Oleh : Laila Thamrin
Andai hidup kita bisa diputar ulang ke belakang, dan menembus ruang waktu yang lampau, kita akan dapati begitu mencoloknya perbedaan dunia Islam dan dunia Barat. Terlebih jika mesin waktu itu kita hentikan di abad ke-10 Masehi. Kita akan terkesima dengan kesempurnaan peradaban Islam yang mewarnai dunia. Dan kita pun akan tercengang menatap peradaban Barat yang tertinggal jauh di belakang.
Dalam buku "Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia" karya Dr. Raghib as-Sirjani, dituliskan dalam pengantarnya bahwa Inggris Anglo-Saxon pada abad ke-7 M hingga ke-10 M merupakan negeri tandus, terisolir, kumuh dan liar. Rumah-rumah yang dibangun hanya berupa tumpukan batu-batu kasar yang diperkuat dengan tanah halus. Bahkan berpintu sempit dan tak berjendela.
Cara hidupnya juga masih tak teratur. Mereka biasanya punya satu ruangan besar dalam rumahnya tempat berkumpul bagi seluruh keluarga, pelayan dan kerabat lainnya. Jika malam menjelang, mereka akan tidur beralaskan tanah di rumah itu atau di bangku-bangku panjang yang kadang tersedia. Seluruh anggota keluarga, laki-laki dan perempuan, anak-anak maupun orang dewasa, tidur dan makan di satu ruangan yang sama. Senjata senantiasa ada di samping kepala saat mereka tidur, karena pencurian sering terjadi.
Bahkan digambarkan bahwa Barat belum mengenal kebersihan. Sampah dan kotoran hewan menumpuk di sekitar rumahnya. Hingga menerbitkan bau busuk yang menyengat. Terkadang, hewan-hewan peliharaannya pun dimasukkan ke dalam rumah, berkumpul bersama seluruh anggota keluarganya.
Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan negara Islam. Saat Islam melingkupi banyak negeri di benua Asia, Eropa dan juga Afrika, peradabannya telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Kota-kota tertata dengan apik. Rumah-rumah dengan kondisi yang bersih dan nyaman. Kesehatan masyarakatnya pun terjamin. Bahkan menjadi pusat ilmu bagi seluruh dunia.
Kita bisa tengok kota-kota seperti Cordoba, Granada dan Sevilla yang terdapat di Eropa saat Islam menaunginya. Di malam hari, Cordoba terlihat terang bercahaya karena lampu-lampu yang terpasang di sepanjang jalannya. Lorong-lorong jalan dihiasi batu ubin. Taman-taman indah dan kebun-kebun yang rindang bertebaran di seluruh kota.
Begitupun Granada, satu kota di Spanyol, yang terkenal dengan istana al-Hamra. Satu bangunan indah yang merupakan kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan Bani Ummayyah. Dibangun di atas sebuah bukit menghadap kota Granada. Di sekeliling bukit tersebut terdapat hamparan ladang pertanian yang sangat luas. Hingga sekarang sisa-sisa kemegahan istana ini menjadi perhatian para wisatawan manca negara yang berkunjung ke sana.
Sevilla lain lagi. Kota yang juga di Spanyol ini pernah menjadi pusat produksi minyak zaitun. Ada sekitar 100.000 tempat pemerahan minyak zaitun di sini. Hampir seluruh sudut kota ditumbuhi pohon zaitun. Selain itu, kota ini terkenal dengan tenun sutranya. Terdapat 6000 alat tenun yang dimiliki.
Kota-kota ini telah mengalami kemajuan pesat dibandingkan Inggris, padahal semuanya berada di benua Eropa. Sungguh, Eropa menjadi bercahaya karena peradaban Islam mewarnainya. Bukan dari peradaban Barat yang masih tenggelam.
Sementara Baghdad, kota di Jazirah Arab yang juga sangat terkenal karena keindahan arsitekturnya. Di masa Khalifah al-Mansur, kota Baghdad yang kecil dan sempit disulap menjadi daerah yang megah. Khalifah mengerahkan para insinyur teknik, arsitek, dan ahli ilmu ukur untuk membangunnya. Perlu biaya 4.800.000 dirham yang dikeluarkan negara untuk pembangunan ini.
Sungai Efrat dan Tigris memiliki 11 cabang yang airnya mengalir ke seluruh rumah dan istana Baghdad. Di sungai Tigris terdapat 30.000 jembatan dan 60.000 tempat pemandian. Masjid-masjid pun berdiri megah di seluruh kota. Ada 300.000 buah masjid yang dibangun dengan arsitektur indah bercorak budaya Islam.
Sementara penduduknya kebanyakan tercetak menjadi ulama, sastrawan dan juga filsuf. Dan sentuhan arsitektur Islam di negeri-negeri tersebut masih bisa dirasakan hingga saat ini. Meski sudah tak seutuh di masa kejayaannya.
Ini hanyalah sebagian kecil bukti bahwa peradaban Islam pernah berdiri kokoh di bumi ini. Bahkan menjadi mercusuar dunia. Peradaban Islam yang mengajarkan tentang thaharah(bersuci) telah menjadikan kehidupan masyarakat bersih dan sehat.
Peradaban Islam yang mengajarkan tentang kewajiban menuntut ilmu telah melahirkan insan-insan yang cerdas. Mereka abadikan dalam ribuan buku-buku yang bermanfaat. Hingga hasil karya para ulama yang sekaligus ilmuwan ini mampu mencetuskan inovasi dalam kehidupan umat manusia sampai sekarang.
Peradaban Islam juga yang mengajarkan tentang aturan hidup dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan bidang-bidang lainnya. Sehingga mampu mengubah kondisi kehidupan masyarakatnya menjadi tentram dan sejahtera.
Betapa peradaban Islam telah mampu mengubah wajah dunia. Yang dulunya kelam, gelap, suram dan tidak teratur telah berubah menjadi indah, damai, sejahtera dan bercahaya. Bahkan seluruh mata dunia tertuju pada Khilafah Islamiyah yang menjadi "role of model" negeri-negeri kafir saat itu. Sekaligus sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia dan rujukan atas semua persoalan manusia.
Tidakkah kondisi ini membuat kita rindu untuk kembali dalam pengaturan Islam? Dimana peradaban Islam memuliakan seluruh manusia. Memperhatikan kebutuhannya. Melayani dengan sepenuh cinta. Tak ada yang ingin diraih oleh para penguasa negara Islam kecuali ridha Allah semata, dan berharap surgaNya.
Dan inilah yang saat ini sangat dibutuhkan dunia. Peradaban Islam yang berpijak pada Alquran dan Sunnah Rasul-Nya. Yang akan menghantarkan setiap insan menuju Jannah-Nya. Peradaban Islam memang layak menjadi peradaban dunia. []
#postingbareng
#peradabanIslam
#peradabanliterat
#miladrevowriter
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 April 2019
Kamis, 04 April 2019
Warisan Peradaban Islam yang Tenggelam
Oleh : Laila Thamrin
Telah lama Barat menganggap bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang mereka raih, karena mereka fokus pada kehidupan dunia dan meninggalkan agama. Karena sejarah panjang era kegelapan telah membuat mereka alergi terhadap agama.
Berbeda dengan Islam. Sebagai ideologi, Islam justru tak memisahkan urusan kehidupan dengan agama. Semua satu kesatuan yang menyeluruh dan tak bisa dipisahkan. Bahkan karena keagungan ajaran Islam, muncullah para ilmuwan Islam yang diakui dunia. Mereka tak sekedar ilmuwan, tapi juga sekaligus menjadi ahli ibadah, ahli hadits, ahli ilmu alquran dan berbagai gelar lainnya yang tersemat.
Sejarah mencatat bahwa lahirnya para ilmuwan muslim ini justru saat mereka hidup dalam naungan syariat Islam, naungan Khilafah Islamiyah. Sebelum Islam datang, bangsa arab hanya mengenal ilmu sejarah dan geografi hanya sedikit. Tetapi, sejak Islam tegak mengharuskan perluasan wilayah dengan jihad. Sehingga kaum muslimin haruslah menjelajah berbagai daerah. Menempuh daratan, gunung, lembah, sungai, lautan dan berbagai bentang alam lainnya. Dari sini, berkembanglah ilmu sejarah dan geografi dari para ilmuwan muslim.
Tak hanya itu, kaum muslimin juga mulai mempelajari tentang hewan dan tumbuhan. Hewan-hewan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Juga tumbuhan yang berguna bagi pengobatan. Sehingga ilmu zoologi dan botani juga digeluti oleh para ilmuwan muslim demi keberlangsungan hidup manusia.
Sekolah-sekolah juga kemudian dibangun oleh khalifah. Pada masa Khilafah Bani Abbasiyah, khususnya zaman Khalifah al-Mansur dan Khalifah al-Makmun, banyak aktivitas dilakukan untuk menerjemahkan karya ilmiah. Dan pada akhir abad ke-10 telah banyak karya ilmiah penting yang dihasilkan. Banyak para penerjemah yang terkenal dari berbagai suku bangsa, seperti Naubakht dari Persia dan Muhammad bin Ibrahim al-Fazari dari Arab.
Tak cukup sampai disitu, berbagai bidang ilmu lainnya pun dikuasai oleh para ilmuwan muslim. Kita mengenal sebagian nama-nama mereka hingga saat ini. Sebut saja al-Biruni yang terkenal di bidang kimia dan botani, al-Idrisi di bidang geografi, Ibnu Sina di bidang kedokteran, al-Khawarizmi di bidang matematika, dan sederet nama-nama ilmuwan lainnya.
Dan yang paling membanggakan bahwasanya ilmu yang mereka temukan tetap dijadikan sebagai acuan bagi ilmu-ilmu terapan masa kini. Dari merekalah akhirnya kita bisa mengenal arah kiblat, arah mata angin, memilih menu makanan sehat, memasak dengan cara mudah dan cepat, dan lain sebagainya.
Inilah karya ilmuwan muslim di masa keemasan peradaban Islam. Yang menjadi dasar berkembangnya ilmu pengetahuan selanjutnya. Semua tak lepas dari peran negara yang memberikan ruang dan kesempatan besar pada mereka. Memberikan fasilitas secara cuma-cuma untuk mereka belajar dan mengembangkan risetnya. Sarana dan prasarana berupa bangunan sekolah dan asrama, buku-buku yang diperlukan, alat-alat laboratorium untuk penelitian, dan lain sebagainya. Bahkan, perpustakaan menjadi perhatian negara pula. Dan terus di dorong oleh negara agar kaum muslimin mencintai ilmu. Hingga karya-karya mereka dibukukan dengan rapi dan menjadi bahan literatur generasi selanjutnya.
Demikianlah warisan peradaban Islam yang kita miliki. Sejatinya, warisan ini tetap terjaga dalam naungan Khilafah Islamiyah. Namun sayang, saat ini warisan peradaban Islam ini tenggelam dalam hiruk pikuk kapitalisme yang menyelimuti dunia. Sehingga, banyak generasi muda Islam tak kenal dengan peradabannya sendiri. Kini saatnya kita berjuang untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah tegak di muka bumi. Agar peradaban Islam kembali berdiri dan kokoh hingga akhir zaman nanti.[]
#postingbareng
#peradabanIslam
#peradabanliterat
#miladrevowriter
#revowriter5
Telah lama Barat menganggap bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang mereka raih, karena mereka fokus pada kehidupan dunia dan meninggalkan agama. Karena sejarah panjang era kegelapan telah membuat mereka alergi terhadap agama.
Berbeda dengan Islam. Sebagai ideologi, Islam justru tak memisahkan urusan kehidupan dengan agama. Semua satu kesatuan yang menyeluruh dan tak bisa dipisahkan. Bahkan karena keagungan ajaran Islam, muncullah para ilmuwan Islam yang diakui dunia. Mereka tak sekedar ilmuwan, tapi juga sekaligus menjadi ahli ibadah, ahli hadits, ahli ilmu alquran dan berbagai gelar lainnya yang tersemat.
Sejarah mencatat bahwa lahirnya para ilmuwan muslim ini justru saat mereka hidup dalam naungan syariat Islam, naungan Khilafah Islamiyah. Sebelum Islam datang, bangsa arab hanya mengenal ilmu sejarah dan geografi hanya sedikit. Tetapi, sejak Islam tegak mengharuskan perluasan wilayah dengan jihad. Sehingga kaum muslimin haruslah menjelajah berbagai daerah. Menempuh daratan, gunung, lembah, sungai, lautan dan berbagai bentang alam lainnya. Dari sini, berkembanglah ilmu sejarah dan geografi dari para ilmuwan muslim.
Tak hanya itu, kaum muslimin juga mulai mempelajari tentang hewan dan tumbuhan. Hewan-hewan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Juga tumbuhan yang berguna bagi pengobatan. Sehingga ilmu zoologi dan botani juga digeluti oleh para ilmuwan muslim demi keberlangsungan hidup manusia.
Sekolah-sekolah juga kemudian dibangun oleh khalifah. Pada masa Khilafah Bani Abbasiyah, khususnya zaman Khalifah al-Mansur dan Khalifah al-Makmun, banyak aktivitas dilakukan untuk menerjemahkan karya ilmiah. Dan pada akhir abad ke-10 telah banyak karya ilmiah penting yang dihasilkan. Banyak para penerjemah yang terkenal dari berbagai suku bangsa, seperti Naubakht dari Persia dan Muhammad bin Ibrahim al-Fazari dari Arab.
Tak cukup sampai disitu, berbagai bidang ilmu lainnya pun dikuasai oleh para ilmuwan muslim. Kita mengenal sebagian nama-nama mereka hingga saat ini. Sebut saja al-Biruni yang terkenal di bidang kimia dan botani, al-Idrisi di bidang geografi, Ibnu Sina di bidang kedokteran, al-Khawarizmi di bidang matematika, dan sederet nama-nama ilmuwan lainnya.
Dan yang paling membanggakan bahwasanya ilmu yang mereka temukan tetap dijadikan sebagai acuan bagi ilmu-ilmu terapan masa kini. Dari merekalah akhirnya kita bisa mengenal arah kiblat, arah mata angin, memilih menu makanan sehat, memasak dengan cara mudah dan cepat, dan lain sebagainya.
Inilah karya ilmuwan muslim di masa keemasan peradaban Islam. Yang menjadi dasar berkembangnya ilmu pengetahuan selanjutnya. Semua tak lepas dari peran negara yang memberikan ruang dan kesempatan besar pada mereka. Memberikan fasilitas secara cuma-cuma untuk mereka belajar dan mengembangkan risetnya. Sarana dan prasarana berupa bangunan sekolah dan asrama, buku-buku yang diperlukan, alat-alat laboratorium untuk penelitian, dan lain sebagainya. Bahkan, perpustakaan menjadi perhatian negara pula. Dan terus di dorong oleh negara agar kaum muslimin mencintai ilmu. Hingga karya-karya mereka dibukukan dengan rapi dan menjadi bahan literatur generasi selanjutnya.
Demikianlah warisan peradaban Islam yang kita miliki. Sejatinya, warisan ini tetap terjaga dalam naungan Khilafah Islamiyah. Namun sayang, saat ini warisan peradaban Islam ini tenggelam dalam hiruk pikuk kapitalisme yang menyelimuti dunia. Sehingga, banyak generasi muda Islam tak kenal dengan peradabannya sendiri. Kini saatnya kita berjuang untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah tegak di muka bumi. Agar peradaban Islam kembali berdiri dan kokoh hingga akhir zaman nanti.[]
#postingbareng
#peradabanIslam
#peradabanliterat
#miladrevowriter
#revowriter5
Kamis, 28 Maret 2019
Siapa Dia?
Oleh : Laila Thamrin
Saat anak lahir, yang kesakitan luar biasa tapi pasti paling bahagia, siapa?
Saat anak sudah bisa ngomong, sudah bisa jalan, apalagi berlari, yang paling bangga, siapa?
Saat anak demam, yang gak bisa makan dan gak pengen tidur beberapa malam, siapa?
Saat anak mulai masuk sekolah, yang rela berjejer nungguin di depan pagar sampai gak masak buat makan siang, siapa hayo?
Saat anak dapat PR dari sekolah, yang paling sibuk nyariin jawaban, kira-kira siapa?
Saat ulangan umum, yang rempong nyuruh anak belajar, siapa coba?
Saat fajar mulai menyapa, yang mengguncang-guncang badan anaknya supaya lekas ngambil air wudhu, siapa?
Saat jam masuk sekolah hampir tiba, yang memburu anak-anaknya supaya bergegas berangkat sekolah, siapa?
Saat anak lulus tingkatan demi tingkatan sekolahnya hingga sarjana, yang meneteskan air mata, siapa?
Saat anak lelakinya mengucap ijab kabul, yang membanjir airmatanya, siapa?
Saat anak perempuannya dipersunting seorang lelaki, yang terisak tanpa suara, siapa?
Saat seorang cucu hadir mewarnai hidup mereka, yang ribut mau mengasuhnya, siapa?
MasyaAllah....semua jawaban bermuara pada satu kata .... IBU.
Dia hadir dalam setiap tahap perkembangan anaknya. Dia hadir dalam setiap bahagia anaknya. Dan dia hadir dalam setiap sedih dan duka anak-anaknya. Karena seorang ibu, telah diberikan anugrah terindah oleh Allah yang memiliki kasih sayang dan kelemahlembutan bagi anak-anaknya.
Dan ingatlah wahai anak, seberapa besar pun engkau sekarang, seberapa pun usiamu saat ini, maka muliakanlah kedua orangtuamu. Terutama, Ibumu. Berbaktilah pada keduanya, lebih-lebih ibumu.
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Wallahu'alam bish shawwab. []
21 Rajab 1440 H / 28 Maret 2019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Saat anak lahir, yang kesakitan luar biasa tapi pasti paling bahagia, siapa?
Saat anak sudah bisa ngomong, sudah bisa jalan, apalagi berlari, yang paling bangga, siapa?
Saat anak demam, yang gak bisa makan dan gak pengen tidur beberapa malam, siapa?
Saat anak mulai masuk sekolah, yang rela berjejer nungguin di depan pagar sampai gak masak buat makan siang, siapa hayo?
Saat anak dapat PR dari sekolah, yang paling sibuk nyariin jawaban, kira-kira siapa?
Saat ulangan umum, yang rempong nyuruh anak belajar, siapa coba?
Saat fajar mulai menyapa, yang mengguncang-guncang badan anaknya supaya lekas ngambil air wudhu, siapa?
Saat jam masuk sekolah hampir tiba, yang memburu anak-anaknya supaya bergegas berangkat sekolah, siapa?
Saat anak lulus tingkatan demi tingkatan sekolahnya hingga sarjana, yang meneteskan air mata, siapa?
Saat anak lelakinya mengucap ijab kabul, yang membanjir airmatanya, siapa?
Saat anak perempuannya dipersunting seorang lelaki, yang terisak tanpa suara, siapa?
Saat seorang cucu hadir mewarnai hidup mereka, yang ribut mau mengasuhnya, siapa?
MasyaAllah....semua jawaban bermuara pada satu kata .... IBU.
Dia hadir dalam setiap tahap perkembangan anaknya. Dia hadir dalam setiap bahagia anaknya. Dan dia hadir dalam setiap sedih dan duka anak-anaknya. Karena seorang ibu, telah diberikan anugrah terindah oleh Allah yang memiliki kasih sayang dan kelemahlembutan bagi anak-anaknya.
Dan ingatlah wahai anak, seberapa besar pun engkau sekarang, seberapa pun usiamu saat ini, maka muliakanlah kedua orangtuamu. Terutama, Ibumu. Berbaktilah pada keduanya, lebih-lebih ibumu.
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Wallahu'alam bish shawwab. []
21 Rajab 1440 H / 28 Maret 2019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
#SerialTaqarrubIlallah05
Oleh : Laila Thamrin
Takut Kepada Allah Swt
Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab ra terlihat menangis saat seorang ajudannya menceritakan bahwa seekor keledai di Iraq telah tergelincir kakinya karena jalanan yang berlubang. Akibatnya keledai itu pun meluncur ke jurang.
Sang ajudan keheranan melihat ekspresi Umar bin Khattab ra yang terkenal keras dan tegas, bisa menangis hanya karena seekor keledai yang terjungkal. Akhirnya, ajudan itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?"
Dengan sorot mata yang tajam Khalifah menjawab,"Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah kamu lakukan ketika memimpin rakyatmu?"
MasyaAllah...begitu besar tanggung jawab Khalifah Umar bin Khattab ra terhadap rakyatnya. Pandangannya yang jauh ke depan membuat dia menangis saat "hanya" seekor keledai yang terjatuh ke jurang karena jalanan yang rusak dan berlubang. Karena lubang di jalanan tersebut tak hanya bisa membuat keledai celaka, tapi juga sangat besar kemungkinannya manusia pun celaka karenanya. Dan dia sebagai pemimpin merasa telah lalai untuk memberikan pelayanan terkait dengan jalan di Iraq. Maka, ketakutan segera menyelusup ke seluruh tubuhnya. Hingga airmata tak sanggup lagi dibendungnya.
Ya, beliau merupakan contoh seorang pemimpin yang sangat layak diteladani. Pemimpin yang sangat perhatian pada rakyatnya. Bertanggungjawab penuh untuk menyejahterakan rakyatnya. Bahkan beliau tak pernah mau makan enak, sebelum rakyatnya kenyang. Mengapa kiranya Khalifah Umar bin Khattab ra bisa seperti itu?
Takut kepada Allah Swt jawabannya. Karena beliau takut akan murka dan azab Allah jika melanggar syariat-Nya.
Benarlah hadits Qudsi ini :
"Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, aku tidak akan menghimpun terhadap hamba-Ku dua rasa takut dan dua rasa aman. Jika dia takut kepada-Ku di dunia, maka aku beri rasa aman padanya pada Hari Kiamat. Sebaliknya, jika dia merasa aman dari-Ku di dunia maka Aku beri dia rasa takut pada Hari Kiamat." (HR. Ibnu Hibban, al-Baihaqi, Ibnu al-Mubarak)
Menjadi seorang pemimpin perlu wawasan yang luas. Visi dan misi yang ideologis. Agar kesejahteraan rakyat terpenuhi seluruhnya. Serta tak tergiur pada harta duniawi semata.
Jika kita ambil ibrohnya, bahwasanya rasa takut yang harus dibagun adalah takut akan azab Allah Swt. Sehingga menuntut kita untuk tetap berada dalam koridor syariat Islam. Tak keluar barang sedikit pun.
Terlebih lagi para da'i yang menyuarakan Islam yang hakiki, yaitu Islam Kaffah. Harus senantiasa berani menyampaikan kebenaran, meski celaan orang-orang yang suka mencela datang bertubi-tubi. Bahkan persekusi tak jarang pula akan dialami. Takutnya hanya pada Allah Azza wa Jala. Yang justru akan menimpakan azab bagi orang yang lalai atau bahkan benci terhadap syariat-Nya.
Wallahu'alam bish shawwab. []
Handil Bakti, 10032019
#OPEy2019
#Part7
#Day7
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Takut Kepada Allah Swt
Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab ra terlihat menangis saat seorang ajudannya menceritakan bahwa seekor keledai di Iraq telah tergelincir kakinya karena jalanan yang berlubang. Akibatnya keledai itu pun meluncur ke jurang.
Sang ajudan keheranan melihat ekspresi Umar bin Khattab ra yang terkenal keras dan tegas, bisa menangis hanya karena seekor keledai yang terjungkal. Akhirnya, ajudan itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?"
Dengan sorot mata yang tajam Khalifah menjawab,"Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah kamu lakukan ketika memimpin rakyatmu?"
MasyaAllah...begitu besar tanggung jawab Khalifah Umar bin Khattab ra terhadap rakyatnya. Pandangannya yang jauh ke depan membuat dia menangis saat "hanya" seekor keledai yang terjatuh ke jurang karena jalanan yang rusak dan berlubang. Karena lubang di jalanan tersebut tak hanya bisa membuat keledai celaka, tapi juga sangat besar kemungkinannya manusia pun celaka karenanya. Dan dia sebagai pemimpin merasa telah lalai untuk memberikan pelayanan terkait dengan jalan di Iraq. Maka, ketakutan segera menyelusup ke seluruh tubuhnya. Hingga airmata tak sanggup lagi dibendungnya.
Ya, beliau merupakan contoh seorang pemimpin yang sangat layak diteladani. Pemimpin yang sangat perhatian pada rakyatnya. Bertanggungjawab penuh untuk menyejahterakan rakyatnya. Bahkan beliau tak pernah mau makan enak, sebelum rakyatnya kenyang. Mengapa kiranya Khalifah Umar bin Khattab ra bisa seperti itu?
Takut kepada Allah Swt jawabannya. Karena beliau takut akan murka dan azab Allah jika melanggar syariat-Nya.
Benarlah hadits Qudsi ini :
"Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, aku tidak akan menghimpun terhadap hamba-Ku dua rasa takut dan dua rasa aman. Jika dia takut kepada-Ku di dunia, maka aku beri rasa aman padanya pada Hari Kiamat. Sebaliknya, jika dia merasa aman dari-Ku di dunia maka Aku beri dia rasa takut pada Hari Kiamat." (HR. Ibnu Hibban, al-Baihaqi, Ibnu al-Mubarak)
Menjadi seorang pemimpin perlu wawasan yang luas. Visi dan misi yang ideologis. Agar kesejahteraan rakyat terpenuhi seluruhnya. Serta tak tergiur pada harta duniawi semata.
Jika kita ambil ibrohnya, bahwasanya rasa takut yang harus dibagun adalah takut akan azab Allah Swt. Sehingga menuntut kita untuk tetap berada dalam koridor syariat Islam. Tak keluar barang sedikit pun.
Terlebih lagi para da'i yang menyuarakan Islam yang hakiki, yaitu Islam Kaffah. Harus senantiasa berani menyampaikan kebenaran, meski celaan orang-orang yang suka mencela datang bertubi-tubi. Bahkan persekusi tak jarang pula akan dialami. Takutnya hanya pada Allah Azza wa Jala. Yang justru akan menimpakan azab bagi orang yang lalai atau bahkan benci terhadap syariat-Nya.
Wallahu'alam bish shawwab. []
Handil Bakti, 10032019
#OPEy2019
#Part7
#Day7
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
#SerialTaqarrubIlallah04
Oleh : Laila Thamrin
Meraih Nilai Tertinggi
Saat bicara tentang nilai tertinggi, apa kira-kira yang terbayang oleh kita? Ranking kelas? Juara pertama? Murid teladan? Mahasiswa terbaik? Atau seseorang yang kuliah di universitas ternama di dunia?
Ya, semua tak keliru. Persepsi tentang nilai terbaik senantiasa dikaitkan dengan nilai akademis di institusi pendidikan. Mereka yang meraih nilai terbaik merupakan orang-orang terpilih karena kecerdasannya. Namun, penilaian terhadap akademis berada di tangan manusia. Lalu, bagaimanakah kira-kira seorang muslim bisa meraih nilai tertinggi di mata Allah?
Allah Swt berfirman :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. at-Taubah [9] : 24)
Ternyata, nilai tertinggi di mata Allah adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih disukai daripada dunia dan segala isinya. Di sinilah seorang muslim dituntut untuk mengorbankan semua kepentingannya di dunia. Melepaskan ikatan-ikatan kelompok yang memilinnya di dunia. Kemudian, mengubahnya dengan memosisikan dakwah sebagai poros utama dalam kehidupannya. Inilah bukti keimanan seorang muslim. Tunduk dan patuh pada perintah Allah. Ikhlas menjalankan semua perintah-Nya.
Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kita skala prioritas pelaksanaan amal. Sebagaimana sabda beliau :
"Jika kalian berjual beli secara al-'ainah dan kalian mengambil ekor sapi serta kalian lebih rela dengan tanaman pertanian, sementara kalian meninggalkan jihad, maka Allah timpakan atas kalian kehinaan yang tidak Dia cabut sampai kalian kembali lepada agama kalian." (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi)
Begitulah Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kepada kaum muslimin untuk memilah amal dengan cermat. Dan tak salah jika dakwah 'amar ma'ruf nahyi munkar, menjadi posisi teratas dalam prioritas amal.
Aktivitas dakwah telah diperintahkan Allah. Karena dengan berdakwah, Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tengoklah, bagaimana Salafus Saleh dulunya berjuang meninggikan kalimat Allah. Mereka benar-benar menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih utama dari kesenangan apapun juga di dunia ini.
Lihatlah Khalid bin Walid ra yang berkata, "Tidak ada satu malam pun di dalamnya diberikan kepadaku pengantin atau aku diberi kabar gembira dengan lahirnya anak laki-laki, yang lebih aku sukai dari satu malam yang dingin mencekam dalam satu ekspedisi dari para mujahidin untuk memerangi orang-orang musyrik esok harinya."
Begitu juga cerita Sa'ad bin Abi Waqash ra. Seorang yang dulunya kafir, lalu masuk Islam. Namun ibunya terus berupaya agar Sa'ad kembali pada agama asalnya. Ibunya memboikot Sa'ad dengan tak mau makan apapun juga, kecuali anaknya meninggalkan Islam. Namun, dengarlah penuturan Sa'ad bin Abi Waqash :
"Engkau tahu, demi Allah wahai Ibu, seandainya engkau punya seratus nyawa lalu keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku. Ini makanlah jika engkau mau atau jangan engkau makan."
Subhanallah...itu hanya contoh kecil yang bisa kita jadikan ibroh. Dari situ kita mesti berkaca pada diri kita, apa yang sudah kita lakukan agar bisa meraih nilai terbaik di sisi Allah? Sudahkah kesenangan dunia lebih kecil dalam pandangan kita? Bagaimana dengan keluarga kita, apakah mereka lebih berharga daripada Allah dan Rasul-Nya?
Mulai lah kita berbenah untuk menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang utama. Salatlah di awal waktu. Berpuasalah dengan gembira di bulan Ramadhan. Jagalah pergaulan dengan lawan jenis yang non mahram. Berdakwahlah dengan segenap curahan kemampuan yang kita punya. Dan raihlah nilai tertinggi di sisi Allah Azza wa Jala, agar pintu surga terkuak untuk kita.
Wallahu a'lam bish shawwab. []
Handil Bakti, 09032019
#OPEy2019
#Part7
#Day6
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Meraih Nilai Tertinggi
Saat bicara tentang nilai tertinggi, apa kira-kira yang terbayang oleh kita? Ranking kelas? Juara pertama? Murid teladan? Mahasiswa terbaik? Atau seseorang yang kuliah di universitas ternama di dunia?
Ya, semua tak keliru. Persepsi tentang nilai terbaik senantiasa dikaitkan dengan nilai akademis di institusi pendidikan. Mereka yang meraih nilai terbaik merupakan orang-orang terpilih karena kecerdasannya. Namun, penilaian terhadap akademis berada di tangan manusia. Lalu, bagaimanakah kira-kira seorang muslim bisa meraih nilai tertinggi di mata Allah?
Allah Swt berfirman :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. at-Taubah [9] : 24)
Ternyata, nilai tertinggi di mata Allah adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih disukai daripada dunia dan segala isinya. Di sinilah seorang muslim dituntut untuk mengorbankan semua kepentingannya di dunia. Melepaskan ikatan-ikatan kelompok yang memilinnya di dunia. Kemudian, mengubahnya dengan memosisikan dakwah sebagai poros utama dalam kehidupannya. Inilah bukti keimanan seorang muslim. Tunduk dan patuh pada perintah Allah. Ikhlas menjalankan semua perintah-Nya.
Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kita skala prioritas pelaksanaan amal. Sebagaimana sabda beliau :
"Jika kalian berjual beli secara al-'ainah dan kalian mengambil ekor sapi serta kalian lebih rela dengan tanaman pertanian, sementara kalian meninggalkan jihad, maka Allah timpakan atas kalian kehinaan yang tidak Dia cabut sampai kalian kembali lepada agama kalian." (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi)
Begitulah Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kepada kaum muslimin untuk memilah amal dengan cermat. Dan tak salah jika dakwah 'amar ma'ruf nahyi munkar, menjadi posisi teratas dalam prioritas amal.
Aktivitas dakwah telah diperintahkan Allah. Karena dengan berdakwah, Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tengoklah, bagaimana Salafus Saleh dulunya berjuang meninggikan kalimat Allah. Mereka benar-benar menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih utama dari kesenangan apapun juga di dunia ini.
Lihatlah Khalid bin Walid ra yang berkata, "Tidak ada satu malam pun di dalamnya diberikan kepadaku pengantin atau aku diberi kabar gembira dengan lahirnya anak laki-laki, yang lebih aku sukai dari satu malam yang dingin mencekam dalam satu ekspedisi dari para mujahidin untuk memerangi orang-orang musyrik esok harinya."
Begitu juga cerita Sa'ad bin Abi Waqash ra. Seorang yang dulunya kafir, lalu masuk Islam. Namun ibunya terus berupaya agar Sa'ad kembali pada agama asalnya. Ibunya memboikot Sa'ad dengan tak mau makan apapun juga, kecuali anaknya meninggalkan Islam. Namun, dengarlah penuturan Sa'ad bin Abi Waqash :
"Engkau tahu, demi Allah wahai Ibu, seandainya engkau punya seratus nyawa lalu keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku. Ini makanlah jika engkau mau atau jangan engkau makan."
Subhanallah...itu hanya contoh kecil yang bisa kita jadikan ibroh. Dari situ kita mesti berkaca pada diri kita, apa yang sudah kita lakukan agar bisa meraih nilai terbaik di sisi Allah? Sudahkah kesenangan dunia lebih kecil dalam pandangan kita? Bagaimana dengan keluarga kita, apakah mereka lebih berharga daripada Allah dan Rasul-Nya?
Mulai lah kita berbenah untuk menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang utama. Salatlah di awal waktu. Berpuasalah dengan gembira di bulan Ramadhan. Jagalah pergaulan dengan lawan jenis yang non mahram. Berdakwahlah dengan segenap curahan kemampuan yang kita punya. Dan raihlah nilai tertinggi di sisi Allah Azza wa Jala, agar pintu surga terkuak untuk kita.
Wallahu a'lam bish shawwab. []
Handil Bakti, 09032019
#OPEy2019
#Part7
#Day6
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
#SerialTaqarrubIlallah03
Oleh : Laila Thamrin
Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah
Para sahabat dan salafus saleh merupakan generasi terbaik yang memberikan teladan terbaik pula. Sosok mereka tak hanya sekokoh karang memegang yang wajib dan menjauhi yang haram. Namun juga, selalu berhias dengan amalan nafilah.
Amalan nafilah atau sunnah, bagi para Sahabat dan salafus salih, bukanlah sebagai amalan kelas dua yang tak menggiurkan. Tapi sebaliknya, setiap ada kesempatan, mereka senantiasa melakukan yang sunnah untuk menambah pundi pahalanya. Bahkan terlihat seolah yang sunnah pun seperti sebuah kewajiban. Saking bersemangatnya mereka melaksanakannya.
Kita pun patut bercermin pada kebiasaan baik mereka ini. Karena Rasulullah Saw juga telah memberikan suri teladan yang terbaik bagi kita, umatnya. Beliau selalu memotivasi kaum muslimin agar terus melaksanakan kebaikan.
Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, "Hendaknya kalian melaksanakan qiyamul lail (salat tahajjud), sebab sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menjadi penebus untuk berbagai keburukan, melarang dari dosa, mengusir/menjauhkan penyakit dari jasad, dan di dalam malam itu ada saat-saat yang di dalamnya doa diijabah." (HR. Ath-Thabarani, at-Tirmidzi, Ahmad, dll)
Salat tahajjud merupakan momen yang paling tepat bagi semua mukmin untuk bersujud dan mengadukan apapun kepada-Nya, diluar salat wajib tentunya. Terlebih para pengemban dakwah yang menginginkan segera tegaknya syari'at Allah Swt di bumi ini. Dengan sistem Khilafahnya. Dengan seluruh peraturan hidupnya yang berpijak pada Alquran dan as-Sunnah. Minta lah kepada Allah saat tahajjud, agar semua bisa terwujud.
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Saya tidak menemukan dari ibadah sesuatu yang lebih kuat daripada salat di tengah malam." Ditanyakan kepadanya, "Mengapa orang yang melakukan salat tahajjud termasuk manusia yang paling bagus wajahnya?" Beliau menjawab, "Sebab mereka berkhalwat dengan ar-Rahman (Zat Yang Maha Pengasih), maka Dia memakaikan pakaian dari cahanya-Nya kepada mereka."
Banyak lagi amalan sunnah lainnya. Seperti salat dhuha, salat tarawih, salat witir, salat istikharah, dan lainnya. Juga memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, puasa sunnah, dan sederet kebaikan lainnya. Apabila kita rajin mengamalkannya, maka akan merapatkan jarak kita dengan Al Khalik. Dan apapun doa kita, niscaya Allah akan senang mengijabahnya.
Tengoklah kisah kemenangan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel. Dia perintahkan pasukannya untuk berpuasa di hari Senin, 19 Jumadil Ula tahun 757 H. Sebagai upaya bertaqarrub kepada Allah, sekaligus penyucian jiwa-jiwa para ksatria ini agar siap berperang. Setelah berbuka dan melaksanakan salat berjama'ah, Sulthan pun berkhutbah di depan pasukannya untuk memompa semangat mereka. Hingga keesokan harinya, pasukan ini pun meringsek memasuki Konstantinopel melalui gunung, membawa kapal-kapal mereka mendaki. Sampai pertolongan Allah pun menghampiri mereka. Dan kemenangan tersemat manis di dada pasukan al-Fatih.
Kisah fenomenal ini menjadi bukti kepada kita, betapa amalan nafilah, yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan oleh pasukan Sulthan Muhammad al-Fatih telah menghantarkan kemenangan besar bagi umat Islam.
Karenanya, mulai sekarang berapa pun usia menjelang, kita upayakan untuk terus meningkatkan amalan nafilah ini. Supaya semakin rapat dengan-Nya. Dan terus berdoa agar pertolongan Allah untuk tegaknya syariat Islam ini disegerakan oleh-Nya.
Aamiin.
Handil Bakti, 08032019
#OPEy2019
#Part7
#Day4
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Merapat Pada Allah dengan Amalan Nafilah
Para sahabat dan salafus saleh merupakan generasi terbaik yang memberikan teladan terbaik pula. Sosok mereka tak hanya sekokoh karang memegang yang wajib dan menjauhi yang haram. Namun juga, selalu berhias dengan amalan nafilah.
Amalan nafilah atau sunnah, bagi para Sahabat dan salafus salih, bukanlah sebagai amalan kelas dua yang tak menggiurkan. Tapi sebaliknya, setiap ada kesempatan, mereka senantiasa melakukan yang sunnah untuk menambah pundi pahalanya. Bahkan terlihat seolah yang sunnah pun seperti sebuah kewajiban. Saking bersemangatnya mereka melaksanakannya.
Kita pun patut bercermin pada kebiasaan baik mereka ini. Karena Rasulullah Saw juga telah memberikan suri teladan yang terbaik bagi kita, umatnya. Beliau selalu memotivasi kaum muslimin agar terus melaksanakan kebaikan.
Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, "Hendaknya kalian melaksanakan qiyamul lail (salat tahajjud), sebab sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menjadi penebus untuk berbagai keburukan, melarang dari dosa, mengusir/menjauhkan penyakit dari jasad, dan di dalam malam itu ada saat-saat yang di dalamnya doa diijabah." (HR. Ath-Thabarani, at-Tirmidzi, Ahmad, dll)
Salat tahajjud merupakan momen yang paling tepat bagi semua mukmin untuk bersujud dan mengadukan apapun kepada-Nya, diluar salat wajib tentunya. Terlebih para pengemban dakwah yang menginginkan segera tegaknya syari'at Allah Swt di bumi ini. Dengan sistem Khilafahnya. Dengan seluruh peraturan hidupnya yang berpijak pada Alquran dan as-Sunnah. Minta lah kepada Allah saat tahajjud, agar semua bisa terwujud.
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Saya tidak menemukan dari ibadah sesuatu yang lebih kuat daripada salat di tengah malam." Ditanyakan kepadanya, "Mengapa orang yang melakukan salat tahajjud termasuk manusia yang paling bagus wajahnya?" Beliau menjawab, "Sebab mereka berkhalwat dengan ar-Rahman (Zat Yang Maha Pengasih), maka Dia memakaikan pakaian dari cahanya-Nya kepada mereka."
Banyak lagi amalan sunnah lainnya. Seperti salat dhuha, salat tarawih, salat witir, salat istikharah, dan lainnya. Juga memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, puasa sunnah, dan sederet kebaikan lainnya. Apabila kita rajin mengamalkannya, maka akan merapatkan jarak kita dengan Al Khalik. Dan apapun doa kita, niscaya Allah akan senang mengijabahnya.
Tengoklah kisah kemenangan Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel. Dia perintahkan pasukannya untuk berpuasa di hari Senin, 19 Jumadil Ula tahun 757 H. Sebagai upaya bertaqarrub kepada Allah, sekaligus penyucian jiwa-jiwa para ksatria ini agar siap berperang. Setelah berbuka dan melaksanakan salat berjama'ah, Sulthan pun berkhutbah di depan pasukannya untuk memompa semangat mereka. Hingga keesokan harinya, pasukan ini pun meringsek memasuki Konstantinopel melalui gunung, membawa kapal-kapal mereka mendaki. Sampai pertolongan Allah pun menghampiri mereka. Dan kemenangan tersemat manis di dada pasukan al-Fatih.
Kisah fenomenal ini menjadi bukti kepada kita, betapa amalan nafilah, yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan oleh pasukan Sulthan Muhammad al-Fatih telah menghantarkan kemenangan besar bagi umat Islam.
Karenanya, mulai sekarang berapa pun usia menjelang, kita upayakan untuk terus meningkatkan amalan nafilah ini. Supaya semakin rapat dengan-Nya. Dan terus berdoa agar pertolongan Allah untuk tegaknya syariat Islam ini disegerakan oleh-Nya.
Aamiin.
Handil Bakti, 08032019
#OPEy2019
#Part7
#Day4
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Rabu, 13 Maret 2019
#SerialTaqarrubIlallah02
Indahnya Membaca Alquran
Oleh : Laila Thamrin
Rasulullah Saw bersabda :
"Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatu pun dari Alquran adalah seperti rumah yang roboh." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, ath-Thabarani, al-Hakim, al-Baihaqi)
Pernah melihat orang yang limbung karena banyak masalah? Atau justru pernah anda merasakan sendiri begitu banyaknya masalah mengepung? Lalu, jika anda baca Alquran perlahan-lahan, bagaimana rasanya?
Saya pernah merasakan itu. Begitu banyaknya ujian yang seolah menghimpit hidup ini. Namun ketika saya mengakrabkan diri dengan membaca Alquran, seolah semua ujian itu ringan dipikul. Dan jalan keluar pun berdatangan. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw, bahwa Alquran seperti nyawa dalam sebuah rumah, jika tak ada sentuhan Alquran akan robohlah rumah itu.
Alquran merupakan kalamullah. Berisi tentang petunjuk hidup manusia selama di dunia. Merupakan satu-satunya kitab di dunia yang jika dibaca oleh manusia akan mendatangkan pahala bagi pembacanya, juga yang mendengarkannya. Bahkan pahala yang di dapat dinilai huruf demi huruf, meski si pembacanya terbata-bata.
"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah (Alquran) maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf, dan MIIM satu huruf." (HR. Tirmidzi)
Rugi sekali jika telah mengaku Muslim, namun jarang menyentuh Alquran. Karena membaca Alquran mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi." (QS. Fathir [35] : 29)
Rasulullah Saw sering memilih pemimpin suatu delegasi untuk urusan negara dari banyaknya hafalan mereka. Yang paling banyak hafalannya, atau yang paling bagus bacaannya, itulah yang terpilih.
Dalam hadits Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah Saw mengutus delegasi berjumlah beberapa orang, lalu beliau meminta mereka membaca Alquran. Beliau meminta tiap orang untuk membaca Alquran, yakni yang dia hafal. Beliau datang kepada salah seorang laki-laki dari mereka yang paling muda usianya. Beliau bersabda, "Apa yang engkau hafal, ya Fulan?" Dia menjawab, "Aku hafal ini dan ini dan surat al-Baqarah." Rasulullah saw pun bersabda, "Apakah engkau hafal surat al-Baqarah?" Dia menjawab,"Benar." Rasulullah saw bersabda,"Berangkatlah, dan engkau menjadi pemimpin (amir) mereka." (HR. Ibnu Hibban)
Begitu istimewa orang yang membaca Alquran dan mampu menghafalnya. Orang yang membaca Alquran hendaknya dalam keadaan khusyu', tadabbur dan tunduk. Disunnahkan hingga menangis dan berusaha menangis. Disunnahkan juga membacanya seperti Rasulullah Saw, yaitu dengan tartil, tidak lambat dan tidak cepat. Beliau membaca dengan jeda di tiap ayat.
Jadikanlah Alquran teman terbaik kita. Di kala suka maupun duka. Bacalah di setiap kesempatan yang kita punya. Resapi isinya. Dijalankan semua perintah yang ada di dalamnya. Jauhi larangan Allah yang termaktub di sana. Karena Rasulullah Saw bersabda, "Bacalah Alquran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada orang yang membacanya." (HR. Muslim)
Wallahua'lam bish shawwab.[]
Handil Bakti, 13032019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Oleh : Laila Thamrin
Rasulullah Saw bersabda :
"Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatu pun dari Alquran adalah seperti rumah yang roboh." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, ath-Thabarani, al-Hakim, al-Baihaqi)
Pernah melihat orang yang limbung karena banyak masalah? Atau justru pernah anda merasakan sendiri begitu banyaknya masalah mengepung? Lalu, jika anda baca Alquran perlahan-lahan, bagaimana rasanya?
Saya pernah merasakan itu. Begitu banyaknya ujian yang seolah menghimpit hidup ini. Namun ketika saya mengakrabkan diri dengan membaca Alquran, seolah semua ujian itu ringan dipikul. Dan jalan keluar pun berdatangan. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw, bahwa Alquran seperti nyawa dalam sebuah rumah, jika tak ada sentuhan Alquran akan robohlah rumah itu.
Alquran merupakan kalamullah. Berisi tentang petunjuk hidup manusia selama di dunia. Merupakan satu-satunya kitab di dunia yang jika dibaca oleh manusia akan mendatangkan pahala bagi pembacanya, juga yang mendengarkannya. Bahkan pahala yang di dapat dinilai huruf demi huruf, meski si pembacanya terbata-bata.
"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah (Alquran) maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf, dan MIIM satu huruf." (HR. Tirmidzi)
Rugi sekali jika telah mengaku Muslim, namun jarang menyentuh Alquran. Karena membaca Alquran mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi." (QS. Fathir [35] : 29)
Rasulullah Saw sering memilih pemimpin suatu delegasi untuk urusan negara dari banyaknya hafalan mereka. Yang paling banyak hafalannya, atau yang paling bagus bacaannya, itulah yang terpilih.
Dalam hadits Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah Saw mengutus delegasi berjumlah beberapa orang, lalu beliau meminta mereka membaca Alquran. Beliau meminta tiap orang untuk membaca Alquran, yakni yang dia hafal. Beliau datang kepada salah seorang laki-laki dari mereka yang paling muda usianya. Beliau bersabda, "Apa yang engkau hafal, ya Fulan?" Dia menjawab, "Aku hafal ini dan ini dan surat al-Baqarah." Rasulullah saw pun bersabda, "Apakah engkau hafal surat al-Baqarah?" Dia menjawab,"Benar." Rasulullah saw bersabda,"Berangkatlah, dan engkau menjadi pemimpin (amir) mereka." (HR. Ibnu Hibban)
Begitu istimewa orang yang membaca Alquran dan mampu menghafalnya. Orang yang membaca Alquran hendaknya dalam keadaan khusyu', tadabbur dan tunduk. Disunnahkan hingga menangis dan berusaha menangis. Disunnahkan juga membacanya seperti Rasulullah Saw, yaitu dengan tartil, tidak lambat dan tidak cepat. Beliau membaca dengan jeda di tiap ayat.
Jadikanlah Alquran teman terbaik kita. Di kala suka maupun duka. Bacalah di setiap kesempatan yang kita punya. Resapi isinya. Dijalankan semua perintah yang ada di dalamnya. Jauhi larangan Allah yang termaktub di sana. Karena Rasulullah Saw bersabda, "Bacalah Alquran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada orang yang membacanya." (HR. Muslim)
Wallahua'lam bish shawwab.[]
Handil Bakti, 13032019
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Selasa, 22 Januari 2019
Hidayah telah Bertandang
"Dunia ini hanya sementara..."
Kutipan indah ini disampaikan Raffi Ahmad saat pengajian perdana di rumahnya. Siapa yang tak kenal Raffi Ahmad? Seantero Indonesia Raya ini pasti kenal, karena dia seorang publik figur. Dunia entertainment menjadi kesehariannya. Yang lekat dengan kehidupan glamour.
Saat dia mengadakan kajian di rumahnya, tentu semua sahabat hijrahnya menyambut dengan suka cita. Dia ceritakan jikalau selama ini apa yang dia inginkan mudah sekali tercapai. Namun, hatinya terasa hampa. Dan Ustadz Abu Fida yang hadir saat itu mengatakan, bahwasanya itu tanda jika hidayah Allah sudah masuk. Ya, hidayah telah bertandang kepada Raffi. Tabarakallah !
Hidayah memang rahasia Allah. Hanya DIA yang berhak memilih siapa yang layak mendapatkannya. Tapi manusia, dengan akal pikiran yang telah dianugrahkan Allah kepadanya, sejatinya mampu menjemput hidayah itu segera.
Allah telah berikan banyak tanda-tanda di dunia ini yang mampu menghantarkan manusia pada petunjuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya :
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."
"Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di Bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa."
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,"
"mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan."
(TQS. Yunus : 5-8 )
Kita doakan bagi saudara, sahabat dan semua kenalan kita yang telah meniti jalan hijrah, semoga istiqomah. Begitupun dengan Raffi Ahmad dan keluarga.
Kita pun senantiasa berdoa, agar Allah tetapkan kita juga dalam jalan-Nya. Serta memperbanyak amal yang mendatangkan pahala. Karena sebaik-baik tempat kembali hanyalah Kampung Akhirat. Dan sebaik-baik bekal hanyalah amal shalih. Sedangkan dunia hanyalah sementara saja.
"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (TQS. Al-An'am : 32)
@Laila Thamrin
(22012019)
#OPEy2019
#Day2
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Kutipan indah ini disampaikan Raffi Ahmad saat pengajian perdana di rumahnya. Siapa yang tak kenal Raffi Ahmad? Seantero Indonesia Raya ini pasti kenal, karena dia seorang publik figur. Dunia entertainment menjadi kesehariannya. Yang lekat dengan kehidupan glamour.
Saat dia mengadakan kajian di rumahnya, tentu semua sahabat hijrahnya menyambut dengan suka cita. Dia ceritakan jikalau selama ini apa yang dia inginkan mudah sekali tercapai. Namun, hatinya terasa hampa. Dan Ustadz Abu Fida yang hadir saat itu mengatakan, bahwasanya itu tanda jika hidayah Allah sudah masuk. Ya, hidayah telah bertandang kepada Raffi. Tabarakallah !
Hidayah memang rahasia Allah. Hanya DIA yang berhak memilih siapa yang layak mendapatkannya. Tapi manusia, dengan akal pikiran yang telah dianugrahkan Allah kepadanya, sejatinya mampu menjemput hidayah itu segera.
Allah telah berikan banyak tanda-tanda di dunia ini yang mampu menghantarkan manusia pada petunjuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya :
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."
"Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di Bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa."
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,"
"mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan."
(TQS. Yunus : 5-8 )
Kita doakan bagi saudara, sahabat dan semua kenalan kita yang telah meniti jalan hijrah, semoga istiqomah. Begitupun dengan Raffi Ahmad dan keluarga.
Kita pun senantiasa berdoa, agar Allah tetapkan kita juga dalam jalan-Nya. Serta memperbanyak amal yang mendatangkan pahala. Karena sebaik-baik tempat kembali hanyalah Kampung Akhirat. Dan sebaik-baik bekal hanyalah amal shalih. Sedangkan dunia hanyalah sementara saja.
"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (TQS. Al-An'am : 32)
@Laila Thamrin
(22012019)
#OPEy2019
#Day2
#Gemesda
#MenyalaBersamaRevowriter
#Revowriter5
Luruhnya Hati Sang Pembunuh Singa Allah
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS. Al-Baqarah: 218)
Saat kita napak tilas perjalanan hidup Baginda Rasulullah Saw, tak pelak pasti akan kita temui awal hijrah beliau. Pun peperangan demi peperangan yang dilalui Beliau bersama para sahabatnya tercinta.
Adalah perang Badar, perang pertama yang terjadi setelah Negara Islam tegak di Madinah. Dengan kekuatan 300 pasukan kaum muslimin, Allah menangkan di atas 1000 pasukan kafir Quraisy. Tabarakallahu 'alaikum.
Dikabarkan bahwasanya dalam perang Badar telah terbunuh sekitar 70 orang Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan kaum muslimin. Diantara yang terbunuh itu terdapat salah seorang pembesar Quraisy bernama 'Utbah. Juga adiknya Syaibah. Dan anaknya, Al-Walid bin 'Utbah.
Tiga lelaki sedarah ini adalah ayah, paman dan saudara dari Hindun binti 'Utbah, seorang perempuan Quraisy, istri Abu Sufyan bin Harb, salah seorang tokoh pemuka Quraisy yang sangat membenci Islam yang dibawa Rasulullah Saw. Bahkan dia menjadi bagian tentara kaum musyrik Quraisy di perang Badar.
Kemarahan Hindun semakin memuncak. Darahnya mendidih saat mendapatkan kabar duka ini. Apalagi ternyata, anaknya pun telah menjadi korban dalam perang Badar tersebut. Menurut informasi yang diperolehnya, pembunuh orang-orang terkasihnya adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Saw. Maka dia pun bertekad untuk membalas kematian keluarganya dengan menjadikan Hamzah, Sang Singa Allah, sebagai salah satu target yang harus dibunuhnya pula. Selain Rasulullah Saw tentunya. Dan sebagian kaum kafir Quraisy pun memiliki pemikiran serupa dengan Hindun.
Tepat setahun sejak perang Badar, orang-orang musyrik Makkah telah menyiapkan pasukannya untuk memerangi kaum muslimin. Dendam kesumat yang terpatri di hati mereka membuat semangat mereka bergelora. Sebanyak 3000 pasukan Quraisy telah disiapkan. Dan dalam pasukan ini terselip seorang budak milik Jabir bin Muth'im yang bernama Wahsyi. Seorang budak dari Habasyah yang diberikan tugas khusus oleh Hindun. Tidak lain tugasnya membunuh Hamzah, Sang Singa Allah. Wahsyi memiliki keahlian yang luar biasa dalam melempar tombak. Dengan iming-iming kebebasannya dan juga perhiasan emas berlian, Wahsyi menyanggupi tugas khusus ini.
Genderang perang Uhud pun telah ditabuh. Kaum muslimin merangsek pertahanan pasukan Quraisy dengan semangat jihadnya. Hamzah bin Abdul Muthallib terlihat menerobos pasukan Quraisy. Satu demi satu lawan dilumatnya. Pedangnya mengayun ke kiri dan kanan tak kenal ampun. Pasukan Quraisy pun terlihat kocar-kacir.
Namun, tanpa disadari oleh Hamzah, sepasang mata terus mengamati gerak-geriknya. Mencari celah peluang untuk melontarkan tombaknya. Dia berlindung di sela-sela pepohonan dan bebatuan. Dan disaat yang dianggapnya tepat, Wahsyi segera melemparkan tombaknya ke arah Hamzah. Seketika tombak itu menembus perut Hamzah. Hingga kematian pun menjemputnya. Singa Allah syahid di perang Uhud, diujung tombak Wahsyi.
Kabar kematian Hamzah bin Abdul Muthallib segera sampai ke telinga Hindun dan pasukan Quraisy. Bergegas Hindun dan perempuan-perempuan Quraisy lainnya mendatangi tubuh Hamzah. Mereka lalu merusak jenazah Hamzah dengan keji. Kepuasan nampak jelas dari wajah-wajah mereka. Terlebih, setelah perang Uhud dimenangkan oleh pasukan Quraisy. Sorak sorai kemenangam mereka semakin lantang.
Waktu terus berputar. Kaum muslimin terus mendapatkan kemenangan demi kemenangan atas izin Allah. Hingga tiba saatnya Rasulullah Saw dan para sahabat menaklukkan Makkah. Peristiwa Fathu Makkah menjadi kilasan sejarah Islam yang istimewa. Tak ada senjata. Tak ada pertumpahan darah. Saat itu Rasulullah Saw berkata kepada penduduk Makkah, "Siapa saja yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat."
Dan Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia. Hindun binti 'Utbah yang telah 20 tahun memusuhi Rasulullah Saw dan kaum muslimin, hari itu menyatakan ke-Islamannya tanpa paksaan dari siapa pun. Benarlah bahwasanya hati manusia berada diantara jari-jari Allah.
Saat Hindun berkata pada suaminya untuk menjadi pengikut Muhammad Saw, suaminya sedikit ragu. Tapi Hindun meyakinkannya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan salat, berdiri, ruku', dan sujud."
'Aisyah ra menuturkan, "Hindun datang kepada Nabi Saw seraya berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah membinasakannya, daripada golonganmu. Tetapi hari ini, tidak ada golongan di dunia yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu." Rasulullah Saw pun membalas, "Begitu juga aku. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya." (HR. Muslim no 8 dan 1714)
Dan suaminya pun saat itu melakukan hal serupa dengannya. Siapa yang menyangka Hindun dan suaminya akan menerima Islam tanpa perlawanan? Dan kita dapati Rasulullah Saw menerima keislaman mereka dengan ikhlas. Padahal keduanya begitu keras permusuhannya pada Islam. Bahkan kekejaman Hindun pada paman beliau, Hamzah, sungguh diluar kewajaran. Namun, tak ada yang menghalangi mereka untuk menerima cahaya Islam menerangi qalbunya.
Hindun binti 'Utbah berubah menjadi seorang perempuan muslimah yang salihah. Luruh sudah keangkuhan dan kejahiliyahannya. Dia tampil menjadi sosok muslimah yang sangat istimewa karena kecerdasannya. Allah telah menerangi hatinya dengan cahaya Islam. Memupus semua kedengkian yang sebelumnya melekat dalam dirinya. Dan dia berubah menjadi pembela Islam yang militan. Sekaligus menjadi seorang ahli ibadah dan memegang kuat janji setianya pada Rasulullah Saw.
Hijrahnya seorang Hindun patut kita teladani. Hijrah yang totalitas hanya menuju Islam Kaffah. Melepaskan seluruh kejahiliyahan yang sebelumnya telah memenuhi ruang hidupnya. Merobohkan semua berhala-berhala yang menjadi penghalangnya. Meninggalkan semua kekufuran yang awalnya menjadi denyut nadinya. Dan beralihlah hidup dan matinya hanya untuk Islam semata.
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (TQS. At-Taubah : 20)
@Laila Thamrin
(20012019)
*Inspirasi dari buku "35 Sirah Shahabiyah" karya Muhammad Al-Mishri.
#Revowriter
#NgajiLiterasi
#Gemesda
#Hijrah
Saat kita napak tilas perjalanan hidup Baginda Rasulullah Saw, tak pelak pasti akan kita temui awal hijrah beliau. Pun peperangan demi peperangan yang dilalui Beliau bersama para sahabatnya tercinta.
Adalah perang Badar, perang pertama yang terjadi setelah Negara Islam tegak di Madinah. Dengan kekuatan 300 pasukan kaum muslimin, Allah menangkan di atas 1000 pasukan kafir Quraisy. Tabarakallahu 'alaikum.
Dikabarkan bahwasanya dalam perang Badar telah terbunuh sekitar 70 orang Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan kaum muslimin. Diantara yang terbunuh itu terdapat salah seorang pembesar Quraisy bernama 'Utbah. Juga adiknya Syaibah. Dan anaknya, Al-Walid bin 'Utbah.
Tiga lelaki sedarah ini adalah ayah, paman dan saudara dari Hindun binti 'Utbah, seorang perempuan Quraisy, istri Abu Sufyan bin Harb, salah seorang tokoh pemuka Quraisy yang sangat membenci Islam yang dibawa Rasulullah Saw. Bahkan dia menjadi bagian tentara kaum musyrik Quraisy di perang Badar.
Kemarahan Hindun semakin memuncak. Darahnya mendidih saat mendapatkan kabar duka ini. Apalagi ternyata, anaknya pun telah menjadi korban dalam perang Badar tersebut. Menurut informasi yang diperolehnya, pembunuh orang-orang terkasihnya adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Saw. Maka dia pun bertekad untuk membalas kematian keluarganya dengan menjadikan Hamzah, Sang Singa Allah, sebagai salah satu target yang harus dibunuhnya pula. Selain Rasulullah Saw tentunya. Dan sebagian kaum kafir Quraisy pun memiliki pemikiran serupa dengan Hindun.
Tepat setahun sejak perang Badar, orang-orang musyrik Makkah telah menyiapkan pasukannya untuk memerangi kaum muslimin. Dendam kesumat yang terpatri di hati mereka membuat semangat mereka bergelora. Sebanyak 3000 pasukan Quraisy telah disiapkan. Dan dalam pasukan ini terselip seorang budak milik Jabir bin Muth'im yang bernama Wahsyi. Seorang budak dari Habasyah yang diberikan tugas khusus oleh Hindun. Tidak lain tugasnya membunuh Hamzah, Sang Singa Allah. Wahsyi memiliki keahlian yang luar biasa dalam melempar tombak. Dengan iming-iming kebebasannya dan juga perhiasan emas berlian, Wahsyi menyanggupi tugas khusus ini.
Genderang perang Uhud pun telah ditabuh. Kaum muslimin merangsek pertahanan pasukan Quraisy dengan semangat jihadnya. Hamzah bin Abdul Muthallib terlihat menerobos pasukan Quraisy. Satu demi satu lawan dilumatnya. Pedangnya mengayun ke kiri dan kanan tak kenal ampun. Pasukan Quraisy pun terlihat kocar-kacir.
Namun, tanpa disadari oleh Hamzah, sepasang mata terus mengamati gerak-geriknya. Mencari celah peluang untuk melontarkan tombaknya. Dia berlindung di sela-sela pepohonan dan bebatuan. Dan disaat yang dianggapnya tepat, Wahsyi segera melemparkan tombaknya ke arah Hamzah. Seketika tombak itu menembus perut Hamzah. Hingga kematian pun menjemputnya. Singa Allah syahid di perang Uhud, diujung tombak Wahsyi.
Kabar kematian Hamzah bin Abdul Muthallib segera sampai ke telinga Hindun dan pasukan Quraisy. Bergegas Hindun dan perempuan-perempuan Quraisy lainnya mendatangi tubuh Hamzah. Mereka lalu merusak jenazah Hamzah dengan keji. Kepuasan nampak jelas dari wajah-wajah mereka. Terlebih, setelah perang Uhud dimenangkan oleh pasukan Quraisy. Sorak sorai kemenangam mereka semakin lantang.
Waktu terus berputar. Kaum muslimin terus mendapatkan kemenangan demi kemenangan atas izin Allah. Hingga tiba saatnya Rasulullah Saw dan para sahabat menaklukkan Makkah. Peristiwa Fathu Makkah menjadi kilasan sejarah Islam yang istimewa. Tak ada senjata. Tak ada pertumpahan darah. Saat itu Rasulullah Saw berkata kepada penduduk Makkah, "Siapa saja yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat."
Dan Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia. Hindun binti 'Utbah yang telah 20 tahun memusuhi Rasulullah Saw dan kaum muslimin, hari itu menyatakan ke-Islamannya tanpa paksaan dari siapa pun. Benarlah bahwasanya hati manusia berada diantara jari-jari Allah.
Saat Hindun berkata pada suaminya untuk menjadi pengikut Muhammad Saw, suaminya sedikit ragu. Tapi Hindun meyakinkannya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan salat, berdiri, ruku', dan sujud."
'Aisyah ra menuturkan, "Hindun datang kepada Nabi Saw seraya berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah membinasakannya, daripada golonganmu. Tetapi hari ini, tidak ada golongan di dunia yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu." Rasulullah Saw pun membalas, "Begitu juga aku. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya." (HR. Muslim no 8 dan 1714)
Dan suaminya pun saat itu melakukan hal serupa dengannya. Siapa yang menyangka Hindun dan suaminya akan menerima Islam tanpa perlawanan? Dan kita dapati Rasulullah Saw menerima keislaman mereka dengan ikhlas. Padahal keduanya begitu keras permusuhannya pada Islam. Bahkan kekejaman Hindun pada paman beliau, Hamzah, sungguh diluar kewajaran. Namun, tak ada yang menghalangi mereka untuk menerima cahaya Islam menerangi qalbunya.
Hindun binti 'Utbah berubah menjadi seorang perempuan muslimah yang salihah. Luruh sudah keangkuhan dan kejahiliyahannya. Dia tampil menjadi sosok muslimah yang sangat istimewa karena kecerdasannya. Allah telah menerangi hatinya dengan cahaya Islam. Memupus semua kedengkian yang sebelumnya melekat dalam dirinya. Dan dia berubah menjadi pembela Islam yang militan. Sekaligus menjadi seorang ahli ibadah dan memegang kuat janji setianya pada Rasulullah Saw.
Hijrahnya seorang Hindun patut kita teladani. Hijrah yang totalitas hanya menuju Islam Kaffah. Melepaskan seluruh kejahiliyahan yang sebelumnya telah memenuhi ruang hidupnya. Merobohkan semua berhala-berhala yang menjadi penghalangnya. Meninggalkan semua kekufuran yang awalnya menjadi denyut nadinya. Dan beralihlah hidup dan matinya hanya untuk Islam semata.
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (TQS. At-Taubah : 20)
@Laila Thamrin
(20012019)
*Inspirasi dari buku "35 Sirah Shahabiyah" karya Muhammad Al-Mishri.
#Revowriter
#NgajiLiterasi
#Gemesda
#Hijrah
Minggu, 18 November 2018
Maulid Rasulullah Saw
Tak terasa seminggu telah berlalu. Sabtu, 10 November yang lalu kami sekeluarga pulang ke kampung suami. Karena bertepatan Rabiul Awal, di rumah Abah dan Mama menyelenggarakan peringatan Maulid Rasulullah Saw. Masyarakat di kampung suamiku ini menyambutnya dengan penuh suka cita. Karena kecintaan mereka pada Rasulullah Muhammad Saw tak bisa digantikan dengan apapun jua.
Acara Maulid Rasul dimulai sejak jam 8 pagi. Tamu-tamu mulai datang satu persatu. Aku ikut membantu menyiapkan berbagai sajian yang akan dihidangkan. Kue-kue, teh dan susu hangat hidangan pembukanya. Irama pukulan "tarbang", alat musik sejebis rebana, mulai terdengar. Diikuti syair puji-pujian kepada Rasulullah Saw mulai berkumandang. Para tamu dan tuan rumah hanyut dalam kegembiraan yang syahdu.
Aku pun terbayang sosok Rasulullah Saw yang sangat luar biasa. Sempurna akhlaknya, sempurna sebagai suami, sempurna sebagai ayah, sempurna sebagai sahabat, bahkan sempurna sebagai kepala negara. Beliau tak hanya harus dipuji. Tapi yang utama apa yang dibawa Rasul hendaknya diikuti. Tanpa tapi, tanpa nanti. Dari mulai urusan individu yang remeh temeh seperti makan, minum, berpakaian, ibadah, dll. Hingga urusan besar yang berkaitan dengan negara, seperti urusan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan politik. Semua telah diajarkan Rasul, dan sejatinya diikuti oleh umatnya. Bukan hanya jadi cerita lalu dan dongeng pengantar tidur.
Tabuhan "tarbang" yang terakhir ditutup doa. Ibu-ibu di dapur sibuk menata makanan ke dalam piring, karena setelah berdoa makanan harus disajikan. Riuhnya alunan syair di ruangan depan bertaut dengan riuhnya obrolan ibu-ibu sembari tangannya cekatan menata makanan yang hendak disajikan. Maklum, lama tak bersua keluarga, ciri khas perempuan pun tak bisa dihindarkan. Ngobrol. Hehe...
Yang menyelenggarakan acara ini tak hanya di rumah mertuaku. Tapi tetangga yang lain juga banyak yang mengadakan. Dan masing-masing mengundang keluarga besar plus handai taulannya. Selesai para tamu makan. Khusus kaum laki-lakinya, beranjak keluar, menuju Mushalla di kampung itu. Sedangkan yang perempuan bersiap membereskan piring dan gelas kotor yang tersisa. Dan menunggu di rumah sambil menyiapkan menu selanjutnya.
Sementara para lelaki mendengarkan ceramah di mushalla, undangan terus berdatangan ke rumah. Keluarga Abah dan Mama dari kampung sebelah, kawan-kawan beliau, juga kawan-kawan adik-adik iparku datang memenuhi undangan. Mereka datang sambil membawa buah tangan. Ada yang memberi gula, teh, kue, buah, dsb. Ini tradisi turun temurun.
Saat jarum jam mengarah ke angka 11.30 ceramah di Mushalla usai. Para tamu lelaki pun kembali ke rumah Abah dan Mama. Hidangan berikutnya siap disajikan kembali. Jika makan pagi menunya nasi kuning plus masak habang ikan Tauman dan telur bebek. Maka siang ini para tamu dimanjakan dengan daging masak habang bumbu kelapa goreng plus sop ayam dan nasi putih hangat. Tak ketinggalan semangka merah merona menjadi hidangan penutupnya. Hmm, asyik bukan...undangan ternyata dapat dua kali sajian. Makan pagi dan makan siang sekaligus dengan menu berbeda.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah peribahasa yang pernah kudapatkan. Ternyata tak usah jauh ke pulau sebelah atau pun ke negeri tetangga. Cukup ke kampung sebelah yang berbeda kabupaten saja, sebuah kebiasaan bisa berbeda. Namun, selama hati kita terpaut pada satu ILLah, yaitu "La illaha ilallah, Muhammadur Rasulullah" maka kerekatan tetap terjaga. Yang perlu dibenahi adalah pemikiran orang-orang yang masih keliru, yang melenceng dari akidah Islam. Yang menyatakan bendera tauhid benderanya sebuah ormas. Bahkan menyatakan bendera itu simbol teroris. Astaghfirullah...ini benar-benar harus diluruskan.
Sejatinya, peringatan Maulidur Rasulullah Saw ini bukan seremonial belaka yang berulang tiap tahunnya. Tetapi hendaknya menjadi motivasi kita bersama untuk segera menjalankan apa yang diajarkan Rasulullah Saw. Dan meninggalkan semua yang tak sesuai dengan ajaran beliau. Mengambil semua ajaran Islam, dan membuang sekularisme-kapitalis dalam kehidupan ini.
Sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam firman-Nya :
وَمَآ ءَاتٰىكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al Hasyr : 7)
Sebagaiman lahirnya Rasulullah Saw di 12 Rabiul Awal tahun Gajah menjadi momen penting bagi cikal bakal tegaknya peradaban Islam yang mulia. Maka kita semua berharap semoga bulan Rabiul Awal tahun ini menjadi tonggak perubahan umat Islam. Menuju peradaban Islam yang mulia dengan terwujudnya Islam kaffah di seluruh penjuru dunia.
Aamiin Allahumma Aamiin
@Laila Thamrin
#rabiulawal
#maulidrasul
#gemesda
#gerakanmedsosuntukdakwah
#revowriter
*gambar dari google.com
Acara Maulid Rasul dimulai sejak jam 8 pagi. Tamu-tamu mulai datang satu persatu. Aku ikut membantu menyiapkan berbagai sajian yang akan dihidangkan. Kue-kue, teh dan susu hangat hidangan pembukanya. Irama pukulan "tarbang", alat musik sejebis rebana, mulai terdengar. Diikuti syair puji-pujian kepada Rasulullah Saw mulai berkumandang. Para tamu dan tuan rumah hanyut dalam kegembiraan yang syahdu.
Aku pun terbayang sosok Rasulullah Saw yang sangat luar biasa. Sempurna akhlaknya, sempurna sebagai suami, sempurna sebagai ayah, sempurna sebagai sahabat, bahkan sempurna sebagai kepala negara. Beliau tak hanya harus dipuji. Tapi yang utama apa yang dibawa Rasul hendaknya diikuti. Tanpa tapi, tanpa nanti. Dari mulai urusan individu yang remeh temeh seperti makan, minum, berpakaian, ibadah, dll. Hingga urusan besar yang berkaitan dengan negara, seperti urusan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan politik. Semua telah diajarkan Rasul, dan sejatinya diikuti oleh umatnya. Bukan hanya jadi cerita lalu dan dongeng pengantar tidur.
Tabuhan "tarbang" yang terakhir ditutup doa. Ibu-ibu di dapur sibuk menata makanan ke dalam piring, karena setelah berdoa makanan harus disajikan. Riuhnya alunan syair di ruangan depan bertaut dengan riuhnya obrolan ibu-ibu sembari tangannya cekatan menata makanan yang hendak disajikan. Maklum, lama tak bersua keluarga, ciri khas perempuan pun tak bisa dihindarkan. Ngobrol. Hehe...
Yang menyelenggarakan acara ini tak hanya di rumah mertuaku. Tapi tetangga yang lain juga banyak yang mengadakan. Dan masing-masing mengundang keluarga besar plus handai taulannya. Selesai para tamu makan. Khusus kaum laki-lakinya, beranjak keluar, menuju Mushalla di kampung itu. Sedangkan yang perempuan bersiap membereskan piring dan gelas kotor yang tersisa. Dan menunggu di rumah sambil menyiapkan menu selanjutnya.
Sementara para lelaki mendengarkan ceramah di mushalla, undangan terus berdatangan ke rumah. Keluarga Abah dan Mama dari kampung sebelah, kawan-kawan beliau, juga kawan-kawan adik-adik iparku datang memenuhi undangan. Mereka datang sambil membawa buah tangan. Ada yang memberi gula, teh, kue, buah, dsb. Ini tradisi turun temurun.
Saat jarum jam mengarah ke angka 11.30 ceramah di Mushalla usai. Para tamu lelaki pun kembali ke rumah Abah dan Mama. Hidangan berikutnya siap disajikan kembali. Jika makan pagi menunya nasi kuning plus masak habang ikan Tauman dan telur bebek. Maka siang ini para tamu dimanjakan dengan daging masak habang bumbu kelapa goreng plus sop ayam dan nasi putih hangat. Tak ketinggalan semangka merah merona menjadi hidangan penutupnya. Hmm, asyik bukan...undangan ternyata dapat dua kali sajian. Makan pagi dan makan siang sekaligus dengan menu berbeda.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah peribahasa yang pernah kudapatkan. Ternyata tak usah jauh ke pulau sebelah atau pun ke negeri tetangga. Cukup ke kampung sebelah yang berbeda kabupaten saja, sebuah kebiasaan bisa berbeda. Namun, selama hati kita terpaut pada satu ILLah, yaitu "La illaha ilallah, Muhammadur Rasulullah" maka kerekatan tetap terjaga. Yang perlu dibenahi adalah pemikiran orang-orang yang masih keliru, yang melenceng dari akidah Islam. Yang menyatakan bendera tauhid benderanya sebuah ormas. Bahkan menyatakan bendera itu simbol teroris. Astaghfirullah...ini benar-benar harus diluruskan.
Sejatinya, peringatan Maulidur Rasulullah Saw ini bukan seremonial belaka yang berulang tiap tahunnya. Tetapi hendaknya menjadi motivasi kita bersama untuk segera menjalankan apa yang diajarkan Rasulullah Saw. Dan meninggalkan semua yang tak sesuai dengan ajaran beliau. Mengambil semua ajaran Islam, dan membuang sekularisme-kapitalis dalam kehidupan ini.
Sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam firman-Nya :
وَمَآ ءَاتٰىكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al Hasyr : 7)
Sebagaiman lahirnya Rasulullah Saw di 12 Rabiul Awal tahun Gajah menjadi momen penting bagi cikal bakal tegaknya peradaban Islam yang mulia. Maka kita semua berharap semoga bulan Rabiul Awal tahun ini menjadi tonggak perubahan umat Islam. Menuju peradaban Islam yang mulia dengan terwujudnya Islam kaffah di seluruh penjuru dunia.
Aamiin Allahumma Aamiin
@Laila Thamrin
#rabiulawal
#maulidrasul
#gemesda
#gerakanmedsosuntukdakwah
#revowriter
*gambar dari google.com
Kamis, 15 November 2018
Imitasi
"Mama, ini bedak Mama ya? Aku boleh coba?"
"Ma, lipstik ini warnanya apa? Nyobain ya?"
"Ummi, kerudung ummi yang pink mana? Adek pinjem dong!"
"Bu, kaki Dede sudah hampir sama besarnya dengan kaki Ibu. Boleh pinjem sendal bertumitnya gak?"
*****
Pernah ditanya anak gadis yang beranjak baligh atau bahkan sudah baligh seperti ini? Atau malah anak yang lebih kecil lagi yang merengek minta pakai bedak dan lipstik ibunya? Saya yakin, yang punya anak perempuan pasti pernah mengalami yang begini.
Anak memang suka meniru apa yang dilihatnya. Ayah dan bundanya menjadi "role of models" yang utama. Baik anak perempuan maupun laki-laki kecenderungan menirunya sama besarnya. Tapi memang pada anak perempuan biasanya lebih terlihat jelas mengimitasi bundanya.
Kalau anak laki-laki jarang menunjukkan dalam kesehariannya. Tetapi bisa saja kebiasaan-kebiasaan ayahnya sehari-hari akan ditirunya tanpa orangtua menyadarinya. Misalnya nih : makan gak pakai doa, malas sikat gigi malam sebelum tidur, menaruh handuk sesudah mandi sembarangan, habis minum gelasnya digeletakkan sembarang tempat, kaos kaki terserak, de el el. Hayoo....siapa nih yang kebiasaan ayah di rumah seperti ini? 😁
Menurut para ahli psikologi anak, proses meniru atau imitasi adalah hal yang biasa pada anak. Ini adalah bagian pembelajaran pada si anak. Karena setiap makhluk hidup akan mencoba sesuatu yang dicerapnya melalui inderanya. Baik dengan melihat, mendengar, membaui, mengecap ataupun meraba. Bahkan ini adalah proses awal lahirnya sebuah pemikiran yang brillian di kemudian hari. Sebab, setiap pengalaman yang diperoleh anak akan tersimpan rapi di memori otaknya.
Yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua muslim tentu apa yang sejatinya layak mereka lihat, dengar, cium, rasa dan raba. Agar nanti proses imitasinya indah. Makanya, ayah bunda mesti menjadi model yang baik buat anak-anaknya.
Jika tak ingin anaknya pakai lipstik menor, alis terangkat tinggi, pipi merah delima, ya bunda harus memberi contoh dandanan yang sederhana. Bahkan harus dikenalkan ke ananda kalau berdandan cantik itu hanya untuk suaminya saja kelak.
Jika ingin anaknya berpakaian menutup aurat dengan sempurna, kasih contoh dulu bundanya dengan pakaian syar'i. Agar ananda tak asing lagi mengenakannya.
Semua memang perlu proses. Tak bisa juga instan. Ayah dan bunda harus mempola hidupnya dengan kebaikan di setiap kesempatan. Memperbaiki hal-hal buruk yang mungkin masih sering ayah bunda lakukan. Belajar mengelola emosi. Belajar lebih sabar dan bijaksana. Apalagi jika anak sudah menuju usia baligh. Konflik dengan anak akan mudah terjadi, jika ayah bunda tak mampu memahami mereka.
Menjadi orang tua itu ternyata belajar dari nol. Persis seperti angka dispenser bahan bakar di SPBU. Sebagai orangtua, ayah bunda harus memahami bagaimana merawat dan mendidik anak kala bayi, balita, anak yang sudah tamyiz, anak hampir baligh, anak sudah baligh, remaja, dan ketika anak bersiap melepas masa lajangnya. Bukan sekedar seperti air mengalir yang berjalan sesukanya dan seadanya.
Rasulullah saw bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Karenanya, ayah dan bunda harus selalu belajar, belajar dan belajar. Karena belajar tak pernah dibatasi usia. Dan belajar tak hanya di sekolah saja. Dalam kesempatan apapun belajar itu bisa dilakukan. Agar anak-anak ayah dan bunda terwarnai hanya dengan kebaikan Islam semata.
So, tak ada yang salah saat anak menjadi imitasi ayah dan bundanya. Biarkan mereka meniru selama apa yang ditiru adalah kebaikan. Tapi, jangan lupa pemikiran ananda tetap harus diarahkan pada jalan hidup yang benar. Mereka harus diajak untuk berpikir tentang 3 hal ; dari mana asal manusia? ; untuk apa manusia ada di dunia? ; dan hendak kemana setelah matinya?
Jika ketiga hal ini telah ditemukan jawabannya dengan benar dan sempurna, insyaAllah anak pasti hanya akan meniru sesuatu yang baik dari ayah bundanya, atau dari lingkungannya, atau dari teman-temannya. Karena Allah menjadi pegangannya, syariat Islam jalan hidupnya, dan menegakkan Islam kaffah tujuannya.
Jadi ingat pepatah indah ini :
"Isy kariiman awmut syahiidan" ; "Hidup Mulia atau Mati Syahid."
Wallahu'alam bish shawwab
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#remindingmyself
#GerakanMedsosUntukDakwah
#GeMesDa
#Revowriter
#NgajiLiterasi
"Ma, lipstik ini warnanya apa? Nyobain ya?"
"Ummi, kerudung ummi yang pink mana? Adek pinjem dong!"
"Bu, kaki Dede sudah hampir sama besarnya dengan kaki Ibu. Boleh pinjem sendal bertumitnya gak?"
*****
Pernah ditanya anak gadis yang beranjak baligh atau bahkan sudah baligh seperti ini? Atau malah anak yang lebih kecil lagi yang merengek minta pakai bedak dan lipstik ibunya? Saya yakin, yang punya anak perempuan pasti pernah mengalami yang begini.
Anak memang suka meniru apa yang dilihatnya. Ayah dan bundanya menjadi "role of models" yang utama. Baik anak perempuan maupun laki-laki kecenderungan menirunya sama besarnya. Tapi memang pada anak perempuan biasanya lebih terlihat jelas mengimitasi bundanya.
Kalau anak laki-laki jarang menunjukkan dalam kesehariannya. Tetapi bisa saja kebiasaan-kebiasaan ayahnya sehari-hari akan ditirunya tanpa orangtua menyadarinya. Misalnya nih : makan gak pakai doa, malas sikat gigi malam sebelum tidur, menaruh handuk sesudah mandi sembarangan, habis minum gelasnya digeletakkan sembarang tempat, kaos kaki terserak, de el el. Hayoo....siapa nih yang kebiasaan ayah di rumah seperti ini? 😁
Menurut para ahli psikologi anak, proses meniru atau imitasi adalah hal yang biasa pada anak. Ini adalah bagian pembelajaran pada si anak. Karena setiap makhluk hidup akan mencoba sesuatu yang dicerapnya melalui inderanya. Baik dengan melihat, mendengar, membaui, mengecap ataupun meraba. Bahkan ini adalah proses awal lahirnya sebuah pemikiran yang brillian di kemudian hari. Sebab, setiap pengalaman yang diperoleh anak akan tersimpan rapi di memori otaknya.
Yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua muslim tentu apa yang sejatinya layak mereka lihat, dengar, cium, rasa dan raba. Agar nanti proses imitasinya indah. Makanya, ayah bunda mesti menjadi model yang baik buat anak-anaknya.
Jika tak ingin anaknya pakai lipstik menor, alis terangkat tinggi, pipi merah delima, ya bunda harus memberi contoh dandanan yang sederhana. Bahkan harus dikenalkan ke ananda kalau berdandan cantik itu hanya untuk suaminya saja kelak.
Jika ingin anaknya berpakaian menutup aurat dengan sempurna, kasih contoh dulu bundanya dengan pakaian syar'i. Agar ananda tak asing lagi mengenakannya.
Semua memang perlu proses. Tak bisa juga instan. Ayah dan bunda harus mempola hidupnya dengan kebaikan di setiap kesempatan. Memperbaiki hal-hal buruk yang mungkin masih sering ayah bunda lakukan. Belajar mengelola emosi. Belajar lebih sabar dan bijaksana. Apalagi jika anak sudah menuju usia baligh. Konflik dengan anak akan mudah terjadi, jika ayah bunda tak mampu memahami mereka.
Menjadi orang tua itu ternyata belajar dari nol. Persis seperti angka dispenser bahan bakar di SPBU. Sebagai orangtua, ayah bunda harus memahami bagaimana merawat dan mendidik anak kala bayi, balita, anak yang sudah tamyiz, anak hampir baligh, anak sudah baligh, remaja, dan ketika anak bersiap melepas masa lajangnya. Bukan sekedar seperti air mengalir yang berjalan sesukanya dan seadanya.
Rasulullah saw bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Karenanya, ayah dan bunda harus selalu belajar, belajar dan belajar. Karena belajar tak pernah dibatasi usia. Dan belajar tak hanya di sekolah saja. Dalam kesempatan apapun belajar itu bisa dilakukan. Agar anak-anak ayah dan bunda terwarnai hanya dengan kebaikan Islam semata.
So, tak ada yang salah saat anak menjadi imitasi ayah dan bundanya. Biarkan mereka meniru selama apa yang ditiru adalah kebaikan. Tapi, jangan lupa pemikiran ananda tetap harus diarahkan pada jalan hidup yang benar. Mereka harus diajak untuk berpikir tentang 3 hal ; dari mana asal manusia? ; untuk apa manusia ada di dunia? ; dan hendak kemana setelah matinya?
Jika ketiga hal ini telah ditemukan jawabannya dengan benar dan sempurna, insyaAllah anak pasti hanya akan meniru sesuatu yang baik dari ayah bundanya, atau dari lingkungannya, atau dari teman-temannya. Karena Allah menjadi pegangannya, syariat Islam jalan hidupnya, dan menegakkan Islam kaffah tujuannya.
Jadi ingat pepatah indah ini :
"Isy kariiman awmut syahiidan" ; "Hidup Mulia atau Mati Syahid."
Wallahu'alam bish shawwab
Laila Thamrin
Bjm, 15112018
#remindingmyself
#GerakanMedsosUntukDakwah
#GeMesDa
#Revowriter
#NgajiLiterasi
Minggu, 04 November 2018
Setia Bersamamu
Bau khas rumah sakit tak bisa dihindari. Kala anakku harus dirawat beberapa hari karena panas badannya tak kunjung reda. Rasa kuatir tentu menyergap diriku. Ibu mana yang bisa tenang jika anaknya sakit?
Saat kami sudah ada di ruangan perawatan, ternyata sudah ada penghuni lain di ruangan itu. Karena memang ruangan kelas 1 yang dituju diperuntukkan bagi dua orang pasien. Pasien terdahulu ini seorang ibu, lebih tepatnya nenek usia 70 tahun lebih. Tapi masih terlihat kuat dan nampak jelas aura kecantikannya
Yang menarik, bukan perkara sakit yang diderita si nenek ini. Tapi fakta si nenek yang selalu ditunggui suaminya dengan setia. Tabir kain yang memisahkan dua pasien dalam satu ruangan ini tentu tak bisa meredam suara percakapan dibaliknya. Meski penglihatan tak mampu menembus laku siapa pun yang ada dibalik tabir.
Senang sekaligus iri melihat kemesraan nenek dan kakek ini. Si kakek dengan sabar dan telaten melayani istrinya. Makan, minum, ke kamar mandi/wc, mendengarkan keluhan istrinya, dan sebagainya. Kadang mereka bercengkrama berdua dan terkekeh bersama. Aku dan suami saling pandang dan ikut tersenyum mendengarnya.
Anak-anak beliau juga datang silih berganti. Sepertinya sangat akrab dan hangat dengan ayah ibunya. Tak pernah terdengar kata-kata umpatan, kemarahan atau kalimat buruk lainnya. Bahkan ketika pagi-pagi anak bungsu mereka datang dengan membawa camilan sambil cerita bahwa dia kehilangan uang hasil kerjanya sebagai sopir taksi online hari kemarin, si nenek ini dengan tenang berujar, "Memang bukan rezeki kamu, nak...mau bilang apa?"
Wow...amazing! Jarang kutemui ibu atau ayah yang tak emosi ketika mendengar anaknya kecurian, kecopetan, atau kehilangan harta dengan jalan tak biasa ini. Tapi tidak dengan mereka. Dengan tawa renyahnya si nenek ini menasihati anaknya, "Makanya, menaruh duit itu jangan sembarangan. Jadikan ini pelajaran. Harus hati-hati."
MasyaAllah...ini pun pelajaran bagiku dan suami. Setia sampai tua usia. Sabar dalam setiap deraan ujian-Nya. Dan pandai mengelola emosi meski sesuatu yang tak disuka mampir di hadapan kita.
Semoga kakek dan nenek ini sehat selalu. Begitupun anakku yang masih tergolek sayu. Hanya kepada Allah lah tempatku mengadu. Karena semua peristiwa pasti ada hikmahnya selalu.
Laila Thamrin
#goresanhatibunda
#pengingatdiri
#gemesda
#revowriter
*ilustrasi gambar dari koleksi google.com
Saat kami sudah ada di ruangan perawatan, ternyata sudah ada penghuni lain di ruangan itu. Karena memang ruangan kelas 1 yang dituju diperuntukkan bagi dua orang pasien. Pasien terdahulu ini seorang ibu, lebih tepatnya nenek usia 70 tahun lebih. Tapi masih terlihat kuat dan nampak jelas aura kecantikannya
Yang menarik, bukan perkara sakit yang diderita si nenek ini. Tapi fakta si nenek yang selalu ditunggui suaminya dengan setia. Tabir kain yang memisahkan dua pasien dalam satu ruangan ini tentu tak bisa meredam suara percakapan dibaliknya. Meski penglihatan tak mampu menembus laku siapa pun yang ada dibalik tabir.
Senang sekaligus iri melihat kemesraan nenek dan kakek ini. Si kakek dengan sabar dan telaten melayani istrinya. Makan, minum, ke kamar mandi/wc, mendengarkan keluhan istrinya, dan sebagainya. Kadang mereka bercengkrama berdua dan terkekeh bersama. Aku dan suami saling pandang dan ikut tersenyum mendengarnya.
Anak-anak beliau juga datang silih berganti. Sepertinya sangat akrab dan hangat dengan ayah ibunya. Tak pernah terdengar kata-kata umpatan, kemarahan atau kalimat buruk lainnya. Bahkan ketika pagi-pagi anak bungsu mereka datang dengan membawa camilan sambil cerita bahwa dia kehilangan uang hasil kerjanya sebagai sopir taksi online hari kemarin, si nenek ini dengan tenang berujar, "Memang bukan rezeki kamu, nak...mau bilang apa?"
Wow...amazing! Jarang kutemui ibu atau ayah yang tak emosi ketika mendengar anaknya kecurian, kecopetan, atau kehilangan harta dengan jalan tak biasa ini. Tapi tidak dengan mereka. Dengan tawa renyahnya si nenek ini menasihati anaknya, "Makanya, menaruh duit itu jangan sembarangan. Jadikan ini pelajaran. Harus hati-hati."
MasyaAllah...ini pun pelajaran bagiku dan suami. Setia sampai tua usia. Sabar dalam setiap deraan ujian-Nya. Dan pandai mengelola emosi meski sesuatu yang tak disuka mampir di hadapan kita.
Semoga kakek dan nenek ini sehat selalu. Begitupun anakku yang masih tergolek sayu. Hanya kepada Allah lah tempatku mengadu. Karena semua peristiwa pasti ada hikmahnya selalu.
Laila Thamrin
#goresanhatibunda
#pengingatdiri
#gemesda
#revowriter
*ilustrasi gambar dari koleksi google.com
Buka Mata Buka Hati #16
Dahsyatnya Doa Ibu
Oleh : Laila Thamrin
Sebuah pengalaman berharga hanya bisa didapatkan saat seseorang menjalani sebuah ujian kehidupan. Ya, tanpa melaluinya manusia tak pernah tahu bagaimana pahit atau manisnya suatu persoalan. Diuji dengan sakitnya anak, misalnya. Tentu ini bukan hal yang sepele. Apalagi jika sakit yang diderita anaknya cukup mengkuatirkan. Atau mungkin tak kunjung sembuh.
Sebagai orangtua pastilah akan merasakan kuatir, bingung, takut, was-was, gugup kala anaknya sakit. Dan segudang rasa lainnya yang campur aduk. Terutama hati sang ibu. Karena ibu merupakan orang terdekat dengan anak-anaknya.
Menumpahkan air mata menjadi jalan termudah yang bisa dilakukan untuk menenangkan hati ibu yang sedang oleng. Ajaibnya, seketika biasanya akan menguatkan kembali sel-sel tulang ibu untuk segera bertindak. Membangkitkan kembali nadi yang sebelumnya seolah berhenti berdenyut. Untuk mencari berbagai daya upaya demi kesembuhan dan kesehatan anaknya.
Di sisi lain, sejatinya seorang ibu harus berupaya untuk selalu mengedepankan ruhiyahnya. Harus dipola alam pikirnya dengan satu keyakinan bahwa sakit itu dari Allah, dan sembuh pun dari Allah semata. Semua ikhtiar yang dilakukan untuk mengobati ananda, semata ingin meraih pahala dari-Nya. Dan juga sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang kelak akan ditanyakan oleh Allah.
Keyakinan inilah yang paling berat untuk terus dipupuk di hati. Karena terkadang manusia bisa tergelincir dengan asumsi bahwa dokterlah yang menyembuhkan. Obat tertentulah yang manjur. Atau rumah sakit hebatlah yang paling berperan. Padahal itu semua hanyalah wasilah sampainya takdir Allah pada si sakit. Entah takdir sehat ataukah takdir bertambah parah. Tak ada yang tahu.
Maka saat ananda terbaring lemah karena sakitnya. Ibu haruslah berikhtiar dengan membawa ananda berobat ke dokter atau ke rumah sakit. Sekaligus juga mesti menggenapkan ikhtiarnya dengan doa. Ya, inilah senjata paling utama bagi setiap insan kala dia ditimpakan ujian dari Rabbnya.
Doa adalah mukh (ubun-ubun/inti) ibadah. Berdoa kepada Allah SWT merupakan aktivitas ibadah.
Rasulullah Saw bersabda, ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Begitulah yang dicontohkan Baginda Nabi Muhammad Saw. Beliau selalu berdoa di setiap kesempatan. Pun saat Beliau menghadapi musuh di perang Badar, Beliau berdoa tiada henti. Bahkan Beliau menangis dalam doanya hingga badannya bergetar dan surbannya terjatuh. Dan Allah pun mengabulkan doa Beliau dengan kemenangan di tangan kaum muslimin. Padahal pasukan kaum muslimin berjumlah hanya 1/3 pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Di sinilah kita bisa melihat doa mampu merubah sesuatu yang mustahil menjadi riil.
Dalam Siyar A'lam an-Nubala', Adz Dzahabi mengisahkan dari Muhammad bin Ahmad bin Fadhal al-Balkhy, dia mendengar ayahnya mengatakan bahwa kedua mata Imam al-Bukhari sempat buta semasa kanak-kanak. Namun pada suatu malam, ibunya bermimpi bahwa ibunya berjumpa dengan Nabi Ibrahim as. Kemudian berkata kepadanya, "Wahi ibu, sesungguhnya Allah azza wajala telah berkenan mengembalikan penglihatan anakmu karena cucuran air mata dan banyaknya doa yang engkau panjatkan kepada-Nya." Maka setelah kami periksa keesokan harinya, ternyata penglihatan al -Bukhari benar-benar telah kembali, ujar al-Balkhy. (Dikutip dari buku "Ibunda Para Ulama" oleh Sufyan bin Uad Baswedan, 2017)
Begitu dahsyatnya kekuatan doa ibu. Hingga Allah berkenan mengabulkan doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Berdoalah dengan lafazh yang indah. Mulailah dengan membaca istighfar dan sholawat atas Nabi. Dan lanjutkanlah dengan dengan kalimat yang baik. Mintalah kesembuhan ananda kepada Rabbul Izzati. Karena Allah yang memberi sakit dan Allah pula Yang Maha Menyembuhkan.
Tak ada batasan seberapa banyak doa kita. Seberapa panjang kalimat-kalimatnya. Berdoalah dengan sepenuh hati dan kepasrahan kepada-Nya.
Berdoalah di waktu yang mustajab untuk berdoa. Seperti di saat hujan deras, diantara azan dan iqomah, di saat sujud dalam salat, juga di sepertiga akhir setiap malam nan sepi. Di saat itulah peluang Allah akan mengabulkan doa kita besar. Maka upaya ini layak dilakukan ibu. Lakukanlah doa di malam-malam nan sepi. Saat semua orang terlelap. Dan saat itu Allah turun menjumpai hambanya. Adukan semua keluh kesah tentang sakit ananda.
Dan yakinlah, Allah mendengar setiap kata demi kata yang ibu ucapkan. Kesungguhan doa yang ibu curahkan sepenuh hati, tentu akan menjadi perhatian-Nya. Dan Allah pun akan kabulkan doa-doa ibu. Cepat ataupun lambat.
Allah swt berfirman dalam sebuah hadits qudsi :
“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. At Tirmidzi)
Allah juga berfirman :
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Rasulullah Saw pun bersabda :
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka tak ada yang lebih nikmat selain menanti dikabulkannya doa kita oleh-Nya. Kita ridho dengan keputusan-Nya. Dan Allah pun ridho kepada hamba-Nya.
Semoga ibu selalu menjadikan doa bagian hidupnya. Demi untuk kebaikan dan keberkahan anaknya. Tersebab doa seorang ibu, niscaya pintu langit kan terbuka. Allah pun akan mudah mengabulkan semua pinta sang ibu untuk anak-anaknya. Wallahu'alam bish shawwab. []
Banjarmasin, 04112018
#GeMesDa
#Revowriter
#MenulisUntukKebaikan
#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#Day1
Oleh : Laila Thamrin
Sebuah pengalaman berharga hanya bisa didapatkan saat seseorang menjalani sebuah ujian kehidupan. Ya, tanpa melaluinya manusia tak pernah tahu bagaimana pahit atau manisnya suatu persoalan. Diuji dengan sakitnya anak, misalnya. Tentu ini bukan hal yang sepele. Apalagi jika sakit yang diderita anaknya cukup mengkuatirkan. Atau mungkin tak kunjung sembuh.
Sebagai orangtua pastilah akan merasakan kuatir, bingung, takut, was-was, gugup kala anaknya sakit. Dan segudang rasa lainnya yang campur aduk. Terutama hati sang ibu. Karena ibu merupakan orang terdekat dengan anak-anaknya.
Menumpahkan air mata menjadi jalan termudah yang bisa dilakukan untuk menenangkan hati ibu yang sedang oleng. Ajaibnya, seketika biasanya akan menguatkan kembali sel-sel tulang ibu untuk segera bertindak. Membangkitkan kembali nadi yang sebelumnya seolah berhenti berdenyut. Untuk mencari berbagai daya upaya demi kesembuhan dan kesehatan anaknya.
Di sisi lain, sejatinya seorang ibu harus berupaya untuk selalu mengedepankan ruhiyahnya. Harus dipola alam pikirnya dengan satu keyakinan bahwa sakit itu dari Allah, dan sembuh pun dari Allah semata. Semua ikhtiar yang dilakukan untuk mengobati ananda, semata ingin meraih pahala dari-Nya. Dan juga sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang kelak akan ditanyakan oleh Allah.
Keyakinan inilah yang paling berat untuk terus dipupuk di hati. Karena terkadang manusia bisa tergelincir dengan asumsi bahwa dokterlah yang menyembuhkan. Obat tertentulah yang manjur. Atau rumah sakit hebatlah yang paling berperan. Padahal itu semua hanyalah wasilah sampainya takdir Allah pada si sakit. Entah takdir sehat ataukah takdir bertambah parah. Tak ada yang tahu.
Maka saat ananda terbaring lemah karena sakitnya. Ibu haruslah berikhtiar dengan membawa ananda berobat ke dokter atau ke rumah sakit. Sekaligus juga mesti menggenapkan ikhtiarnya dengan doa. Ya, inilah senjata paling utama bagi setiap insan kala dia ditimpakan ujian dari Rabbnya.
Doa adalah mukh (ubun-ubun/inti) ibadah. Berdoa kepada Allah SWT merupakan aktivitas ibadah.
Rasulullah Saw bersabda, ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Begitulah yang dicontohkan Baginda Nabi Muhammad Saw. Beliau selalu berdoa di setiap kesempatan. Pun saat Beliau menghadapi musuh di perang Badar, Beliau berdoa tiada henti. Bahkan Beliau menangis dalam doanya hingga badannya bergetar dan surbannya terjatuh. Dan Allah pun mengabulkan doa Beliau dengan kemenangan di tangan kaum muslimin. Padahal pasukan kaum muslimin berjumlah hanya 1/3 pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Di sinilah kita bisa melihat doa mampu merubah sesuatu yang mustahil menjadi riil.
Dalam Siyar A'lam an-Nubala', Adz Dzahabi mengisahkan dari Muhammad bin Ahmad bin Fadhal al-Balkhy, dia mendengar ayahnya mengatakan bahwa kedua mata Imam al-Bukhari sempat buta semasa kanak-kanak. Namun pada suatu malam, ibunya bermimpi bahwa ibunya berjumpa dengan Nabi Ibrahim as. Kemudian berkata kepadanya, "Wahi ibu, sesungguhnya Allah azza wajala telah berkenan mengembalikan penglihatan anakmu karena cucuran air mata dan banyaknya doa yang engkau panjatkan kepada-Nya." Maka setelah kami periksa keesokan harinya, ternyata penglihatan al -Bukhari benar-benar telah kembali, ujar al-Balkhy. (Dikutip dari buku "Ibunda Para Ulama" oleh Sufyan bin Uad Baswedan, 2017)
Begitu dahsyatnya kekuatan doa ibu. Hingga Allah berkenan mengabulkan doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Berdoalah dengan lafazh yang indah. Mulailah dengan membaca istighfar dan sholawat atas Nabi. Dan lanjutkanlah dengan dengan kalimat yang baik. Mintalah kesembuhan ananda kepada Rabbul Izzati. Karena Allah yang memberi sakit dan Allah pula Yang Maha Menyembuhkan.
Tak ada batasan seberapa banyak doa kita. Seberapa panjang kalimat-kalimatnya. Berdoalah dengan sepenuh hati dan kepasrahan kepada-Nya.
Berdoalah di waktu yang mustajab untuk berdoa. Seperti di saat hujan deras, diantara azan dan iqomah, di saat sujud dalam salat, juga di sepertiga akhir setiap malam nan sepi. Di saat itulah peluang Allah akan mengabulkan doa kita besar. Maka upaya ini layak dilakukan ibu. Lakukanlah doa di malam-malam nan sepi. Saat semua orang terlelap. Dan saat itu Allah turun menjumpai hambanya. Adukan semua keluh kesah tentang sakit ananda.
Dan yakinlah, Allah mendengar setiap kata demi kata yang ibu ucapkan. Kesungguhan doa yang ibu curahkan sepenuh hati, tentu akan menjadi perhatian-Nya. Dan Allah pun akan kabulkan doa-doa ibu. Cepat ataupun lambat.
Allah swt berfirman dalam sebuah hadits qudsi :
“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu.” (HR. At Tirmidzi)
Allah juga berfirman :
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Rasulullah Saw pun bersabda :
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka tak ada yang lebih nikmat selain menanti dikabulkannya doa kita oleh-Nya. Kita ridho dengan keputusan-Nya. Dan Allah pun ridho kepada hamba-Nya.
Semoga ibu selalu menjadikan doa bagian hidupnya. Demi untuk kebaikan dan keberkahan anaknya. Tersebab doa seorang ibu, niscaya pintu langit kan terbuka. Allah pun akan mudah mengabulkan semua pinta sang ibu untuk anak-anaknya. Wallahu'alam bish shawwab. []
Banjarmasin, 04112018
#GeMesDa
#Revowriter
#MenulisUntukKebaikan
#KulwaTipsMenulisUntukEksis
#PRNgajiLiterasi
#KomunitasNgajiLiterasi
#Day1
Rabu, 24 Oktober 2018
Tauhid, Identitas Diri Muslim Sejati
Tanggal 22 Oktober 2018 jadi penanda. Bukan sekedar peringatan Hari Santri yang dilekatkan padanya. Tapi semangat bela Islam seluruh muslim yang tetiba berkobar. Menyala seolah tak terbendung.
Pasalnya, ada yang berani membakar bendera hitam bertuliskan tauhidullah. Maka umat Islam pun bereaksi. Mereka tak sudi bendera Rasulullah Saw diperlakukan seperti ini. Ribuan muslim kemudian ramai menunjukkan pembelaannya pada bendera Nabi.
Kaum muslim sudah kadung memahami bahwa bendera hitam bertuliskan lafaz "Laa ilaha ilallah, Muhammad Rasulullah" adalah bendera Nabi. Bukan milik organisasi manapun di dunia ini.
Sabda Nabi Saw :
"Panjinya Rasulullah (Rayyah) berwarna hitam dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah." (HR. Ath Thabrani)
Kalimat tauhid inilah yang mempersaudarakan umat Islam. Yang menautkan hati seorang muslim dengan muslim lainnya, meski terhalang samudra dan berbeda benua. Bahkan tak pernah bertemu muka. Tapi memiliki rasa yang sama. Dan kalimat tauhid pula yang akan menyelamatkan akhir hidup kita hingga layak ke surga-Nya.
Dulu, para sahabat Rasul pun begitu bangga membopong bendera ini. Mengibarkannya ke seluruh pelosok bumi. Mempertahankannya meski nyawa bayarannya. Hingga hidup menjadi lebih mulia. Dan Allah ridha atasnya.
Hari ini, umat pun semakin mengerti bahwa bendera tauhid layak menjadi identitas diri seorang muslim sejati. Karena akan dirasakan indahnya hidup dalam balutan Islam. Dan dalam dekapan kemuliaan Islam yang hakiki.
Laila Thamrin
23102018
#BelaKalimatTauhid
#BelaBenderaTauhid
#GerakanMedsosUntukDakwah
#Gemesda
#Revowriter
Pasalnya, ada yang berani membakar bendera hitam bertuliskan tauhidullah. Maka umat Islam pun bereaksi. Mereka tak sudi bendera Rasulullah Saw diperlakukan seperti ini. Ribuan muslim kemudian ramai menunjukkan pembelaannya pada bendera Nabi.
Kaum muslim sudah kadung memahami bahwa bendera hitam bertuliskan lafaz "Laa ilaha ilallah, Muhammad Rasulullah" adalah bendera Nabi. Bukan milik organisasi manapun di dunia ini.
Sabda Nabi Saw :
"Panjinya Rasulullah (Rayyah) berwarna hitam dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah." (HR. Ath Thabrani)
Kalimat tauhid inilah yang mempersaudarakan umat Islam. Yang menautkan hati seorang muslim dengan muslim lainnya, meski terhalang samudra dan berbeda benua. Bahkan tak pernah bertemu muka. Tapi memiliki rasa yang sama. Dan kalimat tauhid pula yang akan menyelamatkan akhir hidup kita hingga layak ke surga-Nya.
Dulu, para sahabat Rasul pun begitu bangga membopong bendera ini. Mengibarkannya ke seluruh pelosok bumi. Mempertahankannya meski nyawa bayarannya. Hingga hidup menjadi lebih mulia. Dan Allah ridha atasnya.
Hari ini, umat pun semakin mengerti bahwa bendera tauhid layak menjadi identitas diri seorang muslim sejati. Karena akan dirasakan indahnya hidup dalam balutan Islam. Dan dalam dekapan kemuliaan Islam yang hakiki.
Laila Thamrin
23102018
#BelaKalimatTauhid
#BelaBenderaTauhid
#GerakanMedsosUntukDakwah
#Gemesda
#Revowriter
Minggu, 23 September 2018
Buka Mata Buka Hati #15
Lautan Kasih Sayang
Teriknya sinar sang surya seakan menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuhku. Dahaga menyerbuku. Bukannya tak ada air ataukah tak sempat minum barang seteguk. Tapi ketaatan pada Rabbul Izzati yang menuntunku untuk tak makan dan minum hari itu.
Tepat 10 Muharram 1440 H, hari Asyura yang disunnahkan puasa bagi muslim. Dan aku pun berusaha tegar menjalaninya. Begitu pula si bungsuku. Meski terlihat kusut mukanya kala kujemput sekolah. Trus mengadu, "Ummi, teman-teman banyak yang gak puasa. Naura haus, Mi."
"Yang sabar ya, Nak. Hari ini puasa sunnah. Yang mengerjakannya dapat pahala sunnah. Yang hari ini tak puasa terlihat enak. Tapi mereka tak dapat pahala sunnah, meski mereka tak berdosa. Naura mau gak dapat kenikmatannya nanti di surga? Teman-teman yang gak puasa belum tentu dapat loh di surga,"kujelaskan demi menenangkannya.
"Mau dong, Mi." Riang dia menjawabku. Meski suaranya sedikit lemes.
Kami pun meluncur pulang.
Saat di rumah segera Naura melepas baju dan berendam di baskom besar. Biar adem katanya. Ya, cuaca hari itu memang sangat menggigit panasnya. Sudah dinyalakan kipas angin saja, panasnya masih membara. Subhanallah.
Setengah jam berendam bikin adem. Seger. Lalu segera Naura pakai baju. Bedak. Wangi deh. Trus tetiba bilang, "Mi, hari ini Ummi belum ada cium Naura," sambil rebahan di sampingku.
"Oh iya ya...Ummi lupa." Segera kupeluk dan kuciumi dia dengan sepenuh cinta.
"Suka gak diciumi Ummi, Nak."
"Ho-oh." Angguknya cepat sambil tersenyum, menampakkan sederet giginya meski ada jendelanya, alias ompong.
Ya, bungsuku sudah usia 9 tahun. Tapi suka sekali dicium. Apalagi kalau selesai mandi, pasti minta dicium Ummi.
*****
Kadang kita lupa memberikan sekedar ciuman pada anak-anak kita yang mulai besar, bahkan beranjak remaja. Terlebih pada anak lelaki. Padahal, bagi seorang anak, ciuman ayah dan ibunya ternyata menunjukkan bahwa kedua orangtuanya masih peduli padanya. Masih sayang dan cinta.
Anak keduaku yang laki-laki juga begitu. Dia semringah sekali jika kulayangkan ciuman ke pipinya. Padahal dia sudah SMP kelas delapan loh.
Begitupun sulungku. Gadis manis yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua belas. Jika kucium pipi kanannya, pasti pipi kirinya disodorkan juga. Bahkan minta dipeluk. Begitulah anak-anakku.
Menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences, pelukan dan ciuman pada anak ternyata dapat menambah jumlah produksi hormon oksitosin dan endorfin yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak-anak.(muslimah.me)
Situs www.beranihijrah.org melansir, bahwa seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City (AS), Edward R.Christopherson.Ph.D, menyatakan jika pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya. Bahkan hal ini bisa memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.
Hmm, ternyata mencium anak banyak manfaatnya. Utamanya mendapatkan pahala. Sekaligus menghidupkan kasih sayang dan cinta antara anak dan orangtua. Bahkan Rasulullah Saw, sang teladan kita, juga telah mengajarkan hal serupa. Jauh sebelum orang-orang masa kini memahaminya.
“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)
Abu Hurairah ra berkata, "Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ternyata, curahan kasih sayang kepada anak-anak kita nampak terasa bagi mereka kala menciuminya. Dan mereka merasakan kebahagiaan yang tak terperi saat ciuman kita mendarat di pipi atau keningnya.
Lautan kasih sayang sungguh tak bertepi.
Dalam, hingga sampai ke hati.
Menciumi anak hanyalah seteguk kasih dan cinta.
Dari sepasang orantua yang mulia.
Hanya berharap rahmat dari Illahi Rabbi
Maka, sudahkah anda mencium anak-anak hari ini? 😄
Laila Thamrin
21092018
#BermainKata009
#NgajiLiterasi
#Revowriter
Teriknya sinar sang surya seakan menguapkan seluruh persediaan air dalam tubuhku. Dahaga menyerbuku. Bukannya tak ada air ataukah tak sempat minum barang seteguk. Tapi ketaatan pada Rabbul Izzati yang menuntunku untuk tak makan dan minum hari itu.
Tepat 10 Muharram 1440 H, hari Asyura yang disunnahkan puasa bagi muslim. Dan aku pun berusaha tegar menjalaninya. Begitu pula si bungsuku. Meski terlihat kusut mukanya kala kujemput sekolah. Trus mengadu, "Ummi, teman-teman banyak yang gak puasa. Naura haus, Mi."
"Yang sabar ya, Nak. Hari ini puasa sunnah. Yang mengerjakannya dapat pahala sunnah. Yang hari ini tak puasa terlihat enak. Tapi mereka tak dapat pahala sunnah, meski mereka tak berdosa. Naura mau gak dapat kenikmatannya nanti di surga? Teman-teman yang gak puasa belum tentu dapat loh di surga,"kujelaskan demi menenangkannya.
"Mau dong, Mi." Riang dia menjawabku. Meski suaranya sedikit lemes.
Kami pun meluncur pulang.
Saat di rumah segera Naura melepas baju dan berendam di baskom besar. Biar adem katanya. Ya, cuaca hari itu memang sangat menggigit panasnya. Sudah dinyalakan kipas angin saja, panasnya masih membara. Subhanallah.
Setengah jam berendam bikin adem. Seger. Lalu segera Naura pakai baju. Bedak. Wangi deh. Trus tetiba bilang, "Mi, hari ini Ummi belum ada cium Naura," sambil rebahan di sampingku.
"Oh iya ya...Ummi lupa." Segera kupeluk dan kuciumi dia dengan sepenuh cinta.
"Suka gak diciumi Ummi, Nak."
"Ho-oh." Angguknya cepat sambil tersenyum, menampakkan sederet giginya meski ada jendelanya, alias ompong.
Ya, bungsuku sudah usia 9 tahun. Tapi suka sekali dicium. Apalagi kalau selesai mandi, pasti minta dicium Ummi.
*****
Kadang kita lupa memberikan sekedar ciuman pada anak-anak kita yang mulai besar, bahkan beranjak remaja. Terlebih pada anak lelaki. Padahal, bagi seorang anak, ciuman ayah dan ibunya ternyata menunjukkan bahwa kedua orangtuanya masih peduli padanya. Masih sayang dan cinta.
Anak keduaku yang laki-laki juga begitu. Dia semringah sekali jika kulayangkan ciuman ke pipinya. Padahal dia sudah SMP kelas delapan loh.
Begitupun sulungku. Gadis manis yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua belas. Jika kucium pipi kanannya, pasti pipi kirinya disodorkan juga. Bahkan minta dipeluk. Begitulah anak-anakku.
Menurut sejumlah penelitian yang dipublikasikan jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences, pelukan dan ciuman pada anak ternyata dapat menambah jumlah produksi hormon oksitosin dan endorfin yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak-anak.(muslimah.me)
Situs www.beranihijrah.org melansir, bahwa seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City (AS), Edward R.Christopherson.Ph.D, menyatakan jika pelukan lebih efektif dari pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu tapi karena dirinya apa adanya. Bahkan hal ini bisa memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.
Hmm, ternyata mencium anak banyak manfaatnya. Utamanya mendapatkan pahala. Sekaligus menghidupkan kasih sayang dan cinta antara anak dan orangtua. Bahkan Rasulullah Saw, sang teladan kita, juga telah mengajarkan hal serupa. Jauh sebelum orang-orang masa kini memahaminya.
“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)
Abu Hurairah ra berkata, "Nabi saw mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Ternyata, curahan kasih sayang kepada anak-anak kita nampak terasa bagi mereka kala menciuminya. Dan mereka merasakan kebahagiaan yang tak terperi saat ciuman kita mendarat di pipi atau keningnya.
Lautan kasih sayang sungguh tak bertepi.
Dalam, hingga sampai ke hati.
Menciumi anak hanyalah seteguk kasih dan cinta.
Dari sepasang orantua yang mulia.
Hanya berharap rahmat dari Illahi Rabbi
Maka, sudahkah anda mencium anak-anak hari ini? 😄
Laila Thamrin
21092018
#BermainKata009
#NgajiLiterasi
#Revowriter
Jumat, 07 September 2018
Buka Mata Buka Hati #14
Sensasi Jumat Berkah
Alhamdulillah, kembali dipertemukan Allah dengan hari Jumat. Setiap bertemu Jumat, rasanya hati ini berbeda. Saya merasa selalu senang di hari Jumat. Bukan karena pulang kerja lebih cepat loh ya...hehe. Tapi sensasi berkah di hari Jumat selalu melekat.
Salamah dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Hari terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Sebab pada hari itu Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam as. Dia memasukkan Adam ke surga, pada hari itu ia diturunkan ke bumi dan pada hari itu terjadi kiamat serta pada hari itu terdapat satu masa dimana tidak seorangpun berdo’a kecuali Dia akan mengabulkan do’a itu.” (HR.Muslim)
Jumat itu hari istimewa. Salat yang hanya diwajibkan bagi laki-laki muslim adalah salat Jumat. Memotong kuku dan menggunting rambut di hari Jumat dapat pahala sunnah. Setiap doa yang dilangitkan di hari Jumat niscaya akan dikabulkan Allah. Keberkahan dan keagungan hari Jumat sungguh membuatnya seperti hari Raya umat Islam.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” (HR. Muslim)
Tersebab Jumat yang penuh berkah ini banyak muslim yang memanfaatkan Jumat untuk bersedekah. Seperti hari ini, pagi-pagi saat saya berangkat ke tempat mengajar, saya sudah semringah melihat ada yang buka warung sedekah. Ada juga yang warungnya hanya bermodalkan sebuah meja di pinggir jalan dan bertajuk "makanan gratis." Uwow...masyaAllah.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tentang keutamaan hari Jum’at, “Bahwasanya sedekah di hari Jum’at dibandingkan semua hari dalam sepekan seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan selainnya.”
Iri rasanya melihat mereka yang ringan hati dan tangannya untuk berbagi. Meniatkan hati juga untuk bisa selalu berbagi, meski dompet tak selalu penuh berisi.
Tak salah memang untuk selalu bersedekah. Baik dalam keadaan sempit, terlebih lagi jika saat lapang. Karena sejatinya harta untuk disedekahkan tak berkurang.
Rasulullah Saw bersabda :
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)
Bahkan Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi yang bersedekah. Menggiurkan! Rugikan kalau kita tak bersedekah?
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Rasulullah Saw pun telah menguatkan dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. Tirmidzi)
Hmmm....tunggu apa lagi. Jadikan sedekah bagian hidup kita. Bila tak mampu banyak, tak apa sedikit. Bila tak bisa dengan uang, dengan apapun boleh kok bersedekah, asalkan barang yang halal. Makanan, pakaian, buah-buahan. Bahkan sebutir kurma saja bisa jadi sedekah.
Tak hanya barang, berbuat baik pun bisa bernilai sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan bisa jadi sedekah. Bahkan hanya seulas senyuman pada orang lain sudah menjadi sedekah pula. MasyaAllah, begitu indah bukan?
Rasulullah Saw bersabda :
“Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.”(Muttafaqun 'alaih)
“Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu merupakan sedekah bagimu.”(HR.Bukhari)
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”(HR.at Tirmizi)
Salam Jumat Berkah...😊🙏
Laila Thamrin
07092018
#inspirasihariini
#jumatberkah
#gerakandakwahuntukmedsos
#dakwahtakmeluluceramah
#revowriter
Alhamdulillah, kembali dipertemukan Allah dengan hari Jumat. Setiap bertemu Jumat, rasanya hati ini berbeda. Saya merasa selalu senang di hari Jumat. Bukan karena pulang kerja lebih cepat loh ya...hehe. Tapi sensasi berkah di hari Jumat selalu melekat.
Salamah dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Hari terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Sebab pada hari itu Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam as. Dia memasukkan Adam ke surga, pada hari itu ia diturunkan ke bumi dan pada hari itu terjadi kiamat serta pada hari itu terdapat satu masa dimana tidak seorangpun berdo’a kecuali Dia akan mengabulkan do’a itu.” (HR.Muslim)
Jumat itu hari istimewa. Salat yang hanya diwajibkan bagi laki-laki muslim adalah salat Jumat. Memotong kuku dan menggunting rambut di hari Jumat dapat pahala sunnah. Setiap doa yang dilangitkan di hari Jumat niscaya akan dikabulkan Allah. Keberkahan dan keagungan hari Jumat sungguh membuatnya seperti hari Raya umat Islam.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” (HR. Muslim)
Tersebab Jumat yang penuh berkah ini banyak muslim yang memanfaatkan Jumat untuk bersedekah. Seperti hari ini, pagi-pagi saat saya berangkat ke tempat mengajar, saya sudah semringah melihat ada yang buka warung sedekah. Ada juga yang warungnya hanya bermodalkan sebuah meja di pinggir jalan dan bertajuk "makanan gratis." Uwow...masyaAllah.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tentang keutamaan hari Jum’at, “Bahwasanya sedekah di hari Jum’at dibandingkan semua hari dalam sepekan seperti sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan selainnya.”
Iri rasanya melihat mereka yang ringan hati dan tangannya untuk berbagi. Meniatkan hati juga untuk bisa selalu berbagi, meski dompet tak selalu penuh berisi.
Tak salah memang untuk selalu bersedekah. Baik dalam keadaan sempit, terlebih lagi jika saat lapang. Karena sejatinya harta untuk disedekahkan tak berkurang.
Rasulullah Saw bersabda :
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)
Bahkan Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi yang bersedekah. Menggiurkan! Rugikan kalau kita tak bersedekah?
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Rasulullah Saw pun telah menguatkan dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud” (HR. Tirmidzi)
Hmmm....tunggu apa lagi. Jadikan sedekah bagian hidup kita. Bila tak mampu banyak, tak apa sedikit. Bila tak bisa dengan uang, dengan apapun boleh kok bersedekah, asalkan barang yang halal. Makanan, pakaian, buah-buahan. Bahkan sebutir kurma saja bisa jadi sedekah.
Tak hanya barang, berbuat baik pun bisa bernilai sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan bisa jadi sedekah. Bahkan hanya seulas senyuman pada orang lain sudah menjadi sedekah pula. MasyaAllah, begitu indah bukan?
Rasulullah Saw bersabda :
“Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.”(Muttafaqun 'alaih)
“Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu merupakan sedekah bagimu.”(HR.Bukhari)
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”(HR.at Tirmizi)
Salam Jumat Berkah...😊🙏
Laila Thamrin
07092018
#inspirasihariini
#jumatberkah
#gerakandakwahuntukmedsos
#dakwahtakmeluluceramah
#revowriter
Jumat, 24 Agustus 2018
Buka Mata Buka Hati #13
Warisan
Oleh : Laila Thamrin
Siapa yang tak kenal dengan warisan? Pasti semua orang tahu. Dan kalau bicara warisan, yang terbayang tentulah harta. Tak salah memang. Karena memang seperti itulah adanya.
Warisan merupakan harta yang ditinggalkan seseorang saat dia meninggal dunia. Terkadang harta yang ditinggalkannya ini bisa jadi rebutan. Bahkan perseteruan kaum kerabatnya. Apalagi jika harta yang diwariskan banyak dan menggiurkan. Sudah tabiat manusia menyukai harta. Karena itu memang kesenangan dunia, selain tahta dan wanita.
Beruntung, Islam punya aturan yang jelas berkaitan dengan harta warisan ini. Sehingga, tak perlu payah ahli waris memperebutkan harta si mayit. Tinggal duduk diam saja, jika dia termasuk golongan yang berhak, bagian harta warisan untuknya pun akan didapat.
Namun, sebenarnya tak hanya harta yang layak diperhatikan kala seorang manusia berpulang ke pangkuan Rabbnya. Apalagi jika yang meninggal adalah seseorang yang telah memiliki anak. Ada yang lebih berharga dibanding sekedar uang, rumah, tanah, emas dan permata.
Ayah yang kaya akan mewariskan hartanya pada anak keturunannya. Namun ayah yang salih, tak serta merta mampu mewariskan kesalihannya kepada anaknya. Begitu pun ibu yang ahli ibadah, tak menjamin anaknya menjadi ahli ibadah pula. Lalu bagaimana?
Anak akan mewarisi kesalihan ayah dan ibunya jikalau iman ditanamkan dalam dadanya. Diajarkan tentang keimanan terhadap Rabbnya sejak kecil. Ditanamkan bahwa Allah itu Al Khalik (Maha Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Maha Pengatur). Dikuatkan setiap saat dengan pelaksanaan syariatNya dalam keseharian. Karena Allah juga Maha Mengetahui, sehingga saat manusia lalai dalam melaksanakan perintahNya, Allah pasti tahu.
Karenanya tugas orangtua lah mendidik anak-anaknya dengan iman dan Islam. Sehingga, andai Allah memanggil ayah dan ibunya, anak telah mewarisi iman yang kokoh dan Islam yang kuat. Pahala ayah ibunya pun akan terus mengalir melampaui usianya. Sebab anak yang salih pasti akan melakukan kebaikan dimana saja dan dalam kondisi apapun jua. Dia juga senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, meski keduanya telah tiada.
Lihatlah bagaimana seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi yang diabadikan Allah dalam Alquran kala menasihati anaknya. Meski dia hanyalah seorang budak, namun keimanan dan kecerdasan akalnya telah menjadikan pembelajaran berharga bagi umat Muhammad Saw. Ya, dialah Luqmanul Hakim, yang bisa kita ikuti nasihatnya kepada anaknya dalam Alquran Surah Luqman.
Allah Swt berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Begitu pula saat beliau memberikan nasihat lainnya pada anaknya. Seperti firman Allah Swt :
"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16)
Jelas sekali pada ayat itu Luqman menasihati anaknya dengan nasihat yang jitu. Iman kepada Allah Swt sebagai pondasi yang utama, dan tak menduakanNya pada apapun jua. Lalu berikutnya, pengikat iman tersebut agar tak goyah adalah keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala hal yang manusia kerjakan. Meski perbuatan sangat sepele sekalipun, semisal buang angin yang tak terlihat pelakunya oleh siapapun, namun terasa jelas aromanya. Hingga tak ada yang bisa menuduh siapa pelakunya. Namun Allah pasti tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meski tak ada pengakuan dari mulut si pelaku.
Banyak dari orang tua sekarang yang sibuk memikirkan anaknya kelak hidup berkecukupan materi. Tapi terkadang lupa memikirkan bagaimana agar anaknya hidup dengan kekokohan iman di dada agar hidup lebih berseri. Harta mudah dicari tetapi tak dibawa mati. Namun iman di hati harus serius dicari, karena dia yang menemani sampai dibawa mati.
Hanya iman yang kokoh yang layak diwariskan kepada anak-anak kita. Agar Islam tetap terus terjaga hingga akhir masa. Dan kembali berjaya di dunia ini. Maka, layak kiranya mulai sekarang kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan warisan iman ini untuk anak-anak kita. Jangan sampai terlambat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)
Wallahua'lam bish shawwab []
13 Zulhijjah 1439 H
24 Agustus 2018
#revowriter
#essay
Oleh : Laila Thamrin
Siapa yang tak kenal dengan warisan? Pasti semua orang tahu. Dan kalau bicara warisan, yang terbayang tentulah harta. Tak salah memang. Karena memang seperti itulah adanya.
Warisan merupakan harta yang ditinggalkan seseorang saat dia meninggal dunia. Terkadang harta yang ditinggalkannya ini bisa jadi rebutan. Bahkan perseteruan kaum kerabatnya. Apalagi jika harta yang diwariskan banyak dan menggiurkan. Sudah tabiat manusia menyukai harta. Karena itu memang kesenangan dunia, selain tahta dan wanita.
Beruntung, Islam punya aturan yang jelas berkaitan dengan harta warisan ini. Sehingga, tak perlu payah ahli waris memperebutkan harta si mayit. Tinggal duduk diam saja, jika dia termasuk golongan yang berhak, bagian harta warisan untuknya pun akan didapat.
Namun, sebenarnya tak hanya harta yang layak diperhatikan kala seorang manusia berpulang ke pangkuan Rabbnya. Apalagi jika yang meninggal adalah seseorang yang telah memiliki anak. Ada yang lebih berharga dibanding sekedar uang, rumah, tanah, emas dan permata.
Ayah yang kaya akan mewariskan hartanya pada anak keturunannya. Namun ayah yang salih, tak serta merta mampu mewariskan kesalihannya kepada anaknya. Begitu pun ibu yang ahli ibadah, tak menjamin anaknya menjadi ahli ibadah pula. Lalu bagaimana?
Anak akan mewarisi kesalihan ayah dan ibunya jikalau iman ditanamkan dalam dadanya. Diajarkan tentang keimanan terhadap Rabbnya sejak kecil. Ditanamkan bahwa Allah itu Al Khalik (Maha Pencipta) sekaligus Al Mudabbir (Maha Pengatur). Dikuatkan setiap saat dengan pelaksanaan syariatNya dalam keseharian. Karena Allah juga Maha Mengetahui, sehingga saat manusia lalai dalam melaksanakan perintahNya, Allah pasti tahu.
Karenanya tugas orangtua lah mendidik anak-anaknya dengan iman dan Islam. Sehingga, andai Allah memanggil ayah dan ibunya, anak telah mewarisi iman yang kokoh dan Islam yang kuat. Pahala ayah ibunya pun akan terus mengalir melampaui usianya. Sebab anak yang salih pasti akan melakukan kebaikan dimana saja dan dalam kondisi apapun jua. Dia juga senantiasa mendoakan kedua orangtuanya, meski keduanya telah tiada.
Lihatlah bagaimana seorang hamba sahaya berkebangsaan Habsyi yang diabadikan Allah dalam Alquran kala menasihati anaknya. Meski dia hanyalah seorang budak, namun keimanan dan kecerdasan akalnya telah menjadikan pembelajaran berharga bagi umat Muhammad Saw. Ya, dialah Luqmanul Hakim, yang bisa kita ikuti nasihatnya kepada anaknya dalam Alquran Surah Luqman.
Allah Swt berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13)
Begitu pula saat beliau memberikan nasihat lainnya pada anaknya. Seperti firman Allah Swt :
"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16)
Jelas sekali pada ayat itu Luqman menasihati anaknya dengan nasihat yang jitu. Iman kepada Allah Swt sebagai pondasi yang utama, dan tak menduakanNya pada apapun jua. Lalu berikutnya, pengikat iman tersebut agar tak goyah adalah keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala hal yang manusia kerjakan. Meski perbuatan sangat sepele sekalipun, semisal buang angin yang tak terlihat pelakunya oleh siapapun, namun terasa jelas aromanya. Hingga tak ada yang bisa menuduh siapa pelakunya. Namun Allah pasti tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meski tak ada pengakuan dari mulut si pelaku.
Banyak dari orang tua sekarang yang sibuk memikirkan anaknya kelak hidup berkecukupan materi. Tapi terkadang lupa memikirkan bagaimana agar anaknya hidup dengan kekokohan iman di dada agar hidup lebih berseri. Harta mudah dicari tetapi tak dibawa mati. Namun iman di hati harus serius dicari, karena dia yang menemani sampai dibawa mati.
Hanya iman yang kokoh yang layak diwariskan kepada anak-anak kita. Agar Islam tetap terus terjaga hingga akhir masa. Dan kembali berjaya di dunia ini. Maka, layak kiranya mulai sekarang kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan warisan iman ini untuk anak-anak kita. Jangan sampai terlambat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)
Wallahua'lam bish shawwab []
13 Zulhijjah 1439 H
24 Agustus 2018
#revowriter
#essay
Kamis, 12 Juli 2018
Buka Mata Buka Hati #12
Kebahagiaan Dibalik Mudik Yang Tertunda
Bukan harta yang bikin orangtua bahagia. Tapi pertemuan dengan buah hati tercintalah jawabannya. Meski anak yang dirantau datang tanpa memberikan apapun, asalkan datang dengan sepenuh cinta pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Terlebih jika sudah lama tak berjumpa, karena terhalang jarak dan kesibukan kerja.
*****
Mudik saat lebaran memang telah jadi tradisi di Indonesia. Termasuk di keluarga kecilku. Kebiasaan unik ini baru kurasakan sensasinya 17 tahun belakangan ini saja. Dulu, waktu lihat teman-teman kuliah pada sibuk membicarakan jadwal kepulangan mudiknya, aku cuma senyum dan sesekali nimbrung. Pernah terbersit dalam hatiku, "kapan ya aku bisa mudik kaya mereka?" Hehe..karena kuliahku hanya berjarak 40 kilometer dari rumahku.
Tapi, tak disangka-sangka, ternyata Allah dengar dan berikan aku kesempatan loh. Bahkan bisa mudik ke daerah paling ujung dari provinsiku. Ya, sejak aku menikah dengan seorang putra daerah Tabalong, salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Sejak itulah aku baru mengerti "penting"nya mudik. Dan akupun melakoninya dengan berbagai pernak-perniknya.
Seperti Lebaran tahun ini, meski rencana mudik sudah disusun, namun mudikku gagal. Pasalnya, anak-anak dan aku gantian sakit. Jadilah aku perawat merangkap jadi pasien juga. Alhasil, terpaksa hanya suami yang mudik. Karena setahun sudah tak pulang ke rumah orang tuanya.
Sedih juga aku gak bisa ikut mudik. Mertua dan adik-adik iparkupun menunggu kedatangan kami sekeluarga penuh harap. Ada terselip rasa kecewa ketika aku dan anak-anak tak ikut pulang.
"Sakit ya, kak?" tanya adik iparku lewat sambungan telpon pas suami sudah sampai di sana.
"Iya, dik. Anak-anak terserang cacar air. Mulai si tengah, si bungsu, sampai si sulung. Bahkan aku juga ikut terjangkit." jawabku sedih.
"Subhanallah. Semoga cepat pulih lagi ya, kak." sambungnya.
Begitupun kala suami cerita kalau Mama dan Abah menyambut kedatangannya sembari berkata, "Kenapa anak-anakmu gak ikut, Rizal?" kepada suamiku. Nampak sekali kerinduan beliau terhadap cucu-cucunya. Maklumlah, kami tinggal lumayan jauh dari rumah mereka.
Kabupaten Tabalong itu berjarak kurang lebih 232 kilometer dari kota Banjarmasin, kota kelahiranku sekaligus daerah tinggal kami sekarang. Jarak tempuh yang memakan waktu 7-8 jam lewat darat ini cukup melelahkan. Dan bagi anak bungsuku bahkan memabukkan. Mabuk darat. Sampai dia sering muntah-muntah jika mudik. Lemes jadinya.
Apalagi ongkosnya, terasa lumayan besar ketika Lebaran datang. Karena biasanya akan naik sekitar 20-30% dari harga normal. Dari yang seharga 75 ribu perorang normalnya, bisa sampai 100 ribu perorang saat musim mudik. Bayangkan saja, kalau kami pulang berlima. Balik juga berlima. Tambah menu camilan dan makan berat di jalan. Wah, tentu bagi kami, semua perlu perhitungan. Entahlah bagi mereka yang berduit banyak.
Ini bukan perkara aku dan suami hitung-hitungan ya untuk urusan berbakti pada orangtua. Bukan itu. Tapi semata-mata perkara uangnya yang kadang tak cukup. Tersebab itulah, minimal setahun sekali mudik rasanya sangat pas bagi ukuran kantong suamiku. Kan aku tanggungan suamiku. Hehehe.... Dan orangtua pun memahaminya. Sehingga tiap lebaran pasti aku dan keluarga dinanti-nanti oleh Mama dan Abah di kampung halaman.
****
Hampir sebulan syawal kujalani. Musim mudikpun sudah lama berlalu. Tapi anak-anak masih libur sekolahnya. Aku pun sudah kembali sehat. Tiba-tiba suami berkata, "Kita mudik yuk, Mi! Mumpung anak-anak masih libur sekolah. Sekalian jenguk Mama, beliau lagi kurang sehat."
Aku terperangah. Yang terbersit dibenakku hanya satu, ongkosnya! Akupun langsung berucap, "Ongkosnya gimana, Bi? Anak-anak sebentar lagi sekolah. Keperluan sekolahnya juga belum terbeli."
"Alhamdulillah, Abi dapat rezeki lebih. InsyaAllah cukup buat kita sewa mobil aja dan berangkat semua."
"What? Sewa mobil? Bukannya tambah mahal?" ucapku
"Gak papa. Sekali-sekali. Mumpung uangnya ada dan cukup." kata suamiku dengan mata berbinar.
Aku kayak dapat durian runtuh deh. Hehe...karena biasanya kalau mudik yang pertama dihitung pasti ongkosnya. Dan ini tiba-tiba suami malah nawarin sewa mobil yang tentu saja agak lebih mahal.
Sempat sih terucap pada suami mending uangnya disimpan aja buat keperluan renovasi rumah yang belum kelar. Tapi suami bilang, kalau uang seberapapun diniatkan untuk membahagiakan orangtua, insyaAllah nanti Allah ganti dengan yang lebih baik.
Glek! Akupun tersadar. Benar juga kata suamiku. Akupun manut saja. Berharap Allah akan berikan yang terbaik untuk semuanya.
Akhirnya, persiapanpun dilakukan. Pilih tanggal yang pas. Berapa hari mau mudiknya. Cari tempat penyewaan mobil. Tanya-tanya teman harga kisarannya. Pokoknya sibuk deh.
Apalagi ingat kalau ibu mertuaku sempat sakit kakinya pas lebaran kemarin. Dan kata Abah, sehari setelah suamiku balik ke Banjarmasin, Mama sempat dibawa ke IGD. Ngilu di kaki kiri Mama sampai bikin beliau hampir tak kuat menahannya. Bahkan tak mampu dipakai untuk berjalan. Selera makan beliaupun hilang. Jadinya asupan energi tak ada masuk. Tentu saja tubuh beliau ikut lemes.
Beruntung, beliau dibolehkan rawat jalan. Namun, harus dapat asupan nutrisi pengganti dari selang infus. Dan tambah beruntung lagi, salah satu mantu Mama seorang perawat di rumah sakit Tabalong. Adik ipar suamiku. Allah Maha Pembuat Skenario.
*****
Singkat cerita, aku sekeluarga memilih mudik di hari Minggu pagi. Anak-anakpun ternyata lebih enjoy menikmati perjalanan mudiknya. Meski tetap diwarnai mabuknya si bungsu dan beberapa kali muntah selama diperjalanan.
Delapan jam lamanya kami tempuh tuk menyusuri jalan menuju Kabupaten Tabalong. Hingga jam 5 sore kami pun sampai. Dan meluncurlah mobil abu-abu metalik yang kami kendarai tepat di halaman rumah Mama dan Abah. Klaksonpun dibunyikan suamiku. Tiin...tiin!
"Assalamu'alaikum!" Suamiku mengucap salam seraya melongok ke pintu samping. Kebetulan Mama sedang duduk di ruang tengah rumah itu. Ruangan ini berhubungan langsung dengan pintu samping yang menuju ke teras depan rumah. Jadi, sejurus beliau tengok keluar pintu, mobil kami yang parkir di halamanpun jelas terlihat.
Beliau terperanjat. Tak mengira putra sulungnya ada di hadapannya. Plus menantu dan cucu-cucunya. Beliau membalas salam sambil berdiri dan menyongsong suamiku.
Semringah sekali raut muka beliau. Takjub dan bahagia jelas sekali terpancar di mata beliau. Kusalami Mama dengan penuh takzim. Beliau cium kedua pipiku. Pun anak-anakku.
Beliau bilang, "Aku benar-benar tak menyangka kalau kalian semua yang datang. Kukira tadi itu mobil Annisa. Tapi pas masuk ke rumah ternyata Rizal yang datang." ungkap beliau penuh bahagia. Annisa adalah adik perempuan suamiku.
"Ayo, bawa masuk semua barangnya. Sini, kita bikin minuman hangat." ajak beliau.
"Nggih, Ma." jawabku.
"Rizal, cepat telpon Abah. Tadi barusan Abah ke rumah Annisa. Suruh segera pulang. Sekalian Annisa suruh juga kesini." kata Mama bersemangat.
Suamikupun segera meraih gawainya, dan ngobrol dengan Abah. Rumah Annisa hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah Mama. Jadi sekitar lima menit saja Abah sudah nongol. Langsung memanggil nama anak-anakku. Masya Allah...ternyata benar, kakek dan nenek itu kecintaannya pada cucu-cucunya jauh lebih nampak ekspresinya daripada ke anak-anaknya. Meskipun aku yakin, cinta kepada anaknya tentu juga takkan berkurang sedikitpun.
Bahagiapun kurasakan hari itu. Meski tubuh ini letih melalui perjalanan yang cukup panjang. Apalagi kadang sport jantung gara-gara jalan yang penuh tantangan. Namun semua tiba-tiba sirna ketika melihat kebahagiaan Mama dan Abah dengan kedatanganku sekeluarga. Dan uniknya, beliau tak pernah bertanya oleh-oleh apa yang dibawakan anaknya. Tak pernah sekalipun. Justru semua yang beliau punya dikeluarkan untuk anak, menantu dan cucu-cucunya.
Inilah letak kebahagiaan hakiki yang hanya bisa didapatkan tatkala bertemu orangtua. Jika tak mudik ke kampung halaman, takkan pernah merasakan kebahagiaan ini. Terlebih bagi para perantau yang sudah merantau jauh dari kampungnya.
Makanya, para perantau pasti bela-belain buat mudik tiap tahun. Karena rasa ini takkan bisa diungkapkan sempurna dengan kata-kata dan tulisan. Hanya perbuatan yang bisa melukiskan betapa indahnya rasa ini. Rasa bahagia tak bertepi kala bertemu dengan keluarga di kampung, khususnya orangtua tercinta.
Disinilah aku belajar arti sebuah kebahagiaan ketika berkumpul bersama orangtua. Salah satu bukti cinta dan bakti anak kepada ayah ibunya. Wujud birrul walidain yang diperintahkan agama. Rugi besar jika kita abaikan mereka dimasa tuanya. Apalagi jika keduanya masih hidup. Karena dari merekalah keberkahan hidup di dunia kan kita peroleh. Bahkan pintu surgapun kan terbuka untuk kita karenanya.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran yang artinya :
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’ : 23)
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. Al-Isra' : 24)
Alhamdulillah, meski mudikku sekeluarga tertunda, namun kebahagiaan tetap menyeruak saat berjumpa dengan Abah dan Mama. Karena berjumpa dengan orangtua tak harus menanti Lebaran tiba. Kapan saja jika ada kesempatan dan waktunya, datangilah mereka. Karena bagi orangtua anak adalah permata hati yang takkan berubah posisinya sejak lahir hingga kapanpun jua.[]
Laila Thamrin
(Handil Bakti, 12072018)
Bukan harta yang bikin orangtua bahagia. Tapi pertemuan dengan buah hati tercintalah jawabannya. Meski anak yang dirantau datang tanpa memberikan apapun, asalkan datang dengan sepenuh cinta pasti akan diterima dengan tangan terbuka. Terlebih jika sudah lama tak berjumpa, karena terhalang jarak dan kesibukan kerja.
*****
Mudik saat lebaran memang telah jadi tradisi di Indonesia. Termasuk di keluarga kecilku. Kebiasaan unik ini baru kurasakan sensasinya 17 tahun belakangan ini saja. Dulu, waktu lihat teman-teman kuliah pada sibuk membicarakan jadwal kepulangan mudiknya, aku cuma senyum dan sesekali nimbrung. Pernah terbersit dalam hatiku, "kapan ya aku bisa mudik kaya mereka?" Hehe..karena kuliahku hanya berjarak 40 kilometer dari rumahku.
Tapi, tak disangka-sangka, ternyata Allah dengar dan berikan aku kesempatan loh. Bahkan bisa mudik ke daerah paling ujung dari provinsiku. Ya, sejak aku menikah dengan seorang putra daerah Tabalong, salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Sejak itulah aku baru mengerti "penting"nya mudik. Dan akupun melakoninya dengan berbagai pernak-perniknya.
Seperti Lebaran tahun ini, meski rencana mudik sudah disusun, namun mudikku gagal. Pasalnya, anak-anak dan aku gantian sakit. Jadilah aku perawat merangkap jadi pasien juga. Alhasil, terpaksa hanya suami yang mudik. Karena setahun sudah tak pulang ke rumah orang tuanya.
Sedih juga aku gak bisa ikut mudik. Mertua dan adik-adik iparkupun menunggu kedatangan kami sekeluarga penuh harap. Ada terselip rasa kecewa ketika aku dan anak-anak tak ikut pulang.
"Sakit ya, kak?" tanya adik iparku lewat sambungan telpon pas suami sudah sampai di sana.
"Iya, dik. Anak-anak terserang cacar air. Mulai si tengah, si bungsu, sampai si sulung. Bahkan aku juga ikut terjangkit." jawabku sedih.
"Subhanallah. Semoga cepat pulih lagi ya, kak." sambungnya.
Begitupun kala suami cerita kalau Mama dan Abah menyambut kedatangannya sembari berkata, "Kenapa anak-anakmu gak ikut, Rizal?" kepada suamiku. Nampak sekali kerinduan beliau terhadap cucu-cucunya. Maklumlah, kami tinggal lumayan jauh dari rumah mereka.
Kabupaten Tabalong itu berjarak kurang lebih 232 kilometer dari kota Banjarmasin, kota kelahiranku sekaligus daerah tinggal kami sekarang. Jarak tempuh yang memakan waktu 7-8 jam lewat darat ini cukup melelahkan. Dan bagi anak bungsuku bahkan memabukkan. Mabuk darat. Sampai dia sering muntah-muntah jika mudik. Lemes jadinya.
Apalagi ongkosnya, terasa lumayan besar ketika Lebaran datang. Karena biasanya akan naik sekitar 20-30% dari harga normal. Dari yang seharga 75 ribu perorang normalnya, bisa sampai 100 ribu perorang saat musim mudik. Bayangkan saja, kalau kami pulang berlima. Balik juga berlima. Tambah menu camilan dan makan berat di jalan. Wah, tentu bagi kami, semua perlu perhitungan. Entahlah bagi mereka yang berduit banyak.
Ini bukan perkara aku dan suami hitung-hitungan ya untuk urusan berbakti pada orangtua. Bukan itu. Tapi semata-mata perkara uangnya yang kadang tak cukup. Tersebab itulah, minimal setahun sekali mudik rasanya sangat pas bagi ukuran kantong suamiku. Kan aku tanggungan suamiku. Hehehe.... Dan orangtua pun memahaminya. Sehingga tiap lebaran pasti aku dan keluarga dinanti-nanti oleh Mama dan Abah di kampung halaman.
****
Hampir sebulan syawal kujalani. Musim mudikpun sudah lama berlalu. Tapi anak-anak masih libur sekolahnya. Aku pun sudah kembali sehat. Tiba-tiba suami berkata, "Kita mudik yuk, Mi! Mumpung anak-anak masih libur sekolah. Sekalian jenguk Mama, beliau lagi kurang sehat."
Aku terperangah. Yang terbersit dibenakku hanya satu, ongkosnya! Akupun langsung berucap, "Ongkosnya gimana, Bi? Anak-anak sebentar lagi sekolah. Keperluan sekolahnya juga belum terbeli."
"Alhamdulillah, Abi dapat rezeki lebih. InsyaAllah cukup buat kita sewa mobil aja dan berangkat semua."
"What? Sewa mobil? Bukannya tambah mahal?" ucapku
"Gak papa. Sekali-sekali. Mumpung uangnya ada dan cukup." kata suamiku dengan mata berbinar.
Aku kayak dapat durian runtuh deh. Hehe...karena biasanya kalau mudik yang pertama dihitung pasti ongkosnya. Dan ini tiba-tiba suami malah nawarin sewa mobil yang tentu saja agak lebih mahal.
Sempat sih terucap pada suami mending uangnya disimpan aja buat keperluan renovasi rumah yang belum kelar. Tapi suami bilang, kalau uang seberapapun diniatkan untuk membahagiakan orangtua, insyaAllah nanti Allah ganti dengan yang lebih baik.
Glek! Akupun tersadar. Benar juga kata suamiku. Akupun manut saja. Berharap Allah akan berikan yang terbaik untuk semuanya.
Akhirnya, persiapanpun dilakukan. Pilih tanggal yang pas. Berapa hari mau mudiknya. Cari tempat penyewaan mobil. Tanya-tanya teman harga kisarannya. Pokoknya sibuk deh.
Apalagi ingat kalau ibu mertuaku sempat sakit kakinya pas lebaran kemarin. Dan kata Abah, sehari setelah suamiku balik ke Banjarmasin, Mama sempat dibawa ke IGD. Ngilu di kaki kiri Mama sampai bikin beliau hampir tak kuat menahannya. Bahkan tak mampu dipakai untuk berjalan. Selera makan beliaupun hilang. Jadinya asupan energi tak ada masuk. Tentu saja tubuh beliau ikut lemes.
Beruntung, beliau dibolehkan rawat jalan. Namun, harus dapat asupan nutrisi pengganti dari selang infus. Dan tambah beruntung lagi, salah satu mantu Mama seorang perawat di rumah sakit Tabalong. Adik ipar suamiku. Allah Maha Pembuat Skenario.
*****
Singkat cerita, aku sekeluarga memilih mudik di hari Minggu pagi. Anak-anakpun ternyata lebih enjoy menikmati perjalanan mudiknya. Meski tetap diwarnai mabuknya si bungsu dan beberapa kali muntah selama diperjalanan.
Delapan jam lamanya kami tempuh tuk menyusuri jalan menuju Kabupaten Tabalong. Hingga jam 5 sore kami pun sampai. Dan meluncurlah mobil abu-abu metalik yang kami kendarai tepat di halaman rumah Mama dan Abah. Klaksonpun dibunyikan suamiku. Tiin...tiin!
"Assalamu'alaikum!" Suamiku mengucap salam seraya melongok ke pintu samping. Kebetulan Mama sedang duduk di ruang tengah rumah itu. Ruangan ini berhubungan langsung dengan pintu samping yang menuju ke teras depan rumah. Jadi, sejurus beliau tengok keluar pintu, mobil kami yang parkir di halamanpun jelas terlihat.
Beliau terperanjat. Tak mengira putra sulungnya ada di hadapannya. Plus menantu dan cucu-cucunya. Beliau membalas salam sambil berdiri dan menyongsong suamiku.
Semringah sekali raut muka beliau. Takjub dan bahagia jelas sekali terpancar di mata beliau. Kusalami Mama dengan penuh takzim. Beliau cium kedua pipiku. Pun anak-anakku.
Beliau bilang, "Aku benar-benar tak menyangka kalau kalian semua yang datang. Kukira tadi itu mobil Annisa. Tapi pas masuk ke rumah ternyata Rizal yang datang." ungkap beliau penuh bahagia. Annisa adalah adik perempuan suamiku.
"Ayo, bawa masuk semua barangnya. Sini, kita bikin minuman hangat." ajak beliau.
"Nggih, Ma." jawabku.
"Rizal, cepat telpon Abah. Tadi barusan Abah ke rumah Annisa. Suruh segera pulang. Sekalian Annisa suruh juga kesini." kata Mama bersemangat.
Suamikupun segera meraih gawainya, dan ngobrol dengan Abah. Rumah Annisa hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah Mama. Jadi sekitar lima menit saja Abah sudah nongol. Langsung memanggil nama anak-anakku. Masya Allah...ternyata benar, kakek dan nenek itu kecintaannya pada cucu-cucunya jauh lebih nampak ekspresinya daripada ke anak-anaknya. Meskipun aku yakin, cinta kepada anaknya tentu juga takkan berkurang sedikitpun.
Bahagiapun kurasakan hari itu. Meski tubuh ini letih melalui perjalanan yang cukup panjang. Apalagi kadang sport jantung gara-gara jalan yang penuh tantangan. Namun semua tiba-tiba sirna ketika melihat kebahagiaan Mama dan Abah dengan kedatanganku sekeluarga. Dan uniknya, beliau tak pernah bertanya oleh-oleh apa yang dibawakan anaknya. Tak pernah sekalipun. Justru semua yang beliau punya dikeluarkan untuk anak, menantu dan cucu-cucunya.
Inilah letak kebahagiaan hakiki yang hanya bisa didapatkan tatkala bertemu orangtua. Jika tak mudik ke kampung halaman, takkan pernah merasakan kebahagiaan ini. Terlebih bagi para perantau yang sudah merantau jauh dari kampungnya.
Makanya, para perantau pasti bela-belain buat mudik tiap tahun. Karena rasa ini takkan bisa diungkapkan sempurna dengan kata-kata dan tulisan. Hanya perbuatan yang bisa melukiskan betapa indahnya rasa ini. Rasa bahagia tak bertepi kala bertemu dengan keluarga di kampung, khususnya orangtua tercinta.
Disinilah aku belajar arti sebuah kebahagiaan ketika berkumpul bersama orangtua. Salah satu bukti cinta dan bakti anak kepada ayah ibunya. Wujud birrul walidain yang diperintahkan agama. Rugi besar jika kita abaikan mereka dimasa tuanya. Apalagi jika keduanya masih hidup. Karena dari merekalah keberkahan hidup di dunia kan kita peroleh. Bahkan pintu surgapun kan terbuka untuk kita karenanya.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran yang artinya :
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’ : 23)
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. Al-Isra' : 24)
Alhamdulillah, meski mudikku sekeluarga tertunda, namun kebahagiaan tetap menyeruak saat berjumpa dengan Abah dan Mama. Karena berjumpa dengan orangtua tak harus menanti Lebaran tiba. Kapan saja jika ada kesempatan dan waktunya, datangilah mereka. Karena bagi orangtua anak adalah permata hati yang takkan berubah posisinya sejak lahir hingga kapanpun jua.[]
Laila Thamrin
(Handil Bakti, 12072018)
Senin, 02 Juli 2018
Buka Mata Buka Hati #10
MENAPAKI POROS SURGA
Kemarin saya ikut Halal bi Halal dengan teman-teman pengajian. Alhamdulillah banyak tercerahkan dengan tausiyah ustaznya. Pulangnya ternyata terjebak macet di beberapa ruas jalan. Untung saya dan suami naik motor. Meski motor butut, tapi kendaraan ini yang selalu mengantarkan saya wara-wiri membelah belantara kota.
Dan jangan salah, dengan si bebek ini kemacetan bisa ditembus lebih cepat dibanding mobil-mobil mengkilat beroda empat. Mereka masih setia antri dan menguji kesabaran para penumpangnya. Wa bil khusus si sopir. Hehe..😁
Eh iya, bicara macet nih...biasanya barisan motor bebek dan sejenisnya, akan selalu cari celah supaya bisa terus maju. Andai punya sayap mungkin langsung terbang deh sekalian. Hihihi...
Dan para "bebekers" ini biasanya paling jago cari "jalan tikus" alias jalan-jalan tembus yang bisa mempercepat sampai ke tujuan. Bisa jalan-jalan yang melewati kompleks perumahan tertentu. Bisa pula memang jalan alternatif yang dibangun pemerintah, namun bukan jalan propinsi. Bingung kan? Hahaha...pokoke intinya jalan yang bisa mempercepat sampai ke tujuan. Gitu ajah...😁.
Dan kamipun berpikiran yang sama dengan "bebekers" yang lain. Pilih jalan alternatif. Harapan hati, jalan yang dipilih bisa lebih lengang dan tak berjubel. Tapi, apa hendak dikata, ternyata hampir semua orang punya pikiran yang serupa. Termasuk sopir si roda empatpun pilih jalan yang sama.
Oh my God, bisa dibayangkan bukan? 😱 Ternyata, jalan menelikung tetap resikonya kemacetan, kepanasan, kegerahan. Ditambah emosi pengendara yang naik turun. Pasalnya, semua pada cari celah untuk saling mendahului, agar segera terbebas dari macet. Antara tangan memutar gas dan kaki menginjak rem jadi saling berlomba-lomba. Hedeuh..maunya enak, tak tahunya tambah payah. Capek deh!
Andai tadi kami memilih jalur utama, bisa jadi takkan semacet ini. Karena dulu pernah kami alami, orang-orang memilih jalur alternatif dengan pemikiran yang serupa, anti macet. Tapi kami tetap berada di jalur utama. Anti mainstream lah dengan pilihan orang kebanyakan. Meski jalannya agak lebih jauh. Ternyata justru gak macet dan gak bising. Malah lebih enjoy dan tenang. Hingga sampai dengan selamat tanpa banyak menginjak pedal rem.
*****
Kalau memilih jalan di jalan raya saja kita harus berada pada jalur utama, apatah lagi memilih jalan hidup ya. Gak main-main loh ini. Jalan hidup menentukan jalan kita setelah mati.
Sebagai muslim, tak cukup yang dibawa amal salih seadanya. Tapi amal salih yang sekiranya bisa terus bertambah setiap saat.
Allah SWT memerintahkan kepada muslim untuk hanya mengikuti jalan Islam. Serta tidak mengikuti jalan-jalan lain selain Islam.
Sebagaimana ditegaskan Allah dalam firmanNya :
"Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena bisa menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah kalian diperintahkan agar kalian bertakwa." (QS. al-An'am [6] : 153)
Menurut Imam as Samarqandi dalam kitab tafsirnya, Bahr al-'Ulum (1/495), ayat ini bermakna bahwa Islam sebagai agama yang lurus. Karena itu ikutilah jalan Islam. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, yakni jalan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya dengan menetapi jalan Islam dan menjauhi jalan-jalan lain selain Islam, kita akan menjadi orang yang bertakwa. (Dikutip dari Buletin Dakwah Kaffah edisi 044/23Ramadan1439H)
Lihat saja sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang menelikung dari jalan Islam. Bermesraan dengan Yahudi dan Nasrani. Berjabat tangan dan berangkulan dengan Kapitalisme Sekuler. Mengusung demokrasi. Lalu menginjak-nginjak harga dirinya sendiri sebagai umat Islam. Mengkhianati kaum muslimin lain yang masih taat pada Rabbnya.
Bahkan mereka yang menelikung ini pula yang mengadudomba sesama muslim. Mengkotak-kotakkan umat ke dalam Islam Liberal, Islam Radikal, Islam Moderat, Islam Nusantara dan lebeling Islam lainnya. Hingga memunculkan stigma negatif kepada para pejuang syariah dan khilafah.
Apakah "jalan tikus" seperti ini yang akan membahagiakan mereka di akhirat kelak? Padahal jalan ke surga ditentukan oleh jalan yang dipilihnya di dunia. Dan kehidupan dunia ini hanyalah kehidupan semu yang nikmatnya hanya sesaat. Yang bisa melenakan manusia, hingga jalan ke surga menjadi terhalang oleh silaunya harta dunia.
Ya, disisi ibadah mereka masih mengambil Islam. Salat, puasa, bayar zakat, berhaji, menikah atau bercerai, mengurusi jenazah, semua masih dengan aturan syariat Islam. Namun, muamalah mereka merujuk pada hukum-hukum dari jalan hidup yang lain.
Ekonomi berbasis kapitalisme jadi pegangan. Pendidikan sekuler digalakkan. Politik dengan demokrasi disanjung dan diagungkan. Interaksi sosialnya yang mengusung kebebasan (liberalisme). Apakah yang seperti ini kan menggiring umat pada ketakwaan yang hakiki?
Padahal sejatinya menurut Umar bin Abdul Azis ra yang diabadikan dalam Kitab at-Taqwa oleh Ibn Abi Dunya, "Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering salat malam, atau sering melakukan keduanya. Akan tetapi takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan dan melaksanakan apa saja yang diwajibkan."
Allah SWT berfirman, "Berkatalah Rasul,"Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini suatu yang diabaikan." (QS. Al Furqon [25] : 30)
Maka berpalingnya umat Islam dari Alquran inilah yang membuat ketakwaan hakiki sulit diraih. Kecuali jika semua muslim segera kembali ke jalan Islam. Jalan yang akan menghantarkan setiap muslim ke surgaNya.
Dan jalan ini tak cukup jika hanya individu per individu saja yang menapakinya. Harus semua masyarakat menjalaninya. Termasuk negara sebagai institusi utama yang mengarahkan semua rakyatnya. Negaralah yang punya kekuatan besar untuk mengarahkan rakyatnya menapaki jalan ini.
Karenanya, tetaplah dalam jalan Islam ini. Jalan utama yang meski banyak yang melewati dia pasti akan sampai ke tujuan hakiki. Meski akan banyak onak dan duri, namun jalan ini tetaplah jalan yang terbaik. Yang menjadikannya sebagai poros utama ke surgaNya.
Laila Thamrin
02Juli2018/18Syawal1436H
#SyawalBersamaRevowriter
#GerakanMedsosUntukDakwah
#DakwahMengguncangDunia
#IslamKaffah
#IslamRahmatanLilAlamin
#IslamPorosSurga
#IslamSelamatkanNegeri
Kemarin saya ikut Halal bi Halal dengan teman-teman pengajian. Alhamdulillah banyak tercerahkan dengan tausiyah ustaznya. Pulangnya ternyata terjebak macet di beberapa ruas jalan. Untung saya dan suami naik motor. Meski motor butut, tapi kendaraan ini yang selalu mengantarkan saya wara-wiri membelah belantara kota.
Dan jangan salah, dengan si bebek ini kemacetan bisa ditembus lebih cepat dibanding mobil-mobil mengkilat beroda empat. Mereka masih setia antri dan menguji kesabaran para penumpangnya. Wa bil khusus si sopir. Hehe..😁
Eh iya, bicara macet nih...biasanya barisan motor bebek dan sejenisnya, akan selalu cari celah supaya bisa terus maju. Andai punya sayap mungkin langsung terbang deh sekalian. Hihihi...
Dan para "bebekers" ini biasanya paling jago cari "jalan tikus" alias jalan-jalan tembus yang bisa mempercepat sampai ke tujuan. Bisa jalan-jalan yang melewati kompleks perumahan tertentu. Bisa pula memang jalan alternatif yang dibangun pemerintah, namun bukan jalan propinsi. Bingung kan? Hahaha...pokoke intinya jalan yang bisa mempercepat sampai ke tujuan. Gitu ajah...😁.
Dan kamipun berpikiran yang sama dengan "bebekers" yang lain. Pilih jalan alternatif. Harapan hati, jalan yang dipilih bisa lebih lengang dan tak berjubel. Tapi, apa hendak dikata, ternyata hampir semua orang punya pikiran yang serupa. Termasuk sopir si roda empatpun pilih jalan yang sama.
Oh my God, bisa dibayangkan bukan? 😱 Ternyata, jalan menelikung tetap resikonya kemacetan, kepanasan, kegerahan. Ditambah emosi pengendara yang naik turun. Pasalnya, semua pada cari celah untuk saling mendahului, agar segera terbebas dari macet. Antara tangan memutar gas dan kaki menginjak rem jadi saling berlomba-lomba. Hedeuh..maunya enak, tak tahunya tambah payah. Capek deh!
Andai tadi kami memilih jalur utama, bisa jadi takkan semacet ini. Karena dulu pernah kami alami, orang-orang memilih jalur alternatif dengan pemikiran yang serupa, anti macet. Tapi kami tetap berada di jalur utama. Anti mainstream lah dengan pilihan orang kebanyakan. Meski jalannya agak lebih jauh. Ternyata justru gak macet dan gak bising. Malah lebih enjoy dan tenang. Hingga sampai dengan selamat tanpa banyak menginjak pedal rem.
*****
Kalau memilih jalan di jalan raya saja kita harus berada pada jalur utama, apatah lagi memilih jalan hidup ya. Gak main-main loh ini. Jalan hidup menentukan jalan kita setelah mati.
Sebagai muslim, tak cukup yang dibawa amal salih seadanya. Tapi amal salih yang sekiranya bisa terus bertambah setiap saat.
Allah SWT memerintahkan kepada muslim untuk hanya mengikuti jalan Islam. Serta tidak mengikuti jalan-jalan lain selain Islam.
Sebagaimana ditegaskan Allah dalam firmanNya :
"Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena bisa menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah kalian diperintahkan agar kalian bertakwa." (QS. al-An'am [6] : 153)
Menurut Imam as Samarqandi dalam kitab tafsirnya, Bahr al-'Ulum (1/495), ayat ini bermakna bahwa Islam sebagai agama yang lurus. Karena itu ikutilah jalan Islam. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, yakni jalan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya dengan menetapi jalan Islam dan menjauhi jalan-jalan lain selain Islam, kita akan menjadi orang yang bertakwa. (Dikutip dari Buletin Dakwah Kaffah edisi 044/23Ramadan1439H)
Lihat saja sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang menelikung dari jalan Islam. Bermesraan dengan Yahudi dan Nasrani. Berjabat tangan dan berangkulan dengan Kapitalisme Sekuler. Mengusung demokrasi. Lalu menginjak-nginjak harga dirinya sendiri sebagai umat Islam. Mengkhianati kaum muslimin lain yang masih taat pada Rabbnya.
Bahkan mereka yang menelikung ini pula yang mengadudomba sesama muslim. Mengkotak-kotakkan umat ke dalam Islam Liberal, Islam Radikal, Islam Moderat, Islam Nusantara dan lebeling Islam lainnya. Hingga memunculkan stigma negatif kepada para pejuang syariah dan khilafah.
Apakah "jalan tikus" seperti ini yang akan membahagiakan mereka di akhirat kelak? Padahal jalan ke surga ditentukan oleh jalan yang dipilihnya di dunia. Dan kehidupan dunia ini hanyalah kehidupan semu yang nikmatnya hanya sesaat. Yang bisa melenakan manusia, hingga jalan ke surga menjadi terhalang oleh silaunya harta dunia.
Ya, disisi ibadah mereka masih mengambil Islam. Salat, puasa, bayar zakat, berhaji, menikah atau bercerai, mengurusi jenazah, semua masih dengan aturan syariat Islam. Namun, muamalah mereka merujuk pada hukum-hukum dari jalan hidup yang lain.
Ekonomi berbasis kapitalisme jadi pegangan. Pendidikan sekuler digalakkan. Politik dengan demokrasi disanjung dan diagungkan. Interaksi sosialnya yang mengusung kebebasan (liberalisme). Apakah yang seperti ini kan menggiring umat pada ketakwaan yang hakiki?
Padahal sejatinya menurut Umar bin Abdul Azis ra yang diabadikan dalam Kitab at-Taqwa oleh Ibn Abi Dunya, "Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering salat malam, atau sering melakukan keduanya. Akan tetapi takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan dan melaksanakan apa saja yang diwajibkan."
Allah SWT berfirman, "Berkatalah Rasul,"Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini suatu yang diabaikan." (QS. Al Furqon [25] : 30)
Maka berpalingnya umat Islam dari Alquran inilah yang membuat ketakwaan hakiki sulit diraih. Kecuali jika semua muslim segera kembali ke jalan Islam. Jalan yang akan menghantarkan setiap muslim ke surgaNya.
Dan jalan ini tak cukup jika hanya individu per individu saja yang menapakinya. Harus semua masyarakat menjalaninya. Termasuk negara sebagai institusi utama yang mengarahkan semua rakyatnya. Negaralah yang punya kekuatan besar untuk mengarahkan rakyatnya menapaki jalan ini.
Karenanya, tetaplah dalam jalan Islam ini. Jalan utama yang meski banyak yang melewati dia pasti akan sampai ke tujuan hakiki. Meski akan banyak onak dan duri, namun jalan ini tetaplah jalan yang terbaik. Yang menjadikannya sebagai poros utama ke surgaNya.
Laila Thamrin
02Juli2018/18Syawal1436H
#SyawalBersamaRevowriter
#GerakanMedsosUntukDakwah
#DakwahMengguncangDunia
#IslamKaffah
#IslamRahmatanLilAlamin
#IslamPorosSurga
#IslamSelamatkanNegeri
Langganan:
Postingan (Atom)


















