nih bagian yang paling urgen juga. Karena kenikmatan berbuka hanya dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa. Sedangkan bagi yang tak puasa tentu kenikmatan ini tak bisa dirasakannya.
Jadi bagi siapa yang berpuasa sehari penuh, nikmatnya sungguh luar biasa. Tak hanya nikmatnya bisa makan dan minum lagi. Tapi nikmat sesungguhnya adalah bahagia karena mampu sehari itu melatih kesabaran dan melawan hawa nafsu. Hingga terbayanglah dipelupuk mata "keranjang pahala" mulai terisi penuh.
Dalam hadis qudsi Allah Swt berfirman yang artinya :
“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaq ‘alaihi)
5. Motivasi untuk ikut kegiatan Ramadhan di sekolah
Buat anak-anak yang sudah sekolah, biasanya ada program sekolah selama Ramadhan. Nah, ini kesempatan besar orangtua menjadi motivator. Agar anak-anak bersemangat hadir dan ikut dalam kegiatan itu. Misalnya pesantren Ramadhan di sekolah.
Biasanya kegiatannya pasti seputar kajian sirah Rasulullah Saw, sirah sahabat, belajar mengaji Alquran dan menghafalkannya, bahkan sampai ada program i'tikaf bersama. Maka jika anak-anak mengikutinya dengan baik, pasti pahala didapatkan dengan mudah. InsyaAllah, jika motivasi ini diberikan anak-anak akan bersemangat untuk hadir.
6. Berikan reward/hadiah
Nah, ini yang biasanya paling ditunggu anak-anak. Karena anak-anak paling senang jika mendapatkan hadiah, tentu tak salah dalam mengajari mereka taat syariat hadiah kita berikan. Mengajarkan mereka puasa pun tak mengapa diiming-imingi hadiah. Semisal : boneka beruang, mobil-mobilan, buku bacaan, tas baru, jilbab baru, atau apapun sesuai kesepakatan dan sesuai kantong ortunya. Hehe.....
Ada juga yang rewardnya berupa uang. Satu hari puasa, nilainya 2000 rupiah misalnya. Hehe...ini puasa bayaran ya. Tapi sah-sah saja kalau mau reward seperti ini. Asalkan kuat bayar rewardnya ya bunda...😊
Pemberian reward hanya sebagai motivasi awal, agar mereka bersemangat untuk menjalankan puasa. Seiring bertambahnya usia, anak-anak harus dipastikan telah memahami kewajiban puasa itu. Dan reward utamanya hanya dari Allah Swt semata. Sehingga ke depannya mereka berpuasa bukan karena hadiah-hadiah lagi. Tapi memang menyadari bahwa itu sebuah kewajiban yang harus dijalankan. Jika tidak, maka dosa pun kan didapatkan.
Semoga tips di atas bisa membantu mengajak anak-anak berpuasa bersama. Sukses ya Ayah Bunda. Besok kita sudah memulai puasa kita.
Mohon maaf jika ada salah-salah kata dari saya. Semoga puasa kita diterima Allah. Dan Ramadhan tahun ini mendapatkan keberkahan dariNya. Aamiin.
Banjarmasin, 17 Mei 2018 / 1 Ramadhan 1439 H
#InspirasiRamadhan
#RamadhanBawaPerubahan
#RamadhanBersamaRevowriter
Kamis, 03 Mei 2018
BAHAGIA MENJADI IBU
Menjadi orangtua itu bukan kebetulan. Tapi sebuah pilihan yang dimulai dari proses memilih pendamping hidup. Hingga ketika sebuah pernikahan telah melahirkan anak-anak yang lucu dan menggemaskan, maka wajiblah menjadi orangtua yang amanah.
Ya, kadang kita menjadi orangtua merasa "kebetulan". Karena telah menikah dan dikarunia anak. Maka predikat orangtua pun melekat. Mau tak mau harus "bersedia" (bila tak ingin dikatakan "terpaksa") mengasuh anak.
Padahal mengasuh tak sekedar memberi makan dan minum agar anak bertumbuh besar. Tapi, mengasuh itu memastikan bahwa anak kita terjaga jiwa dan raganya, juga aqidahnya.
Jadi tugas seorang Ibu lah mengasuh sekaligus mendidik mereka agar tertancap aqidah, adab dan akhlak Islami.
Susah? Iya, pasti. Tapi gak nyusahin ko. Justru ini kesempatan Ibu untuk rajin cari ilmu. Ilmu agama dan juga ilmu mendidik anak. Biar Ibu pintar, anak juga pintar. Sekaligus Ibu bisa menjaring pahala...☺
Memberikan konsep diri positif adalah awal yang harus dilakukan orangtua. Misal nih, memanggil dengan sebutan _"Abdullah yang shalih", "anak ummi yang cerdas", "Fatimah hafizah",_ dan serupa itu lah. Jangan lupa beri reward pada anak jika mereka bersikap baik. Khususnya yang berusia 0-6 tahun. Agar mereka senang, dan tertanam dalam dirinya sikap percaya diri, tidak mudah menyerah, suka tantangan dan juga senang diberi amanah.
Usia lebih dari 6 tahun juga masih oke dikasih reward. Tapi bisa jadi rewardnya disepakati bersama antara anak dan orangtua. Misal, kalo ananda bisa merapikan tempat tidur tiap hari sepakat dikasih buku bacaan yang mereka suka. Biasanya cespleng nih yang begini. Hee...😁
Reward tak harus materi loh. Pelukan, ciuman dan pujian pada anak bisa jadi reward. Bisa juga anak digendong, atau dibantu merapikan mainannya, dsb. Sepele ya sepertinya. Tapi bagi anak ini sudah luar biasa. Mereka butuh dihargai. Dan penghargaan utama adalah dari orangtuanya.
“Bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping beliau ada Aqro’ bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro’: Sesungguhnya aku punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi” (HR Bukhari)
Tapi kadang ibu nih suka gak sabaran kalo sudah berhadapan dengan anak. Apalagi kalo ananda merengek, gak mau diatur, gak mendengarkan apa yang disampaikan ibu, de el el deh. Nah, padahal , justru sabar adalah kuncinya.
Ya, emosi memang sering membuncah pada ibu ketika anak merengek. Apalagi para ibu kadang juga didera rasa capek. Tiba-tiba anak meminta sesuatu. Maka saat itu banyakin istighfar aja deh Bu. Dan bawa menenangkan diri dulu deh. Menepi ke pojokan. Atau basuh dengan sejuknya air wudhu. Jika ibu sudah tenang, baru deh diselesaikan masalah ananda tadi.
Sabar bukan berarti membiarkan apapun terjadi seperti air mengalir. Bukan begitu. Tapi sabar bermakna melaksanakan sesuatu sesuai syariatNya. Kemudian jalani prosesnya. Dan tunggulah hasilnya. Maka kelak kita kan memetiknya.
So, ibu tetap harus mengupayakan berkomunikasi dengan baik pada ananda. Sesuaikan dengan level usianya. Pilih bahasa yang paling mudah dicerna mereka. Nah, ini tentu perlu ilmu juga ya, Bu. Hehe...jadi memang jadi ibu nih luar biasa. Harus belajar terus tiap hari, tiap waktu dan setiap ada kesempatan. 😊
Keteladanan orangtua juga utama. Terutama dari ibunya yang senantiasa ada bersama ananda. Keteladanan dalam kebaikan. Makanya, ibu haruslah berusaha shalih sebelum menuntut anaknya shalih. Jangan pernah nyuruh gadis kecilnya pakai hijab kalo ibu masih mengurai rambutnya ketika keluar rumah. Pake dicat warna-warni lagi rambutnya. Kira-kira anak mau melaksanakan yang mana? Yakin deh..pasti ikut gaya ibunya ! 😰
Anak yang punya konsep diri positif akan mudah diarahkan. Jika usia mereka sudah mendekati baligh atau bahkan sudah baligh, maka optimalkan proses berpikirnya. Ajak mereka untuk mengerti tentang konsep penciptaan manusia dan keberadaan mereka di dunia. Agar kelak mereka akan mampu menentukan jalan hidupnya yang benar sesuai syariat Islam.
Lagi-lagi ini menuntut ibu harus belajar terus sepanjang waktu. Dari mulai belajar mendidik anak sejak bayi, batita, balita, pra baligh, remaja. Bahkan sampai anak dewasa. Maka pahala untuk ibu pun mengalir deras dari sini.
Gimana Bu, mau kan terus belajar? So, gak ada ruginya jadi seorang ibu. Semua yang dilakukan ibu selama ikhlas karena Allah, dan benar sesuai syariat, maka pintu surga siap terbuka dari segala arahnya.
Ternyata bahagia ya
menjadi Ibu 😍
Banjarmasin, 03 Mei 2018
Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan Usia Dini dan Ketua Komunitas Ibu Cerdas Banua)
Ya, kadang kita menjadi orangtua merasa "kebetulan". Karena telah menikah dan dikarunia anak. Maka predikat orangtua pun melekat. Mau tak mau harus "bersedia" (bila tak ingin dikatakan "terpaksa") mengasuh anak.
Padahal mengasuh tak sekedar memberi makan dan minum agar anak bertumbuh besar. Tapi, mengasuh itu memastikan bahwa anak kita terjaga jiwa dan raganya, juga aqidahnya.
Jadi tugas seorang Ibu lah mengasuh sekaligus mendidik mereka agar tertancap aqidah, adab dan akhlak Islami.
Susah? Iya, pasti. Tapi gak nyusahin ko. Justru ini kesempatan Ibu untuk rajin cari ilmu. Ilmu agama dan juga ilmu mendidik anak. Biar Ibu pintar, anak juga pintar. Sekaligus Ibu bisa menjaring pahala...☺
Memberikan konsep diri positif adalah awal yang harus dilakukan orangtua. Misal nih, memanggil dengan sebutan _"Abdullah yang shalih", "anak ummi yang cerdas", "Fatimah hafizah",_ dan serupa itu lah. Jangan lupa beri reward pada anak jika mereka bersikap baik. Khususnya yang berusia 0-6 tahun. Agar mereka senang, dan tertanam dalam dirinya sikap percaya diri, tidak mudah menyerah, suka tantangan dan juga senang diberi amanah.
Usia lebih dari 6 tahun juga masih oke dikasih reward. Tapi bisa jadi rewardnya disepakati bersama antara anak dan orangtua. Misal, kalo ananda bisa merapikan tempat tidur tiap hari sepakat dikasih buku bacaan yang mereka suka. Biasanya cespleng nih yang begini. Hee...😁
Reward tak harus materi loh. Pelukan, ciuman dan pujian pada anak bisa jadi reward. Bisa juga anak digendong, atau dibantu merapikan mainannya, dsb. Sepele ya sepertinya. Tapi bagi anak ini sudah luar biasa. Mereka butuh dihargai. Dan penghargaan utama adalah dari orangtuanya.
“Bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping beliau ada Aqro’ bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro’: Sesungguhnya aku punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi” (HR Bukhari)
Tapi kadang ibu nih suka gak sabaran kalo sudah berhadapan dengan anak. Apalagi kalo ananda merengek, gak mau diatur, gak mendengarkan apa yang disampaikan ibu, de el el deh. Nah, padahal , justru sabar adalah kuncinya.
Ya, emosi memang sering membuncah pada ibu ketika anak merengek. Apalagi para ibu kadang juga didera rasa capek. Tiba-tiba anak meminta sesuatu. Maka saat itu banyakin istighfar aja deh Bu. Dan bawa menenangkan diri dulu deh. Menepi ke pojokan. Atau basuh dengan sejuknya air wudhu. Jika ibu sudah tenang, baru deh diselesaikan masalah ananda tadi.
Sabar bukan berarti membiarkan apapun terjadi seperti air mengalir. Bukan begitu. Tapi sabar bermakna melaksanakan sesuatu sesuai syariatNya. Kemudian jalani prosesnya. Dan tunggulah hasilnya. Maka kelak kita kan memetiknya.
So, ibu tetap harus mengupayakan berkomunikasi dengan baik pada ananda. Sesuaikan dengan level usianya. Pilih bahasa yang paling mudah dicerna mereka. Nah, ini tentu perlu ilmu juga ya, Bu. Hehe...jadi memang jadi ibu nih luar biasa. Harus belajar terus tiap hari, tiap waktu dan setiap ada kesempatan. 😊
Keteladanan orangtua juga utama. Terutama dari ibunya yang senantiasa ada bersama ananda. Keteladanan dalam kebaikan. Makanya, ibu haruslah berusaha shalih sebelum menuntut anaknya shalih. Jangan pernah nyuruh gadis kecilnya pakai hijab kalo ibu masih mengurai rambutnya ketika keluar rumah. Pake dicat warna-warni lagi rambutnya. Kira-kira anak mau melaksanakan yang mana? Yakin deh..pasti ikut gaya ibunya ! 😰
Anak yang punya konsep diri positif akan mudah diarahkan. Jika usia mereka sudah mendekati baligh atau bahkan sudah baligh, maka optimalkan proses berpikirnya. Ajak mereka untuk mengerti tentang konsep penciptaan manusia dan keberadaan mereka di dunia. Agar kelak mereka akan mampu menentukan jalan hidupnya yang benar sesuai syariat Islam.
Lagi-lagi ini menuntut ibu harus belajar terus sepanjang waktu. Dari mulai belajar mendidik anak sejak bayi, batita, balita, pra baligh, remaja. Bahkan sampai anak dewasa. Maka pahala untuk ibu pun mengalir deras dari sini.
Gimana Bu, mau kan terus belajar? So, gak ada ruginya jadi seorang ibu. Semua yang dilakukan ibu selama ikhlas karena Allah, dan benar sesuai syariat, maka pintu surga siap terbuka dari segala arahnya.
Ternyata bahagia ya
Banjarmasin, 03 Mei 2018
Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan Usia Dini dan Ketua Komunitas Ibu Cerdas Banua)
Sabtu, 13 Januari 2018
SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU
🎶"Lihat-lihatlah...lihat-lihatlah, seragam kami
Seragam kami menutup aurat kami
Yang laki-laki, bercelana panjang
Yang perempuan pakai jilbab dan khimar
Sungguh indahnya, sungguh bagusnya
Karena kami taat kepada Allah."🎶
Itu bait-bait lagu di sekolah Raudhatul Athfal Al Izzah Banjarmasin, tempat saya saat ini membersamaai generasi emas Islam. Saya tak ingin membahas nada lagunya ya..hehe. Coba kita cermati liriknya. Kami mengajari mereka dengan media lagu supaya mereka kenal dengan aurat dan bagaimana cara menutupinya.
Sekarang sih sudah gak aneh ya lihat perempuan pakai jilbab dan khimar. Dari yang masih imut-imut sampai yang nenek-nenek sudah banyak yang pakai. Dari mulai yang modelnya biasa saja sampai yang modelnya luar biasa juga ada. Harganya juga variatif, dari yang harga mahasiswa sampai harga kelas eksekutif juga ada. Mau beli dilapak-lapak kaki lima atau lapak-lapak online juga oke. Hehe...silakan, suka pilih...sesuai kemauan dan kemampuan tentunya.
Kalau mau menengok ke belakang nih, waktu zaman tahun 90an lah kira-kira...jilbab dan khimar nih barang langka. Abisnya, susah nyari yang jualannya. Di kota kami saja, cuma ada 2-3 toko yang jual. Kadang kita mesti pesan dulu untuk beli, dan didatangi lagi bulan depan. Hehe..😁
Ini sungguh luar biasa, kemajuan besar pada kaum muslimah. Karena sudah banyak yang menyadari pentingnya menutup aurat. Namun, sebagian mereka kadang masih belum familiar dengan istilah jilbab dan khimar. Yang dikenal khalayak, jilbab itu untuk penutup kepala, dan gamis atau hijab untuk penutup tubuh.
Nah, ini yang perlu diluruskan, agar tak salah kaprah. Apalagi sekarang hijab syar'i jadi gaya hidup alias lifestyle sebagian muslimah. Bahkan banyak para artis yang mantap untuk membalut dirinya dengan hijab syar'i. Gaya hidup Islami mulai dilirik dan ini patut diapresiasi. Agar lebih sempurna, layak kiranya bagi siapapun yang mulai berhijrah pakaiannya, berhijrah pula pemikirannya secara totalitas. Karena kewajiban menutup aurat hanyalah satu kewajiban dari banyak kewajiban muslim lainnya.
Menurut Syeikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Nidzomul Ijtima'i, "Allah Swt mewajibkan wanita agar memiliki "mula'ah" (baju kurung) atau "milhafah" (semacam selimut) untuk dikenakannya dibagian luar pakaian sehari-hari dan ia ulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya."
Sedangkan untuk menutupi kepalanya, masih dalam kitab tsb, dikatakan bahwa "wanita harus memiliki kerudung (khimar) atau apa saja yang serupa itu atau yang dapat menggantikannya, yang dapat menutupi seluruh kepala, seluruh leher, dan belahan pakaian di dada."
Penjelasan tersebut dikuatkan dengan firman Allah Swt :
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Ahzab : 59)
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, ..." (QS. An Nur : 31)
Jadi ada dua bagian pakaian yang dipakai seorang perempuan ketika ia keluar dari rumahnya. Yaitu Jilbab (baju kurung/jubah) yang menutup seluruh tubuhnya dari leher hingga menutupi kedua kaki. Dan Khimar (kerudung) yang menutupi seluruh kepalanya dan terulur hingga dadanya. Yang boleh terbuka hanya muka dan kedua telapak tangannya.
Sederhana ya pakaian muslimah. Untuk warna dan jenis kainnya tak dibatasi, asalkan kain pakaian itu tidak tipis atau transparan hingga terlihat kulit kita. Dan jilbab pun ketika dipakai dibadan haruslah longgar dan lebar, tak membentuk lekuk-lekuk tubuhnya. Ada loh fenomena jilbab sekarang yang kalo dipakai, maka bagian atasnya lekuk tubuh terlihat jelas meliuk-liuk, meski bagian bawahnya berbentuk melebar bak payung. Betapapun bagian atas akan tertutupi dengan khimar yang lebar, bahkan kadang ada yang lebarnya sampai hampir menyentuh kaki, ini tidak menggugurkan kewajiban longgarnya jilbab. Artinya kerudung lebar bukan berarti membolehkan jilbabnya ketat kaya lontong. Hehe...😄
Bahkan ada juga nih emak-emak yang nekat keluar rumah dasteran panjang sampai nutup kaki, tapi lengan pendek, terus kepalanya dikerudungi dengan khimar super besar dan lebar, hingga lengannya tak nampak. Astaghfirullah...ini jelas pakaiannya jadi tidak syar'i.😱
Menutup aurat dengan jilbab dan khimar inilah yang tren sekarang diistilahkan dengan "hijab syar'i". Saya tak ingin membahas istilah tersebut ya. Saya hanya ingin kita benar-benar mengerti untuk apa muslimah menutup aurat dengan sempurna? Serta bolehkah muslimah menutup aurat tergantung "mood" atau "setelah merasa siap"? 😰
Rasulullah Saw pernah bersabda : "Sesungguhnya seorang anak perempuan jika telah haidh (baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan."(HR. Abu Dawud)
Dari hadits tersebut, maka jelas lah bahwa menutup aurat bagi muslimah itu sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan sejak dia baligh. Tanpa tawar-menawar lagi. Apalagi nunggu "mood" atau "kesiapan". Kewajiban ini sama halnya dengan kewajiban lainnya yang dibebankan kepada individu muslim yang sudah mukallaf. Seperti sholat, puasa, zakat, dsb. Dan ketika kewajiban tersebut tak dilaksanakan akan ada konsekuensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada hambaNya.
Rasûlullâh Saw bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim]
Dalam riwayat lain Abu Hurairah menjelaskan. bahwasanya aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun. [HR. Malik dari riwayat Yahya Al-Laisiy]
So, tak perlu ragu lagi buat kita sebagai muslimah. Mari tutup aurat dengan sempurna. Dan ketika keluar rumah jangan lupa kenakan jilbab dan khimarnya. Syarat dan ketentuan berlaku loh ya sebagaimana penjelasan di atas. Dan ini bukan buat gaya-gayaan atau menunjukkan strata sosial dan ekonomi yang tinggi. Tapi ini dalam rangka keta'atan kepada Allah Swt. Agar pahala kita dapatkan, ridho Allah kan kita raih, agar pintu surga juga kan terbuka dengan lebar untuk kita.
Maka, tepat bukan lirik lagu anak-anak RA Al Izzah di atas? 😍
Laila Thamrin
13012018
#Day13
#1Day1Post2018
#ODOP2018
#TemaLifeStyle
#NulisYuk!
#Revowriter
#AMK4
#PenulisBelaIslam
#BeraniNulisBeraniDakwah
Seragam kami menutup aurat kami
Yang laki-laki, bercelana panjang
Yang perempuan pakai jilbab dan khimar
Sungguh indahnya, sungguh bagusnya
Karena kami taat kepada Allah."🎶
Itu bait-bait lagu di sekolah Raudhatul Athfal Al Izzah Banjarmasin, tempat saya saat ini membersamaai generasi emas Islam. Saya tak ingin membahas nada lagunya ya..hehe. Coba kita cermati liriknya. Kami mengajari mereka dengan media lagu supaya mereka kenal dengan aurat dan bagaimana cara menutupinya.
Sekarang sih sudah gak aneh ya lihat perempuan pakai jilbab dan khimar. Dari yang masih imut-imut sampai yang nenek-nenek sudah banyak yang pakai. Dari mulai yang modelnya biasa saja sampai yang modelnya luar biasa juga ada. Harganya juga variatif, dari yang harga mahasiswa sampai harga kelas eksekutif juga ada. Mau beli dilapak-lapak kaki lima atau lapak-lapak online juga oke. Hehe...silakan, suka pilih...sesuai kemauan dan kemampuan tentunya.
Kalau mau menengok ke belakang nih, waktu zaman tahun 90an lah kira-kira...jilbab dan khimar nih barang langka. Abisnya, susah nyari yang jualannya. Di kota kami saja, cuma ada 2-3 toko yang jual. Kadang kita mesti pesan dulu untuk beli, dan didatangi lagi bulan depan. Hehe..😁
Ini sungguh luar biasa, kemajuan besar pada kaum muslimah. Karena sudah banyak yang menyadari pentingnya menutup aurat. Namun, sebagian mereka kadang masih belum familiar dengan istilah jilbab dan khimar. Yang dikenal khalayak, jilbab itu untuk penutup kepala, dan gamis atau hijab untuk penutup tubuh.
Nah, ini yang perlu diluruskan, agar tak salah kaprah. Apalagi sekarang hijab syar'i jadi gaya hidup alias lifestyle sebagian muslimah. Bahkan banyak para artis yang mantap untuk membalut dirinya dengan hijab syar'i. Gaya hidup Islami mulai dilirik dan ini patut diapresiasi. Agar lebih sempurna, layak kiranya bagi siapapun yang mulai berhijrah pakaiannya, berhijrah pula pemikirannya secara totalitas. Karena kewajiban menutup aurat hanyalah satu kewajiban dari banyak kewajiban muslim lainnya.
Menurut Syeikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Nidzomul Ijtima'i, "Allah Swt mewajibkan wanita agar memiliki "mula'ah" (baju kurung) atau "milhafah" (semacam selimut) untuk dikenakannya dibagian luar pakaian sehari-hari dan ia ulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya."
Sedangkan untuk menutupi kepalanya, masih dalam kitab tsb, dikatakan bahwa "wanita harus memiliki kerudung (khimar) atau apa saja yang serupa itu atau yang dapat menggantikannya, yang dapat menutupi seluruh kepala, seluruh leher, dan belahan pakaian di dada."
Penjelasan tersebut dikuatkan dengan firman Allah Swt :
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Ahzab : 59)
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, ..." (QS. An Nur : 31)
Jadi ada dua bagian pakaian yang dipakai seorang perempuan ketika ia keluar dari rumahnya. Yaitu Jilbab (baju kurung/jubah) yang menutup seluruh tubuhnya dari leher hingga menutupi kedua kaki. Dan Khimar (kerudung) yang menutupi seluruh kepalanya dan terulur hingga dadanya. Yang boleh terbuka hanya muka dan kedua telapak tangannya.
Sederhana ya pakaian muslimah. Untuk warna dan jenis kainnya tak dibatasi, asalkan kain pakaian itu tidak tipis atau transparan hingga terlihat kulit kita. Dan jilbab pun ketika dipakai dibadan haruslah longgar dan lebar, tak membentuk lekuk-lekuk tubuhnya. Ada loh fenomena jilbab sekarang yang kalo dipakai, maka bagian atasnya lekuk tubuh terlihat jelas meliuk-liuk, meski bagian bawahnya berbentuk melebar bak payung. Betapapun bagian atas akan tertutupi dengan khimar yang lebar, bahkan kadang ada yang lebarnya sampai hampir menyentuh kaki, ini tidak menggugurkan kewajiban longgarnya jilbab. Artinya kerudung lebar bukan berarti membolehkan jilbabnya ketat kaya lontong. Hehe...😄
Bahkan ada juga nih emak-emak yang nekat keluar rumah dasteran panjang sampai nutup kaki, tapi lengan pendek, terus kepalanya dikerudungi dengan khimar super besar dan lebar, hingga lengannya tak nampak. Astaghfirullah...ini jelas pakaiannya jadi tidak syar'i.😱
Menutup aurat dengan jilbab dan khimar inilah yang tren sekarang diistilahkan dengan "hijab syar'i". Saya tak ingin membahas istilah tersebut ya. Saya hanya ingin kita benar-benar mengerti untuk apa muslimah menutup aurat dengan sempurna? Serta bolehkah muslimah menutup aurat tergantung "mood" atau "setelah merasa siap"? 😰
Rasulullah Saw pernah bersabda : "Sesungguhnya seorang anak perempuan jika telah haidh (baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan."(HR. Abu Dawud)
Dari hadits tersebut, maka jelas lah bahwa menutup aurat bagi muslimah itu sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan sejak dia baligh. Tanpa tawar-menawar lagi. Apalagi nunggu "mood" atau "kesiapan". Kewajiban ini sama halnya dengan kewajiban lainnya yang dibebankan kepada individu muslim yang sudah mukallaf. Seperti sholat, puasa, zakat, dsb. Dan ketika kewajiban tersebut tak dilaksanakan akan ada konsekuensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada hambaNya.
Rasûlullâh Saw bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim]
Dalam riwayat lain Abu Hurairah menjelaskan. bahwasanya aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun. [HR. Malik dari riwayat Yahya Al-Laisiy]
So, tak perlu ragu lagi buat kita sebagai muslimah. Mari tutup aurat dengan sempurna. Dan ketika keluar rumah jangan lupa kenakan jilbab dan khimarnya. Syarat dan ketentuan berlaku loh ya sebagaimana penjelasan di atas. Dan ini bukan buat gaya-gayaan atau menunjukkan strata sosial dan ekonomi yang tinggi. Tapi ini dalam rangka keta'atan kepada Allah Swt. Agar pahala kita dapatkan, ridho Allah kan kita raih, agar pintu surga juga kan terbuka dengan lebar untuk kita.
Maka, tepat bukan lirik lagu anak-anak RA Al Izzah di atas? 😍
Laila Thamrin
13012018
#Day13
#1Day1Post2018
#ODOP2018
#TemaLifeStyle
#NulisYuk!
#Revowriter
#AMK4
#PenulisBelaIslam
#BeraniNulisBeraniDakwah
Sabtu, 30 Desember 2017
LGBT DAN MASA DEPAN GENERASI
Bergidik saya membaca berbagai berita di media massa tentang kelakuan para LGBT ini. Dalam tahun ini saja (2017) kita pernah disuguhi berita pernikahan Gay di Bali, pernikahan di Jember yang ternyata baru diketahui suaminya perempuan setelah menikah beberapa hari. Pencidukan segerombolan lelaki disebuah ruko di Kelapa Gading Jakarta sedang pesta seks sesamanya. Ini baru beberapa yang masih segar diingatan kita, karena diekspos di media massa. Lah yang "gaib" alias tak kelihatan secara kasat mata bagaimana? Yang terjadi disudut-sudut kota bahkan ke pelosok-pelosok desa apa ceritanya? Inilah fenomena gunung es.
Tak salah kiranya apa yang disampaikan oleh Sekretaris Komisi Dakwah MUI, Fahmi Salim bahwa LGBT tersebut merupakan bahaya tersembunyi alias bahaya laten yang bisa merusak generasi bangsa, karena merupakan budaya luar yang dipaksakan bagi bangsa Indonesia. (republika.co.id, 22/05/17).
LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) sudah mulai menyeruak di Nusantara sejak era tahun 60-an. Gerakan ini mulai berkembang melalui berbagai organisasi yang diprakarsai oleh kaum wanita transgender alias waria. Sekitar tahun 1980-an, para pria gay dan wanita lesbian semakin mengibarkan sayapnya dengan membentuk berbagai organisasi kecil dan beberapa media massa. Sebut saja organisasi Lambda Indonesia, Gaya Nusantara, Chandra Kirana. Juga beberapa media massa yang mereka terbitkan seperti Gaya Nusantara, Gaya Lestari, Jaka. Mereka terus bergerak tak kenal lelah. Jaringan mereka besar dan memiliki lebih dari 100 organisasi di 28 provinsi di Indonesia. Mereka menyentuh hampir setiap lapisan masyarakat. Mengutip data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2012, yang dilansir oleh sindonews.com, ada sekitar 1.095.970 laki-laki yang berperilaku menyimpang. Jumlah ini naik 37% dari tahun 2009. Dan diyakini, jumlah penganut homoseksual hingga 2017 sudah meningkat signifikan.
Pada tanggal 13-14 Juni 2013, telah diselenggarakan Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia di Nusa Dua, Bali. Dialog yang diselenggarakan oleh United Nations Development Programme (UNDP) bersama United States Agency for International Development (USAID) ini menghadirkan 71 peserta dari 49 lembaga yang mewakili organisasi LGBT di Indonesia. Dialog ini dinarasikan dalam laporan setebal 85 halaman yang berjudul Hidup sebagai LGBT di Asia: Laporan Nasional Indonesia. Atau lebih dikenal dengan "Being LGBT in Asia."
Kelompok LGBT ini tak main-main. Fakta-fakta diatas merupakan pengokohan akan besarnya usaha mereka untuk mengeksiskan diri. Apalagi dukungan dana yang tak sedikit oleh UNDP bekerjasama dengan Kedutaan Besar Swedia di Bangkok dan USAID. Tercatat kucuran dana USD 8 juta atau senilai Rp. 107,8 milyar untuk mendukung komunitas pelangi ini. Proyek ini dimulai sejak Desember 2014 hingga September 2017.(sindonews.com, 12/2/2017)
HAM adalah kendaraan yang membawa mereka bisa melenggang ke negeri-negeri muslim. Apalagi setelah pengakuan Amerika Serikat pada tahun 2015 terhadap perkawinan sejenis di negaranya. Ini membuat kelompok pelangi semakin kuat secara politis. Memilih pasangan hidupnya itu adalah kebebasan yang dilindungi oleh HAM. Tak ada yang boleh melarangnya.
Saling menyukai sesama jenis, atau dua jenis sekaligus ataupun merubah kelamin merupakan orientasi seks menyimpang dan tak sesuai dengan fitrah manusia. Tapi bagi mereka itu sah-sah saja, karena sekulerisme yang menjadi pijakannya, maka agama tak boleh mengurusi hidupnya. Jadi ngapain hukum Allah mengatur orang sampai ke ranjang? Yang jadi masalah, sasaran mereka tak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Sudahlah hubungan sesama jenis tak akan melahirkan keturunan, ditambah lagi generasi yang ada menjadi rusak karena perbuatan mereka ini. Hal ini tentu mengancam tatanan kehidupan. Tak hanya merusak hubungan keluarga, tapi juga mengancam generasi manusia. Dan parahnya lagi menimpa pula keluarga-keluarga muslim di dunia.
Belum lagi kalo kita bicara penyakit yang menyertainya. Telah jamak kita ketahui bahwa penyakit yang paling sering ditemui pada pelaku LGBT ini adalah Sifilis dan HIV-AIDS. Menurut dr. Dewi Inong Irana, SpKK, justru seks sesama jenis beresiko tinggi terjangkiti HIV AIDS. Bahkan 1 dari 4 LSL (Lelaki Seks dg Lelaki) positif HIV-AIDS.(ILC TV One, 19/12/2017) Bayangkan jika satu saja lelaki di dalam sebuah keluarga terjangkit penyakit HIV-AIDS ini, berapa banyak korban berikutnya akan timbul?
Secara fitrahnya, manusia yang diciptakan oleh Allah SWT ada dua jenis, laki-laki dan perempuan. Mereka diberikan rasa cinta satu sama lain yang kemudian dilegalkan dalam pernikahan. Dari pernikahan inilah akan lahir anak keturunan yang terus berkembang. Maka nasab pun akan terjaga. Allah sudah tetapkan bahwa melahirkan keturunan itu tugasnya perempuan, sedangkan laki-laki sebagai pelindung dan pemberi nafkahnya. Dari zaman Nabi Adam dan Siti Hawa fitrah ini sudah ditetapkan oleh Allah. Hingga kiamat datang, takkan mungkin tertukar. Jikalau fitrah ini ditolak, maka akibatnya muncullah perilaku seks yang menyimpang. Dan ini karena hawa nafsunya lebih dominan dibandingkan ketundukannya pada syariat.
Anak-anak dan keluarga terancam. Harus ada satu tindakan tegas untuk menghentikan ini semua. Tak hanya keluarga yang perlu aksi, tapi juga seluruh masyarakat, dan yang lebih utama adalah peran negara. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Niam, pernah menyampaikan kekhawatirannya akan kelompok LGBT ini. Menurutnya pemerintah harus tegas lindungi anak-anak Indonesia dari paparan orientasi seks menyimpang. (detik.com, 13/2/2016)
Islam telah memberikan cara pendidikan yang baik kepada anak-anak dalam pergaulan sehari-hari. Seperti memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan ketika usia 10 tahun, menanamkan rasa malu ketika terbuka aurat sejak kecil, menegaskan perbedaan gender dan bagaimana peran mereka sesuai gender sejak usia dini, menghindari paparan pornoaksi dan pornografi disekitar mereka, mengajarkan ilmu tentang hukum-hukum syariat lainnya yang terkait dengan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam Islam. Semua ini tentunya tugas orang tua bersama masyarakat disekelilingnya, agar anak-anak terhindar dari orientasi seks yang menyimpang.
Sedangkan pelaku homoseks atau liwath ini akan mendapatkan sanksi yang tegas dari Negara Islam, berupa hukuman mati atau diasingkan. Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda, "Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!" (HR. Ahmad 2784, Abu Daud 4462)
Putusnya mata rantai penyebaran LGBT dengan hukum yang tegas seperti inilah yang saat ini belum ada. Sehingga perilaku mereka akan terus menyebar seperti virus keseluruh lapisan masyarakat. Pencegahan oleh keluarga saja takkan cukup menghalangi penyebarannya. Kita butuh negara yang mengatur sanksi terhadap pelaku LGBT sesuai syariat Islam, agar tertutup celah dan ruang bagi penyebaran virus ini. Karena peran negara dalam Islam mengatur urusan rakyatnya, bahkan sampai ruang privat sekalipun. Agar keluarga muslim bisa mencetak generasi unggul dan cemerlang.
By : Nurlaila Sari Qadarsih, SP *)
*) Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini
*) Dipublikasikan pada rubrik Opini koran harian Radar Banjarmasin, Rabu 27 Des 2017
Tak salah kiranya apa yang disampaikan oleh Sekretaris Komisi Dakwah MUI, Fahmi Salim bahwa LGBT tersebut merupakan bahaya tersembunyi alias bahaya laten yang bisa merusak generasi bangsa, karena merupakan budaya luar yang dipaksakan bagi bangsa Indonesia. (republika.co.id, 22/05/17).
LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) sudah mulai menyeruak di Nusantara sejak era tahun 60-an. Gerakan ini mulai berkembang melalui berbagai organisasi yang diprakarsai oleh kaum wanita transgender alias waria. Sekitar tahun 1980-an, para pria gay dan wanita lesbian semakin mengibarkan sayapnya dengan membentuk berbagai organisasi kecil dan beberapa media massa. Sebut saja organisasi Lambda Indonesia, Gaya Nusantara, Chandra Kirana. Juga beberapa media massa yang mereka terbitkan seperti Gaya Nusantara, Gaya Lestari, Jaka. Mereka terus bergerak tak kenal lelah. Jaringan mereka besar dan memiliki lebih dari 100 organisasi di 28 provinsi di Indonesia. Mereka menyentuh hampir setiap lapisan masyarakat. Mengutip data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2012, yang dilansir oleh sindonews.com, ada sekitar 1.095.970 laki-laki yang berperilaku menyimpang. Jumlah ini naik 37% dari tahun 2009. Dan diyakini, jumlah penganut homoseksual hingga 2017 sudah meningkat signifikan.
Pada tanggal 13-14 Juni 2013, telah diselenggarakan Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia di Nusa Dua, Bali. Dialog yang diselenggarakan oleh United Nations Development Programme (UNDP) bersama United States Agency for International Development (USAID) ini menghadirkan 71 peserta dari 49 lembaga yang mewakili organisasi LGBT di Indonesia. Dialog ini dinarasikan dalam laporan setebal 85 halaman yang berjudul Hidup sebagai LGBT di Asia: Laporan Nasional Indonesia. Atau lebih dikenal dengan "Being LGBT in Asia."
Kelompok LGBT ini tak main-main. Fakta-fakta diatas merupakan pengokohan akan besarnya usaha mereka untuk mengeksiskan diri. Apalagi dukungan dana yang tak sedikit oleh UNDP bekerjasama dengan Kedutaan Besar Swedia di Bangkok dan USAID. Tercatat kucuran dana USD 8 juta atau senilai Rp. 107,8 milyar untuk mendukung komunitas pelangi ini. Proyek ini dimulai sejak Desember 2014 hingga September 2017.(sindonews.com, 12/2/2017)
HAM adalah kendaraan yang membawa mereka bisa melenggang ke negeri-negeri muslim. Apalagi setelah pengakuan Amerika Serikat pada tahun 2015 terhadap perkawinan sejenis di negaranya. Ini membuat kelompok pelangi semakin kuat secara politis. Memilih pasangan hidupnya itu adalah kebebasan yang dilindungi oleh HAM. Tak ada yang boleh melarangnya.
Saling menyukai sesama jenis, atau dua jenis sekaligus ataupun merubah kelamin merupakan orientasi seks menyimpang dan tak sesuai dengan fitrah manusia. Tapi bagi mereka itu sah-sah saja, karena sekulerisme yang menjadi pijakannya, maka agama tak boleh mengurusi hidupnya. Jadi ngapain hukum Allah mengatur orang sampai ke ranjang? Yang jadi masalah, sasaran mereka tak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Sudahlah hubungan sesama jenis tak akan melahirkan keturunan, ditambah lagi generasi yang ada menjadi rusak karena perbuatan mereka ini. Hal ini tentu mengancam tatanan kehidupan. Tak hanya merusak hubungan keluarga, tapi juga mengancam generasi manusia. Dan parahnya lagi menimpa pula keluarga-keluarga muslim di dunia.
Belum lagi kalo kita bicara penyakit yang menyertainya. Telah jamak kita ketahui bahwa penyakit yang paling sering ditemui pada pelaku LGBT ini adalah Sifilis dan HIV-AIDS. Menurut dr. Dewi Inong Irana, SpKK, justru seks sesama jenis beresiko tinggi terjangkiti HIV AIDS. Bahkan 1 dari 4 LSL (Lelaki Seks dg Lelaki) positif HIV-AIDS.(ILC TV One, 19/12/2017) Bayangkan jika satu saja lelaki di dalam sebuah keluarga terjangkit penyakit HIV-AIDS ini, berapa banyak korban berikutnya akan timbul?
Secara fitrahnya, manusia yang diciptakan oleh Allah SWT ada dua jenis, laki-laki dan perempuan. Mereka diberikan rasa cinta satu sama lain yang kemudian dilegalkan dalam pernikahan. Dari pernikahan inilah akan lahir anak keturunan yang terus berkembang. Maka nasab pun akan terjaga. Allah sudah tetapkan bahwa melahirkan keturunan itu tugasnya perempuan, sedangkan laki-laki sebagai pelindung dan pemberi nafkahnya. Dari zaman Nabi Adam dan Siti Hawa fitrah ini sudah ditetapkan oleh Allah. Hingga kiamat datang, takkan mungkin tertukar. Jikalau fitrah ini ditolak, maka akibatnya muncullah perilaku seks yang menyimpang. Dan ini karena hawa nafsunya lebih dominan dibandingkan ketundukannya pada syariat.
Anak-anak dan keluarga terancam. Harus ada satu tindakan tegas untuk menghentikan ini semua. Tak hanya keluarga yang perlu aksi, tapi juga seluruh masyarakat, dan yang lebih utama adalah peran negara. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Niam, pernah menyampaikan kekhawatirannya akan kelompok LGBT ini. Menurutnya pemerintah harus tegas lindungi anak-anak Indonesia dari paparan orientasi seks menyimpang. (detik.com, 13/2/2016)
Islam telah memberikan cara pendidikan yang baik kepada anak-anak dalam pergaulan sehari-hari. Seperti memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan ketika usia 10 tahun, menanamkan rasa malu ketika terbuka aurat sejak kecil, menegaskan perbedaan gender dan bagaimana peran mereka sesuai gender sejak usia dini, menghindari paparan pornoaksi dan pornografi disekitar mereka, mengajarkan ilmu tentang hukum-hukum syariat lainnya yang terkait dengan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam Islam. Semua ini tentunya tugas orang tua bersama masyarakat disekelilingnya, agar anak-anak terhindar dari orientasi seks yang menyimpang.
Sedangkan pelaku homoseks atau liwath ini akan mendapatkan sanksi yang tegas dari Negara Islam, berupa hukuman mati atau diasingkan. Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda, "Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!" (HR. Ahmad 2784, Abu Daud 4462)
Putusnya mata rantai penyebaran LGBT dengan hukum yang tegas seperti inilah yang saat ini belum ada. Sehingga perilaku mereka akan terus menyebar seperti virus keseluruh lapisan masyarakat. Pencegahan oleh keluarga saja takkan cukup menghalangi penyebarannya. Kita butuh negara yang mengatur sanksi terhadap pelaku LGBT sesuai syariat Islam, agar tertutup celah dan ruang bagi penyebaran virus ini. Karena peran negara dalam Islam mengatur urusan rakyatnya, bahkan sampai ruang privat sekalipun. Agar keluarga muslim bisa mencetak generasi unggul dan cemerlang.
By : Nurlaila Sari Qadarsih, SP *)
*) Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini
*) Dipublikasikan pada rubrik Opini koran harian Radar Banjarmasin, Rabu 27 Des 2017
Minggu, 12 Desember 2010
Melatih Kemandirian Anak
A. Definisi Mandiri
Dalam masyarakat biasanya mandiri diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memenuhi keperluannya sendiri, baik pada anak maupun orang dewasa. Misalnya : mampu mandi sendiri, mampu makan sendiri, mampu memakai pakaiannya sendiri, dan sebagainya.
Sedangkan dalam kacamata Islam, seseorang dikategorikan mandiri apabila orang tersebut mampu memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan fisik (hajatul udhowiyah) maupun kebutuhan nalurinya (gharaiz), yang dilakukannya sendiri sesuai dengan aturan Islam dan tanpa banyak tergantung dengan orang lain. Misalnya : mampu makan sendiri dan memilih makanan yang halalan thoyyiban, mampu memakai pakaian sendiri dan menutup auratnya dengan benar, mampu mengendalikan amarahnya ketika muncul atau menyalurkannya dengan benar, dan sebagainya.
Mungkin kita bisa memperhatikan, sejauh ini anak-anak kita kira-kira sudahkah mengarah pada kemandirian? Dan apakah Islam sudah menjadi ukuran dalam kemandirian mereka?
B. Beberapa hal yang menyebabkan anak tidak mandiri
1. Adanya kekhawatiran yang berlebihan dari orang tua terhadap anaknya.
Misalnya : ortu suka melarang anaknya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bias dikerjakan anak meskipun belum sempurna. Seperti anak tidak boleh makan sendiri karena khawatir tumpah dan berhamburan, anak tidak boleh mandi sendiri karena khawatir masuk angin, menghambur-hamburkan sabun dan air, atau anak tidak boleh turun naik tangga (kalo rumahnya bertingkat) karena khawatir terpeleset dan jatuh. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
2. Orang tua yang sering membatasi dan melarang anaknya berbuat sesuatu secara berlebihan. Biasanya dengan ungkapan : “jangan ….”, atau “tidak boleh…..”. Misalnya : “Nanda jangan naik turun tangga.”
3. Kasih sayang orang tua yang terlalu berlebihan.
Semua orang tua pasti sayang pada buah hatinya. Namun ungkapan kasih sayang yang berlebihan kadang membuat anak menjadi sangat manja dan tidak mandiri. Bentuk ungkapan kasih sayang itu biasanya dalam bentuk pemenuhan semua keinginan anaknya, tanpa melihat lagi apakah memang diperlukan atau tidak untuk anak.
C. Cara-cara melatih anak agar bisa mandiri
Agar anak-anak kita bisa menjadi mandiri ada beberapa cara untuk melatihnya, diantaranya :
1. Memberikan pemahaman sesuai dengan tingkat perkembangan (kemampuan) akalnya.
Tahap perkembangan akal :
a. 0 – 2 th :
v Memberikan informasi dan fakta sebanyak2nya, dan sering di ulang2
v Pemberian kata-kata yang positif, mis : “Subhanallah, anak ummi cantik sekali sesudah mandi hari ini.”
v Pengucapan kata-kata oleh ortu dengan lafadz yang jelas dan benar, mis : Susu, bukan tutu.
b. 2 – 5 th :
v Melatih proses berpikir dgn memberikan pertanyaan2 yg menggugah pemikirannya, spt : mengapa air hujan turun dari langit?
v Memberikan permainan2 yang merangsang akalnya untuk berpikir, spt : menyusun balok2, puzzle, dll.
v Melatih disiplin sikapnya, sperti buang sampah pada tempatnya, mengajak sholat, dll.
c. 5 – 6 th :
v Membiasakan suasana berpikir pada anak dalam setiap kesempatan (dgn selalu menanyakan alasan2 dia mengerjakan sesuatu, mis : mengapa tidak mau mandi? mengapa suka memukul? Dsb)
v Memberikan informasi-informasi ttg aqidah, syariat dan akhlak.
v Membiasakan anak suka menghafal do’a2 harian, hadits, ayat-ayat al qur’an.
v Membiasakan mengucapkan kalimat2 thoyyibah dan makna2nya
v Membiasakan melakukan kewajiban secara teratur, seperti sholat, puasa, amar ma’ruf nahyi munkar, berbuat baik pada ibu-bapak dan saudara, dll
v Membiasakan berakhlak yang baik, sperti tidak berdusta, tidak sombong, rajin, dsb
d. 6 – 7 th :
v Anak sudah dibiasakan disiplin waktu untuk melaksanakn beban-beban hukum syara, seperti sholat pada waktunya, puasa sehari penuh, mengatur waktu2 utk bermain dan belajar, dll.
v Sudah biasa dengan hafalan do’a, hadits, ayat-ayat Al Qur’an, bacaan sholat, dll.
v Sudah dibiasakan dengan aturan2 dan dijelaskan tujuan membuat aturan tersebut, serta konsekuensi jika anak melanggarnya, mis : jika tidak sholat zuhur terlebih dahulu maka anak tidak boleh makan siang, jika hafalannya belum lancar tidak akan diajak kerumah nenek, dll.
v Sudah menumbuhkan rasa takut karena Allah, bukan karena ortu atau guru, mis : jika tidak sholat maka Allah tidak suka pada kita, kalo Allah sudah tak suka bisa jadi kita tak dimasukkanNya ke dalam surga.
v Mulai belajar menulis, membaca dan berhitung.
e. 7 – Baligh :
v Sudah terbiasa untuk selalu berpikir ketika mengerjakan sesuatu, mis : ketika makan selalu memilih yg halal dan thoyyib.
v Sudah terbiasa mengerjakan kewajiban individu seperti wudhu dan sholat, puasa, berbuat baik pada ortu, guru, saudara dan orang2 yg lebih tua, menutup aurat dgn benar,dsb.
v Sudah terbiasa berakhlak yg baik dan senantiasa memperhatikan adab2 yg baik, spt suka menolong saudara, suka bersedekah, selalu jujur, bias mengendalikan amarah, dsb.
2. Berbuatlah secara bijaksana.
Maksudnya, janganlah kita memaksa anak untuk mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu, kecuali hal itu berbahaya atau tidak sesuai dengan syari’at. Mengajarkan apa pun kepada anak mesti kita perhatikan kondisi mereka. Jika mereka dalam keadaan senang (enjoy) biasanya semua pengajaran kita mudah diserap oleh anak.
3. Memberikan kasih sayang secara wajar, tidak berlebihan ataupun kurang.
Kasih sayang wujudnya tidak semata-mata dengan hadiah atau materi. Perlakuan yang baik dan perhatian yang penuh terhadap anak sebenarnya adalah wujud dari kasih sayang. Namun jika ortu ingin menunjukkannya dengan bentuk materi berupa hadiah atau yang lainnya itupun sah-sah saja. Asalkan tidak menjadi kebiasaan sehingga yang terbentuk dalam pikiran anak bahwa orang tua sayang jika semua keinginannya dipenuhi, sehingga muncullah sosok anak yang manja, malas dan egois. Memberi pujian, kata-kata positif atau ciuman pada anak sebagai wujud kasih sayang sepertinya lebih bermakna pada anak daripada sekedar materi yang berlebihan. Namun miskin kasih sayang justru akan membuat anak merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, sehingga bias jadi membuat anak menjadi bandel, jahat dan sifat-sifat buruk lainnya.
4. Memberikan pendidikan secara tegas kepada anak.
Konsisten terhadap apa yang sudah diajarkan kepada anak. Tentunya pengajaran yang dimaksud adalah yang sesuai dengan syari’at Islam. Dan kerjasama antara ayah dan ibu sangat diperlukan. Misal : anak diajarkan untuk tidur terpisah pada usia 7 atau 8 tahun. Diawal pengajaran bisa jadi anak akan menangis ketika tidur sendiri. Tapi orang tua tetap memberikan pengertian dan penjelasan mengapa tidurnya harus terpisah dg ortu, serta memberikan rasa aman pada anak, bukan dengan mengalah dan membiarkan anak kembali tidur bersama ortunya. Ketegasan sikap ortu ini akan memunculkan keberanian dan kemandiriannya untuk bisa tidur sendirian.
D. Kesimpulan
Kemandirian anak bisa dibangun sejak usia dini dengan arahan dan bimbingan orang tua. Orang tua perlu memberikan contoh yang baik pada anak. Orang tua juga harus memberikan kesempatan pada anak untuk mempraktekkan kemandirian tersebut ketika anak berupaya memenuhi kebutuhan2nya. Dan jangan lupa berikan reward (penghargaan) pada anak ketika ia telah mampu melaksanakannya, sehingga muncul rasa percaya dirinya.
Wallahu’alam bish showwab.
Langganan:
Postingan (Atom)









