Oleh : Laila Thamrin
Saat anak lahir, yang kesakitan luar biasa tapi pasti paling bahagia, siapa?
Saat anak sudah bisa ngomong, sudah bisa jalan, apalagi berlari, yang paling bangga, siapa?
Saat anak demam, yang gak bisa makan dan gak pengen tidur beberapa malam, siapa?
Saat anak mulai masuk sekolah, yang rela berjejer nungguin di depan pagar sampai gak masak buat makan siang, siapa hayo?
Saat anak dapat PR dari sekolah, yang paling sibuk nyariin jawaban, kira-kira siapa?
Saat ulangan umum, yang rempong nyuruh anak belajar, siapa coba?
Saat fajar mulai menyapa, yang mengguncang-guncang badan anaknya supaya lekas ngambil air wudhu, siapa?
Saat jam masuk sekolah hampir tiba, yang memburu anak-anaknya supaya bergegas berangkat sekolah, siapa?
Saat anak lulus tingkatan demi tingkatan sekolahnya hingga sarjana, yang meneteskan air mata, siapa?
Saat anak lelakinya mengucap ijab kabul, yang membanjir airmatanya, siapa?
Saat anak perempuannya dipersunting seorang lelaki, yang terisak tanpa suara, siapa?
Saat seorang cucu hadir mewarnai hidup mereka, yang ribut mau mengasuhnya, siapa?
MasyaAllah....semua jawaban bermuara pada satu kata .... IBU.
Dia hadir dalam setiap tahap perkembangan anaknya. Dia hadir dalam setiap bahagia anaknya. Dan dia hadir dalam setiap sedih dan duka anak-anaknya. Karena seorang ibu, telah diberikan anugrah terindah oleh Allah yang memiliki kasih sayang dan kelemahlembutan bagi anak-anaknya.
Dan ingatlah wahai anak, seberapa besar pun engkau sekarang, seberapa pun usiamu saat ini, maka muliakanlah kedua orangtuamu. Terutama, Ibumu. Berbaktilah pada keduanya, lebih-lebih ibumu.
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Wallahu'alam bish shawwab. []
21 Rajab 1440 H / 28 Maret 2019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Tampilkan postingan dengan label Kasih Bunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasih Bunda. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Maret 2019
Kamis, 15 November 2018
Imitasi
"Mama, ini bedak Mama ya? Aku boleh coba?"
"Ma, lipstik ini warnanya apa? Nyobain ya?"
"Ummi, kerudung ummi yang pink mana? Adek pinjem dong!"
"Bu, kaki Dede sudah hampir sama besarnya dengan kaki Ibu. Boleh pinjem sendal bertumitnya gak?"
*****
Pernah ditanya anak gadis yang beranjak baligh atau bahkan sudah baligh seperti ini? Atau malah anak yang lebih kecil lagi yang merengek minta pakai bedak dan lipstik ibunya? Saya yakin, yang punya anak perempuan pasti pernah mengalami yang begini.
Anak memang suka meniru apa yang dilihatnya. Ayah dan bundanya menjadi "role of models" yang utama. Baik anak perempuan maupun laki-laki kecenderungan menirunya sama besarnya. Tapi memang pada anak perempuan biasanya lebih terlihat jelas mengimitasi bundanya.
Kalau anak laki-laki jarang menunjukkan dalam kesehariannya. Tetapi bisa saja kebiasaan-kebiasaan ayahnya sehari-hari akan ditirunya tanpa orangtua menyadarinya. Misalnya nih : makan gak pakai doa, malas sikat gigi malam sebelum tidur, menaruh handuk sesudah mandi sembarangan, habis minum gelasnya digeletakkan sembarang tempat, kaos kaki terserak, de el el. Hayoo....siapa nih yang kebiasaan ayah di rumah seperti ini? 😁
Menurut para ahli psikologi anak, proses meniru atau imitasi adalah hal yang biasa pada anak. Ini adalah bagian pembelajaran pada si anak. Karena setiap makhluk hidup akan mencoba sesuatu yang dicerapnya melalui inderanya. Baik dengan melihat, mendengar, membaui, mengecap ataupun meraba. Bahkan ini adalah proses awal lahirnya sebuah pemikiran yang brillian di kemudian hari. Sebab, setiap pengalaman yang diperoleh anak akan tersimpan rapi di memori otaknya.
Yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua muslim tentu apa yang sejatinya layak mereka lihat, dengar, cium, rasa dan raba. Agar nanti proses imitasinya indah. Makanya, ayah bunda mesti menjadi model yang baik buat anak-anaknya.
Jika tak ingin anaknya pakai lipstik menor, alis terangkat tinggi, pipi merah delima, ya bunda harus memberi contoh dandanan yang sederhana. Bahkan harus dikenalkan ke ananda kalau berdandan cantik itu hanya untuk suaminya saja kelak.
Jika ingin anaknya berpakaian menutup aurat dengan sempurna, kasih contoh dulu bundanya dengan pakaian syar'i. Agar ananda tak asing lagi mengenakannya.
Semua memang perlu proses. Tak bisa juga instan. Ayah dan bunda harus mempola hidupnya dengan kebaikan di setiap kesempatan. Memperbaiki hal-hal buruk yang mungkin masih sering ayah bunda lakukan. Belajar mengelola emosi. Belajar lebih sabar dan bijaksana. Apalagi jika anak sudah menuju usia baligh. Konflik dengan anak akan mudah terjadi, jika ayah bunda tak mampu memahami mereka.
Menjadi orang tua itu ternyata belajar dari nol. Persis seperti angka dispenser bahan bakar di SPBU. Sebagai orangtua, ayah bunda harus memahami bagaimana merawat dan mendidik anak kala bayi, balita, anak yang sudah tamyiz, anak hampir baligh, anak sudah baligh, remaja, dan ketika anak bersiap melepas masa lajangnya. Bukan sekedar seperti air mengalir yang berjalan sesukanya dan seadanya.
Rasulullah saw bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Karenanya, ayah dan bunda harus selalu belajar, belajar dan belajar. Karena belajar tak pernah dibatasi usia. Dan belajar tak hanya di sekolah saja. Dalam kesempatan apapun belajar itu bisa dilakukan. Agar anak-anak ayah dan bunda terwarnai hanya dengan kebaikan Islam semata.
So, tak ada yang salah saat anak menjadi imitasi ayah dan bundanya. Biarkan mereka meniru selama apa yang ditiru adalah kebaikan. Tapi, jangan lupa pemikiran ananda tetap harus diarahkan pada jalan hidup yang benar. Mereka harus diajak untuk berpikir tentang 3 hal ; dari mana asal manusia? ; untuk apa manusia ada di dunia? ; dan hendak kemana setelah matinya?
Jika ketiga hal ini telah ditemukan jawabannya dengan benar dan sempurna, insyaAllah anak pasti hanya akan meniru sesuatu yang baik dari ayah bundanya, atau dari lingkungannya, atau dari teman-temannya. Karena Allah menjadi pegangannya, syariat Islam jalan hidupnya, dan menegakkan Islam kaffah tujuannya.
Jadi ingat pepatah indah ini :
"Isy kariiman awmut syahiidan" ; "Hidup Mulia atau Mati Syahid."
Wallahu'alam bish shawwab
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#remindingmyself
#GerakanMedsosUntukDakwah
#GeMesDa
#Revowriter
#NgajiLiterasi
"Ma, lipstik ini warnanya apa? Nyobain ya?"
"Ummi, kerudung ummi yang pink mana? Adek pinjem dong!"
"Bu, kaki Dede sudah hampir sama besarnya dengan kaki Ibu. Boleh pinjem sendal bertumitnya gak?"
*****
Pernah ditanya anak gadis yang beranjak baligh atau bahkan sudah baligh seperti ini? Atau malah anak yang lebih kecil lagi yang merengek minta pakai bedak dan lipstik ibunya? Saya yakin, yang punya anak perempuan pasti pernah mengalami yang begini.
Anak memang suka meniru apa yang dilihatnya. Ayah dan bundanya menjadi "role of models" yang utama. Baik anak perempuan maupun laki-laki kecenderungan menirunya sama besarnya. Tapi memang pada anak perempuan biasanya lebih terlihat jelas mengimitasi bundanya.
Kalau anak laki-laki jarang menunjukkan dalam kesehariannya. Tetapi bisa saja kebiasaan-kebiasaan ayahnya sehari-hari akan ditirunya tanpa orangtua menyadarinya. Misalnya nih : makan gak pakai doa, malas sikat gigi malam sebelum tidur, menaruh handuk sesudah mandi sembarangan, habis minum gelasnya digeletakkan sembarang tempat, kaos kaki terserak, de el el. Hayoo....siapa nih yang kebiasaan ayah di rumah seperti ini? 😁
Menurut para ahli psikologi anak, proses meniru atau imitasi adalah hal yang biasa pada anak. Ini adalah bagian pembelajaran pada si anak. Karena setiap makhluk hidup akan mencoba sesuatu yang dicerapnya melalui inderanya. Baik dengan melihat, mendengar, membaui, mengecap ataupun meraba. Bahkan ini adalah proses awal lahirnya sebuah pemikiran yang brillian di kemudian hari. Sebab, setiap pengalaman yang diperoleh anak akan tersimpan rapi di memori otaknya.
Yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua muslim tentu apa yang sejatinya layak mereka lihat, dengar, cium, rasa dan raba. Agar nanti proses imitasinya indah. Makanya, ayah bunda mesti menjadi model yang baik buat anak-anaknya.
Jika tak ingin anaknya pakai lipstik menor, alis terangkat tinggi, pipi merah delima, ya bunda harus memberi contoh dandanan yang sederhana. Bahkan harus dikenalkan ke ananda kalau berdandan cantik itu hanya untuk suaminya saja kelak.
Jika ingin anaknya berpakaian menutup aurat dengan sempurna, kasih contoh dulu bundanya dengan pakaian syar'i. Agar ananda tak asing lagi mengenakannya.
Semua memang perlu proses. Tak bisa juga instan. Ayah dan bunda harus mempola hidupnya dengan kebaikan di setiap kesempatan. Memperbaiki hal-hal buruk yang mungkin masih sering ayah bunda lakukan. Belajar mengelola emosi. Belajar lebih sabar dan bijaksana. Apalagi jika anak sudah menuju usia baligh. Konflik dengan anak akan mudah terjadi, jika ayah bunda tak mampu memahami mereka.
Menjadi orang tua itu ternyata belajar dari nol. Persis seperti angka dispenser bahan bakar di SPBU. Sebagai orangtua, ayah bunda harus memahami bagaimana merawat dan mendidik anak kala bayi, balita, anak yang sudah tamyiz, anak hampir baligh, anak sudah baligh, remaja, dan ketika anak bersiap melepas masa lajangnya. Bukan sekedar seperti air mengalir yang berjalan sesukanya dan seadanya.
Rasulullah saw bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Karenanya, ayah dan bunda harus selalu belajar, belajar dan belajar. Karena belajar tak pernah dibatasi usia. Dan belajar tak hanya di sekolah saja. Dalam kesempatan apapun belajar itu bisa dilakukan. Agar anak-anak ayah dan bunda terwarnai hanya dengan kebaikan Islam semata.
So, tak ada yang salah saat anak menjadi imitasi ayah dan bundanya. Biarkan mereka meniru selama apa yang ditiru adalah kebaikan. Tapi, jangan lupa pemikiran ananda tetap harus diarahkan pada jalan hidup yang benar. Mereka harus diajak untuk berpikir tentang 3 hal ; dari mana asal manusia? ; untuk apa manusia ada di dunia? ; dan hendak kemana setelah matinya?
Jika ketiga hal ini telah ditemukan jawabannya dengan benar dan sempurna, insyaAllah anak pasti hanya akan meniru sesuatu yang baik dari ayah bundanya, atau dari lingkungannya, atau dari teman-temannya. Karena Allah menjadi pegangannya, syariat Islam jalan hidupnya, dan menegakkan Islam kaffah tujuannya.
Jadi ingat pepatah indah ini :
"Isy kariiman awmut syahiidan" ; "Hidup Mulia atau Mati Syahid."
Wallahu'alam bish shawwab
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#remindingmyself
#GerakanMedsosUntukDakwah
#GeMesDa
#Revowriter
#NgajiLiterasi
Minggu, 04 November 2018
Buka Mata Buka Hati #16
Dahsyatnya Doa Ibu
Oleh : Laila Thamrin
Sebuah pengalaman berharga hanya bisa didapatkan saat seseorang menjalani sebuah ujian kehidupan. Ya, tanpa melaluinya manusia tak pernah tahu bagaimana pahit atau manisnya suatu persoalan. Diuji dengan sakitnya anak, misalnya. Tentu ini bukan hal yang sepele. Apalagi jika sakit yang diderita anaknya cukup mengkuatirkan. Atau mungkin tak kunjung sembuh.
Sebagai orangtua pastilah akan merasakan kuatir, bingung, takut, was-was, gugup kala anaknya sakit. Dan segudang rasa lainnya yang campur aduk. Terutama hati sang ibu. Karena ibu merupakan orang terdekat dengan anak-anaknya.
Menumpahkan air mata menjadi jalan termudah yang bisa dilakukan untuk menenangkan hati ibu yang sedang oleng. Ajaibnya, seketika biasanya akan menguatkan kembali sel-sel tulang ibu untuk segera bertindak. Membangkitkan kembali nadi yang sebelumnya seolah berhenti berdenyut. Untuk mencari berbagai daya upaya demi kesembuhan dan kesehatan anaknya.
Di sisi lain, sejatinya seorang ibu harus berupaya untuk selalu mengedepankan ruhiyahnya. Harus dipola alam pikirnya dengan satu keyakinan bahwa sakit itu dari Allah, dan sembuh pun dari Allah semata. Semua ikhtiar yang dilakukan untuk mengobati ananda, semata ingin meraih pahala dari-Nya. Dan juga sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang kelak akan ditanyakan oleh Allah.
Keyakinan inilah yang paling berat untuk terus dipupuk di hati. Karena terkadang manusia bisa tergelincir dengan asumsi bahwa dokterlah yang menyembuhkan. Obat tertentulah yang manjur. Atau rumah sakit hebatlah yang paling berperan. Padahal itu semua hanyalah wasilah sampainya takdir Allah pada si sakit. Entah takdir sehat ataukah takdir bertambah parah. Tak ada yang tahu.
Maka saat ananda terbaring lemah karena sakitnya. Ibu haruslah berikhtiar dengan membawa ananda berobat ke dokter atau ke rumah sakit. Sekaligus juga mesti menggenapkan ikhtiarnya dengan doa. Ya, inilah senjata paling utama bagi setiap insan kala dia ditimpakan ujian dari Rabbnya.
Doa adalah mukh (ubun-ubun/inti) ibadah. Berdoa kepada Allah SWT merupakan aktivitas ibadah.
Rasulullah Saw bersabda, ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Begitulah yang dicontohkan Baginda Nabi Muhammad Saw. Beliau selalu berdoa di setiap kesempatan. Pun saat Beliau menghadapi musuh di perang Badar, Beliau berdoa tiada henti. Bahkan Beliau menangis dalam doanya hingga badannya bergetar dan surbannya terjatuh. Dan Allah pun mengabulkan doa Beliau dengan kemenangan di tangan kaum muslimin. Padahal pasukan kaum muslimin berjumlah hanya 1/3 pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Di sinilah kita bisa melihat doa mampu merubah sesuatu yang mustahil menjadi riil.
Dalam Siyar A'lam an-Nubala', Adz Dzahabi mengisahkan dari Muhammad bin Ahmad bin Fadhal al-Balkhy, dia mendengar ayahnya mengatakan bahwa kedua mata Imam al-Bukhari sempat buta semasa kanak-kanak. Namun pada suatu malam, ibunya bermimpi bahwa ibunya berjumpa dengan Nabi Ibrahim as. Kemudian berkata kepadanya, "Wahi ibu, sesungguhnya Allah azza wajala telah berkenan mengembalikan penglihatan anakmu karena cucuran air mata dan banyaknya doa yang engkau panjatkan kepada-Nya." Maka setelah kami periksa keesokan harinya, ternyata penglihatan al -Bukhari benar-benar telah kembali, ujar al-Balkhy. (Dikutip dari buku "Ibunda Para Ulama" oleh Sufyan bin Uad Baswedan, 2017)
Begitu dahsyatnya kekuatan doa ibu. Hingga Allah berkenan mengabulkan doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Berdoalah dengan lafazh yang indah. Mulailah dengan membaca istighfar dan sholawat atas Nabi. Dan lanjutkanlah dengan dengan kalimat yang baik. Mintalah kesembuhan ananda kepada Rabbul Izzati. Karena Allah yang memberi sakit dan Allah pula Yang Maha Menyembuhkan.
Tak ada batasan seberapa banyak doa kita. Seberapa panjang kalimat-kalimatnya. Berdoalah dengan sepenuh hati dan kepasrahan kepada-Nya.
Berdoalah di waktu yang mustajab untuk berdoa. Seperti di saat hujan deras, diantara azan dan iqomah, di saat sujud dalam salat, juga di sepertiga akhir setiap malam nan sepi. Di saat itulah peluang Allah akan mengabulkan doa kita besar. Maka upaya ini layak dilakukan ibu. Lakukanlah doa di malam-malam nan sepi. Saat semua orang terlelap. Dan saat itu Allah turun menjumpai hambanya. Adukan semua keluh kesah tentang sakit ananda.
Dan yakinlah, Allah mendengar setiap kata demi kata yang ibu ucapkan. Kesungguhan doa yang ibu curahkan sepenuh hati, tentu akan menjadi perhatian-Nya. Dan Allah pun akan kabulkan doa-doa ibu. Cepat ataupun lambat.
Allah swt berfirman dalam sebuah hadits qudsi :
“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. At Tirmidzi)
Allah juga berfirman :
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Rasulullah Saw pun bersabda :
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka tak ada yang lebih nikmat selain menanti dikabulkannya doa kita oleh-Nya. Kita ridho dengan keputusan-Nya. Dan Allah pun ridho kepada hamba-Nya.
Semoga ibu selalu menjadikan doa bagian hidupnya. Demi untuk kebaikan dan keberkahan anaknya. Tersebab doa seorang ibu, niscaya pintu langit kan terbuka. Allah pun akan mudah mengabulkan semua pinta sang ibu untuk anak-anaknya. Wallahu'alam bish shawwab. []
Banjarmasin, 04112018
#GeMesDa
#Revowriter
#MenulisUntukKebaikan
#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#Day1
Oleh : Laila Thamrin
Sebuah pengalaman berharga hanya bisa didapatkan saat seseorang menjalani sebuah ujian kehidupan. Ya, tanpa melaluinya manusia tak pernah tahu bagaimana pahit atau manisnya suatu persoalan. Diuji dengan sakitnya anak, misalnya. Tentu ini bukan hal yang sepele. Apalagi jika sakit yang diderita anaknya cukup mengkuatirkan. Atau mungkin tak kunjung sembuh.
Sebagai orangtua pastilah akan merasakan kuatir, bingung, takut, was-was, gugup kala anaknya sakit. Dan segudang rasa lainnya yang campur aduk. Terutama hati sang ibu. Karena ibu merupakan orang terdekat dengan anak-anaknya.
Menumpahkan air mata menjadi jalan termudah yang bisa dilakukan untuk menenangkan hati ibu yang sedang oleng. Ajaibnya, seketika biasanya akan menguatkan kembali sel-sel tulang ibu untuk segera bertindak. Membangkitkan kembali nadi yang sebelumnya seolah berhenti berdenyut. Untuk mencari berbagai daya upaya demi kesembuhan dan kesehatan anaknya.
Di sisi lain, sejatinya seorang ibu harus berupaya untuk selalu mengedepankan ruhiyahnya. Harus dipola alam pikirnya dengan satu keyakinan bahwa sakit itu dari Allah, dan sembuh pun dari Allah semata. Semua ikhtiar yang dilakukan untuk mengobati ananda, semata ingin meraih pahala dari-Nya. Dan juga sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang kelak akan ditanyakan oleh Allah.
Keyakinan inilah yang paling berat untuk terus dipupuk di hati. Karena terkadang manusia bisa tergelincir dengan asumsi bahwa dokterlah yang menyembuhkan. Obat tertentulah yang manjur. Atau rumah sakit hebatlah yang paling berperan. Padahal itu semua hanyalah wasilah sampainya takdir Allah pada si sakit. Entah takdir sehat ataukah takdir bertambah parah. Tak ada yang tahu.
Maka saat ananda terbaring lemah karena sakitnya. Ibu haruslah berikhtiar dengan membawa ananda berobat ke dokter atau ke rumah sakit. Sekaligus juga mesti menggenapkan ikhtiarnya dengan doa. Ya, inilah senjata paling utama bagi setiap insan kala dia ditimpakan ujian dari Rabbnya.
Doa adalah mukh (ubun-ubun/inti) ibadah. Berdoa kepada Allah SWT merupakan aktivitas ibadah.
Rasulullah Saw bersabda, ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Begitulah yang dicontohkan Baginda Nabi Muhammad Saw. Beliau selalu berdoa di setiap kesempatan. Pun saat Beliau menghadapi musuh di perang Badar, Beliau berdoa tiada henti. Bahkan Beliau menangis dalam doanya hingga badannya bergetar dan surbannya terjatuh. Dan Allah pun mengabulkan doa Beliau dengan kemenangan di tangan kaum muslimin. Padahal pasukan kaum muslimin berjumlah hanya 1/3 pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Di sinilah kita bisa melihat doa mampu merubah sesuatu yang mustahil menjadi riil.
Dalam Siyar A'lam an-Nubala', Adz Dzahabi mengisahkan dari Muhammad bin Ahmad bin Fadhal al-Balkhy, dia mendengar ayahnya mengatakan bahwa kedua mata Imam al-Bukhari sempat buta semasa kanak-kanak. Namun pada suatu malam, ibunya bermimpi bahwa ibunya berjumpa dengan Nabi Ibrahim as. Kemudian berkata kepadanya, "Wahi ibu, sesungguhnya Allah azza wajala telah berkenan mengembalikan penglihatan anakmu karena cucuran air mata dan banyaknya doa yang engkau panjatkan kepada-Nya." Maka setelah kami periksa keesokan harinya, ternyata penglihatan al -Bukhari benar-benar telah kembali, ujar al-Balkhy. (Dikutip dari buku "Ibunda Para Ulama" oleh Sufyan bin Uad Baswedan, 2017)
Begitu dahsyatnya kekuatan doa ibu. Hingga Allah berkenan mengabulkan doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Berdoalah dengan lafazh yang indah. Mulailah dengan membaca istighfar dan sholawat atas Nabi. Dan lanjutkanlah dengan dengan kalimat yang baik. Mintalah kesembuhan ananda kepada Rabbul Izzati. Karena Allah yang memberi sakit dan Allah pula Yang Maha Menyembuhkan.
Tak ada batasan seberapa banyak doa kita. Seberapa panjang kalimat-kalimatnya. Berdoalah dengan sepenuh hati dan kepasrahan kepada-Nya.
Berdoalah di waktu yang mustajab untuk berdoa. Seperti di saat hujan deras, diantara azan dan iqomah, di saat sujud dalam salat, juga di sepertiga akhir setiap malam nan sepi. Di saat itulah peluang Allah akan mengabulkan doa kita besar. Maka upaya ini layak dilakukan ibu. Lakukanlah doa di malam-malam nan sepi. Saat semua orang terlelap. Dan saat itu Allah turun menjumpai hambanya. Adukan semua keluh kesah tentang sakit ananda.
Dan yakinlah, Allah mendengar setiap kata demi kata yang ibu ucapkan. Kesungguhan doa yang ibu curahkan sepenuh hati, tentu akan menjadi perhatian-Nya. Dan Allah pun akan kabulkan doa-doa ibu. Cepat ataupun lambat.
Allah swt berfirman dalam sebuah hadits qudsi :
“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. At Tirmidzi)
Allah juga berfirman :
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Rasulullah Saw pun bersabda :
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka tak ada yang lebih nikmat selain menanti dikabulkannya doa kita oleh-Nya. Kita ridho dengan keputusan-Nya. Dan Allah pun ridho kepada hamba-Nya.
Semoga ibu selalu menjadikan doa bagian hidupnya. Demi untuk kebaikan dan keberkahan anaknya. Tersebab doa seorang ibu, niscaya pintu langit kan terbuka. Allah pun akan mudah mengabulkan semua pinta sang ibu untuk anak-anaknya. Wallahu'alam bish shawwab. []
Banjarmasin, 04112018
#GeMesDa
#Revowriter
#MenulisUntukKebaikan
#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#Day1
Minggu, 23 September 2018
Buka Mata Buka Hati #15
Lautan Kasih Sayang
Teriknya sinar sang surya seakan menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuhku. Dahaga menyerbuku. Bukannya tak ada air ataukah tak sempat minum barang seteguk. Tapi ketaatan pada Rabbul Izzati yang menuntunku untuk tak makan dan minum hari itu.
Tepat 10 Muharram 1440 H, hari Asyura yang disunnahkan puasa bagi muslim. Dan aku pun berusaha tegar menjalaninya. Begitu pula si bungsuku. Meski terlihat kusut mukanya kala kujemput sekolah. Trus mengadu, "Ummi, teman-teman banyak yang gak puasa. Naura haus, Mi."
"Yang sabar ya, Nak. Hari ini puasa sunnah. Yang mengerjakannya dapat pahala sunnah. Yang hari ini tak puasa terlihat enak. Tapi mereka tak dapat pahala sunnah, meski mereka tak berdosa. Naura mau gak dapat kenikmatannya nanti di surga? Teman-teman yang gak puasa belum tentu dapat loh di surga,"kujelaskan demi menenangkannya.
"Mau dong, Mi." Riang dia menjawabku. Meski suaranya sedikit lemes.
Kami pun meluncur pulang.
Saat di rumah segera Naura melepas baju dan berendam di baskom besar. Biar adem katanya. Ya, cuaca hari itu memang sangat menggigit panasnya. Sudah dinyalakan kipas angin saja, panasnya masih membara. Subhanallah.
Setengah jam berendam bikin adem. Seger. Lalu segera Naura pakai baju. Bedak. Wangi deh. Trus tetiba bilang, "Mi, hari ini Ummi belum ada cium Naura," sambil rebahan di sampingku.
"Oh iya ya...Ummi lupa." Segera kupeluk dan kuciumi dia dengan sepenuh cinta.
"Suka gak diciumi Ummi, Nak."
"Ho-oh." Angguknya cepat sambil tersenyum, menampakkan sederet giginya meski ada jendelanya, alias ompong.
Ya, bungsuku sudah usia 9 tahun. Tapi suka sekali dicium. Apalagi kalau selesai mandi, pasti minta dicium Ummi.
*****
Kadang kita lupa memberikan sekedar ciuman pada anak-anak kita yang mulai besar, bahkan beranjak remaja. Terlebih pada anak lelaki. Padahal, bagi seorang anak, ciuman ayah dan ibunya ternyata menunjukkan bahwa kedua orangtuanya masih peduli padanya. Masih sayang dan cinta.
Anak keduaku yang laki-laki juga begitu. Dia semringah sekali jika kulayangkan ciuman ke pipinya. Padahal dia sudah SMP kelas delapan loh.
Begitupun sulungku. Gadis manis yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua belas. Jika kucium pipi kanannya, pasti pipi kirinya disodorkan juga. Bahkan minta dipeluk. Begitulah anak-anakku.
Menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences, pelukan dan ciuman pada anak ternyata dapat menambah jumlah produksi hormon oksitosin dan endorfin yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak-anak.(muslimah.me)
Situs www.beranihijrah.org melansir, bahwa seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City (AS), Edward R.Christopherson.Ph.D, menyatakan jika pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya. Bahkan hal ini bisa memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.
Hmm, ternyata mencium anak banyak manfaatnya. Utamanya mendapatkan pahala. Sekaligus menghidupkan kasih sayang dan cinta antara anak dan orangtua. Bahkan Rasulullah Saw, sang teladan kita, juga telah mengajarkan hal serupa. Jauh sebelum orang-orang masa kini memahaminya.
“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)
Abu Hurairah ra berkata, "Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ternyata, curahan kasih sayang kepada anak-anak kita nampak terasa bagi mereka kala menciuminya. Dan mereka merasakan kebahagiaan yang tak terperi saat ciuman kita mendarat di pipi atau keningnya.
Lautan kasih sayang sungguh tak bertepi.
Dalam, hingga sampai ke hati.
Menciumi anak hanyalah seteguk kasih dan cinta.
Dari sepasang orantua yang mulia.
Hanya berharap rahmat dari Illahi Rabbi
Maka, sudahkah anda mencium anak-anak hari ini? 😄
Laila Thamrin
21092018
#BermainKata009
#NgajiLiterasi
#Revowriter
Teriknya sinar sang surya seakan menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuhku. Dahaga menyerbuku. Bukannya tak ada air ataukah tak sempat minum barang seteguk. Tapi ketaatan pada Rabbul Izzati yang menuntunku untuk tak makan dan minum hari itu.
Tepat 10 Muharram 1440 H, hari Asyura yang disunnahkan puasa bagi muslim. Dan aku pun berusaha tegar menjalaninya. Begitu pula si bungsuku. Meski terlihat kusut mukanya kala kujemput sekolah. Trus mengadu, "Ummi, teman-teman banyak yang gak puasa. Naura haus, Mi."
"Yang sabar ya, Nak. Hari ini puasa sunnah. Yang mengerjakannya dapat pahala sunnah. Yang hari ini tak puasa terlihat enak. Tapi mereka tak dapat pahala sunnah, meski mereka tak berdosa. Naura mau gak dapat kenikmatannya nanti di surga? Teman-teman yang gak puasa belum tentu dapat loh di surga,"kujelaskan demi menenangkannya.
"Mau dong, Mi." Riang dia menjawabku. Meski suaranya sedikit lemes.
Kami pun meluncur pulang.
Saat di rumah segera Naura melepas baju dan berendam di baskom besar. Biar adem katanya. Ya, cuaca hari itu memang sangat menggigit panasnya. Sudah dinyalakan kipas angin saja, panasnya masih membara. Subhanallah.
Setengah jam berendam bikin adem. Seger. Lalu segera Naura pakai baju. Bedak. Wangi deh. Trus tetiba bilang, "Mi, hari ini Ummi belum ada cium Naura," sambil rebahan di sampingku.
"Oh iya ya...Ummi lupa." Segera kupeluk dan kuciumi dia dengan sepenuh cinta.
"Suka gak diciumi Ummi, Nak."
"Ho-oh." Angguknya cepat sambil tersenyum, menampakkan sederet giginya meski ada jendelanya, alias ompong.
Ya, bungsuku sudah usia 9 tahun. Tapi suka sekali dicium. Apalagi kalau selesai mandi, pasti minta dicium Ummi.
*****
Kadang kita lupa memberikan sekedar ciuman pada anak-anak kita yang mulai besar, bahkan beranjak remaja. Terlebih pada anak lelaki. Padahal, bagi seorang anak, ciuman ayah dan ibunya ternyata menunjukkan bahwa kedua orangtuanya masih peduli padanya. Masih sayang dan cinta.
Anak keduaku yang laki-laki juga begitu. Dia semringah sekali jika kulayangkan ciuman ke pipinya. Padahal dia sudah SMP kelas delapan loh.
Begitupun sulungku. Gadis manis yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua belas. Jika kucium pipi kanannya, pasti pipi kirinya disodorkan juga. Bahkan minta dipeluk. Begitulah anak-anakku.
Menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences, pelukan dan ciuman pada anak ternyata dapat menambah jumlah produksi hormon oksitosin dan endorfin yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak-anak.(muslimah.me)
Situs www.beranihijrah.org melansir, bahwa seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City (AS), Edward R.Christopherson.Ph.D, menyatakan jika pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya. Bahkan hal ini bisa memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.
Hmm, ternyata mencium anak banyak manfaatnya. Utamanya mendapatkan pahala. Sekaligus menghidupkan kasih sayang dan cinta antara anak dan orangtua. Bahkan Rasulullah Saw, sang teladan kita, juga telah mengajarkan hal serupa. Jauh sebelum orang-orang masa kini memahaminya.
“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)
Abu Hurairah ra berkata, "Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ternyata, curahan kasih sayang kepada anak-anak kita nampak terasa bagi mereka kala menciuminya. Dan mereka merasakan kebahagiaan yang tak terperi saat ciuman kita mendarat di pipi atau keningnya.
Lautan kasih sayang sungguh tak bertepi.
Dalam, hingga sampai ke hati.
Menciumi anak hanyalah seteguk kasih dan cinta.
Dari sepasang orantua yang mulia.
Hanya berharap rahmat dari Illahi Rabbi
Maka, sudahkah anda mencium anak-anak hari ini? 😄
Laila Thamrin
21092018
#BermainKata009
#NgajiLiterasi
#Revowriter
Kamis, 12 Juli 2018
Buka Mata Buka Hati #12
Kebahagiaan Dibalik Mudik Yang Tertunda
Bukan harta yang bikin orangtua bahagia. Tapi pertemuan dengan buah hati tercintalah jawabannya. Meski anak yang dirantau datang tanpa memberikan apapun, asalkan datang dengan sepenuh cinta pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Terlebih jika sudah lama tak berjumpa, karena terhalang jarak dan kesibukan kerja.
*****
Mudik saat lebaran memang telah jadi tradisi di Indonesia. Termasuk di keluarga kecilku. Kebiasaan unik ini baru kurasakan sensasinya 17 tahun belakangan ini saja. Dulu, waktu lihat teman-teman kuliah pada sibuk membicarakan jadwal kepulangan mudiknya, aku cuma senyum dan sesekali nimbrung. Pernah terbersit dalam hatiku, "kapan ya aku bisa mudik kaya mereka?" Hehe..karena kuliahku hanya berjarak 40 kilometer dari rumahku.
Tapi, tak disangka-sangka, ternyata Allah dengar dan berikan aku kesempatan loh. Bahkan bisa mudik ke daerah paling ujung dari provinsiku. Ya, sejak aku menikah dengan seorang putra daerah Tabalong, salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Sejak itulah aku baru mengerti "penting"nya mudik. Dan akupun melakoninya dengan berbagai pernak-perniknya.
Seperti Lebaran tahun ini, meski rencana mudik sudah disusun, namun mudikku gagal. Pasalnya, anak-anak dan aku gantian sakit. Jadilah aku perawat merangkap jadi pasien juga. Alhasil, terpaksa hanya suami yang mudik. Karena setahun sudah tak pulang ke rumah orang tuanya.
Sedih juga aku gak bisa ikut mudik. Mertua dan adik-adik iparkupun menunggu kedatangan kami sekeluarga penuh harap. Ada terselip rasa kecewa ketika aku dan anak-anak tak ikut pulang.
"Sakit ya, kak?" tanya adik iparku lewat sambungan telpon pas suami sudah sampai di sana.
"Iya, dik. Anak-anak terserang cacar air. Mulai si tengah, si bungsu, sampai si sulung. Bahkan aku juga ikut terjangkit." jawabku sedih.
"Subhanallah. Semoga cepat pulih lagi ya, kak." sambungnya.
Begitupun kala suami cerita kalau Mama dan Abah menyambut kedatangannya sembari berkata, "Kenapa anak-anakmu gak ikut, Rizal?" kepada suamiku. Nampak sekali kerinduan beliau terhadap cucu-cucunya. Maklumlah, kami tinggal lumayan jauh dari rumah mereka.
Kabupaten Tabalong itu berjarak kurang lebih 232 kilometer dari kota Banjarmasin, kota kelahiranku sekaligus daerah tinggal kami sekarang. Jarak tempuh yang memakan waktu 7-8 jam lewat darat ini cukup melelahkan. Dan bagi anak bungsuku bahkan memabukkan. Mabuk darat. Sampai dia sering muntah-muntah jika mudik. Lemes jadinya.
Apalagi ongkosnya, terasa lumayan besar ketika Lebaran datang. Karena biasanya akan naik sekitar 20-30% dari harga normal. Dari yang seharga 75 ribu perorang normalnya, bisa sampai 100 ribu perorang saat musim mudik. Bayangkan saja, kalau kami pulang berlima. Balik juga berlima. Tambah menu camilan dan makan berat di jalan. Wah, tentu bagi kami, semua perlu perhitungan. Entahlah bagi mereka yang berduit banyak.
Ini bukan perkara aku dan suami hitung-hitungan ya untuk urusan berbakti pada orangtua. Bukan itu. Tapi semata-mata perkara uangnya yang kadang tak cukup. Tersebab itulah, minimal setahun sekali mudik rasanya sangat pas bagi ukuran kantong suamiku. Kan aku tanggungan suamiku. Hehehe.... Dan orangtua pun memahaminya. Sehingga tiap lebaran pasti aku dan keluarga dinanti-nanti oleh Mama dan Abah di kampung halaman.
****
Hampir sebulan syawal kujalani. Musim mudikpun sudah lama berlalu. Tapi anak-anak masih libur sekolahnya. Aku pun sudah kembali sehat. Tiba-tiba suami berkata, "Kita mudik yuk, Mi! Mumpung anak-anak masih libur sekolah. Sekalian jenguk Mama, beliau lagi kurang sehat."
Aku terperangah. Yang terbersit dibenakku hanya satu, ongkosnya! Akupun langsung berucap, "Ongkosnya gimana, Bi? Anak-anak sebentar lagi sekolah. Keperluan sekolahnya juga belum terbeli."
"Alhamdulillah, Abi dapat rezeki lebih. InsyaAllah cukup buat kita sewa mobil aja dan berangkat semua."
"What? Sewa mobil? Bukannya tambah mahal?" ucapku
"Gak papa. Sekali-sekali. Mumpung uangnya ada dan cukup." kata suamiku dengan mata berbinar.
Aku kayak dapat durian runtuh deh. Hehe...karena biasanya kalau mudik yang pertama dihitung pasti ongkosnya. Dan ini tiba-tiba suami malah nawarin sewa mobil yang tentu saja agak lebih mahal.
Sempat sih terucap pada suami mending uangnya disimpan aja buat keperluan renovasi rumah yang belum kelar. Tapi suami bilang, kalau uang seberapapun diniatkan untuk membahagiakan orangtua, insyaAllah nanti Allah ganti dengan yang lebih baik.
Glek! Akupun tersadar. Benar juga kata suamiku. Akupun manut saja. Berharap Allah akan berikan yang terbaik untuk semuanya.
Akhirnya, persiapanpun dilakukan. Pilih tanggal yang pas. Berapa hari mau mudiknya. Cari tempat penyewaan mobil. Tanya-tanya teman harga kisarannya. Pokoknya sibuk deh.
Apalagi ingat kalau ibu mertuaku sempat sakit kakinya pas lebaran kemarin. Dan kata Abah, sehari setelah suamiku balik ke Banjarmasin, Mama sempat dibawa ke IGD. Ngilu di kaki kiri Mama sampai bikin beliau hampir tak kuat menahannya. Bahkan tak mampu dipakai untuk berjalan. Selera makan beliaupun hilang. Jadinya asupan energi tak ada masuk. Tentu saja tubuh beliau ikut lemes.
Beruntung, beliau dibolehkan rawat jalan. Namun, harus dapat asupan nutrisi pengganti dari selang infus. Dan tambah beruntung lagi, salah satu mantu Mama seorang perawat di rumah sakit Tabalong. Adik ipar suamiku. Allah Maha Pembuat Skenario.
*****
Singkat cerita, aku sekeluarga memilih mudik di hari Minggu pagi. Anak-anakpun ternyata lebih enjoy menikmati perjalanan mudiknya. Meski tetap diwarnai mabuknya si bungsu dan beberapa kali muntah selama diperjalanan.
Delapan jam lamanya kami tempuh tuk menyusuri jalan menuju Kabupaten Tabalong. Hingga jam 5 sore kami pun sampai. Dan meluncurlah mobil abu-abu metalik yang kami kendarai tepat di halaman rumah Mama dan Abah. Klaksonpun dibunyikan suamiku. Tiin...tiin!
"Assalamu'alaikum!" Suamiku mengucap salam seraya melongok ke pintu samping. Kebetulan Mama sedang duduk di ruang tengah rumah itu. Ruangan ini berhubungan langsung dengan pintu samping yang menuju ke teras depan rumah. Jadi, sejurus beliau tengok keluar pintu, mobil kami yang parkir di halamanpun jelas terlihat.
Beliau terperanjat. Tak mengira putra sulungnya ada di hadapannya. Plus menantu dan cucu-cucunya. Beliau membalas salam sambil berdiri dan menyongsong suamiku.
Semringah sekali raut muka beliau. Takjub dan bahagia jelas sekali terpancar di mata beliau. Kusalami Mama dengan penuh takzim. Beliau cium kedua pipiku. Pun anak-anakku.
Beliau bilang, "Aku benar-benar tak menyangka kalau kalian semua yang datang. Kukira tadi itu mobil Annisa. Tapi pas masuk ke rumah ternyata Rizal yang datang." ungkap beliau penuh bahagia. Annisa adalah adik perempuan suamiku.
"Ayo, bawa masuk semua barangnya. Sini, kita bikin minuman hangat." ajak beliau.
"Nggih, Ma." jawabku.
"Rizal, cepat telpon Abah. Tadi barusan Abah ke rumah Annisa. Suruh segera pulang. Sekalian Annisa suruh juga kesini." kata Mama bersemangat.
Suamikupun segera meraih gawainya, dan ngobrol dengan Abah. Rumah Annisa hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah Mama. Jadi sekitar lima menit saja Abah sudah nongol. Langsung memanggil nama anak-anakku. Masya Allah...ternyata benar, kakek dan nenek itu kecintaannya pada cucu-cucunya jauh lebih nampak ekspresinya daripada ke anak-anaknya. Meskipun aku yakin, cinta kepada anaknya tentu juga takkan berkurang sedikitpun.
Bahagiapun kurasakan hari itu. Meski tubuh ini letih melalui perjalanan yang cukup panjang. Apalagi kadang sport jantung gara-gara jalan yang penuh tantangan. Namun semua tiba-tiba sirna ketika melihat kebahagiaan Mama dan Abah dengan kedatanganku sekeluarga. Dan uniknya, beliau tak pernah bertanya oleh-oleh apa yang dibawakan anaknya. Tak pernah sekalipun. Justru semua yang beliau punya dikeluarkan untuk anak, menantu dan cucu-cucunya.
Inilah letak kebahagiaan hakiki yang hanya bisa didapatkan tatkala bertemu orangtua. Jika tak mudik ke kampung halaman, takkan pernah merasakan kebahagiaan ini. Terlebih bagi para perantau yang sudah merantau jauh dari kampungnya.
Makanya, para perantau pasti bela-belain buat mudik tiap tahun. Karena rasa ini takkan bisa diungkapkan sempurna dengan kata-kata dan tulisan. Hanya perbuatan yang bisa melukiskan betapa indahnya rasa ini. Rasa bahagia tak bertepi kala bertemu dengan keluarga di kampung, khususnya orangtua tercinta.
Disinilah aku belajar arti sebuah kebahagiaan ketika berkumpul bersama orangtua. Salah satu bukti cinta dan bakti anak kepada ayah ibunya. Wujud birrul walidain yang diperintahkan agama. Rugi besar jika kita abaikan mereka dimasa tuanya. Apalagi jika keduanya masih hidup. Karena dari merekalah keberkahan hidup di dunia kan kita peroleh. Bahkan pintu surgapun kan terbuka untuk kita karenanya.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran yang artinya :
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’ : 23)
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. Al-Isra' : 24)
Alhamdulillah, meski mudikku sekeluarga tertunda, namun kebahagiaan tetap menyeruak saat berjumpa dengan Abah dan Mama. Karena berjumpa dengan orangtua tak harus menanti Lebaran tiba. Kapan saja jika ada kesempatan dan waktunya, datangilah mereka. Karena bagi orangtua anak adalah permata hati yang takkan berubah posisinya sejak lahir hingga kapanpun jua.[]
Laila Thamrin
(Handil Bakti, 12072018)
Bukan harta yang bikin orangtua bahagia. Tapi pertemuan dengan buah hati tercintalah jawabannya. Meski anak yang dirantau datang tanpa memberikan apapun, asalkan datang dengan sepenuh cinta pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Terlebih jika sudah lama tak berjumpa, karena terhalang jarak dan kesibukan kerja.
*****
Mudik saat lebaran memang telah jadi tradisi di Indonesia. Termasuk di keluarga kecilku. Kebiasaan unik ini baru kurasakan sensasinya 17 tahun belakangan ini saja. Dulu, waktu lihat teman-teman kuliah pada sibuk membicarakan jadwal kepulangan mudiknya, aku cuma senyum dan sesekali nimbrung. Pernah terbersit dalam hatiku, "kapan ya aku bisa mudik kaya mereka?" Hehe..karena kuliahku hanya berjarak 40 kilometer dari rumahku.
Tapi, tak disangka-sangka, ternyata Allah dengar dan berikan aku kesempatan loh. Bahkan bisa mudik ke daerah paling ujung dari provinsiku. Ya, sejak aku menikah dengan seorang putra daerah Tabalong, salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Sejak itulah aku baru mengerti "penting"nya mudik. Dan akupun melakoninya dengan berbagai pernak-perniknya.
Seperti Lebaran tahun ini, meski rencana mudik sudah disusun, namun mudikku gagal. Pasalnya, anak-anak dan aku gantian sakit. Jadilah aku perawat merangkap jadi pasien juga. Alhasil, terpaksa hanya suami yang mudik. Karena setahun sudah tak pulang ke rumah orang tuanya.
Sedih juga aku gak bisa ikut mudik. Mertua dan adik-adik iparkupun menunggu kedatangan kami sekeluarga penuh harap. Ada terselip rasa kecewa ketika aku dan anak-anak tak ikut pulang.
"Sakit ya, kak?" tanya adik iparku lewat sambungan telpon pas suami sudah sampai di sana.
"Iya, dik. Anak-anak terserang cacar air. Mulai si tengah, si bungsu, sampai si sulung. Bahkan aku juga ikut terjangkit." jawabku sedih.
"Subhanallah. Semoga cepat pulih lagi ya, kak." sambungnya.
Begitupun kala suami cerita kalau Mama dan Abah menyambut kedatangannya sembari berkata, "Kenapa anak-anakmu gak ikut, Rizal?" kepada suamiku. Nampak sekali kerinduan beliau terhadap cucu-cucunya. Maklumlah, kami tinggal lumayan jauh dari rumah mereka.
Kabupaten Tabalong itu berjarak kurang lebih 232 kilometer dari kota Banjarmasin, kota kelahiranku sekaligus daerah tinggal kami sekarang. Jarak tempuh yang memakan waktu 7-8 jam lewat darat ini cukup melelahkan. Dan bagi anak bungsuku bahkan memabukkan. Mabuk darat. Sampai dia sering muntah-muntah jika mudik. Lemes jadinya.
Apalagi ongkosnya, terasa lumayan besar ketika Lebaran datang. Karena biasanya akan naik sekitar 20-30% dari harga normal. Dari yang seharga 75 ribu perorang normalnya, bisa sampai 100 ribu perorang saat musim mudik. Bayangkan saja, kalau kami pulang berlima. Balik juga berlima. Tambah menu camilan dan makan berat di jalan. Wah, tentu bagi kami, semua perlu perhitungan. Entahlah bagi mereka yang berduit banyak.
Ini bukan perkara aku dan suami hitung-hitungan ya untuk urusan berbakti pada orangtua. Bukan itu. Tapi semata-mata perkara uangnya yang kadang tak cukup. Tersebab itulah, minimal setahun sekali mudik rasanya sangat pas bagi ukuran kantong suamiku. Kan aku tanggungan suamiku. Hehehe.... Dan orangtua pun memahaminya. Sehingga tiap lebaran pasti aku dan keluarga dinanti-nanti oleh Mama dan Abah di kampung halaman.
****
Hampir sebulan syawal kujalani. Musim mudikpun sudah lama berlalu. Tapi anak-anak masih libur sekolahnya. Aku pun sudah kembali sehat. Tiba-tiba suami berkata, "Kita mudik yuk, Mi! Mumpung anak-anak masih libur sekolah. Sekalian jenguk Mama, beliau lagi kurang sehat."
Aku terperangah. Yang terbersit dibenakku hanya satu, ongkosnya! Akupun langsung berucap, "Ongkosnya gimana, Bi? Anak-anak sebentar lagi sekolah. Keperluan sekolahnya juga belum terbeli."
"Alhamdulillah, Abi dapat rezeki lebih. InsyaAllah cukup buat kita sewa mobil aja dan berangkat semua."
"What? Sewa mobil? Bukannya tambah mahal?" ucapku
"Gak papa. Sekali-sekali. Mumpung uangnya ada dan cukup." kata suamiku dengan mata berbinar.
Aku kayak dapat durian runtuh deh. Hehe...karena biasanya kalau mudik yang pertama dihitung pasti ongkosnya. Dan ini tiba-tiba suami malah nawarin sewa mobil yang tentu saja agak lebih mahal.
Sempat sih terucap pada suami mending uangnya disimpan aja buat keperluan renovasi rumah yang belum kelar. Tapi suami bilang, kalau uang seberapapun diniatkan untuk membahagiakan orangtua, insyaAllah nanti Allah ganti dengan yang lebih baik.
Glek! Akupun tersadar. Benar juga kata suamiku. Akupun manut saja. Berharap Allah akan berikan yang terbaik untuk semuanya.
Akhirnya, persiapanpun dilakukan. Pilih tanggal yang pas. Berapa hari mau mudiknya. Cari tempat penyewaan mobil. Tanya-tanya teman harga kisarannya. Pokoknya sibuk deh.
Apalagi ingat kalau ibu mertuaku sempat sakit kakinya pas lebaran kemarin. Dan kata Abah, sehari setelah suamiku balik ke Banjarmasin, Mama sempat dibawa ke IGD. Ngilu di kaki kiri Mama sampai bikin beliau hampir tak kuat menahannya. Bahkan tak mampu dipakai untuk berjalan. Selera makan beliaupun hilang. Jadinya asupan energi tak ada masuk. Tentu saja tubuh beliau ikut lemes.
Beruntung, beliau dibolehkan rawat jalan. Namun, harus dapat asupan nutrisi pengganti dari selang infus. Dan tambah beruntung lagi, salah satu mantu Mama seorang perawat di rumah sakit Tabalong. Adik ipar suamiku. Allah Maha Pembuat Skenario.
*****
Singkat cerita, aku sekeluarga memilih mudik di hari Minggu pagi. Anak-anakpun ternyata lebih enjoy menikmati perjalanan mudiknya. Meski tetap diwarnai mabuknya si bungsu dan beberapa kali muntah selama diperjalanan.
Delapan jam lamanya kami tempuh tuk menyusuri jalan menuju Kabupaten Tabalong. Hingga jam 5 sore kami pun sampai. Dan meluncurlah mobil abu-abu metalik yang kami kendarai tepat di halaman rumah Mama dan Abah. Klaksonpun dibunyikan suamiku. Tiin...tiin!
"Assalamu'alaikum!" Suamiku mengucap salam seraya melongok ke pintu samping. Kebetulan Mama sedang duduk di ruang tengah rumah itu. Ruangan ini berhubungan langsung dengan pintu samping yang menuju ke teras depan rumah. Jadi, sejurus beliau tengok keluar pintu, mobil kami yang parkir di halamanpun jelas terlihat.
Beliau terperanjat. Tak mengira putra sulungnya ada di hadapannya. Plus menantu dan cucu-cucunya. Beliau membalas salam sambil berdiri dan menyongsong suamiku.
Semringah sekali raut muka beliau. Takjub dan bahagia jelas sekali terpancar di mata beliau. Kusalami Mama dengan penuh takzim. Beliau cium kedua pipiku. Pun anak-anakku.
Beliau bilang, "Aku benar-benar tak menyangka kalau kalian semua yang datang. Kukira tadi itu mobil Annisa. Tapi pas masuk ke rumah ternyata Rizal yang datang." ungkap beliau penuh bahagia. Annisa adalah adik perempuan suamiku.
"Ayo, bawa masuk semua barangnya. Sini, kita bikin minuman hangat." ajak beliau.
"Nggih, Ma." jawabku.
"Rizal, cepat telpon Abah. Tadi barusan Abah ke rumah Annisa. Suruh segera pulang. Sekalian Annisa suruh juga kesini." kata Mama bersemangat.
Suamikupun segera meraih gawainya, dan ngobrol dengan Abah. Rumah Annisa hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah Mama. Jadi sekitar lima menit saja Abah sudah nongol. Langsung memanggil nama anak-anakku. Masya Allah...ternyata benar, kakek dan nenek itu kecintaannya pada cucu-cucunya jauh lebih nampak ekspresinya daripada ke anak-anaknya. Meskipun aku yakin, cinta kepada anaknya tentu juga takkan berkurang sedikitpun.
Bahagiapun kurasakan hari itu. Meski tubuh ini letih melalui perjalanan yang cukup panjang. Apalagi kadang sport jantung gara-gara jalan yang penuh tantangan. Namun semua tiba-tiba sirna ketika melihat kebahagiaan Mama dan Abah dengan kedatanganku sekeluarga. Dan uniknya, beliau tak pernah bertanya oleh-oleh apa yang dibawakan anaknya. Tak pernah sekalipun. Justru semua yang beliau punya dikeluarkan untuk anak, menantu dan cucu-cucunya.
Inilah letak kebahagiaan hakiki yang hanya bisa didapatkan tatkala bertemu orangtua. Jika tak mudik ke kampung halaman, takkan pernah merasakan kebahagiaan ini. Terlebih bagi para perantau yang sudah merantau jauh dari kampungnya.
Makanya, para perantau pasti bela-belain buat mudik tiap tahun. Karena rasa ini takkan bisa diungkapkan sempurna dengan kata-kata dan tulisan. Hanya perbuatan yang bisa melukiskan betapa indahnya rasa ini. Rasa bahagia tak bertepi kala bertemu dengan keluarga di kampung, khususnya orangtua tercinta.
Disinilah aku belajar arti sebuah kebahagiaan ketika berkumpul bersama orangtua. Salah satu bukti cinta dan bakti anak kepada ayah ibunya. Wujud birrul walidain yang diperintahkan agama. Rugi besar jika kita abaikan mereka dimasa tuanya. Apalagi jika keduanya masih hidup. Karena dari merekalah keberkahan hidup di dunia kan kita peroleh. Bahkan pintu surgapun kan terbuka untuk kita karenanya.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran yang artinya :
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’ : 23)
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. Al-Isra' : 24)
Alhamdulillah, meski mudikku sekeluarga tertunda, namun kebahagiaan tetap menyeruak saat berjumpa dengan Abah dan Mama. Karena berjumpa dengan orangtua tak harus menanti Lebaran tiba. Kapan saja jika ada kesempatan dan waktunya, datangilah mereka. Karena bagi orangtua anak adalah permata hati yang takkan berubah posisinya sejak lahir hingga kapanpun jua.[]
Laila Thamrin
(Handil Bakti, 12072018)
Kamis, 03 Mei 2018
BAHAGIA MENJADI IBU
Menjadi orangtua itu bukan kebetulan. Tapi sebuah pilihan yang dimulai dari proses memilih pendamping hidup. Hingga ketika sebuah pernikahan telah melahirkan anak-anak yang lucu dan menggemaskan, maka wajiblah menjadi orangtua yang amanah.
Ya, kadang kita menjadi orangtua merasa "kebetulan". Karena telah menikah dan dikarunia anak. Maka predikat orangtua pun melekat. Mau tak mau harus "bersedia" (bila tak ingin dikatakan "terpaksa") mengasuh anak.
Padahal mengasuh tak sekedar memberi makan dan minum agar anak bertumbuh besar. Tapi, mengasuh itu memastikan bahwa anak kita terjaga jiwa dan raganya, juga aqidahnya.
Jadi tugas seorang Ibu lah mengasuh sekaligus mendidik mereka agar tertancap aqidah, adab dan akhlak Islami.
Susah? Iya, pasti. Tapi gak nyusahin ko. Justru ini kesempatan Ibu untuk rajin cari ilmu. Ilmu agama dan juga ilmu mendidik anak. Biar Ibu pintar, anak juga pintar. Sekaligus Ibu bisa menjaring pahala...☺
Memberikan konsep diri positif adalah awal yang harus dilakukan orangtua. Misal nih, memanggil dengan sebutan _"Abdullah yang shalih", "anak ummi yang cerdas", "Fatimah hafizah",_ dan serupa itu lah. Jangan lupa beri reward pada anak jika mereka bersikap baik. Khususnya yang berusia 0-6 tahun. Agar mereka senang, dan tertanam dalam dirinya sikap percaya diri, tidak mudah menyerah, suka tantangan dan juga senang diberi amanah.
Usia lebih dari 6 tahun juga masih oke dikasih reward. Tapi bisa jadi rewardnya disepakati bersama antara anak dan orangtua. Misal, kalo ananda bisa merapikan tempat tidur tiap hari sepakat dikasih buku bacaan yang mereka suka. Biasanya cespleng nih yang begini. Hee...😁
Reward tak harus materi loh. Pelukan, ciuman dan pujian pada anak bisa jadi reward. Bisa juga anak digendong, atau dibantu merapikan mainannya, dsb. Sepele ya sepertinya. Tapi bagi anak ini sudah luar biasa. Mereka butuh dihargai. Dan penghargaan utama adalah dari orangtuanya.
“Bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping beliau ada Aqro’ bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro’: Sesungguhnya aku punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi” (HR Bukhari)
Tapi kadang ibu nih suka gak sabaran kalo sudah berhadapan dengan anak. Apalagi kalo ananda merengek, gak mau diatur, gak mendengarkan apa yang disampaikan ibu, de el el deh. Nah, padahal , justru sabar adalah kuncinya.
Ya, emosi memang sering membuncah pada ibu ketika anak merengek. Apalagi para ibu kadang juga didera rasa capek. Tiba-tiba anak meminta sesuatu. Maka saat itu banyakin istighfar aja deh Bu. Dan bawa menenangkan diri dulu deh. Menepi ke pojokan. Atau basuh dengan sejuknya air wudhu. Jika ibu sudah tenang, baru deh diselesaikan masalah ananda tadi.
Sabar bukan berarti membiarkan apapun terjadi seperti air mengalir. Bukan begitu. Tapi sabar bermakna melaksanakan sesuatu sesuai syariatNya. Kemudian jalani prosesnya. Dan tunggulah hasilnya. Maka kelak kita kan memetiknya.
So, ibu tetap harus mengupayakan berkomunikasi dengan baik pada ananda. Sesuaikan dengan level usianya. Pilih bahasa yang paling mudah dicerna mereka. Nah, ini tentu perlu ilmu juga ya, Bu. Hehe...jadi memang jadi ibu nih luar biasa. Harus belajar terus tiap hari, tiap waktu dan setiap ada kesempatan. 😊
Keteladanan orangtua juga utama. Terutama dari ibunya yang senantiasa ada bersama ananda. Keteladanan dalam kebaikan. Makanya, ibu haruslah berusaha shalih sebelum menuntut anaknya shalih. Jangan pernah nyuruh gadis kecilnya pakai hijab kalo ibu masih mengurai rambutnya ketika keluar rumah. Pake dicat warna-warni lagi rambutnya. Kira-kira anak mau melaksanakan yang mana? Yakin deh..pasti ikut gaya ibunya ! 😰
Anak yang punya konsep diri positif akan mudah diarahkan. Jika usia mereka sudah mendekati baligh atau bahkan sudah baligh, maka optimalkan proses berpikirnya. Ajak mereka untuk mengerti tentang konsep penciptaan manusia dan keberadaan mereka di dunia. Agar kelak mereka akan mampu menentukan jalan hidupnya yang benar sesuai syariat Islam.
Lagi-lagi ini menuntut ibu harus belajar terus sepanjang waktu. Dari mulai belajar mendidik anak sejak bayi, batita, balita, pra baligh, remaja. Bahkan sampai anak dewasa. Maka pahala untuk ibu pun mengalir deras dari sini.
Gimana Bu, mau kan terus belajar? So, gak ada ruginya jadi seorang ibu. Semua yang dilakukan ibu selama ikhlas karena Allah, dan benar sesuai syariat, maka pintu surga siap terbuka dari segala arahnya.
Ternyata bahagia ya
menjadi Ibu 😍
Banjarmasin, 03 Mei 2018
Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan Usia Dini dan Ketua Komunitas Ibu Cerdas Banua)
Ya, kadang kita menjadi orangtua merasa "kebetulan". Karena telah menikah dan dikarunia anak. Maka predikat orangtua pun melekat. Mau tak mau harus "bersedia" (bila tak ingin dikatakan "terpaksa") mengasuh anak.
Padahal mengasuh tak sekedar memberi makan dan minum agar anak bertumbuh besar. Tapi, mengasuh itu memastikan bahwa anak kita terjaga jiwa dan raganya, juga aqidahnya.
Jadi tugas seorang Ibu lah mengasuh sekaligus mendidik mereka agar tertancap aqidah, adab dan akhlak Islami.
Susah? Iya, pasti. Tapi gak nyusahin ko. Justru ini kesempatan Ibu untuk rajin cari ilmu. Ilmu agama dan juga ilmu mendidik anak. Biar Ibu pintar, anak juga pintar. Sekaligus Ibu bisa menjaring pahala...☺
Memberikan konsep diri positif adalah awal yang harus dilakukan orangtua. Misal nih, memanggil dengan sebutan _"Abdullah yang shalih", "anak ummi yang cerdas", "Fatimah hafizah",_ dan serupa itu lah. Jangan lupa beri reward pada anak jika mereka bersikap baik. Khususnya yang berusia 0-6 tahun. Agar mereka senang, dan tertanam dalam dirinya sikap percaya diri, tidak mudah menyerah, suka tantangan dan juga senang diberi amanah.
Usia lebih dari 6 tahun juga masih oke dikasih reward. Tapi bisa jadi rewardnya disepakati bersama antara anak dan orangtua. Misal, kalo ananda bisa merapikan tempat tidur tiap hari sepakat dikasih buku bacaan yang mereka suka. Biasanya cespleng nih yang begini. Hee...😁
Reward tak harus materi loh. Pelukan, ciuman dan pujian pada anak bisa jadi reward. Bisa juga anak digendong, atau dibantu merapikan mainannya, dsb. Sepele ya sepertinya. Tapi bagi anak ini sudah luar biasa. Mereka butuh dihargai. Dan penghargaan utama adalah dari orangtuanya.
“Bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping beliau ada Aqro’ bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro’: Sesungguhnya aku punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi” (HR Bukhari)
Tapi kadang ibu nih suka gak sabaran kalo sudah berhadapan dengan anak. Apalagi kalo ananda merengek, gak mau diatur, gak mendengarkan apa yang disampaikan ibu, de el el deh. Nah, padahal , justru sabar adalah kuncinya.
Ya, emosi memang sering membuncah pada ibu ketika anak merengek. Apalagi para ibu kadang juga didera rasa capek. Tiba-tiba anak meminta sesuatu. Maka saat itu banyakin istighfar aja deh Bu. Dan bawa menenangkan diri dulu deh. Menepi ke pojokan. Atau basuh dengan sejuknya air wudhu. Jika ibu sudah tenang, baru deh diselesaikan masalah ananda tadi.
Sabar bukan berarti membiarkan apapun terjadi seperti air mengalir. Bukan begitu. Tapi sabar bermakna melaksanakan sesuatu sesuai syariatNya. Kemudian jalani prosesnya. Dan tunggulah hasilnya. Maka kelak kita kan memetiknya.
So, ibu tetap harus mengupayakan berkomunikasi dengan baik pada ananda. Sesuaikan dengan level usianya. Pilih bahasa yang paling mudah dicerna mereka. Nah, ini tentu perlu ilmu juga ya, Bu. Hehe...jadi memang jadi ibu nih luar biasa. Harus belajar terus tiap hari, tiap waktu dan setiap ada kesempatan. 😊
Keteladanan orangtua juga utama. Terutama dari ibunya yang senantiasa ada bersama ananda. Keteladanan dalam kebaikan. Makanya, ibu haruslah berusaha shalih sebelum menuntut anaknya shalih. Jangan pernah nyuruh gadis kecilnya pakai hijab kalo ibu masih mengurai rambutnya ketika keluar rumah. Pake dicat warna-warni lagi rambutnya. Kira-kira anak mau melaksanakan yang mana? Yakin deh..pasti ikut gaya ibunya ! 😰
Anak yang punya konsep diri positif akan mudah diarahkan. Jika usia mereka sudah mendekati baligh atau bahkan sudah baligh, maka optimalkan proses berpikirnya. Ajak mereka untuk mengerti tentang konsep penciptaan manusia dan keberadaan mereka di dunia. Agar kelak mereka akan mampu menentukan jalan hidupnya yang benar sesuai syariat Islam.
Lagi-lagi ini menuntut ibu harus belajar terus sepanjang waktu. Dari mulai belajar mendidik anak sejak bayi, batita, balita, pra baligh, remaja. Bahkan sampai anak dewasa. Maka pahala untuk ibu pun mengalir deras dari sini.
Gimana Bu, mau kan terus belajar? So, gak ada ruginya jadi seorang ibu. Semua yang dilakukan ibu selama ikhlas karena Allah, dan benar sesuai syariat, maka pintu surga siap terbuka dari segala arahnya.
Ternyata bahagia ya
Banjarmasin, 03 Mei 2018
Laila Thamrin
(Praktisi Pendidikan Usia Dini dan Ketua Komunitas Ibu Cerdas Banua)
Minggu, 22 Agustus 2010
Indahnya Menjadi Ibu
Tak mudah untuk menjadi seorang ibu. Tapi tak berarti kita tak mampu. Pengalaman 8 tahun menjadi isteri sekaligus sebagai ibu dari 3 orang anak, ternyata telah banyak memberikan pelajaran yang berarti. Mulai dari belajar mengenal dan memahami pasangan hidup, menerima kelebihan dan menyukai kekurangannya, suka cita ketika mengetahui kehamilan anak pertama dan debar-debar menanti kelahiran anak-anak satu demi satu, merawat dan menyusui anak-anak, mengajari anak-anak tentang Al Khalik, adab dan syari’at......terlalui seperti tak terasakan. Setiap hari dan setiap saat selalu ada pelajaran baru yang didapatkan. Padahal rasanya buku-buku dan informasi tentang menjadi isteri dan ibu yang baik telah sering dilahap.
Senang rasanya ketika anak-anak berebutan untuk minta perhatian umminya. “Mi…tolong bikinkan susu.” “Mi…tolong bacakan cerita.” “Mi…si kecil nangis…..” Wah seru ! Tapi kadang rasa sabar kalah dengan rasa marah dan penat yang menjadi satu. Tak salah mereka berlomba mencari perhatian umminya. Tak berdosa mereka menjadikan umminya idolanya. Karena mereka memang masih perlu umminya.
Kebingungan kadang mendera kala kita tak tahu harus berbuat dan berkata apa pada anak-anak kita yang sedang berekspresi, bereksplorasi dan berusaha mengenali dan memahami dunia. Kadang kita tak sadar telah menyamakan mereka dengan kita yang telah lama mengenal dunia, sehingga ketika anak-anak menumpahkan air atau merobek buku atau sekedar berjalan oleng dan terjatuh kita telah menyalahkannya dan bahkan kadang memarahinya. Astaghfirullah…. Mereka tak berdosa, justru kita yang akhirnya berbuat dosa….
Memahamkan anak tentang segala hal memang tak mudah. Bermain adalah langkah awal mereka mengenal dunia dan memahami hidup ini. Kesabaran menemani mereka bermain kadang terusik dengan setumpuk pekerjaan lain yang menanti kita, cucian kotor yang menumpuk, sayur-mayur yang layu tak terjamah, ikan-ikan mentah yang menggigil di freezer,..waduh kalo sudah begini kepanikan mulai menggerogoti. Apalagi waktu makan siang mulai beringsut naik…mana yang harus didahulukan? Pelajaran baru pun didapatkan lagi. Berarti ibu harus bisa menggunakan satu waktu untuk beberapa pekerjaan sekaligus. Susah? Tidak selalu.... Memasak bersama anak mungkin bisa jadi solusi, sambil kenalkan mereka dengan sayur-mayur, ikan, pisau, de el el lah…. Jadi lebih seru lho!
Ibu adalah segalanya bagi anak. Ibu adalah gudang ilmu buat anak, gudang makanan buat anak, gudang mainan buat anak, gudang curhat buat anak, gudang teman buat anak bahkan sekaligus gudang rezeki buat mereka. Lengkap bukan?? Bukan mengecilkan peran ayah….tapi memang seorang ibu professional menurut saya adalah yang demikian. Sedangkan ayah, lebih berperan ketika anak-anak dapat masalah lebih besar..misalnya bola mainan nyosor ke halaman tetangga, sepeda mereka rusak, mainannya bermasalah, …pokoknya agak beda keperluannya dengan ibunya. Dan ini alamiah adanya….. mungkin tiap keluarga punya gaya yang berbeda. Tapi kami, begitulah adanya.
Andai saat ini ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua yang “benar” barangkali banyak juga peminatnya. Karena ternyata teori yang pernah kita dapatkan dari berbagai sumber tak sepenuhnya cocok dengan realita di rumah kita. Barangkali kalo ada “Sarjana Orang Tua” bisa lebih menguasai keadaan di lapangan. Tapi sayang....tak ada sekolah itu, dan memang tak perlu. Allah SWT telah memberikan pada wanita naluri menyayangi anak, naluri keibuan. Yang tentunya akan berjalan dengan baik selama ibu terus belajar dan berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Maka bersyukurlah kepada Allah karena kita telah dikaruniai anak-anak yang punya potensi masing-masing, dan diberi kesempatan olehNya untuk meretas jalan ke surga bersama bidadari-bidadari kecil kita. Dan bersyukur juga bahwa kita telah dipilih Allah untuk mendapat amanah dariNya. Tak ada kata terlambat untuk terus belajar dan bersyukur.
Semoga catatan ini menjadi sebuah pengobat rasa gundah para ibu ketika merawat dan mendidik anak-anaknya, dan menjadi pencerah bagi semuanya.(by:Laila Qadarsih)
Senang rasanya ketika anak-anak berebutan untuk minta perhatian umminya. “Mi…tolong bikinkan susu.” “Mi…tolong bacakan cerita.” “Mi…si kecil nangis…..” Wah seru ! Tapi kadang rasa sabar kalah dengan rasa marah dan penat yang menjadi satu. Tak salah mereka berlomba mencari perhatian umminya. Tak berdosa mereka menjadikan umminya idolanya. Karena mereka memang masih perlu umminya.
Kebingungan kadang mendera kala kita tak tahu harus berbuat dan berkata apa pada anak-anak kita yang sedang berekspresi, bereksplorasi dan berusaha mengenali dan memahami dunia. Kadang kita tak sadar telah menyamakan mereka dengan kita yang telah lama mengenal dunia, sehingga ketika anak-anak menumpahkan air atau merobek buku atau sekedar berjalan oleng dan terjatuh kita telah menyalahkannya dan bahkan kadang memarahinya. Astaghfirullah…. Mereka tak berdosa, justru kita yang akhirnya berbuat dosa….
Memahamkan anak tentang segala hal memang tak mudah. Bermain adalah langkah awal mereka mengenal dunia dan memahami hidup ini. Kesabaran menemani mereka bermain kadang terusik dengan setumpuk pekerjaan lain yang menanti kita, cucian kotor yang menumpuk, sayur-mayur yang layu tak terjamah, ikan-ikan mentah yang menggigil di freezer,..waduh kalo sudah begini kepanikan mulai menggerogoti. Apalagi waktu makan siang mulai beringsut naik…mana yang harus didahulukan? Pelajaran baru pun didapatkan lagi. Berarti ibu harus bisa menggunakan satu waktu untuk beberapa pekerjaan sekaligus. Susah? Tidak selalu.... Memasak bersama anak mungkin bisa jadi solusi, sambil kenalkan mereka dengan sayur-mayur, ikan, pisau, de el el lah…. Jadi lebih seru lho!
Ibu adalah segalanya bagi anak. Ibu adalah gudang ilmu buat anak, gudang makanan buat anak, gudang mainan buat anak, gudang curhat buat anak, gudang teman buat anak bahkan sekaligus gudang rezeki buat mereka. Lengkap bukan?? Bukan mengecilkan peran ayah….tapi memang seorang ibu professional menurut saya adalah yang demikian. Sedangkan ayah, lebih berperan ketika anak-anak dapat masalah lebih besar..misalnya bola mainan nyosor ke halaman tetangga, sepeda mereka rusak, mainannya bermasalah, …pokoknya agak beda keperluannya dengan ibunya. Dan ini alamiah adanya….. mungkin tiap keluarga punya gaya yang berbeda. Tapi kami, begitulah adanya.
Andai saat ini ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua yang “benar” barangkali banyak juga peminatnya. Karena ternyata teori yang pernah kita dapatkan dari berbagai sumber tak sepenuhnya cocok dengan realita di rumah kita. Barangkali kalo ada “Sarjana Orang Tua” bisa lebih menguasai keadaan di lapangan. Tapi sayang....tak ada sekolah itu, dan memang tak perlu. Allah SWT telah memberikan pada wanita naluri menyayangi anak, naluri keibuan. Yang tentunya akan berjalan dengan baik selama ibu terus belajar dan berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Maka bersyukurlah kepada Allah karena kita telah dikaruniai anak-anak yang punya potensi masing-masing, dan diberi kesempatan olehNya untuk meretas jalan ke surga bersama bidadari-bidadari kecil kita. Dan bersyukur juga bahwa kita telah dipilih Allah untuk mendapat amanah dariNya. Tak ada kata terlambat untuk terus belajar dan bersyukur.
Semoga catatan ini menjadi sebuah pengobat rasa gundah para ibu ketika merawat dan mendidik anak-anaknya, dan menjadi pencerah bagi semuanya.(by:Laila Qadarsih)
Langganan:
Postingan (Atom)






